Cerita SMA Diera Diary ~ 05 { Update }

Masih seputar Serial Diera Diary yang memang belum ketemu sama ending. Di cerita sebelumnya, kayaknya hubungan keduanya sudah mulai oke tuh, tapi tetep belom berdamai. Tapi nggak tau deh kalau pada Cerita SMA Diera Diary ~ 05 ini mereka akhirnya baikan. Untuk jelasnya, langsung simak aja yuk.
Oh iya teman teman. Biar nggak bingung sekaligus jadi lebih mempermudah untuk yang membaca, part sebelumnya di baca dulu ya yang bisa langsung di cek disini.

Cerita SMA Diera Diary ~ 04

Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera sedang berjalan jalan di pasar bersama Cycie untuk membeli perlengakpan sekolah adiknya.
“Kak Rian” teriak Cycie tiba-tiba yang membuat Diera kaget dan segera menoleh. Pada saat bersamaan Rian juga menoleh kearanya dan sepertinya dia juga kaget.
“Cycie?” sapa Rian seolah masih nggak percaya.
“Ia. Kakak ngapain di sini?” balas Cycie.
“Lagi jualan bakso” balas Rian.
“Ha?. Yang bener?” Cycie kaget. Diera apalagi.
“Ha ha ha… ya nggak lah. Kakak jalan-jalan aja kok. Cycie sendiri lagi ngapain?” balas Rian.
“Kirain” gumam Diera lirih. Rian sempet melirik mendegar gumamannya. Tapi Diera malah pura-pura milih-milih tas buat adiknya.
“Cycie lagi mau nyariin tas buat sekul besok. Tapi Cycie pikir kak Rian beneran jualan bakso tadi.”
“Emang kakak cocok jualan bakso?” Rian balik nanya.
Cocok banget,” Diera yang bales. Rian mendelik mendengarnya.
“Ya engak lah. Kakak kan keren masa jualan bakso. Ya pasti nggak cocok lah. Pantes nya tu kakak jadi model” balas Cycie. Rian tersenyum. Diera mencibirkan bibir mendengarnya.
“Eh Cycie haus nggak. Kita minum es kelapa muda dulu yuk. Kakak yang trakrir deh,” ajak Rian kemudian.
“Beneran? Mau banget,” Cycie seneng mendengarnya.
“Yuk” ajak Rian sambil menarik tangan Cycie agar mengikutinya.
“Eh tunggu. Gue nggak di ajak” Diera menunjuk mukanya sendiri.
Rian sama sekali tidak menoleh malah asik ngobrol sama Cycie seolah-olah nggak denger apa-apa. Diera jelas sebel di cuekin begitu. Tapi tak urung di ikutinya kedua orang itu pergi.
Selama mereka minum Diera juga tetap terus di cuekin. Rian sama Cycie malah keasikan ngobrol sambil ketawa-tawa. Huh bikin ngiri aja. Batin Diera. Padahalkan dia yang naksir sama Rian. Tapi tu orang malah deketnya sama adeknya. Mana baru mau masuk ke esde lagi. Masa ia kalah sama anak kecil.
Diera berusaha ngajak Rian ngobrol. Tapi tu orang masih berlagak nggak denger. Akhirnya kesabaran Diera habis dan segera mengajak adiknya pulang. Rian tersenyum sendiri sambil memperhatikan pungung Diera yang pergi bersama adiknya meninggalkannya dengan wajah cemberut.
Keesokan harinya Diera sedang merapikan penampilannya di kamar mandi ketika tiba-tiba Andreani and friend menghampirinya.
“Gue minta mulai sekarang loe jauhin Rian,” Andreani langsung to the point.
“Maksut loe?” Diera nggak ngerti.
“Masih nggak ngerti juga ya. Gue mau loe jauhin Rian. Jangan deket-deket lagi sama dia. Apalagi sampai merayunya. Ngerti!” sambung Niken.
“Eh gue nggak pernah ngerayu dia ya,” Diera berusaha membela diri. Tapi Bella malah terus menyudutkannya.
“Oh ya. Terus kemaren apa maksutnya. Loe pake ngunain adek loe segala. Kita udah liat semuanya tau,” tambah Andreani lagi.
“Ia. Loe suka kan sama Rian?” bentak Niken lagi.
“Engak” Diera membantah.
“Alah nggak usah bohong deh. Semua orang juga bisa ngebacanya dengan jelas kok,” ledek Angela.
“Gue Cuma….” Diera lemes mendengarnya. Jangan-jangan buku diarinya….
“Kita akan kasih tau semua orang kalau loe tu naksir sama Rian,” ancam Andreani lagi.
“Please jangan. Gue akan turtin apa mau loe. Tapi tolong balikin buku gue,” pinta Diera.
“Loe ngomong apa sih?” Tanya Bella Heran.
“Udah lah. Pokok nya loe harus jauhin Rian. Atau loe akan tau akibatnya nanti,” selesai berkata Andreani mengajak teman-temannya pergi meninggalkan Diera yang duduk bersandar di dingding dengan lemas.
“Diera kenapa? Loe sakit?” Tanya Hera saat Diera baru masuk ke kelasnya.
“Nggak kok” balsa Diera.
“Kok muka loe kusut gitu?”
“Ia. Apa loe ada masalah?” tambah Lilly.
“Nggak ada apa apa kok. Kalian tenang aja. Cuma kayaknya gue kecapean aja deh.”
“Kecapean?” Narnia Heran.
“Ia. Eh Gue pinjem buku catatan kalian ya. Soalnya gue ada yang ketiangalan pelajaran waktu nggak masuk kemaren,” Diera ngalihin topic pembicaran.
“Kalau itu sih bisa aja.”
“Stt…. Buk Helen udah masuk tuh” Anggun mengingatkan.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Rian sedang asik tidur di dalam kamarnya sambil mendegarkan musik mp3 nya, ketika terdengar bel rumannya yang terus berbunyi. Dengan malas Rian berjalan menuju kepintu. Karena memang saat itu hanya dia sendiRian yang lagi di rumah ibu sama adik nya yang baru kelas 3 smd sedang keluar. Sementara ayahnya sendiri pasti saat ini masih di kantor.
“Hera?” Rian kaget.
“Ia. Ini gue. Nggak usah kaget gitu deh,” balas Hera santai.
“Ada apa?” tanya Rian lagi.
“Ada apa?” Hera balik nanya karena biasanya kan ia memang jalan kerumah Rian setiap kamis dan rabu sore untuk mengajarkan less bahasa ingris kepada septia. Adik perempuannya Rian.
“Septia ada kan?” Tanya Hera lagi. Karena Rian sepertinya masih kaget.
“Oh…..mau nyari in Septia. Kirain mau nemuin gue.”
“Maksutnya?” gantian Hera yang Heran.
“Bukan…. Maksut gue Septian nya lagi keluar tadi nemenin mama. Tapi katanya bentar kok. Palingan juga bentar lagi pulang. Masuk dulu yuk” ajak Rian kemudian.
Hera sebenernya agak rikuh juga sih. Tapi tak urunng di ikutinya Rian yang lebih dulu masuk ke dalam.
“Ya udah. Loe duduk dulu ya. Oh ya loe mau minum apa. Biar sekalian gue ambilin.”
“Nggak usah deh. Ntar aja,” tolak Hera.
Untuk beberapa saat suasana hening. Masing-masing terdiam. Ya walau pun selama ini Hera sering jalan ke rumah Rian, tapi ia kan nggak pernah ngobrol sama Rian. palingan juga sama ibunya selain septia yang ia ajari. Bahkan teman-teman Hera sendiri nggak tau kalau ia memberikan less pada adiknya Rian.
“E.. emang septia sama tante kemana?” tanya Hera memulai pembicaraan.
“Ke rumah tante gue. Udah dari tadi sih. Biasalah nemenin mama. Tapi dia tadi bilang mau pulang cepet kok. Dia kan juga udah tau kalau hari ini dia ada less. Atau kalau nggak biar gue telp aja. Dari pada loe ntar kelamaan nunggu.”
“Nggak usah deh. Lagian kayaknya gue yang kecepetan datangnya. Biasanaykan mulainya jam 3. ini baru juga jam dua setengah lebih gue udah dating. Jadi biarin aja deh,” cegah Hera.
Suasana kembali hening.
“Oh ya,…… e……” Rian ragu mau ngomong.
“Kenapa?” Tanya Hera.
“Gue mau nanya, soal foto kemaren. Itu.”
“Loe tenang aja. Gue nggak ember kok. Foto itu masih gue simpen and nggak gue kasih lihat siapa-siapa kok. Bahkan Diera juga nggak tau kalau loe punya foto nya di waktu dia lagi tidur di hutan. Kemaren gue cuma iseng aja waktu Septia nanyain siapa cewek yang jadi walpeper di hape loe. Karena gue juga heran kok loe bisa punya fotonya Diera makanya gue send ke handfond gue,” potong Hera sebelum Rian selesai ngomong.
“Cuma yang gue pengen tau kok loe mau sih nyimpen fotonya Diera?” Tanya Hera. Rian terdiam. Dia bingung mau jawab apa.
“Loe nggak ada niat buat ngerjain dia kan?” tambah Hera lagi.
“Ya nggak lah,” bantah Rian cepat.
“Terus buat apa donk?” Hera masih penasaran.
“Jangan-jangan loe suka sama die ya?” tebak Hera. Rian kaget lagsung menatap tajam kearahnya.
“Apa an sih. Ya nggak mungkinlah. Masa ia gue suka sama dia. Loe kalau ngomong ngasal aja.”
“Kirain. Lagian Diera itu kan udah baik, cantik, pinter lagi. Wajar donk kalau loe suka sama dia.”
“Promosi nih ceritanya….”
“Ya nggak lah emang kenyataannya kok. Lagian kan kalian masih sama sama jomlo. Jadi sah sah aja kan.”
“Apasih. Loe ngomongnya makin ngelantur aja. Lagian siapa bilang gue jomlo?” Rian keki di desak gitu.
“Septia….” Balas Hera datar.
"Aah tu anak emang ember. Lagian Septia loe dengerin.”
“O…. jadi loe udah punya pacar?” Tanya Hera lagi.

Ah tau ah…… Tuh kayaknya mama sama septia udah pulang deh. Jadi gue tinggal ya?”
Tanpa menunggu balasan dari Hera, Rian beranjak menuju kekamarnya. Pada saat bersamaan Septia dan mamanya juga sudah muncul.
“Eh kak Hera. Udah dari tadi ya kak?” Tanya septia begitu melihat Hera.
“Nggak kok. Baru juga nyampe.”
“Aduh maaf ya nak Hera. Tadi tante keasikan ngobrol sampai lupa waktu” tambah mamanya septia merasa bersalah.
“Nggak papa kok tante. Lagian kayaknya emang aku yang kecepetan datangnya deh. Abisnya tadi aku juga baru nganterin mama kerumah temennya yang kebetulan searah. Jadi dari pada bolak-balik mending aku kesini aja,” balas Hera.
“Gitu ya. Ya udah tante tinggal dulu ya.”
“Ia tante” Hera mengangukan kepalanya.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera buru-buru menarik dirinya keluar dari pintu perpustakaan sekolahnya ketika dilihatnya Rian yang lagi duduk disalah satu meja yang tak jauh dari pintu masuk. Ia segera membalikkan badan membatalkan niatnya untuk masuk dan malah kembali menuju kelasnya. Dan duduk disana sendirian sambil kembali mengulang-ulang pelajaran yang tadi diberikan gurunya.
“Lho ra, kok loe disini?” tanya Lilly yang baru masuk kekelas. Kebetulan tadi uangnya ketinggalan didalam tas.
“Eh Lilly?” Diera kaget
“Bukannya tadi loe bilang mau keperpus ya?” tanya Lilly lagi
“0h itu. Nggax jadi,” sahut Diera singkat.
“Kenapa?”
“Nggax kenapa-napa?”
“Ya udah kalau gitu gabung ma kita yuk. Mau kekantin nih gue. Lagian ngapain sih loe dikelas sendiRian. Kesambet baru tau loe” ajak Lilly. Diera dengan senang hati mengikutinya.
Dikantin semuanya asyik ngobrol ngalor ngidul. Tapi Diera lebih banyak diem. Ia masih terus kepikiran buku diarynya yang masih belum ketemu. Bahkan menurut dugaannya ada saat ini buku itu ada pada Andreani and temen-temennya.
“Diera loe kenapa sih?”. Dari kemaren kita perhatiin kayaknya loe murung terus. Loe ada masalah ya?” tanya Hera
Diera hanya terdiam.
“Diera?” panggil Narnia Heran.
“Eh kenapa?” tanya Diera kaget
“Yah… ngelamun dia…loe kenapa sih? Kalau emang ada masalah cerita donk ama kita. Kali aja kita bisa bantu,” sambung Lilly yang juga bingung melihat tingkah laku sahabatnya akhir-akhir ini yang banyak ngelamun
“Ya gue kan udah bilang gue nggax kenapa-kenapa,” elak Diera
“Atau jangan-jangan masih masalah diary itu ya?” tebak anggun. Diera menoleh.
“Udah lah nggax usah terlalu loe fikirin. Gue yakin kok buku itu nggax jatuh ketangan orang jahat. Soalnya kalau nggax pasti dia gunain ini buat meres loe. Ya… suka ngambil kesempatan dalam kesempitan gitu.”
“Ia ra. Buktinya sampai sekarang nggax ada kan yang ngelakuin itu?” sambung Lilly.
Diera hanya tersenyum kecut. Dia nggax mau bilang kalau kemungkinan besar buku tersebut saat ini ada pada Andreani dan temen-temennya dan memang saat ini di gunakan untuk memerasnya agar menjauhi Rian.
Cerita SMA Diera Diary ~ 05
Diera mempercepat langkahnya sambil terus melirik jam tangannya. Pukul tujuh lewat lima menit. Hatinya was-was takut terlambat. Ia terus berjalan meninggalkan kakaknya yang masih mengutak atik motor mereka yang tiba-tiba mogok sebelum sampai kesekolah Diera. Karena itu Diera memutuskan untuk jalan kaki saja dari pada kesiangan. Walau pun jarak sekolahnya tidak terlalu jauh lagi . palingan satu kali belok saja udah nyampe. Kalau saja motornya nggax mogok palingan juga lima menit nyampe. Hanya berhubung jalan kaki jadi terasa nya kaya jauh banget.
Bunyi klakson mengagetkan Diera. Ia menoleh.
“Elo?” Diera kaget
“Iya. Ini gue Pasya. Masih inget kan?” kata pengendara motor tersebut.
“Ya ingetlah. Kan loe yang bantuin gue kemaren.”
“Lho kok jalan kaki?”
“Ia nih. Soalnya tadi motor kakak gue mogok. Jadi dari pada kelamaan nunggu mendingan gue jalan aja deh. Mana udah siang lagi. Takut nya ntar terlambat.”
“ 0 gitu ya. Ya udah bareng gue aja yuk. Lagian bentar lagi pasti bel.” ajak Pasya.
Diera terdiam. Sejenak ragu, tapi Pasya menyakinkan. Akhirnya Diera pun setuju untuk duduk dibelakang Pasya.
“Eh ma kasih ya. Untung aja ada loe. Kalau nggax gue pasti udah terlambat. Mana hari in ada ulangan lagi” kata Diera setelah meteka sampai di parkiran sekolah
“Santai aja lagi,” balas Pasya sambil melepas helm nya yang dikenakannya
“Ya udah kekelas yuk”
Pasya mengangguk karena kelas mereka memang searah. Begitu berbalik Diera kaget, karna selang tiga motor dari tempatnya berdiri tampak Rian yang terus menatapnya dengan helm ditangannya. Sepertinya Rian juga baru tiba sebelumnya.
Tapi Diera pura-pura nggax ngelihat dan dengan santai melewati Rian sambil mengajak Pasya untuk jalan disampingnya. Bahkan ia sempet basa-basi juga sama Pasya ang sudah membantunya.
Diera baru saja keluar dari ruangan pak gunawan untuk menyerahkan tugas yang diberikan guru tersebut teman sekelasnya ketika didepanya tampak Rian yang berjalan munuju kearahnya sambil menenteng buku juga. Sepertinya ia juga mendapat tugas yang sama
Dan sebelum Rian sampai keaarah nya, Diera buru-buru memutar haluan. Balik kanan dan langsung ngacir meninggalkan Rian yang terus berjalan sambil tak henti menatapnya dengan Heran akan perubahan sikapnya.
Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 06
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerita SMA Diera Diary ~ 06 { Update }

    Masih penasaran dengan kalanjutan dari Serial Diera Diary?. Kalau jawabannya emang iya mending lanjut baca postingan berikut ini deh. Soalnya admin emang sengaja muncul dengan Cerita SMA Diera Diary ~ 06. Ngomong – ngomong tinggal satu part lagi lho ketemu sama yang namanya ending. #Cihuiy…Oh iya, selain cari tau soal kelanjutan ceritannya. Kali aja ada yang belum baca cerita sebelumnya. Mendingan baca dulu gih biar nggak bingung. And nomong – ngomong bisa langsung di baca disini. Cerita SMA Diera Diary ~ 05Cerita SMA Diera Diary ~ 06Sudah hampir seminggu berlalu, sepertinya Diera benar-benar menghindar dari melakukan kontak dengan Rian. Bahkan kesehariannya juga lebih banyak diem yang membuat temennya cemas.“Diera, loe kenapa sih? Akhir-akhir ini kita perhatiin loe kok kayaknya kebanyakan murung deh. Apa loe ada masalah?” Tanya Hera saat mereka ngumpul di kantin pas istirahat sekolah.“Nggak kok, gue baik-baik aja” elak Diera.“Kayaknya gue tau deh kenapa” ujar Lilly tiba-tiba sambil tersenyum.“Kenapa emang?” Anggun penasaran. Diera juga ia takut kalau Lilly tau soal ancamannya Andreani.“Loe pasti lagi bingung kan?” tebak Lilly lagi. Diera masih terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan.“Emang Diera bingung kenapa li?” Narnia nggak sabar.“Biar gue tebak. Pasti saat ini loe bingung mau nerima Pasya jadi pacar loe atau nggak, ia kan?”“What?!” ujar Diera dan Hera kaget bersamaan.“Jadi Pasya udah nembak loe ra?” Anggun setengah nggak percaya.“Loe ngomong apa sih?” dalih Diera kesel.“Alah ngaku aja deh ma kita-kita. Gue tau kok kemaren sore loe jalan ma Pasya kan. Jujur aja deh?” kata Lilly lagi.“Emang sih. Tapi gue Cuma….”“Jadi kemaren loe jalan ama Pasya?” potong Narnia.Diera mengangguk membenarkan. Karena kemaren sore ia memang jalan bareng sama Pasya. Abis nya tu anak minta tolongnnya sama dia, tapi kan Cuma jalan doank nggak pake nembak segala, lagian dia tau kok Pasya sukanya sama siapa, tapi yang bikin heran kok Lilly bisa tau bahkan bisa menyimpulkan hal yang ngawur gitu.“Loe kok nggak cerita ma kita sih?” Hera terlihat kecewa.Diera jadi merasa nggak enak. Sementara temen-temennya terus mendesak. Tapi ia hanya terdiam, perhatiannya terusik sama seseorang yang baru saja berjalan melewati mejannya meninggalkan kantin.Yups. Ternyara dari tadi Rian duduk di meja yang nggak jauh darinya. Hanya saling membelakangi. Jadi Diera nggak nyadar kalau di kantin itu juga ada Rian dan pasti juga mendengar pembicaraan nya sama temen-temennya tadi.“Ayo donk ra. Loe kok gitu sih sama kita-kita,” desak Anggun.“Denger ya. Pasya tu nggak nembak gue, kemaren kita emang jalan bareng, tapi itu karena dia butuh bantuan gue, lagian Lilly kok bisa menyimpulkan hal konyol kayak gitu sih.”“Bantuin apa?” tanya Hera lagi.“Ya. Sayangnya gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang,” balas Diera lagi.“Alah alasan. Bilang aja Pasya beneran nembak elo?” ledek Lilly lagi.“Nggak,” Diera ngotot.“Yakin….??” Lilly masih nggak percaya.“Ah tau deh.”Diera pergi keluar kantin meninggalkan temen-temennya yang masih kebingunan.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Diera melepas mukenannya, dan kembali melipatnya. Kemudian segera di masukkan nya kembali kedalam tas. Ia melirik jam tangannya. Masih tersisa hampir setengah jam lagi pukul dua. Hari ini kan dia memang sengaja memutuskan untuk tidak pulang, abisnya ia males bolak-balik cape… apa lagi rumahnya memang lumayan jauh dari sekolah, mendingan ia tetap di sekelah aja deh.Begitu keluar dari mushola sekolah, Diera berniat untuk langsung ke perpus aja sendiRian. Sekalian mau cari resensi belajarnya, apalagi semua temen-temen deketnya pulang, memang sih tadi Narnia sempet menawari untuk ke rumahnya saja tapi ia tolak.Pas di beranda Diera nggak sengaja berpapasan sama Rian yang kebetulan juga baru mau keluar. Untuk kali ini Diera sama sekali nggak bisa menghindar untuk sejenak mereka beradu pandang. Tapi Diera buru-buru menalikannya sambil berlalu, di luar dugaan, Rian malah menghampirinya.“Mau kemana?” yanya Rian.“Gue?” Diera menunjuk dirinya sendiri. Seolah nggak percaya Rian mau menyapannya duluan.“Menurut loe?”“Gak kemana-mana sih. Palingan mau balik ke kelas,” balas Diera kemudian.“Loe udah makan siang? Kekantin yuk,” ajak Rian.“HE?!….” Diera berhenti berjalan, pandangannya tertuju kearah Rian dengan Heran.“Nggak deh, gue masih kenyang makan waktu istirahat tadi,” tolak Diera karena Rian masih menunggu jawabannya.“Mendingan gue langsung balik ke kelas aja deh, sorry ya gue jalan duluan,” sambung Diera lagi.“Kenapa? Loe nggak suka gue yang ngajak? Atau loe berharap kalau orang yang ngajak loe itu Pasya?” balas Rian ketus sambil berlalu meninggalkan Diera yang kaget dengan ucapannya.“Hei Rian, tunggu-tunggu-tunggu,” tahan Diera sambil mengejar dan berhenti tepat di depan Rian.“Maksud loe ngomong kayak gitu tadi apa sih?” Tanya Diera penasaran.Rian terdiam menatapnya sejenak, tapi kemudian kembali berlalu dari hadapan Diera yang masih menghadangnya. Diera ingin kembali mengejar ketika tiba-tiba ada yang memanggil namanya.Secara bersamaan Rian dan Diera menolah. Pasya?… Rian kembali menatap tajam kearah Diera sebelum akhirnya bener-bener berlalu pergi.“Hei, ke kantin yuk?” ajak Pasya yang kini ada di depannya mengantikan posisi Rian tadi.“Nggak deh. Gue masih kenyang” tolak Diera.“Udah tenang aja. Pokoknya loe harus ikut gue. Gue traktir deh, da yang masih ingin gue tanyain nih, masih masalah kemaren sih, lagian gue juga laper, tapi ogah makan sendiri,” tambah Pasya lagi.“Tapi….”0mongan Diera terputus karena Pasya terus memaksanya sambil menarik tangannya untuk ikut mengikutinya menuju kearah kantin. Diera nggak ada pilihan lain selain mengikutinya.Begitu menginjakkan kakinya di kantin, perhatian Diera langsung tertuju ke meja no 13. Ia bener-bener merasa nggak enak sama Rian yang terus menatapnya. Tapi Pasya segera mengajak nya untuk duduk di meja yang tak jauh dari meja Rian.“0h ya loe mau makan apa? Biar gue pesenin?” Tanya Pasya“E..gue…” Diera bingung.“Gimana kalau miso sama es rumput laut aja?” tawar Pasya.“Terserah loe aja deh,”“Kalau gitu loe tunggu di sini dulu ya. Biar gue pesenin,”Begitu Pasya pergi, Diera terus menunduk karena ia tau kalau Rian sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Sampai kemudian ia di kejutkan akan keprgian Rian yang lewat di sampingnya meninggalkan kantin. Bahkan mengabaikan teriakan ke dua temen-temennya yang tadi duduk bersamaanya.“Kenapa tu orang. Tadi dia sendiri yang bilang laper banget. Lah sekarang mesen juga belom udah main ngacir aja,” guman temen-temennya Rian yang sempet di dengar Diera sehingga membuat nya makin merasa nggak enak.“Hei kok bengong?” teguran Pasya mengagetkannya.“Eh enggak kok,” Diera mencoba tersenyum.“Loe kok sendiri aja sih tadi. Temen-temen loe pada kemana?” Tanya Pasya beberapa saat kemudian.“Semuanya pulang.”“Hera juga?” tanya Pasya lagi.“Ye nia anak. Udah di bilang semuanya juga.”“He he… lho loe sendiri kenapa nggak pulang juga?”“Nggak ah. Males aja, lagian rumah gue kan jauh, capek aja kalau harus bolak-balik gitu.”“0…”“Bullet” balas Diera singkat.“Hemm… apanya?” Pasya Heran.“Katanya ‘0’ ya bullet.”“ha, ha, bisa aja loe.”Sejenak obrolan mereka terputus akan kedatangana pelayan kantin yang mengantarkan pesanannya. Sambil menikmati hidangan sekali-kali mereka masih keasyikan ngobrol ngalor ngidul.Cerita SMA Diera Diary ~ 06Keesokan harinya, Diera sengaja memisahkan diri dari temen-temennya. Ia segera melangkah kan kaki menuju taman belakang sekolah karena tadi ia nggak sengaja melihat bayangan Rian yang menuju kesana sambil menenteng buku.“Pasti tu orang duduk di bawah pohon jambu lagi deh, kayak biasanya” batin Diera sendiri.Dan bener saja. Rian tampak asyik duduk di sana sambil baca buku. Diera ragu untuk menghampirinya, memang sih ia masih merasa nggak enak soal kejadian kemaren. Tapi kan ia juga nggak tau ntar mau ngomong apa sama Rian.“Apa hobby loe emang ngintipin gue diem-diem ya?”Diera kaget nggak nyangka kalau Rian kini sudah ada di depannya.“Eh anu. Nggak kok, gue tadi nggak sengaja lewat sini,” Diera jadi salting.“0h ya? Kebetulan banget kayaknya,” ledek Rian.“Y,a udah lah kalau loe nggak suka” Diera siap balik kanan tapi ia kaget karena justru Rian malah menahannya dengan cara menarik tangannya.“Jangan datang dan pergi sesuka hati loe, itu nggak baik.”Kata-kata Rian membuat Diera kaget. Maksudnya apa?“Duduk dulu yuk” ajak Rian tanpa melepas pegangannya dan kembali berjalan ke bangku di bawah pohon jambu tempatnya tadu duduk. Diera terpaksa manut. Abis ia bingung nggak tau harus gimana lagi.“Loe mau ngomong apa?” Tanya Rian setelah beberapa saat mereka terdiam.“E gue…” Diera masih ragu.“Kenapa?” desak Rian.“Ah ya, gue kesini mau ngembaliin ini. Sorry kelamaan,” Diera mengeluarkan jaket dari dalam tas yang tadi di bawannya.“0…” Rian mengambil jaketnya.“Bullet” ujar Diera singkat.“Maksudnya?” Rian Heran.“ya 0 nya lah, kan bullet,” balas Diera lagi sambil tersenyum, tak urung Rian ikut tersenyum juga.“Emm, makasaih ya,” kata Diera lagi. Rian hanya mengangguk, sejenak mereka kembali terdiam sampai kemudian Diera berdiri siap pamit pergi.“Jadi loe kesini Cuma mau balikin ni jaket aja?”Diera berbalik, nggak jadi pergi.“Maksud loe?” Tanya Diera Heran, tapi Rian diem saja bahkan perhatiannya malah beralih kerah buku yang tadi di bacanya.“Emang tadi nya loe piker gue kesini mau ngapain?” Tanya Diera yang masih penasaran sambil kembali duduk di samping Rian.“Nggak… tadinya gue pikir ada yang mau loe sampein ama gue, tapi kalau emang nggak ada ya udah lah. Mendingan buruan pergi aja deh sana loe,” balas Rian tanpa menoleh.“Sebenarnya emang ada sih,” guman Diera lirih sambil berbalik pergi.“Kalau emang ada kok langsung ngacir?”“HE?!” Diera kaget, nggak nyangka Rian mendengar gumannannya tadi.“Atau loe takut ada yang ngeliat kita?” sindir Rian lagi. Dan ia juga kaget karena Diera malah mengangguk membenarkan. Sementara Diera sendiri bingung dari mana Rian tau kalau ia takut smaa ancaman anderani.Lama Rian menatap Diera yang masih berdiri mematung sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan pergi.“Eh ya, loe mau kenama?” tahan Diera.“Balik kekelas,” balas Rian cuek.“Tapi gue kan belom ngomong.”“Ya udah kalau mau ngomong- ngomong aja cepetan. Udah gerah gue.”Diera kembali terdiam karena Rian terus menatapnya.“Eh…” Diera makin salting “Gue…”“Rian!!!”Ucapan Diera terputus oleh teriakan seseorang yang berlari menuju kearah mereka.“Ada apa ndre?” Tanya Rian begitu temennya yang tak lain adalah Andre mendekat.“Ada yang pengen gue omongin nih ma loe.” balas Andre yang masih ngos-ngosan.“Sekarang?” Tanya Rian lagi. Andre langsung mengangguk.“Mau ngomong apa?”“Loe bisa ikut gue bentar nggak?” Andre agak ragu-ragu ngomong karena melihat Diera masih ada disana.“Ya udah yuks.”“Sorry ya ra, kalau gue ngeganggu. Tapi Rian nya gue pinjem dulu, tenang. Gue Cuma bentar kok,” kata Andre sebelum pergi.“Nggak papa kok nyantai aja lagi.” balas Diera sambil tersenyum.Diera terus menatap kepergian keduannya sampai menghilang dari pandangannya. Ia juga bersiap untuk beranjak pegi ketika matanya mengangkap buku ‘ku tunggu kamu di pelaminan’ karyanya ‘jon hariyadi’ yang tergeletak di sampingnya. Sepertinya itu buku yang di baca sama Rian tadi deh. Dan ketinggalan karena Andre mengajaknya terburu-buru.Diera membolak balik setiap halamannya. Kayaknya seru juga. Ia kembali duduk dan keasyikan membaca sehingga ia tidak menyadari kehadiran Andreani dan kelima temennya yang kini sudah ada di depannya yang telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.“Ternyata loe sama sekali nggak ndenger omongan gue kamaren ya?”Diera kaget, dan langsung menoleh Andreani.“Ya ini gue. Kenapa? Kaget ha?!”“Andreani gue Cuma…”“Cuma apa ha?!” bentak Andreani sambil mendorong tubuh Diera sebelum gadis tersebut sempet menyelesaikan ucapannya. Tapi untunglah Diera nggak sempai jatuh karean ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Semuannya kaget karena orang tersebut adalah Rian.“Apa-apaan ne!” bentak Rian ke Andreani cs.“Rian jangan salah paham dulu, gue Cuma mau kasi pelajaran buat cewek nggak tau diri ini” terang Andreani sambil menuding ke wajah Diera yang masih menunduk.“Cewek nggak tau diri? Maksudnya?” Rian Heran.Diera menatap Andreani dengan tatapan memohon agar tuh orang nggak ngomong macem-macem.“Ia. Loe tau nggak sih kalau dia…”“Andreani cukup!!” potong Diera.“Kenapa? Biar gue ngomong. Kayaknya Rian juga harus tau deh,” balas Andreani lagi.Rian semakin Heran jadinya.“Sebenarnya ada apa sih?’“Nggak ada apa-apa, yuk kita pergi.” ajak Diera sambil menarik Rian pergi.Tapi Angela menghalangi.“Ya udah. Gue juga pengen tau sebenarnya ada apa?” Rian akhirnya ngalah.“Sekarang loe mau ngomong apa? Cepetan,” Tanya Rian ke Andreani sambil menatap tajam Diera yang udah lemes.“Loe beneran mau tau?”“Nggak usah muter-muter. To the point aja deh.” Rian nggak sabar.“Diera suka sama loe” ujar Andreani enteng. Diera kaget. Andreani bener-bener mambocorkan rahasianya.“Itu doang?” ekspresi Rian yang cukup cuek bener-bener di luar dugaan semuannya.“Loe kok nyantai gitu sih?” angela nggak percaya.“Lho emangnya kenapa kalau Diera suka sama gue? Gue juga udah tau kok, tapi… emmm, bukannya kalian semua juga suka kan sama gue?” balas Rian nyantai. Andreani cs kehabisan kata-kata.“Loe udah tau tapi ngediemin aja dia deket deket ama elo?” Andreani masih nggak percaya.“Jangan bilang kalau loe juga suka sama dia?” tambah angela.“Kalau ia trus kenapa? Emang gue juga suka sama dia kok. Kalian keberatan?” sahut Rian nyantai.“Rian loe?!” tunjuk Andreani yang akhirnya milih pergi di ikuti temen-temennya. Rian menoleh ke sampingnya menatap Diera yang sama sekali tidak melepas pandangan darinya. Kayaknya dia masih nggak percaya deh ma hal barusan yang di dengarnya.“Maksud loe tadi ngomong kayak gitu apa sih?” Tanya Diera.“Yang mana?” Rian pura-pura lupa.Tapi Diera langsung melotot manatapnya.“0 yang itu. Kalau gue bilang gue suka sama loe?”Diera mengangguk.“Lho emangnya ada yang salah?” Rian santai.“Ya iya lah. Maksudnya apa? Loe nembak gue?”“Emangnya loe nggak suka?” Rian balik masih dengan gayanya yang cuek.“Jelas aja gue nggak suka,” teriak Diera sepontan.Kali ini gentian Rian yang kaget plus syok.“Maksudnya loe nolak gue?” Rian masih nggak yakin sama pendengarannya barusan. Diera mengangguk mantap.“Sentu saja. Soalnya gue…”“Kenapa?” potong Rian sebelum Diera menyelesaikan ucapannya. Rasa kecewa jelas terpancar dari wajahnya.“Apa karena…” Rian tidak meneruskan ucapannya. Perhatiannya tertuju kearah Pasya yang berdiri tak jauh di belakang Diera. Sepertinya Pasya sudah lama berada di sana karena penasaran Diera berbalik.“Pasya?!” Diera kaget.“0 jadi kalian berdua udah jadian?” Tanya Pasya Heran tanpa memperdulukan ekspresi Diera yang masih kaget menyadari kehadirannya.“Nggak!”” bantah Diera cepat. Rian hanya terdiam menanggapinya.“Lho tadi bukannya Rian udah nembak loe ya. Emang loe tolak. Kenapa?” Tanya Pasya keDiera.“Loe masih berani Tanya kenapa?” sindir Rian. Diera diem aja mendengarnya, sementara Pasya malah bingung. Nggak ngerti apa maksud Rian ngomong kayak gitu sampai akhirnya Rian memilih berbalik pergi.“Eh ra. Bukan karena gue kan?” Tanya Pasya ke Diera.“Ya bukan lah. Nggak da hubungannya ma loe. Lagian loe kan sukannya sama Hera. Tadi gue Cuma nggak terima aja. Abis masa dia nembak guenya kayak gitu. Nggak ada romantis nya dikit,” sahut Diera sambil tersenyum dan sengaja mengeraskan volume suaranya.Sementara itu Rian langsung menghentikan langkahnya.“0h kirain… ya udah, loe ikut gue yuk. Projek kita belom selesai ne. Gue kan belom jadian ma Hera. Lagian loe kan udah janji mak comblang buat gue,” balas Pasya tersenyum dan sepertinya ia juga sengaja mengeraaskan pembicaraannya karena ia tau saat ini Rian pasti masih menguping pembicaraan mereka berdua.Rian berbalik. Tapi sayang Pasya udah duluan membawa Diera pergi sambil tersenyum puas karena berhasil ngerjain Rian.Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 07~ With Love ~ Ana Merya ~

  • Cerpen: KETIKA CINTA HARUS PERGI

    Ketika Cinta Harus Pergioleh: Ayu SulastriPerkenalan ku padanya memang tidak disengaja. Sungguh semua ini diluar dugaan,, betapa tidak…!! Ternyata Dia adalah adik dari teman Abang ku sendiri,,, ehm…. cukup mengejutkan, Dia mengenal Abang ku, dan Aku pun mengenal Abangnya,,. Tapi anehnya kami tidak saling mengenal. Sebuah Perkenalan melalui HaPe… Aku sering SMS-an dan berbagi cerita dengan Dia.Pendek Cerita… kami pun berjanji untuk ketemuan. Sesuatu yang di tungggu-tunggu pun tiba. Sosok bertubuh sedikit kecil dan berpakaian sederhana menghampiriku, (persis seperti penampilan abangnya…)Awal yang baik, kami melanjutkan pertemanan kami dengan sering jalan bareng. Waktu pun terasa cepat berlalu. Dia pindah keluar kota, karena mendapat pekerjaan baru. Aku pun sudah jarang bertemu dengannya. Kalau pun ada,, itu hanya sesekali… bila dia libur dan pulang kerumahnya.***Ada suatu malam,,, Aku merasa galau, karna berakhirnya cinta ku pada pacar ku. Ku putuskan untuk menelponnya, karena aku butuh seseorang untuk curhat. Dalam perbincangan itu aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tapi yang malah mengejutkan ku.. cerita ku tidaklah se-Ironis ceritanya. Aku pacaran selama 16bln saja kesedihan ini bisa berlarut-larut,, tapi dia malah lebih lama, berpacaran selama 5 thn, tapi tetap tegar menghadapinya.Aku tersentak sadar,, betapa dia adalah lelaki yang sabar, dia hanya berkata “mungkin dia bukan jodoh mas..”Hhmm…. rasa damai saat aku mendengar ucapannya, ku rasa kesedihan ini pun harus ku akhiri, memulai cerita yang baru dan semangat yang baru. Ku coba tanya mengapa mereka sampai putus, mengakhiri kebersamaan 5 thn dengan begitu saja. Tapi dia hanya menjawab “berbeda pendapat ajah,, dan kami sudah memutuskan pilih jalan masing-masing”Sungguh jawabannya itu membuatku merasa tidak puas,, ingin rasanya ku tanya lebih dalam, tapi itu tidak mungkin, aku tidak boleh bertanya terlalu detail,, nanti juga aku akan tau semuanya bila aku mau bersabar.Sejak mengenalnya, aku selalu ingin tau tentangnnya, ku cari informasi dimana saja, dengan siapa saja, demi mendapatkan sesuatu informasi tentang dirinya, salah satu kabar yang aku tau adalah dia beragama Katholik. Sungguh suatu yang mengejutkan bagi ku… dan mungkin inilah penyebabnya mengapa mereka putus, pasti tidak salah lagi semua itu karena agama.Aku masih ingat betul 8 April 2011 aku bertemu dengannya disebuah kost Adik sepupuku, dan kini waktu kian berlalu,, perkenalan ku dengannya semakin akrab, saling berbagi perhatian, saling memberi semangat, sebagai tanda kami saling membutuhkan.Aku mulai rindu, jika lama tak bertemu, aku mulai gelisah bila sms nya tak kunjung menghampiri inbox ku. Ada apa sebenarnya yang terjadi padaku, aku mulai menggantungkan keceriaan ku padanya. Ditambah lagi dia memberi ku sebuah kado yang disaat Ultah ku, dan aku merasa semua itu sangat spesial. Semakin lama rasa ini semakin membukit,, rasa ini sungguh sulit untuk diungkapkan,, aku hanya tidak ingin jika jawaban dari pernyataan hati ku ini adalah CINTA. Aku takut…. aku takut bila Jatuh Cinta padanya.***Malam tu malam Minggu,, tiba-tiba Hape ku berdering dan tertulis “ Akis Calling….”Eemm….hati ku langsung berdetak kencang,, ingin secepatnya ku pencet tombol hijau,, tapi aku perlu waktu sedikit untuk menenangkan hati agar tidak gemetar saat mengangkat telponnya.Penjang lebar kami bercerita,, walau kadang-kadang terdiam, karna mungkin dia tidak terlalu pandai bicara,, dia kemudian bertanya “nanti hari minggu adek kuliah ya..?”,, “iya mas… emangnya kenapa.?” Jawab ku.“Enggak,, mas mau ngajakin keundangan ntar tanggal 20 november, Mantan mas nikah…” betapa aku terkejut mendengarnya, masa sih bisa secepat itu pikir ku, baru Februari kemarin mereka putus,, kenapa November ini sudah mau nikah mantannya, ribuan tanda tanya muncul di benak ku. “ mungkin adek nggak bisa ya..?” ucapnya lagi.. tapi aku langsung menjawab “ adek pengen ikut mas, adek pengen kesana, bisa kok… nanti juga nggak banyak tugas lagi, jadi adek bisa ijin dulu minggu itu..” Aku tidak mungkin melewati kesempatan itu, apa pun akan ku lakukan agar bisa ikut dia.Keinginan itu pun terwujud, dikampus nggak ada dosen, aku pun tanpa pikir panjang langsung pulang, tidak lama kemudian dia pun datang kerumah ku untuk menjemputku, walau cuaca kelihatan mendung, tapi tidak membuat semangat ku lemah untuk ikut dengannya.Tak perlu berlama-lama lagi, aku berangkat, mungkin sedikit nekad, awan putih berubah menjadi gelap, walau kami berharap hujan tak hadir, tapi kuasa Tuhan tidak lah dapat ditahan, di perjalanan kami kehujanan, kami berhenti disebuah warung untuk menghindari hujan lebat, hampir 1 jam kami disitu, hanya terdiam, sambil terucap doa semoga hujannya berhenti.Yacchh,,,, sepertinya hujan pun mengerti, meski gerimis mengusik, kami tetap melanjutkan perjalanan, eemm… namanya juga musim hujan,, di perjalanan selanjutnya kami kehujanan lagi, kemudian kami berteduh lagi.Aku ingin cepat sampai, baju ku juga sudah basah, untuk apa berteduh, aku memaksanya untuk melanjutkan perjalanan kami, akhirnya dia mengikuti ingin ku, Huuuuftt…. perjalanan yang melelahkan,, kesabaran ku seperti membara, aku ingin tau dimana rumahnya,” mengapa jauh sekali..??” ucap ku dalam hati. Jalan rusak dan berliku, turun naik tanjakan, hingga kebun karet pun kami lewati. Hati ku banyak berkata “ Ya Allah… bagaimana mungkin pengorbanannya yang begitu ikhlas harus dibalas dengan sebuah kekecewaan, 5 thn untuk malam minggu bersama pasti sangat melelahkan baginya, mengapa dia begitu kuat..??” Hahh…. keadaan ini membuat ku semakin terkagum padanya.Tiba-tiba dia berkata pada ku “ pasti nanti adek dibilang pacar mas,,,he..”Aku langsung menjawab “ ya nggak apa apa lah mas, biarin aja,.” Aku berusaha cuek dengan perkataan itu, walaupun sebenarnya sangat mengagetkan ku.Akhirnya tiba juga di tempat resepsi, karna hujan tamu pun tidak terlalu ramai, tapi aku tau… orang-orang di sekililing itu memperhatikan ku.Yupz… perkataannya itu benar, aku dianggap pacarnya, hhmm… terpaksa aku harus mengikuti persandiwaraan ini, Orang tua manta nya, keluarganya, temannya, semua beranggapan begitu. Bahkan sebuah perkataan yang sempat membuat ku terkejut adalah disaat ibu Mantannya berkata “ Oo,,, ada akis… hhmm,, sama cewek yaa,, tapi kok yang ini pake jilbab.?? Yaa… nggak apa apa lah, mungkin yang ini berjodoh”aku hanya tersenyum, walau dalam hati ku keheranan mulai menghampiri, aku tau jawabannya, Ini lah jawaban atas pertanyaan yang selama ini ku simpan,. Tepat sekali,, mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka karena Keyakinan.Tak lama kami pulang,, berpamitan dengan Pengantin, lalu diminta foto bareng, Mungkin akan menjadi kenangan yang Abadi….Saat perjalanan pulang,, betapa aku sangat mengerti posisinya, aku tau perasaannya, tidak mudah menerima semua ini dengan bersembunyi dibalik senyum kesederhanaanya. Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhnya, agar hatinya yang berdegub kencang dapat meredam, aku tidak tau harus berbuat apa, sebisa mungkin aku harus bisa membuatnya kuat untuk melewati semua ini.Berkali-kali ucapan terima kasih dia ucapkan untuk ku, karna sudah bersedia menemaninya dalam kisah masa lalunya ini, tapi aku hanya bisa tersenyum, aku takut salah berbicara yang hanya akan menambah lukanya, tapi tak henti hati ini selalu berkata diam-diam “makasih mas untuk hari ini, aku sangat bahagia bisa ikut bersama mu, menjadi pacar sandiwara mu, menjadi sosok cewek tegar digegalauan mu,,meski hati mu sekarang sedang bersedih, maafkan aku,,, jika aku tak bisa berbuat lebih untuk mu”Hhm… aku hanya mampu mengucapkannya di hati, berbisik pelan untuk diri sendiri, berharap dia tidak mendengar.Usai mengantar ku, dia langsung pamit pulang… aku tau betapa lelahnya dia, aku saja sangat merasakannya, apalagi dia yang harus melanjutkan perjalanan keluar kota untuk kembali ketempat kerjanya dengan kekecewaan. Kekhawatiran ku pada keadaannya amatlah dalam, aku takut terjadi apa-apa dengannya, tak lupa ku ucap pesan untuknya “ hati-hati dijalan mas,, kalau uda nyampe rumah sms adek ya..?” lalu senyum ku menghantarnya.Setelah 1 jam lebih berlalu, dia mengirim sms pada ku, dia berhenti untuk istirahat, aku coba membalas smsnya dengan kata-kata yang membuat dia tetap semangat, lalu dia membalas sms ku “Makasih atas semangatnya. Mas harus segera bangkit lagi kayaknya, memang sulit kalau sudah berbeda, konsekuwensinya mas harus menerima akibatnya, tapi nggak apa-apalah… mas dapat pelajaran dari semua ini, memang sulit belajar ilmu ikhlas sama sabar”. Hanya menghela nafas yang mampu ku lakukan setelah membaca smsnya.***Setelah perjalanan itu,, aku mulai dihantui berbagai keraguan, hati selalu gelisah, tidak tenang. Bahkan aku merasa bahwa dia adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hidup ku. Bahkan setiap malam aku selalu memeluk boneka yang dihadiahkannya untuk ku sebelum tidur, sesekali airmata ku mengalir tanpa aku sadari, betapa berat perasaan ini, aku tak sanggup menahannya. Aku sangat menyayanginya, tapi aku tidak bisa memilikinya, aku takut rasa ini hanya akan mengulang kesalahan yang pernah dibuatnya, aku takut membuatnya kecewa lagi.Seperti biasanya, aku selalu ber-sms dengannya, tak pernah bosan walau yang tertulis hanya itu-itu saja. Entah mengapa topik sms kami mengarah ke arah serius.“Mas capek, biasanya kalau mas kecapek’an kayak gini, mas ingat sama orang yang mas sayang, mas seneng kalau diperhatikan..” itu isi sms yang dia kirim pada ku, aku pura-pura ingin tau siapa orang yang dia maksud.“eemm…. uda ada yang baru ya..?? kok nggak bilang sih..?”“nggak ada yang baru mas,,, mas kayaknya masih trauma lah pengen pacaran lagi… apalagi yang beda agama,”Adrenalin ku berpacu kencang, sungguh isi sms itu telah meruntuhkan gunung harapan ku. Selama ini aku yakin dia juga menyayangi ku, dan aku yakin bahwa kami pasti bisa bersama nantinya, tapi semuanya harus terkubur, aku sadar, Agama bukan lah hal sepele diantara hubungan kami ini.Airmata ku mengalir, kian deras,, membasahi seluruh wajahku, batin ku pun ikut meratap..”Ya Allah,, cobaan apa lagi ini.? Mengapa Engkau harus mempertemukan ku dengan dia, bila hanya luka jiwa yang akan terukir, Ya Allah… apakah dengan cara ini Engkau mengajari ku untuk bersabar, mengapa aku selalu sulit mendapatkan cinta yang ku ingin, aku sangat menyayanginya, sangat mencintainya, tapi mengapa jurang antara kami sangat lah berbahaya, Ya Allah… tunjukkan aku jalan terbaik-Mu..”Aku hanya bisa membalas “ iya lah mas,,, Tuhan pasti sudah merencanakan semuanya, makasih atas semuanya mas, makasih juga uda ngasih boneka yang selalu ada buat adek, he..”“iya,,,itu semua karna mas sayang sama adek, untuk sekarang adek yang ngerti mas..”Aahh…. kata Sayang yang dikirimnya, mungkin tak berarti baginya, tapi bagi ku,, kata-kata itu seperti ombak besar yang meruntuhkan bendungan airmata ku, sekencangnya aku menangis, entah apa maksud dari semua ini.Setelah itu lah,,,, aku sadar apa yang harus aku lakukan, memang menghindar bukan jalan yang baik, tapi aku harus pandai memposisikan diri, agar perasaan ini tidak terlalu mendalam.Waktu terus berlalu, kedekatan ku padanya semakin akrab, hampir mirip dengan orang yang sedang berpacaran. Liburan Natal, dia mengajak ku jalan-jalan, tapi cuaca selalu hujan, jadi susah untuk kami bertemu, ada pun Cuma sebentar, saat itu aku datang kerumahnya waktu hari pertama Natal, itupun dengan baju lusuh dan basah karna kehujanan, aku hanya sebentar bertemu dengannya, tidak sedikit pun bisa menghilangkan rindu ku.Entah mengapa waktu seakan mengijinkan kami untuk jalan bersama, hari itu tidak hujan lagi, cuaca sangat bagus. Tanpa perencanaan, dia menjemput ku. Kami jalan bersama mengelilingi kota, ada suatu tempat yang ku sukai saat dia pertama kali membawa ku jalan-jalan, tempat itu adalah “Bukit Bintang”, tapi sayang, dulu kami ketempat itu waktu siang hari, aku hanya bisa melihat kota yang dipadati rumah penduduk dan gedung-gedung saja. Aku merasa tidak puas, lalu aku berencana akan kembali bersamanya ketempat itu pada malam hari. Dan keinginan ku itu diwujudkannya, selesai makan dan keliling kota, aku dibawanya ke Bukit Bintang.Aku terkejut melihat keindahan kota pada malam hari, diatas bukit itu aku bisa melihat kota yang dipenuhi dengan lampu-lampu, dan langit yang dihiasi bulan bersama bintang-bintang. Sungguh pemandangan yang indah dan romantis, aku menikmatinya dengan damai, lirih dalam hati ku pun berbisik pada Sang Pencipta “ Ya Allah…. Engkau lah yang tau akan takdir ku, aku hanya bisa menunggu jawaban ini dengar rasa sabar melewati waktu, malam ini aku bersamanya, aku merasakan kedamaian yang tak ingin ku lepas, Ya Allah…. jangan buat orang sebaik dia merasakan sakit hati atau kecewa karna perasaan ku”. Beberapa saat kemudian dia pun mengajak ku pulang, tentu saja kami tidak boleh berlama-lama, karna dia harus mengantar ku pulang.***Kembali lagi,, keraguan mengusik ku, aku butuh suatu kejelasan darinya, sebenarnya seberapa penting diri ku baginya. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat, agar dia tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan ku. Dan aku memutuskan, bahwa waktu yang tepat adalah Malam Tahun Baru. Karna aku akan menghabiskan malam itu bersamanya.Yeaachh…. semoga semuanya bisa dibicarakan dengan baik, aku dan dia pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Aku juga tidak mungkin terus berharap padanya, sedangkan akhirnya aku juga tidak tau. Haruskah ku korbankan waktu yang panjang demi sebuah jawaban yang tidak begitu jelas?Rasanya semua ini tak sanggup untuk ku pendam sendiri, banyak yang menyukai ku tapi semuanya ku tolak, hanya karna demi menghargai perasaannya. Tapi… apakah adil bagi ku, bila aku harus menutup diri dari orang-orang yang mengajak ku untuk serius. Sedangkan yang ku jalani sekarang juga tidak jelas arahnya.Aku ingin membuat semua ini menjadi nyaman, aku juga tidak akan berpasrah diri pada Takdir Tuhan, walau bagaimana pun rasa sayang ku padanya, Agama ku tidak akan aku korbankan demi cinta ini.***Ku pikir malam Tahun Baru ini adalah moment yang tepat untuk kami saling mengungkapkan perasaan. Tapi ternyata tidak lah seperti yang ku harapkan. Dimalam itu kami hanya membahas tentang perasaan yang tidak bisa saling memiliki. Aku sangat merasa kecewa atas pernyataannya, bahwa hubungan kami memang tidak memiliki arah, bahkan dia pun tidak berani memberikan suatu keputusan tentang kedekatan kami ini.“Mas… tidakkah kau mengerti perasaan ku sekarang..? aku sangat membutuhkan kejelasan dari hubungan ini, betapa perihnya aku, harus berjalan diatas kerikil yang tajam. Aku ingin langkah ku terarah, memiliki tujuan, sehingga aku dapat berpegang kuat pada tekad ku, saat badai mengguncang keyakinan ku…”***Setelah event itu, aku merasa bahwa aku harus membuka mata ku dengan lebar, agar bisa melihat pandangan dengan terang. Aku takut bila saat tekad membulat, gelap datang menyapa, hingga membawa ku pada arah yang sesat.Aku memutuskan untuk memendam rasa cinta yang begitu dalam ini di danau hati yang letaknya tersembunyi dari arah mata manapun. Ku biarkan air mata ini mengalir membuat dalam genangannya, kan ku jaga sampai pada waktu yang tak terbatas, karna tidak ada yang bisa menggantikan keistimewaannya dihati ku.Aku tau bagaimana perasaannya, begitu sulit dia harus menjalani semua ini hanya dengan 2 mata dan 1 hati. Ku yakin dia butuh sandaran yang lain untuk menenangkan jiwanya yang dilanda probelam kehidupan. Walau sulit bagi ku juga berada disamping mu, tapi ku putuskan akan selalu menjadi pendengar baik mu disaat kau butuh seseorang untuk mendengar keluhan mu.“ mas.. maafkan aku, aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Mungkin kita bukan lah sepasang jodoh, Tuhan sudah punya rencana lain dari pertemuan kita ini, ku harap kau pun mengerti mas, dalam hubungan ini kita sama2 diposisi sulit. Semoga mas masih bisa menemukan seorang wanita yang sesuai dengan keinginan mas. Cinta ku berhenti disini mas, Cukup sampai disini, ku telah memahami waktu dan takdir, bahwa waktu dan takdir tak mengijikan kita menjalin sebuah perasaan yang semakin jauh. U are special someone for me… everyday..”*****By: Ayu SulastriEmail: Ayyu.astri@yahoo.com (YM,FaceBook)

  • Cerita Pendek “Cintaku salah sasaran”

    Baiklah, kalau lagi buntu ide soal cerpen cerpen part yang jelas masih bertebaran (???) penulis emang demen bikin cerpen ide dadakan. Emang si kebayakan endingnya rada gak jelas, tapi anggap aja itu ciri khas #ngeles mode on.Nah, begitu juga cerpen yang satu ini. "Cintaku salah sasaran". Ide dadakan yang muncul waktu duduk diam antara cendana – sari bumbu resto. Di temani BB kreditan akhirnya terciptalah cerpen berikut. Soal ending, nggak jauh beda nasipnya seperti cerpen cintaku nemu di warnet ataupun cintaku berawal dari facebook.Over All, Happy reading ae lah….Menunggu itu menyebalkan. Terlebih jika yang kau tunggu itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak bermutu. Nungguin angkot lewat misalnya."Hufh" tanpa sadar Alexsa menghembuskan napas lega saat akhirnya angkot berwarna pink berhenti tepat dihadapannya. Tanpa kata ia segera melangkah masuk.sebagian

  • Cerpen Lucu: Pelet Tu In Wan

    Pelet Tu in Wanoleh Andri RuslyLebaran sebentar lagi. Tapi Andre belum juga punya cewek. Aduh, padahal udah tiga kali Lebaran. Hampir semua resep udah Andre coba tapi hasilnya…..tetep gak punya cewek. Sampe Didot datang memberikan strategi buat gaet cewek. Dikasihnya Andre Pengasih 2 in 1 alias Pelet. Wah, aromanya menyengat hidung. Melebihi minyak wangi murahan. Tapi daripada Lebaran manyun mendingan usaha dulu deh. Kebetulan banget Andre sedang mengincar Tiara. Siapa tau dia yang nyantol. Ih, malangnya nasib Andre. Akhirnya Andre terima juga Pengasih-nya Didot yang pake 2 in 1 segala.“Koq pake 2 in 1 segala Dot, maksudnya apa?” tanya Andre“Maksudnya elu bisa dapetin cewek 2 orang dalam 1 langkah. Hehehe…, hebat kan Pelet gue?”“Wah, hebat banget Dot, jadi gue bisa dapetin 2 cewek sekaligus dalam satu langkah?”“Iya, Ndre, dan elu gak bakal jomblo lagi seumur hidup elu…hahaha…”“Brengsek lu Dot! Masak musti seumur hidup gue gak punya cewek. Lebay!”Dan malam itu. Andre sengaja gak tidur meskipun matanya dah mau copot dan berair tetep ditahannya. Demi cewek idamannya, Tiara. Dan waktu yang dinantinya segera tiba. Tepat jam nol nol Andre mulai beraksi. Harus berhasil usaha yang satu ini. Malu dong ma Nino anak kemarin sore dah punya pacar. Wah, mau ditaruh dimana muka Andre….(tuh di pojok lemari aja, Ndre !hehehe…).Langsung Andre praktekin pa-pa yang diajarkan ma Didot. Suruh ini-itu dilakuinnya sampe-sampe Andre disuruh telanjang bulat alias bugil!. Tapi tetap dilakukannya juga. Suasana kamar gelap gulita. Tengok sana tengok sini….gak ada orang. Oke saja dimulailah Andre semedi sambil komat-kamit baca mantera. Wah, aroma rokok kemenyan menyebar keseluruh ruang kamarnya. Semedi sudah berjalan 15 menit sementara rokok kemenyan habis 3 batang tapi badan Andre sudah menggigil. “Hiiiy dinginnya” bisik hati Andre. Baru kali ini Andre gak pake selembar benangpun. (Wah, kalo ketauan FPI bisa dipancung tuh Andre, terbukti pornografi dan porno aksi).Tapi di tengah semedinya ada saja gangguan. Andre kepingin pipis. Aduh, Andre… terpaksa deh ia menunduk-nunduk pelan-pelan keluar kamar. Telanjang bulat…. (Ihh… malu…diliat pembaca tuh). Soalnya tanggung mau pakai baju. Tiba-tiba terdengar suara, “Klotek!”“Hah, suara apa itu?” bisik hati Andre. Tapi Andre terus aja ke kamar mandi untuk pipis. Dan yang ini suaranya melebihi yang tadi. Lebih kencang dan bisa membuat seluruh penduduk dunia terbangun.“Aaaa…..!” suara jeritan seorang perempuan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.“Gila, bi Inah yang keluar dari kamar mandi. Gawat nih!” Andre kebingungan. Buru-buru Andre berlari masuk kamar mumpung orang rumah belum pada bangun dan langsung berpakaian terus keluar kamar.“Ada apa sih kok malam-malam teriak-teriakan?” tanya Andre berpura-pura. Dikedipinnya bi Inanh. Dan terpaksa juga isi dompet keluar supaya bi Inah gak buka mulut.“Itu …anu…..tadi ada tikus lewat …” kata bi Inah tergagap sambil melirik kearah Andre.“Oo….cuma tikus…..” jawab orang tua Andre yang terbangun karena kaget mendengar suara jeritan bi Inah lalu melangkah kembali ke kamarnya.“Wah, bisa gagal nih misi gue ngedapetin Tiara” bisik Andre dalam hati. “Masak gue gak punya cewek lagi nih di Lebaran nanti. Tapi moga-moga semedi yang dah berjalan setengah tadi bisa ampuh” Andre berharap.Esokan harinya Andre dah Dress for Success. Bolehlah penampilan. Wajah baru. Tapi cewek belum punya (hihihi…hari gini…). Ia langsung menuju ke rumah Tiara. Tapi yang dicari gak ada di tempat. Jangan-jangan pulang ke kampung tuh anak. Andre mencoba nongkrong di Kota Tua. Kali aja Tiara ada di situ. Soalnya itu tempat favoritnya Tiara. Sambil menunggu Tiara dia coba-coba dengan beberapa cewek yang kebetulan melintas atau duduk sendirian. Tapi gak ampuh. Atau karena baru semedi setengah jalan jadi gak ampuh? Uh, Andre pusing dibuatnya. Tambah lagi Tiara gak ada disitu. Kemudian dicobanya kembali kali ini Andre berpindah tempat. Ia ke arah Monas. Ah, cape juga rupanya. Andre beristirahat. Hari sudah semakin sore. Dalam istirahatnya mata Andre menangkap sosok cewek duduk sendirian di kursi taman.“Wah, ada cewek duduk sendirian tuh, mudah-mudahan berhasil” Andre bangkit dari duduknya. Dihampirinya. Dilihat dari belakang tuh cewek sudah tampak anggun. Rambutnya panjang. Roknya mini (hmm…sambil nelan ludah…glek!). Kulitnya putih mulus. Hmm….bikin Andre makin penasaran saja.Kemudian dimulailah aksi Andre. Dengan membaca mantera aneh yang diajarkan Didot sambil matanya tertuju ke cewek tersebut. Itu yang diajarkan Didot. Dan benar gak lama kemudian tuh cewek menoleh kearah Andre. Dada Andre berdebar kencang. Ternyata ampuh. Cewek itu mendekat sambil tersenyum, tapi Andre kaget waktu dilihatnya ada jakun besar bertengger gagah di leher tuh cewek.“Hah, Waria..!” jerit Andre sambil mempersiapkan langkah seribunya Andre menepis tangan si waria.“Hai cowok…kamu ganteng banget. Sendirian …?” kata si waria. Andre langsung berlari tunggang langgang secepat kilat. Huh, mandi keringat lebih bagus daripada kena cium waria. (Terus lari, Ndre……ambil langkah 1999 …hehehe….).Setelah jauh berlari dan merasa tidak dikejar lagi, Andre sengaja beristirahat disamping markas Satpol PP. Biar aman. Lalu disekanya keringat yang bercucuran deras membanjiri tubuhnya dengan sapu tangannya.“Sial Didot, ramuan elu cuma ampuh buat kalangan waria” Dibuangnya Pelet dari Didot ke selokan. Dan Andre bakal manyun lagi di Lebaran tahun ini.“Tiara…sudah tiga kali Lebaran gue gagal lagi ngedapetin elu. Dah berapa banyak cara gue coba tapi bikin pikiran kusam dan kusut. Ah, jomblo aja deh….” Pikir Andre sambil melangkah pulang dengan tangan hampa….Makanya, Ndre Jangan mau mengikuti seorang pemimpin sampai kamu tahu siapa yang diikutinya.SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*