Cerita SMA Diera Diary ~ 05 { Update }

Masih seputar Serial Diera Diary yang memang belum ketemu sama ending. Di cerita sebelumnya, kayaknya hubungan keduanya sudah mulai oke tuh, tapi tetep belom berdamai. Tapi nggak tau deh kalau pada Cerita SMA Diera Diary ~ 05 ini mereka akhirnya baikan. Untuk jelasnya, langsung simak aja yuk.
Oh iya teman teman. Biar nggak bingung sekaligus jadi lebih mempermudah untuk yang membaca, part sebelumnya di baca dulu ya yang bisa langsung di cek disini.

Cerita SMA Diera Diary ~ 04

Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera sedang berjalan jalan di pasar bersama Cycie untuk membeli perlengakpan sekolah adiknya.
“Kak Rian” teriak Cycie tiba-tiba yang membuat Diera kaget dan segera menoleh. Pada saat bersamaan Rian juga menoleh kearanya dan sepertinya dia juga kaget.
“Cycie?” sapa Rian seolah masih nggak percaya.
“Ia. Kakak ngapain di sini?” balas Cycie.
“Lagi jualan bakso” balas Rian.
“Ha?. Yang bener?” Cycie kaget. Diera apalagi.
“Ha ha ha… ya nggak lah. Kakak jalan-jalan aja kok. Cycie sendiri lagi ngapain?” balas Rian.
“Kirain” gumam Diera lirih. Rian sempet melirik mendegar gumamannya. Tapi Diera malah pura-pura milih-milih tas buat adiknya.
“Cycie lagi mau nyariin tas buat sekul besok. Tapi Cycie pikir kak Rian beneran jualan bakso tadi.”
“Emang kakak cocok jualan bakso?” Rian balik nanya.
Cocok banget,” Diera yang bales. Rian mendelik mendengarnya.
“Ya engak lah. Kakak kan keren masa jualan bakso. Ya pasti nggak cocok lah. Pantes nya tu kakak jadi model” balas Cycie. Rian tersenyum. Diera mencibirkan bibir mendengarnya.
“Eh Cycie haus nggak. Kita minum es kelapa muda dulu yuk. Kakak yang trakrir deh,” ajak Rian kemudian.
“Beneran? Mau banget,” Cycie seneng mendengarnya.
“Yuk” ajak Rian sambil menarik tangan Cycie agar mengikutinya.
“Eh tunggu. Gue nggak di ajak” Diera menunjuk mukanya sendiri.
Rian sama sekali tidak menoleh malah asik ngobrol sama Cycie seolah-olah nggak denger apa-apa. Diera jelas sebel di cuekin begitu. Tapi tak urung di ikutinya kedua orang itu pergi.
Selama mereka minum Diera juga tetap terus di cuekin. Rian sama Cycie malah keasikan ngobrol sambil ketawa-tawa. Huh bikin ngiri aja. Batin Diera. Padahalkan dia yang naksir sama Rian. Tapi tu orang malah deketnya sama adeknya. Mana baru mau masuk ke esde lagi. Masa ia kalah sama anak kecil.
Diera berusaha ngajak Rian ngobrol. Tapi tu orang masih berlagak nggak denger. Akhirnya kesabaran Diera habis dan segera mengajak adiknya pulang. Rian tersenyum sendiri sambil memperhatikan pungung Diera yang pergi bersama adiknya meninggalkannya dengan wajah cemberut.
Keesokan harinya Diera sedang merapikan penampilannya di kamar mandi ketika tiba-tiba Andreani and friend menghampirinya.
“Gue minta mulai sekarang loe jauhin Rian,” Andreani langsung to the point.
“Maksut loe?” Diera nggak ngerti.
“Masih nggak ngerti juga ya. Gue mau loe jauhin Rian. Jangan deket-deket lagi sama dia. Apalagi sampai merayunya. Ngerti!” sambung Niken.
“Eh gue nggak pernah ngerayu dia ya,” Diera berusaha membela diri. Tapi Bella malah terus menyudutkannya.
“Oh ya. Terus kemaren apa maksutnya. Loe pake ngunain adek loe segala. Kita udah liat semuanya tau,” tambah Andreani lagi.
“Ia. Loe suka kan sama Rian?” bentak Niken lagi.
“Engak” Diera membantah.
“Alah nggak usah bohong deh. Semua orang juga bisa ngebacanya dengan jelas kok,” ledek Angela.
“Gue Cuma….” Diera lemes mendengarnya. Jangan-jangan buku diarinya….
“Kita akan kasih tau semua orang kalau loe tu naksir sama Rian,” ancam Andreani lagi.
“Please jangan. Gue akan turtin apa mau loe. Tapi tolong balikin buku gue,” pinta Diera.
“Loe ngomong apa sih?” Tanya Bella Heran.
“Udah lah. Pokok nya loe harus jauhin Rian. Atau loe akan tau akibatnya nanti,” selesai berkata Andreani mengajak teman-temannya pergi meninggalkan Diera yang duduk bersandar di dingding dengan lemas.
“Diera kenapa? Loe sakit?” Tanya Hera saat Diera baru masuk ke kelasnya.
“Nggak kok” balsa Diera.
“Kok muka loe kusut gitu?”
“Ia. Apa loe ada masalah?” tambah Lilly.
“Nggak ada apa apa kok. Kalian tenang aja. Cuma kayaknya gue kecapean aja deh.”
“Kecapean?” Narnia Heran.
“Ia. Eh Gue pinjem buku catatan kalian ya. Soalnya gue ada yang ketiangalan pelajaran waktu nggak masuk kemaren,” Diera ngalihin topic pembicaran.
“Kalau itu sih bisa aja.”
“Stt…. Buk Helen udah masuk tuh” Anggun mengingatkan.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Rian sedang asik tidur di dalam kamarnya sambil mendegarkan musik mp3 nya, ketika terdengar bel rumannya yang terus berbunyi. Dengan malas Rian berjalan menuju kepintu. Karena memang saat itu hanya dia sendiRian yang lagi di rumah ibu sama adik nya yang baru kelas 3 smd sedang keluar. Sementara ayahnya sendiri pasti saat ini masih di kantor.
“Hera?” Rian kaget.
“Ia. Ini gue. Nggak usah kaget gitu deh,” balas Hera santai.
“Ada apa?” tanya Rian lagi.
“Ada apa?” Hera balik nanya karena biasanya kan ia memang jalan kerumah Rian setiap kamis dan rabu sore untuk mengajarkan less bahasa ingris kepada septia. Adik perempuannya Rian.
“Septia ada kan?” Tanya Hera lagi. Karena Rian sepertinya masih kaget.
“Oh…..mau nyari in Septia. Kirain mau nemuin gue.”
“Maksutnya?” gantian Hera yang Heran.
“Bukan…. Maksut gue Septian nya lagi keluar tadi nemenin mama. Tapi katanya bentar kok. Palingan juga bentar lagi pulang. Masuk dulu yuk” ajak Rian kemudian.
Hera sebenernya agak rikuh juga sih. Tapi tak urunng di ikutinya Rian yang lebih dulu masuk ke dalam.
“Ya udah. Loe duduk dulu ya. Oh ya loe mau minum apa. Biar sekalian gue ambilin.”
“Nggak usah deh. Ntar aja,” tolak Hera.
Untuk beberapa saat suasana hening. Masing-masing terdiam. Ya walau pun selama ini Hera sering jalan ke rumah Rian, tapi ia kan nggak pernah ngobrol sama Rian. palingan juga sama ibunya selain septia yang ia ajari. Bahkan teman-teman Hera sendiri nggak tau kalau ia memberikan less pada adiknya Rian.
“E.. emang septia sama tante kemana?” tanya Hera memulai pembicaraan.
“Ke rumah tante gue. Udah dari tadi sih. Biasalah nemenin mama. Tapi dia tadi bilang mau pulang cepet kok. Dia kan juga udah tau kalau hari ini dia ada less. Atau kalau nggak biar gue telp aja. Dari pada loe ntar kelamaan nunggu.”
“Nggak usah deh. Lagian kayaknya gue yang kecepetan datangnya. Biasanaykan mulainya jam 3. ini baru juga jam dua setengah lebih gue udah dating. Jadi biarin aja deh,” cegah Hera.
Suasana kembali hening.
“Oh ya,…… e……” Rian ragu mau ngomong.
“Kenapa?” Tanya Hera.
“Gue mau nanya, soal foto kemaren. Itu.”
“Loe tenang aja. Gue nggak ember kok. Foto itu masih gue simpen and nggak gue kasih lihat siapa-siapa kok. Bahkan Diera juga nggak tau kalau loe punya foto nya di waktu dia lagi tidur di hutan. Kemaren gue cuma iseng aja waktu Septia nanyain siapa cewek yang jadi walpeper di hape loe. Karena gue juga heran kok loe bisa punya fotonya Diera makanya gue send ke handfond gue,” potong Hera sebelum Rian selesai ngomong.
“Cuma yang gue pengen tau kok loe mau sih nyimpen fotonya Diera?” Tanya Hera. Rian terdiam. Dia bingung mau jawab apa.
“Loe nggak ada niat buat ngerjain dia kan?” tambah Hera lagi.
“Ya nggak lah,” bantah Rian cepat.
“Terus buat apa donk?” Hera masih penasaran.
“Jangan-jangan loe suka sama die ya?” tebak Hera. Rian kaget lagsung menatap tajam kearahnya.
“Apa an sih. Ya nggak mungkinlah. Masa ia gue suka sama dia. Loe kalau ngomong ngasal aja.”
“Kirain. Lagian Diera itu kan udah baik, cantik, pinter lagi. Wajar donk kalau loe suka sama dia.”
“Promosi nih ceritanya….”
“Ya nggak lah emang kenyataannya kok. Lagian kan kalian masih sama sama jomlo. Jadi sah sah aja kan.”
“Apasih. Loe ngomongnya makin ngelantur aja. Lagian siapa bilang gue jomlo?” Rian keki di desak gitu.
“Septia….” Balas Hera datar.
"Aah tu anak emang ember. Lagian Septia loe dengerin.”
“O…. jadi loe udah punya pacar?” Tanya Hera lagi.

Ah tau ah…… Tuh kayaknya mama sama septia udah pulang deh. Jadi gue tinggal ya?”
Tanpa menunggu balasan dari Hera, Rian beranjak menuju kekamarnya. Pada saat bersamaan Septia dan mamanya juga sudah muncul.
“Eh kak Hera. Udah dari tadi ya kak?” Tanya septia begitu melihat Hera.
“Nggak kok. Baru juga nyampe.”
“Aduh maaf ya nak Hera. Tadi tante keasikan ngobrol sampai lupa waktu” tambah mamanya septia merasa bersalah.
“Nggak papa kok tante. Lagian kayaknya emang aku yang kecepetan datangnya deh. Abisnya tadi aku juga baru nganterin mama kerumah temennya yang kebetulan searah. Jadi dari pada bolak-balik mending aku kesini aja,” balas Hera.
“Gitu ya. Ya udah tante tinggal dulu ya.”
“Ia tante” Hera mengangukan kepalanya.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera buru-buru menarik dirinya keluar dari pintu perpustakaan sekolahnya ketika dilihatnya Rian yang lagi duduk disalah satu meja yang tak jauh dari pintu masuk. Ia segera membalikkan badan membatalkan niatnya untuk masuk dan malah kembali menuju kelasnya. Dan duduk disana sendirian sambil kembali mengulang-ulang pelajaran yang tadi diberikan gurunya.
“Lho ra, kok loe disini?” tanya Lilly yang baru masuk kekelas. Kebetulan tadi uangnya ketinggalan didalam tas.
“Eh Lilly?” Diera kaget
“Bukannya tadi loe bilang mau keperpus ya?” tanya Lilly lagi
“0h itu. Nggax jadi,” sahut Diera singkat.
“Kenapa?”
“Nggax kenapa-napa?”
“Ya udah kalau gitu gabung ma kita yuk. Mau kekantin nih gue. Lagian ngapain sih loe dikelas sendiRian. Kesambet baru tau loe” ajak Lilly. Diera dengan senang hati mengikutinya.
Dikantin semuanya asyik ngobrol ngalor ngidul. Tapi Diera lebih banyak diem. Ia masih terus kepikiran buku diarynya yang masih belum ketemu. Bahkan menurut dugaannya ada saat ini buku itu ada pada Andreani and temen-temennya.
“Diera loe kenapa sih?”. Dari kemaren kita perhatiin kayaknya loe murung terus. Loe ada masalah ya?” tanya Hera
Diera hanya terdiam.
“Diera?” panggil Narnia Heran.
“Eh kenapa?” tanya Diera kaget
“Yah… ngelamun dia…loe kenapa sih? Kalau emang ada masalah cerita donk ama kita. Kali aja kita bisa bantu,” sambung Lilly yang juga bingung melihat tingkah laku sahabatnya akhir-akhir ini yang banyak ngelamun
“Ya gue kan udah bilang gue nggax kenapa-kenapa,” elak Diera
“Atau jangan-jangan masih masalah diary itu ya?” tebak anggun. Diera menoleh.
“Udah lah nggax usah terlalu loe fikirin. Gue yakin kok buku itu nggax jatuh ketangan orang jahat. Soalnya kalau nggax pasti dia gunain ini buat meres loe. Ya… suka ngambil kesempatan dalam kesempitan gitu.”
“Ia ra. Buktinya sampai sekarang nggax ada kan yang ngelakuin itu?” sambung Lilly.
Diera hanya tersenyum kecut. Dia nggax mau bilang kalau kemungkinan besar buku tersebut saat ini ada pada Andreani dan temen-temennya dan memang saat ini di gunakan untuk memerasnya agar menjauhi Rian.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera mempercepat langkahnya sambil terus melirik jam tangannya. Pukul tujuh lewat lima menit. Hatinya was-was takut terlambat. Ia terus berjalan meninggalkan kakaknya yang masih mengutak atik motor mereka yang tiba-tiba mogok sebelum sampai kesekolah Diera. Karena itu Diera memutuskan untuk jalan kaki saja dari pada kesiangan. Walau pun jarak sekolahnya tidak terlalu jauh lagi . palingan satu kali belok saja udah nyampe. Kalau saja motornya nggax mogok palingan juga lima menit nyampe. Hanya berhubung jalan kaki jadi terasa nya kaya jauh banget.
Bunyi klakson mengagetkan Diera. Ia menoleh.
“Elo?” Diera kaget
“Iya. Ini gue Pasya. Masih inget kan?” kata pengendara motor tersebut.
“Ya ingetlah. Kan loe yang bantuin gue kemaren.”
“Lho kok jalan kaki?”
“Ia nih. Soalnya tadi motor kakak gue mogok. Jadi dari pada kelamaan nunggu mendingan gue jalan aja deh. Mana udah siang lagi. Takut nya ntar terlambat.”
“ 0 gitu ya. Ya udah bareng gue aja yuk. Lagian bentar lagi pasti bel.” ajak Pasya.
Diera terdiam. Sejenak ragu, tapi Pasya menyakinkan. Akhirnya Diera pun setuju untuk duduk dibelakang Pasya.
“Eh ma kasih ya. Untung aja ada loe. Kalau nggax gue pasti udah terlambat. Mana hari in ada ulangan lagi” kata Diera setelah meteka sampai di parkiran sekolah
“Santai aja lagi,” balas Pasya sambil melepas helm nya yang dikenakannya
“Ya udah kekelas yuk”
Pasya mengangguk karena kelas mereka memang searah. Begitu berbalik Diera kaget, karna selang tiga motor dari tempatnya berdiri tampak Rian yang terus menatapnya dengan helm ditangannya. Sepertinya Rian juga baru tiba sebelumnya.
Tapi Diera pura-pura nggax ngelihat dan dengan santai melewati Rian sambil mengajak Pasya untuk jalan disampingnya. Bahkan ia sempet basa-basi juga sama Pasya ang sudah membantunya.
Diera baru saja keluar dari ruangan pak gunawan untuk menyerahkan tugas yang diberikan guru tersebut teman sekelasnya ketika didepanya tampak Rian yang berjalan munuju kearahnya sambil menenteng buku juga. Sepertinya ia juga mendapat tugas yang sama
Dan sebelum Rian sampai keaarah nya, Diera buru-buru memutar haluan. Balik kanan dan langsung ngacir meninggalkan Rian yang terus berjalan sambil tak henti menatapnya dengan Heran akan perubahan sikapnya.
Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 06
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerpen: KETIKA CINTA HARUS PERGI

    Ketika Cinta Harus Pergioleh: Ayu SulastriPerkenalan ku padanya memang tidak disengaja. Sungguh semua ini diluar dugaan,, betapa tidak…!! Ternyata Dia adalah adik dari teman Abang ku sendiri,,, ehm…. cukup mengejutkan, Dia mengenal Abang ku, dan Aku pun mengenal Abangnya,,. Tapi anehnya kami tidak saling mengenal. Sebuah Perkenalan melalui HaPe… Aku sering SMS-an dan berbagi cerita dengan Dia.Pendek Cerita… kami pun berjanji untuk ketemuan. Sesuatu yang di tungggu-tunggu pun tiba. Sosok bertubuh sedikit kecil dan berpakaian sederhana menghampiriku, (persis seperti penampilan abangnya…)Awal yang baik, kami melanjutkan pertemanan kami dengan sering jalan bareng. Waktu pun terasa cepat berlalu. Dia pindah keluar kota, karena mendapat pekerjaan baru. Aku pun sudah jarang bertemu dengannya. Kalau pun ada,, itu hanya sesekali… bila dia libur dan pulang kerumahnya.***Ada suatu malam,,, Aku merasa galau, karna berakhirnya cinta ku pada pacar ku. Ku putuskan untuk menelponnya, karena aku butuh seseorang untuk curhat. Dalam perbincangan itu aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi yang malah mengejutkan ku.. cerita ku tidaklah se-Ironis ceritanya. Aku pacaran selama 16bln saja kesedihan ini bisa berlarut-larut,, tapi dia malah lebih lama, berpacaran selama 5 thn, tapi tetap tegar menghadapinya.Aku tersentak sadar,, betapa dia adalah lelaki yang sabar, dia hanya berkata “mungkin dia bukan jodoh mas..”Hhmm…. rasa damai saat aku mendengar ucapannya, ku rasa kesedihan ini pun harus ku akhiri, memulai cerita yang baru dan semangat yang baru. Ku coba tanya mengapa mereka sampai putus, mengakhiri kebersamaan 5 thn dengan begitu saja. Tapi dia hanya menjawab “berbeda pendapat ajah,, dan kami sudah memutuskan pilih jalan masing-masing”Sungguh jawabannya itu membuatku merasa tidak puas,, ingin rasanya ku tanya lebih dalam, tapi itu tidak mungkin, aku tidak boleh bertanya terlalu detail,, nanti juga aku akan tau semuanya bila aku mau bersabar.Sejak mengenalnya, aku selalu ingin tau tentangnnya, ku cari informasi dimana saja, dengan siapa saja, demi mendapatkan sesuatu informasi tentang dirinya, salah satu kabar yang aku tau adalah dia beragama Katholik. Sungguh suatu yang mengejutkan bagi ku… dan mungkin inilah penyebabnya mengapa mereka putus, pasti tidak salah lagi semua itu karena agama.Aku masih ingat betul 8 April 2011 aku bertemu dengannya disebuah kost Adik sepupuku, dan kini waktu kian berlalu,, perkenalan ku dengannya semakin akrab, saling berbagi perhatian, saling memberi semangat, sebagai tanda kami saling membutuhkan.Aku mulai rindu, jika lama tak bertemu, aku mulai gelisah bila sms nya tak kunjung menghampiri inbox ku. Ada apa sebenarnya yang terjadi padaku, aku mulai menggantungkan keceriaan ku padanya. Ditambah lagi dia memberi ku sebuah kado yang disaat Ultah ku, dan aku merasa semua itu sangat spesial. Semakin lama rasa ini semakin membukit,, rasa ini sungguh sulit untuk diungkapkan,, aku hanya tidak ingin jika jawaban dari pernyataan hati ku ini adalah CINTA. Aku takut…. aku takut bila Jatuh Cinta padanya.***Malam tu malam Minggu,, tiba-tiba Hape ku berdering dan tertulis “ Akis Calling….”Eemm….hati ku langsung berdetak kencang,, ingin secepatnya ku pencet tombol hijau,, tapi aku perlu waktu sedikit untuk menenangkan hati agar tidak gemetar saat mengangkat telponnya.Penjang lebar kami bercerita,, walau kadang-kadang terdiam, karna mungkin dia tidak terlalu pandai bicara,, dia kemudian bertanya “nanti hari minggu adek kuliah ya..?”,, “iya mas… emangnya kenapa.?” Jawab ku.“Enggak,, mas mau ngajakin keundangan ntar tanggal 20 november, Mantan mas nikah…” betapa aku terkejut mendengarnya, masa sih bisa secepat itu pikir ku, baru Februari kemarin mereka putus,, kenapa November ini sudah mau nikah mantannya, ribuan tanda tanya muncul di benak ku. “ mungkin adek nggak bisa ya..?” ucapnya lagi.. tapi aku langsung menjawab “ adek pengen ikut mas, adek pengen kesana, bisa kok… nanti juga nggak banyak tugas lagi, jadi adek bisa ijin dulu minggu itu..” Aku tidak mungkin melewati kesempatan itu, apa pun akan ku lakukan agar bisa ikut dia.Keinginan itu pun terwujud, dikampus nggak ada dosen, aku pun tanpa pikir panjang langsung pulang, tidak lama kemudian dia pun datang kerumah ku untuk menjemputku, walau cuaca kelihatan mendung, tapi tidak membuat semangat ku lemah untuk ikut dengannya.Tak perlu berlama-lama lagi, aku berangkat, mungkin sedikit nekad, awan putih berubah menjadi gelap, walau kami berharap hujan tak hadir, tapi kuasa Tuhan tidak lah dapat ditahan, di perjalanan kami kehujanan, kami berhenti disebuah warung untuk menghindari hujan lebat, hampir 1 jam kami disitu, hanya terdiam, sambil terucap doa semoga hujannya berhenti.Yacchh,,,, sepertinya hujan pun mengerti, meski gerimis mengusik, kami tetap melanjutkan perjalanan, eemm… namanya juga musim hujan,, di perjalanan selanjutnya kami kehujanan lagi, kemudian kami berteduh lagi.Aku ingin cepat sampai, baju ku juga sudah basah, untuk apa berteduh, aku memaksanya untuk melanjutkan perjalanan kami, akhirnya dia mengikuti ingin ku, Huuuuftt…. perjalanan yang melelahkan,, kesabaran ku seperti membara, aku ingin tau dimana rumahnya,” mengapa jauh sekali..??” ucap ku dalam hati. Jalan rusak dan berliku, turun naik tanjakan, hingga kebun karet pun kami lewati. Hati ku banyak berkata “ Ya Allah… bagaimana mungkin pengorbanannya yang begitu ikhlas harus dibalas dengan sebuah kekecewaan, 5 thn untuk malam minggu bersama pasti sangat melelahkan baginya, mengapa dia begitu kuat..??” Hahh…. keadaan ini membuat ku semakin terkagum padanya.Tiba-tiba dia berkata pada ku “ pasti nanti adek dibilang pacar mas,,,he..”Aku langsung menjawab “ ya nggak apa apa lah mas, biarin aja,.” Aku berusaha cuek dengan perkataan itu, walaupun sebenarnya sangat mengagetkan ku.Akhirnya tiba juga di tempat resepsi, karna hujan tamu pun tidak terlalu ramai, tapi aku tau… orang-orang di sekililing itu memperhatikan ku.Yupz… perkataannya itu benar, aku dianggap pacarnya, hhmm… terpaksa aku harus mengikuti persandiwaraan ini, Orang tua manta nya, keluarganya, temannya, semua beranggapan begitu. Bahkan sebuah perkataan yang sempat membuat ku terkejut adalah disaat ibu Mantannya berkata “ Oo,,, ada akis… hhmm,, sama cewek yaa,, tapi kok yang ini pake jilbab.?? Yaa… nggak apa apa lah, mungkin yang ini berjodoh”aku hanya tersenyum, walau dalam hati ku keheranan mulai menghampiri, aku tau jawabannya, Ini lah jawaban atas pertanyaan yang selama ini ku simpan,. Tepat sekali,, mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka karena Keyakinan.Tak lama kami pulang,, berpamitan dengan Pengantin, lalu diminta foto bareng, Mungkin akan menjadi kenangan yang Abadi….Saat perjalanan pulang,, betapa aku sangat mengerti posisinya, aku tau perasaannya, tidak mudah menerima semua ini dengan bersembunyi dibalik senyum kesederhanaanya. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya, agar hatinya yang berdegub kencang dapat meredam, aku tidak tau harus berbuat apa, sebisa mungkin aku harus bisa membuatnya kuat untuk melewati semua ini.Berkali-kali ucapan terima kasih dia ucapkan untuk ku, karna sudah bersedia menemaninya dalam kisah masa lalunya ini, tapi aku hanya bisa tersenyum, aku takut salah berbicara yang hanya akan menambah lukanya, tapi tak henti hati ini selalu berkata diam-diam “makasih mas untuk hari ini, aku sangat bahagia bisa ikut bersama mu, menjadi pacar sandiwara mu, menjadi sosok cewek tegar digegalauan mu,,meski hati mu sekarang sedang bersedih, maafkan aku,,, jika aku tak bisa berbuat lebih untuk mu”Hhm… aku hanya mampu mengucapkannya di hati, berbisik pelan untuk diri sendiri, berharap dia tidak mendengar.Usai mengantar ku, dia langsung pamit pulang… aku tau betapa lelahnya dia, aku saja sangat merasakannya, apalagi dia yang harus melanjutkan perjalanan keluar kota untuk kembali ketempat kerjanya dengan kekecewaan. Kekhawatiran ku pada keadaannya amatlah dalam, aku takut terjadi apa-apa dengannya, tak lupa ku ucap pesan untuknya “ hati-hati dijalan mas,, kalau uda nyampe rumah sms adek ya..?” lalu senyum ku menghantarnya.Setelah 1 jam lebih berlalu, dia mengirim sms pada ku, dia berhenti untuk istirahat, aku coba membalas smsnya dengan kata-kata yang membuat dia tetap semangat, lalu dia membalas sms ku “Makasih atas semangatnya. Mas harus segera bangkit lagi kayaknya, memang sulit kalau sudah berbeda, konsekuwensinya mas harus menerima akibatnya, tapi nggak apa-apalah… mas dapat pelajaran dari semua ini, memang sulit belajar ilmu ikhlas sama sabar”. Hanya menghela nafas yang mampu ku lakukan setelah membaca smsnya.***Setelah perjalanan itu,, aku mulai dihantui berbagai keraguan, hati selalu gelisah, tidak tenang. Bahkan aku merasa bahwa dia adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hidup ku. Bahkan setiap malam aku selalu memeluk boneka yang dihadiahkannya untuk ku sebelum tidur, sesekali airmata ku mengalir tanpa aku sadari, betapa berat perasaan ini, aku tak sanggup menahannya. Aku sangat menyayanginya, tapi aku tidak bisa memilikinya, aku takut rasa ini hanya akan mengulang kesalahan yang pernah dibuatnya, aku takut membuatnya kecewa lagi.Seperti biasanya, aku selalu ber-sms dengannya, tak pernah bosan walau yang tertulis hanya itu-itu saja. Entah mengapa topik sms kami mengarah ke arah serius.“Mas capek, biasanya kalau mas kecapek’an kayak gini, mas ingat sama orang yang mas sayang, mas seneng kalau diperhatikan..” itu isi sms yang dia kirim pada ku, aku pura-pura ingin tau siapa orang yang dia maksud.“eemm…. uda ada yang baru ya..?? kok nggak bilang sih..?”“nggak ada yang baru mas,,, mas kayaknya masih trauma lah pengen pacaran lagi… apalagi yang beda agama,”Adrenalin ku berpacu kencang, sungguh isi sms itu telah meruntuhkan gunung harapan ku. Selama ini aku yakin dia juga menyayangi ku, dan aku yakin bahwa kami pasti bisa bersama nantinya, tapi semuanya harus terkubur, aku sadar, Agama bukan lah hal sepele diantara hubungan kami ini.Airmata ku mengalir, kian deras,, membasahi seluruh wajahku, batin ku pun ikut meratap..”Ya Allah,, cobaan apa lagi ini.? Mengapa Engkau harus mempertemukan ku dengan dia, bila hanya luka jiwa yang akan terukir, Ya Allah… apakah dengan cara ini Engkau mengajari ku untuk bersabar, mengapa aku selalu sulit mendapatkan cinta yang ku ingin, aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya, tapi mengapa jurang antara kami sangat lah berbahaya, Ya Allah… tunjukkan aku jalan terbaik-Mu..”Aku hanya bisa membalas “ iya lah mas,,, Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya, makasih atas semuanya mas, makasih juga uda ngasih boneka yang selalu ada buat adek, he..”“iya,,,itu semua karna mas sayang sama adek, untuk sekarang adek yang ngerti mas..”Aahh…. kata Sayang yang dikirimnya, mungkin tak berarti baginya, tapi bagi ku,, kata-kata itu seperti ombak besar yang meruntuhkan bendungan airmata ku, sekencangnya aku menangis, entah apa maksud dari semua ini.Setelah itu lah,,,, aku sadar apa yang harus aku lakukan, memang menghindar bukan jalan yang baik, tapi aku harus pandai memposisikan diri, agar perasaan ini tidak terlalu mendalam.Waktu terus berlalu, kedekatan ku padanya semakin akrab, hampir mirip dengan orang yang sedang berpacaran. Liburan Natal, dia mengajak ku jalan-jalan, tapi cuaca selalu hujan, jadi susah untuk kami bertemu, ada pun Cuma sebentar, saat itu aku datang kerumahnya waktu hari pertama Natal, itupun dengan baju lusuh dan basah karna kehujanan, aku hanya sebentar bertemu dengannya, tidak sedikit pun bisa menghilangkan rindu ku.Entah mengapa waktu seakan mengijinkan kami untuk jalan bersama, hari itu tidak hujan lagi, cuaca sangat bagus. Tanpa perencanaan, dia menjemput ku. Kami jalan bersama mengelilingi kota, ada suatu tempat yang ku sukai saat dia pertama kali membawa ku jalan-jalan, tempat itu adalah “Bukit Bintang”, tapi sayang, dulu kami ketempat itu waktu siang hari, aku hanya bisa melihat kota yang dipadati rumah penduduk dan gedung-gedung saja. Aku merasa tidak puas, lalu aku berencana akan kembali bersamanya ketempat itu pada malam hari. Dan keinginan ku itu diwujudkannya, selesai makan dan keliling kota, aku dibawanya ke Bukit Bintang.Aku terkejut melihat keindahan kota pada malam hari, diatas bukit itu aku bisa melihat kota yang dipenuhi dengan lampu-lampu, dan langit yang dihiasi bulan bersama bintang-bintang. Sungguh pemandangan yang indah dan romantis, aku menikmatinya dengan damai, lirih dalam hati ku pun berbisik pada Sang Pencipta “ Ya Allah…. Engkau lah yang tau akan takdir ku, aku hanya bisa menunggu jawaban ini dengar rasa sabar melewati waktu, malam ini aku bersamanya, aku merasakan kedamaian yang tak ingin ku lepas, Ya Allah…. jangan buat orang sebaik dia merasakan sakit hati atau kecewa karna perasaan ku”. Beberapa saat kemudian dia pun mengajak ku pulang, tentu saja kami tidak boleh berlama-lama, karna dia harus mengantar ku pulang.***Kembali lagi,, keraguan mengusik ku, aku butuh suatu kejelasan darinya, sebenarnya seberapa penting diri ku baginya. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat, agar dia tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan ku. Dan aku memutuskan, bahwa waktu yang tepat adalah Malam Tahun Baru. Karna aku akan menghabiskan malam itu bersamanya.Yeaachh…. semoga semuanya bisa dibicarakan dengan baik, aku dan dia pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Aku juga tidak mungkin terus berharap padanya, sedangkan akhirnya aku juga tidak tau. Haruskah ku korbankan waktu yang panjang demi sebuah jawaban yang tidak begitu jelas?Rasanya semua ini tak sanggup untuk ku pendam sendiri, banyak yang menyukai ku tapi semuanya ku tolak, hanya karna demi menghargai perasaannya. Tapi… apakah adil bagi ku, bila aku harus menutup diri dari orang-orang yang mengajak ku untuk serius. Sedangkan yang ku jalani sekarang juga tidak jelas arahnya.Aku ingin membuat semua ini menjadi nyaman, aku juga tidak akan berpasrah diri pada Takdir Tuhan, walau bagaimana pun rasa sayang ku padanya, Agama ku tidak akan aku korbankan demi cinta ini.***Ku pikir malam Tahun Baru ini adalah moment yang tepat untuk kami saling mengungkapkan perasaan. Tapi ternyata tidak lah seperti yang ku harapkan. Dimalam itu kami hanya membahas tentang perasaan yang tidak bisa saling memiliki. Aku sangat merasa kecewa atas pernyataannya, bahwa hubungan kami memang tidak memiliki arah, bahkan dia pun tidak berani memberikan suatu keputusan tentang kedekatan kami ini.“Mas… tidakkah kau mengerti perasaan ku sekarang..? aku sangat membutuhkan kejelasan dari hubungan ini, betapa perihnya aku, harus berjalan diatas kerikil yang tajam. Aku ingin langkah ku terarah, memiliki tujuan, sehingga aku dapat berpegang kuat pada tekad ku, saat badai mengguncang keyakinan ku…”***Setelah event itu, aku merasa bahwa aku harus membuka mata ku dengan lebar, agar bisa melihat pandangan dengan terang. Aku takut bila saat tekad membulat, gelap datang menyapa, hingga membawa ku pada arah yang sesat.Aku memutuskan untuk memendam rasa cinta yang begitu dalam ini di danau hati yang letaknya tersembunyi dari arah mata manapun. Ku biarkan air mata ini mengalir membuat dalam genangannya, kan ku jaga sampai pada waktu yang tak terbatas, karna tidak ada yang bisa menggantikan keistimewaannya dihati ku.Aku tau bagaimana perasaannya, begitu sulit dia harus menjalani semua ini hanya dengan 2 mata dan 1 hati. Ku yakin dia butuh sandaran yang lain untuk menenangkan jiwanya yang dilanda probelam kehidupan. Walau sulit bagi ku juga berada disamping mu, tapi ku putuskan akan selalu menjadi pendengar baik mu disaat kau butuh seseorang untuk mendengar keluhan mu.“ mas.. maafkan aku, aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Mungkin kita bukan lah sepasang jodoh, Tuhan sudah punya rencana lain dari pertemuan kita ini, ku harap kau pun mengerti mas, dalam hubungan ini kita sama2 diposisi sulit. Semoga mas masih bisa menemukan seorang wanita yang sesuai dengan keinginan mas. Cinta ku berhenti disini mas, Cukup sampai disini, ku telah memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin sebuah perasaan yang semakin jauh. U are special someone for me… everyday..”*****By: Ayu SulastriEmail: Ayyu.astri@yahoo.com (YM,FaceBook)

  • Melati Ini Untukmu Kawan

    Melati Ini Untukmu Kawanoleh: Triana Aurora Winchester – Air mata ini tak hentinya mengalir di wajahku yang tertunduk lemas memandangi gundukan tanah merah pemakaman yang hampir merata. Rangkaian melati segar yang sengaja kubawa jauh jauh dari kota asalku Kendal pun kini ikut layu seakan menandakan akhir dari sebuah janji dan harapan indah untuk kembali bertemu.Aza, seorang kawan yang telah merubah penilaian rendahku selama ini tentang pria. Sebelum aku mengenal Aza, aku selalu menganggap semua pria itu sama, tak ada yang berhati dan berotak, dan hanya dalam masa dua bulan kebersamaanku dengan Aza, hidupku kini telah banyak berubah ke arah yang lebih baik.Aku bertemu dengan Aza kira-kira tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 januari 2010, saat kami sama-sama menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah TV komunitas yang berada di daerah Magelang.Aza datang dari Medan, sedangkan aku asli jawa tengah, jadi seringkali perbedaan kata dan logat bicara menjadi hal yang baru dan lucu bagi kami.Tak ada yang spesial di awal perkenalanku dengan Aza, karena waktu itu pun aku menganggap Aza tak lebih dari pria bodoh, namun ternyata, waktu yang singkat telah mampu merubah anggapan itu..Airmata bagiku adalah hal yang mustahil untuk hilang dari hidupku, dan kawan, tak lebih dari lawan yang bersembunyi dibalik senyuman yang sewaktu-waktu dapat menciptakan lebih banyak air mata.Seperti waktu itu, saat semua anggota kelompok tugas filmku tak ada yang bertanggung jawab dengan tugasnya masing masing, sedangkan posisiku waktu itu adalah ketua kelompok yang paling bertanggung jawab atas jalannya produksi film yang ditugaskan oleh bapak Tanto, pembimbing PKL kami.Kelemahanku adalah ketidak tegasanku, dan menangis adalah hal tak berguna yang ku ketahui namun tetap kulakukan karena hanya itu yang bisa kulakukan dalam ketidak berdayaanku, itu pendapatku yang dikatakan bodoh oleh Aza,"Bodoh kali kau! jalan pikiranmu itu tak secerdas naskah yang kau buat!!" ucap Aza dengan nada tegas dan bijak saat tiba-tiba menemuiku yang sedang menyendiri dan menangis di belakang studio tv."Mereka susah kali diaturnya Za.." jawabku lemas.Aza lalu memetik tiga buah bunga melati yang banyak tumbuh di belakang studio, Ia lalu memberikannya satu kepadaku."Ni makan, kau suka melati kan…?" pintanya dengan serius, aku bingung, aku memang sangat suka melati, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk memakannya."Ah gila kau! orang lagi stres gini disuruh makan melati!" jawabku kesal."Itulah kau, hanya mau menikmati keindahan dan wanginya saja.., padahal ada kenikmatan yang luar biasa jika kau mau merasakannya.." ucap Aza sambil memakan satu melati, Ia mengunyah melati itu dengan santainya lalu menelannya. Aku hanya melihatnya dengan terbengong."Ih, kau gila..! kan rasanya pahit…!!" ucapku pada Aza."Sok tau kau! emang kau pernah makan melati?" tanyanya dengan santai. Aku hanya menggelengkan kepala."Terus darimana kau tau kalau melati ini pahit..?" lanjut Aza, akupun tak mampu menjawabnya karna memang aku tak tau."Itulah yang membuat dirimu selama ini gak happy, kau hanya melihat segala sesuatunya hanya dari sudut pandang yang mudah terlihat tanpa mau melihat yang tak terlihat, padahal disitulah kau akan menemukan makna dan hikmah dari semua masalahmu..dan kau selalu memvonis buruk semua yang sebenarnya belum kau ketahui kebenarannya.." jelas Aza dengan penuh kedewasaannya yang membuatku terkagum-kagum tapi tetap tak mengerti maksud dari kata-katanya."Maksudnya? aku gak mudeng.." tanyaku dengan tampang blo'on.Aza lalu membuka telapak tangan kananku dan memaksaku menerima satu melati yang tersisa ditangannya."Kau makanlah melati ini, baru kujelasin ntar.." jawab Aza, Ia lalu pergi meninggalkanku.Sejak hari itu aku dan Aza sangat dekat, meski aku dan Aza memiliki adat yang jauh berbeda, namun kedewasaannya dan cara berpikirnya yang bijak telah membuatku merasa nyaman saat aku bersamanya. Diapun kuanggap sebagai abangku sendiri. Azalah yang selalu menemukanku saat menyendiri dan menangis. Ia selalu menenangkanku dengan kata-katanya yang bijak meski tak kumengerti.Dan tibalah saat menyedihkan yang tak ingin kulalui namun itu tetap terjadi, itulah saat perpisahanku dengan Aza. Tak terasa waktu dua bulan telah berlalu, dan kami harus kembali ke jalan hidup sebelum kami bertemu. Aku harus kembali ke Kendal untuk melanjutkan sekolahku, begitu juga dengan Aza.Pagi itu aku sengaja menjauh darinya agar tak ada air mata perpisahan, namun itu hanya sia-sia, Aza kembali menemukanku di belakang studio."Kenapa belum pulang kau??!!" tanya Aza yang mengagetkanku."Kau ngusir aku??" jawabku kesal. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar dan dilihat Aza, tapi nampaknya Aza sudah tau. Ia lalu duduk disampingku, satu tetes air mata tak mampu ku kendalikan dan mengalir di pipiku, saat aku ingin segera mengusapnya dengan tanganku, tiba-tiba Aza mencegahnya."Kalau mau nangis ya nangis aja, mungkin ini adalah saat terakhir kita ketemu.." Ucap Aza dengan serius, matanya tajam menatapku, memang tak ada air mata di sana, namun kesenduan itu terlihat jelas di wajahnya. Akupun tak bisa lagi membendung air mataku yang akhirnya ku biarkan keluar.Aza hanya diam membiarkanku menangis, Ia lalu memetik dua melati dan memberikannya satu untukku."Ini permintaanku yang terakhir kali.., makanlah.." pintanya kepadaku. Aku menerima melati itu, namun aku menggelengkan kepala tanda aku tak mau memakannya."Aku mau makan, tapi kau harus janji kalau kita bisa ketemu lagi…" pintaku dengan penuh air mata."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?" jawab Aza. Aku tak mengerti kata-katanya. Aza lalu tersenyum dan mengacungkan jari kelingking kanannya tanda berjanji, Akupun lalu mengkaitkan jari kelingking kananku dengan Aza, dan kami pun berjanji."Ntar kau yang harus datang ke Medan, dan bawakan aku melati asli Kendal, akan kucoba gimana rasanya, kita makan melati bersama nanti.." ucap Aza sambil tertawa, meski kesenduan itu masih terlihat jelas di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum, dalam hati aku berjanji akan memenuhi permintaannya."Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi, adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi.." itu adalah lagu koes plus yang sering Aza nyanyikan untukku, dan hingga kini, aku sangat menyukai lagu lawas itu, hampir setiap hari aku melihat rekaman video saat Aza menyanyikan lagu itu.Tak terasa sudah 3 tahun aku berpisah dengan Aza, sejak satu bulan setelah kami berpisah, Aza sama sekali tak bisa kuhubungi, awalnya aku berpikir dia sibuk, tapi hingga kini Aza tak pernah memberiku kabar.Pagi itu, saat aku melihat video rekamannya, aku teringat dengan satu permintaannya agar aku mau makan melati. Aku pun segera menuju halaman rumahku, ada satu pohon melati yang tumbuh di sana, aku lalu memetik satu melati yang sudah mekar, kucoba mengambil satu kelopak bunganya dan perlahan kumasukkan ke mulutku, awalnya terasa pahit, tapi setelah aku mengunyahnya rasanya menjadi sangat berbeda dan tak bisa kuungkapkan dengan kata ataupun tulisan. (kalau kalian mau coba aja sendiri..hohoho). Aku lalu teringat janjiku untuk datang ke Medan dan membawakan melati asli Kendal untuknya.Entah apa yang merasuki hati orang tuaku, tiba-tiba saja mereka langsung mengijinkanku untuk berlibur ke Medan pada liburan semester tahun ini. Aku pun sangat senang dan tak sabar menanti hari itu, tak lupa aku juga membawakan melati yang kurangkai spesial untuk Aza.Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di kota Medan ini, dan Aku segera menuju ke alamat yang dulu diberikan Aza sebelum kami berpisah. Kurang lebih satu jam dari bandara, aku sampai di sebuah rumah yang bercat dinding serba putih. Aku lalu mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama keluar seorang wanita paruh baya membukakan pintu untukku, ku pikir itu ibunya, dan ternyata itu memang benar ibunya.Aku lalu memperkenalkan diriku dan menyampaikan maksud kedatanganku untuk menemui Aza. Tiba-tiba ibu Aza menangis."Dulu Aza sering cerita tentang kamu, dia bilang, bertemu denganmu telah memberikan warna yang berbeda disisa waktunya…" ucap ibu Aza sambil mengusap air matanya dengan sebuah tissue. Aku bingung."Dulu??? emang sekarang Aza kemana??" tanyaku dengan penasaran.Ibu Aza tak berkata apapun, Ia lalu mengantarkanku ke sebuah tempat dan meninggalkanku sendiri di sana agar aku bisa leluasa memarahi Aza yang tak menepati janjinya."Kau kenapa jahat kali sama aku..!! kau janji kalau kita pasti akan ketemu lagi, kau minta aku datang ke Medan, sekarang aku udah datang Za…, aku juga sudah bawakan melati yang banyak asli dari Kendal untuk kita makan bareng, Melati ini Untukmu Kawan.. Kau jangan diam aja Za..!! bangunlah..!!!" ucapku pada satu raga yang hanya diam bersembunyi dibalik gundukan tanah merah.Air mataku tak hentinya mengalir, aku tak percaya Aza telah tiada, radang paru-paru telah menghancurkan sebuah janji dan harapan untuk kembali bertemu.Aku lalu memakan melati yang kubawakan untuk Aza meski sudah agak layu,"Kau lihat kan Za, aku udah makan melati ini, kau juga mau kan? ini.." Aku lalu menaburkan semua melati yang kubawa di atas pusara Aza."Kalau Tuhan yang ingin ketemu aku duluan gimana?"Ternyata memang Tuhan lebih dulu ingin bertemu dengan Aza, dan aku yakin pertemuan itu pasti lebih indah daripada pertemuanku dengan Aza.-THE END-NB : Kisah ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, tokoh, dan peran itu hanya kebetulan semata.by: Triana Aurora Winchester

  • Cerpen Cinta dan Persahabatan: Dari Sebuah Diary Hati

    Dari Sebuah Diary HatiCerpen karya Andri Rusly“Tak Kan Pernah Ada” masih mengalun dari MP3-nya Andre. Mulutnya ikut komat-kamit mengikuti irama lagunya Geisha. Hmm, kelihatannya Andre begitu menjiwainya. Kenapa nih anak jadi termehak-mehek begini ya? Memang ada yang lain dalam diri Andre. Setelah setahun persahabatannya dengan Rere berjalan. Susah senang dilaluinya bersama. Rere memang sahabat yang baik dan manis. Mang begitu kok kenyataannya. Bukannya Andre berlebihan dalam menilainya. Sahabat yang di saat duka selalu menghibur dan di saat suka selalu hadir tuk berbagi tawa. Rere pernah bilang kalo semua saran Andre selalu diturutin dan begitupun sebaliknya. Pokoknya di mana ada Andre di situ ada Rere. Begitulah hampir setiap ada kesempatan mereka selalu pergi bersama-sama. Gak ada pikiran yang “aneh”. Gak ada perasaan apa-apa termasuk cinta!.Tapi kenapa Rere sampai saat ini belum juga punya cowok ? Padahal kalo dipikir-pikir Rere gak sulit untuk mendapatkan cowok. Mang sih Rere adalah tipe cewek yang sulit jatuh cinta. Gak sembarangan Rere menilai seorang cowok. Ya memang, inilah yang membuat Andre takut. Takut perasaannya hanya akan menjadi permainan waktu semata. Waktu yang entah sampai kapan akan membuat Andre terombang-ambing oleh cinta. Apakah ini cinta? Ya, ini adalah cinta. It must have been love kata Roxette. Ah, Andre terus memendam perasaannya. Sampai-sampai suatu ketika Andre dikecam oleh perasaan cemburu. Perasaan yang dulu gak pernah ada kini muncul. Cemburu saat Rere menceritakan kalo ada cowok yang naksir padanya. Apakah cemburu pertanda cinta? Kata orang cemburu tidak mencerminkan rasa cinta tapi mencerminkan kegelisahan. Aduh, Andre makin ketar-ketir aja dibuatnya. Andre benar-benar gelisah. Lama-lama tersiksa juga batinnya. Ada keinginan yang harus diutarakan. Tentang masalah perasaan Andre yang gak karuan tentang Rere. Cuma gak ada keberanian. Andre takut kalo Rere membencinya. Ini gak boleh terjadi.Kemudian akhirnya Andre berusaha untuk melupakannya tapi gak bisa, malah rasa sayang yang semakin membara. Apakah salah kalo Andre ingin menjalin hubungan yang lebih hangat bukan hanya sebagai seorang sahabat? Hmm, Andre harus berani. Harus berani ambil segala resikonya.“Rere, aku mencintaimu” kata Andre akhirnya setelah sekian lama dipendamnya. “Aku akan serius ma kamu dan mau menyayangimu seutuhnya”.Ia pandangi wajah Rere. Gak ada amarah di wajahnya yang ada hanya tangis. Ups, Rere menangis. Andre makin bertanya-tanya. Baru kali ini Andre melihat Rere menangis.“Kenapa Re? Apa kata-kata ku nyakitin perasaan kamu?”Rere menggeleng. Sambil masih terisak ia coba menjelaskan ke Andre. Andre siap mendengarkan jawaban Rere. Apapun itu meskipun kata “tidak” sekalipun. Dan benar juga, kata tidak yang terlontar dari mulutnya. Ya, Andre harus menerimanya. Sepeti kata Eric Segal dalam bukunya, “Cinta berarti kamu takkan sekali saja melafalkan kata sesal”. Rasanya dada terasa mau jebol, gerimis serasa hujan badai. Sepinya malam itu terasa lebih sunyi seolah hanya mereka berdua saja di alam ini. Tak ada suara hewan atau serangga yang meramaikan bumi.“Maafin aku ya, Ndre?” tangan Rere menggenggam jemari Andre. Andre terdiam. “Kamu pasti kecewa ma jawabanku, ya? Tapi itu bukan berarti aku gak ada ‘rasa’ ma kamu. Aku hanya takut perasaan ini hanya ilusi aja”.“Re, Jika cinta ini beban biarkan aku menghilang. Jika cinta ini kesalahan biarkan aku memohon maaf. Jika cinta ini hutang biarkan aku melunasinya. Tapi jika cinta ini suatu anugerah maka biarkanlah aku mencintai dan menyayangimu sampai nafas terakhirku” Andre tetap gak yakin akan perasaannya. Andre merasa Rere akan meninggalkannya selamanya. Kemudian dipeluknya Rere erat-erat. Dibelainya rambutnya dengan penuh kasih sayang.“Aku gak mau kehilangan sahabat yang begitu baik” kata Rere masih dalam pelukan Andre. “Biarlah hubungan kita tetap terjalin bebas tanpa terbatas ruang dan waktu. Lagipula perjalanan cinta kita nantinya bakal abadi, atau malah putus di tengah jalan? Persahabatan bisa jadi awal percintaan tapi akhir dari suatu percintaan kadang malah menjadi permusuhan. Dan aku gak mau itu terjadi pada kita, Ndre”Andre mulai merenungi kata-kata Rere. Dilepaskannya pelukannya kemudian dipandanginya wajah Rere dalam-dalam. Ternyata Andre masih bisa menikmati senyum manis Rere. Masih bisa merasakan sejuknya tatapan Rere. Ia gak mau kehilangan semuanya itu.“Aku rela menjadi lilin walau sinarnya redup tapi gak habis dimakan api bisa memberi cahaya dan menerangi hatimu” kata Andre sambil menyeka air mata di pipi Rere.“Iya, Ndre. Soalnya hati hanya dapat mencintai sekejap. Kaki cuma bisa melangkah jauh dan lelah. Busana tak selamanya indah dalam tubuh. Tapi memiliki sahabat sepertimu adalah keabadian yang tak mungkin kulupakan” begitu pinta Rere disambut senyum Andre. Mereka saling berpelukan lagi. Tanpa beban tanpa terbatas ruang dan waktu. Hmm… apa bisa Andre menyimpan rapat-rapat perasaannya berlama-lama ? Only time will tell…*****

  • Cerpen Remaja Take My Heart ~ 19

    Take My Heart _ Lanjutan dari part sebelumnya. Masih seputar Kisah Vio sama Si Ivan. Khusus part ini, Adminya beneran udah bingung sendiri. Udah bolak balik edit, ujung ujungnya tetep aja. Sinteron. Wukakakakkacau.Tapi nggak papa deh. Dari pada nggak di lanjutin. Udah bingung juga soalnya ni cerpen mau di kemanain. Just info aja ya, Next part ending….Take My HeartAwalnya Vio memang masih merasa ragu. Ia masih tidak yakin apa yang ia lakukan itu benar. Bukankan beberapa waktu ini apa yang ia lakukan selalu terlihat salah. Mulai dari menyatakan cintanya pada herry (Baca cerpen sedih "Pupus"), keputusannya pindah kampus, meminta bantuan pada Ivan, Semuanya berakhir kacau. Dan sekarang ia malah harus berurusan sama Andra.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*