Cerita SMA Diera Diary ~ 03 { Update }

Baiklah, cerita berlanjut man ceman. Tapi gue ngepostingnya ansuran ya. Nggak sekali lalu. Jadi sekarang giliran Cerita SMA Diary diera part 3. Busyed, baru ngeh gue kalau ternyata postingan di blog Star Night ternyata ada ratusan. Pegel juga tau tangannya ngedit tulisan mulu. Baru mo nyelesein Serial Diera Diary aja rasanya udah tepar.
Tapi tetep, kali ini tulisannya udah mulai rada rapi kan? Nggak amburadul lagi kayak kemaren. Jadi lebih enak di bacanya. Soal kelanjutan cerpennya kemaren. Waullahu’alam deh. Gue juga nggak tau kapan gue mau lanjutin. Gue masih mau pindahin postingan blog gue kesini aja udah cukup untung. Sebelum lanjut part sebelumnya bisa di cek sini.

Cerita SMA Diera Diary ~ 03

Cerita SMA Diera Diary ~ 03
Akhirnya saat saat yang dinantikan pun tiba. Semua yang ikutan camping bener-bener gembira. Sambil nyanyi-nyanyi bareng mereka masuk ke hutan. Rencana nya camping akan di lakukan selama dua hari.
Pokok nya acaranya seru deh, selain untuk seneng-seneng mereka juga mengadakan penelitian tentang keadaan alam sekitar. Dan pada malam harinya. Semuanya berkumpul bareng di depan kemah-kemah mengeLillyngi api ungun yang mereka buat.
Semua cewek langsung pada seneng karena karena meliahat idola merka yang tidak hanya keren. Tapi juga pinter main gitar bahkan suaranya bagus lagi. Waktu itu ia lagi nyanyiin lagu ku menunggunya d’bagindas band. Emang sih tu lagu lagi ngertern banget di radio radio atau tivi tivi.
Semuanya asik mendengarkan sambil ikutan nyanyi bareng. Diera begitu menikmatinya. Dan tanpa ia sadari sebenarnya dari tadi Rian juga sekali-kali menatap kearahnya.
Pada keesokan harinya, semuanya sudah bersiap-sipap. Karena agendanya hari ini mereka akan menjelajajahi hutannya. Sebelum itu Pembina memberika pengarahan. Pukul sembilan tepat semuanya berangkat.
Diera berjalan paling belakang dengan mengendong tas yang lumayan berat. Kesel banget dia sama Rian. Kayak nya tu anak emang sengaja ngerjain dia deh. Mana Rian seendiri dikeLillyngi cewek mulu lagi.
Tak berapa lama kemudian sang Pembina memberi pemberitauhan untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Diera langsung duduk diatas rumput, cape hati men, jiwa raga juga. Mana teman-temannya nggak satu regu sama dia lagi…. Huh bener-bener camping yang menyebalkan deh menurutnya.
Ia yang sedang minum langsung tersedak karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Begitu menoleh ternyata ada seseorang di sampingnya. Kalau nggak salah sih dia teman sekelasnya Rian.
“Upss… sory sory sory. Gue ngagetin loe ya?”
“Eh nggak papa kok. Emang sempet kaget dikit sih” sahut Diera sambil mengelap mulutnya.
“Aduh beneran sory ya. Gue nggak sengaja.”
Diera hanya tersenyum.
“Kayaknya loe capek banget.”
“Lumayan sih.”
“Oh ya, kita belom kenalan. Nama gue Pasya. Loe Diera kan?” katanya sambil mengulurkan tangan.
Diera menganguk membenarkan sambil membalas uluran tangan Pasya.
“Kok tau?”
“Siapa sih yang nggak kenal sama cewek cantik kaya loe.”
“Ah loe bisa aja,” balas Diera malu.
Ya mereka terus berbicara dengan akrap, kayak udah lama kenal gitu. Ya lumayan lah bisa ngilangin rasa keselanya Diera gara-gara ulah Rian.
Tak terasa waktu istirahat sudah habis, dan perjalanna harus di lanjutkan. Dan ternyata Pasya anaknya baik juga, dia bahkan membantu Diera membawakan tas nya yang lumayan berat. Membuat Diera merasa semakin dekat padanya tanpa menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan ulahnya dengan donkol.
Mereka terus berjalan, karena kurang melihat kanan dan kiri tiba-tiba Diera tergelincir dan hampir jatuh ke dalam jurang. Untunglah Pasya yang ada di sampingnya melihatnya. Dan berusaha keras memegangi tangannya. Rian yang tidak jauh dari sampingnya melihat dan langsung membantunya.
Semuanya merasa lega karena Diera sudah bisa sampai di atas, sampai tiba-tiba tanah yang di injek Rian runtuh, spontan ia mencari pegangan orang yang di samping nya yang tak lain adalah Diera yang masih shock. Tentu saja di nggak siap sama kejadian kayak gitu. Alhasil. Mereka berdua masuk ke jurang. Ups
Semunya langsung teriak kaget. Sementara kedua orang itu terus mengelinding kebawah. Untung lah mereka tidak benar-benar jatuh ke dalam jurang yang dalam. Mereka terhalang oleh pohon yang tumbuh disekitarnya. Tapi dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah beberapa lama, akhirnya Diera sadarkan diri. Dia coba mengingat-ingat kejadianya dialaminya. Seluruh tubuhnya teras ngilu. Ia baru sadar dan melihat-lihat sekelilingnya mencari-cari Rian. Tampaklah Rian yang tidak jauh darinya masih tergeletak pinsan. Dengan tergesa-gesa di hampirinya.
“Rian… Rian bangun donk,” katanya cemas sambil mengoyang-goyangkan tubuh Rian.
“Ian, loe jangan mati donk. Takut ni gue….” tambah Diera lagi. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
Tak berapa lama kemudian barulah Rian sadar. Dia merasa seluruh tulang-tulang nya seperti remuk. Ngilu semua. Dia melihat ke sekelilingnya dan kaget melihat Diera yang ada di sampingnya menunduk sambil nangis.
“Loe kenapa?”
Diera kaget, langsung menoleh.
“Sukurlah loe masih hidup. Gue pikir loe udah mati….” Kata Diera lega sambil menyeka air matanya.
“Mati?!…. enak aja. Gue masih hidup kali” balas Rian sewot dan berusaha berdiri. Diera jadi sebel.
“Rian kita di mana nih?” tanya Diera setelah beberapa saat.
“Ya di hutan lah. Dikira lagi di mall. Loe nggak bisa liat sekeLillyng apa. Pohon semua. Pake nanya lagi.”
“Elo tu ya…. Nggak bisa apa ngomong baik-baik. Nyebelin banget. Manusia bukan sih?” balas Diera. Rian menatap sinis mendengarnya. “ huh… sial banget sih nasib gue. Kenapa juga harus terjebak di hutan gini bareng sama loe.”
“Aduh!” kata Rian tiba-tiba langsung terduduk.
“Eh Rian, loe kenapa?” Diera kaget dan langsung menghampirinya.
“Kaki gue sakit. Aw…..”
“Ha. Mana?. Kenapa? “ Diera panic.
Dan tiba-tiba Rian tertawa. Ha ha ha. Emang enak dikerjain. Jelas saja Diera gerem banget dan lagsung melemparkan tasnya ke arah Rian.
“Kayaknya loe kwatir banget sama gue. Ha ha ha. Jangan – jangan loe suka ya sama gue?” kata Rian.
“Ya nggak lah. Udah gila apa gue bisa sampai naksir sama loe. Gue masih punya mata kali buat mbedain orang.”
“Masa?”.
Rian sengaja ingin mengoda Diera. Ia menatap tajam kearah nya. Kontan Diera langsung merasa deg degan. Secara dia emang beneran naksir sama tu orang. Sampai kemudian Rian kembali tertawa karena melihat Diera yang salah tingkah. Diera jelas malu banget. Dan mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Rian untuk segera mencari jalan pulang. Karena sepertinya mereka beneran nyasar deh. Mana tidak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya lagi. Apalagi ia juga nggak tau seluk beluk hutan itu dan hari juga sudah semakin sore.
Rian berjalan dengan cepat. Diera begitu lelah mengejarnya.
“Huh…. Dia benar-benar manusia yang tidak punya perasaan” gerutnya lirih.
Rian yang mendengarnya berhenti dan memandang tajam kearahnya. Diera langsung tersenyum melihatnya. Takut Rian marah mendengar omongannya tadi.
Saat mereka sedang berjalan, sayup terdengar suara seperti binatang apa gitu. Mereka juga nggak tau. Diera langsung berlari ketakutan sambil memegangi tangan Rian.
“Rian suara apa tuh. Jangan-jangan harimau lagi.”
“Nggak usah ngasal deh. Sok takut segala. lagian Mana ada harimau di hutan ini. Bilang aja loe pengen meluk gue. Ia kan?”
Diera kesel mendengarnya, dengan segera di lepaskannya gengaman tangannya.
“Siapa juga yang pengen meluk loe. Gue beneran takut kali. Lagian kalau Kalau bukan harimau. Terus apa donk. Jangan-jangan babi hutan lagi.”
Rian kaget, sepertinya di juga takut tapi pura pura berani saja Dan lagsung memintanya untuk cepetan dan berjalan didepan saja. Diera terpaksa manut.
Tiba-tiba terdengar suara ranting pohon yang jatuh dari belakang. Diera berbalik. Tampak lah Rian yang terduduk sambil mengerang kesakitan.
“Aduh. Diera tunggu. Kaki gue sakit,” teriak Rian. Diera memandang wajahnya dengan tatapan curiga.
“Eh loe pikir. Loe bisa ngerjain gue lagi. Sory ya…. Nggak akan” selesai berkata Diera kembali melanjutkan perjalanan.
Diera terus berjalan. Tapi dia Heran karena Rian tidak juga menyusulnya. Akhirnya dia balik lagi dan melihat Rian masih duduk di tempat tadi sambil memegangi kakinya.
“Udah deh Rian, nggak usah acting lagi deh. Buruan yuk udah sore nih.”
Tapi Rian diam saja. Diera pun memutuskan menghampirinya. Dan dia kaget karena kaki Rian merah oleh darah. Kayaknya luka akhibat kejatuhan ranting pohon tadi deh.
“Ya ampun Rian. Ini beneran ya” kata Diera sambil duduk tepat disamping Rian. “Sory, gue pikir tadi loe bercanda.” Sambungnya lagi sambil membatunya. Di keluarkannya sapu tangan dari saku celana panjangnya untuk membalut luka tersebut. Untung lah lukanya nya tidak terlalu dalam hingga tidak terlalu berbahaya.
“Mendingan kita berhenti aja dulu. Tunggu luka loe agak baikan dikit. Kita istirahat di sini aja. Lagian ini juga udah hampir malam. Gue ngumpuin ranting buat api ungun dulu bentar.”
“Nggak. Kita jalan aja terus. Gue nggak papa kok” tolak Rian sambil mencoba berdiri.
“Loe tu emang mau menang sendiri aja ya. Sekali-kali ngalah kenapa sih.”
“Kan gue udah bilang kalau gue nggak kenapa-napa,” Rian tetap ngotot.
“Oke, loe emang nggak kenapa-napa. Tapi loe mikir nggak sih. Gue tu cape. Gue mau istirahat. Kalau loe emang mau jalan. Jalan aja sediri. Gue mau tetep di sini. Titik!” tanpa menunggu jawaban dari Rian, ia mengumpulkan rerantingan pohon yang kering dan mengongokannya.
“Loe punya korek api nggak?” tanya Diera.
Saat itu hari memang sudah mulai gelap. Tanpa berkata apapun Rian mengeluarkan korek api dari sakunya dan memberikannya pada Diera.
Diera duduk sambil memandangi api ungunnya. Matanya mentap ke langit malam, melihat taburan bintang disana. Dan di sampingnya, Rian juga melakukan hal yang sama. Diera lebih memilih diam dari pada ngajakin ngomong yang malah bikin kesel. Apalagi ia juga merasa sangat kedinginan. Mana jaketnya ada ditas yang di bawain sama Pasya lagi.
“Nih pake” kata Rian sambil memberikan jaket yang tadi di pakenya. Diera nggak percaya. Tumben banget ni anak baik.
“Ma kasih aja deh, buat loe aja” tolak Diera.
“Jangan ge’er dulu. Gue Cuma nggak mau loe sakit gara-gara kedinginan. Karena loe bakal nyusaih gue kalau sakit. Gue nggak mau ngendong loe. Berat tau.” sambungnya kemudian. “Jadi buruan pake” .
Diera sebel sih dengernya. Tapi tak urung di pakenya juga jacket tersebut, apalagi dia merasa tubuhnya seperti mau beku. Mana dia juga laper lagi.
Diera teringat pembicaraan nya bersama teman-temannya beberapa hari yang lalu, kalau di camping ini mereka nggak bakal kelaparan karena Lilly menjadi seksi konsumsi. Tapi sekarang, bahkan ia sendiri yang menjadi seksi konsumsinya, nasibnya malah kayak gini. Berlahan
Diera meraih tasnya, kali aja ada sesuatu yang bisa di makan. Apalagi di kan paling doyang ngemil. Dan ia bersukur, Untung lah kemaren ia tidak mendengarkan ledekan kakaknya yang menertawainya karena membawa jajan yang ada di dalam kulkas yang ada di dapurnya sehingga ia bisa menemukan sesuatu yang memang sedang di butuhkannya. Walau pun hanya terdiri dari berbagai macam snack dan permen juga beberapa potong coklat juga roti lengkap dengan keju nya. Ditambah satu botol pocariswet yang rencananya mau ia makan bersama teman-temannya. Tapi lumayanlah bisa buat menganjal perut saat ini.
“Maka yuk…” ajak Diera sambil menumpahkan semua makanan yang ada di dalam tasnya kedepan mereka.
Rian melongo “Gila…. Makanan semua. Kayak anak kecil banget sih loe. Bukannya biasanya cewek kemana-mana yang di bawa itu make up ya?. Dasar cewek aneh.”
“Biarin. Suka-suka gue donk. Tapi Loe lebih aneh, karena lidah loe bahkan tidak bisa mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan benar. Lagian emangnya kalau gue kasih kosmetik loe mau makan,” balas Diera sambil mengambil sepotong coklat dan langsung melahapnya.
“Loe beneran nggak laper?” Tanya Diera karena Rian diam saja.
“Ya udah terserah loe deh” ujarnya lagi sambil angkat bahu. Kemudian ia sengaja memakannya dengan sangat lahap karena ia tau Rian pasti juga laper. Hanya gengsinya itu lho….. selangit.
Sepotong cokelat sudah habis di lahapnya. Kali ini perhatiannya beralih keroti dan kejunya. Diambilnya sepotong kemudian dengan hati-hati di oleskannya keju di atasnya.
“Gue tau kok. Loe pasti juga laperkan?. Ya udah ni buat loe” katanya sambil menyodorkan roti tersebut kearah Rian. Tapi Rian mengabaikannya dan malah mengambil coklat yang ada di sampingnya.
Diera menarik kembali roti yang tadi di sodorkannya ke Rian dan lagsung memakannya. Namun diam-diam ia tersenyum. Karena walau pun Rian menolak roti yang ia tawarkan toh pada akhirnya ia juga memakan coklat yang ia bawa.
Rian mengucek-ngucek matanya. Ia baru sadar kalau hari sudah pagi. Ia kaget menyadari posisi tidurnya yang saling menyandar pada pundak Diera . Sejenak di perhatikan wajah Diera yang masih tertidur pulas di sampingnya. Rian tersenyum. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu dengan hati-hati di keluarkannya ponsel dari dalam sakunya. Sudah mati, karena dari kemaren sudah nggak discharge. Tapi untunglah ia masih punya battery cadangan di dalam tasnya. Begitu benda mungil itu menyala kembali dengan diam diam di fotonya wajah Diera yang masih tertidur.
Rian memperhatikan beberapa hasil jepretannya. Lucu. Tapi tiba-tiba Diera mengeliat. Karena takut ketahuan, Refleks ia langsung berdiri. Otomatis Diera jatuh karena kehilangan sandaran.
“Aduh” kata Diera yang kesakitan.
“Eh udah pagi nih… loe masih keenakan tidur. Dasar….”
Diera memandang kesekitarnya. Kesadarannya mulai pulih. Sejenak ditatapnya Rian.
“Gue baru juga buka mata. Omongan loe udah nggak ngenakin hati, bisa nggak si loe ngomong pake kata kata yang enak didenger di telinga. ‘mat pagi kek’, atau apa lah” gerut Diera sambil berdiri untuk membereskan tasnya. Mengumpulkan kembali beberapa bungkus snack yang tidak habis di makan tadi malam. Rian hanya terdiam mendengarnya.
Setelah semuanya beres. Mereka kembali melanjutkan perjalannanya mencari teman-temannya yang lain. Sambil sesekali berteriak kencang. Tapi sampai siang mereka masih belum juga bisa keluar dari hutan tersebut. Bahakan mereka sama sekali belum menemuka jejak teman mereka sama sekali.
“Rian loe nggak papa?” tanya Diera karena dilihatnya muka Rian agak pucet. Apalagi dia berjalan dengan berpincang-pincang akibat luka kemaren.
“Nggak, gue nggak papa kok.”
“Perlu gue bantuin nggak?” tanya Diera lagi.
“Nggak usah. Udah jalan aja terus,” balasnya lagi.
Diera menatapnya kwatir. Apalagi kaki Rian sepertinya terlihat agak bengkak, mungkin gara-gara kemaren tidak di bersihkan dengan benar, karena memang tidak ada air dan waktu itu hanya mengunakan sisa air minum yang ada di botolnya.
Tiba-tiba Rian hampir tejatuh. Otomatis Diera langsung menahanya.
“Ya udah kita istirahat dulu. Ntar kita lanjutin lagi. Jangan di paksain gitu.”
Rian mau ngomong tapi langsung di potong sama Diera.
“Gue minta kali ini aja loe nurut sama omongan gue. Jangan ngebantah.”
Ditatapnya mata Rian tanpa berkedip. Akhirnya Rian ngalah dan setuju untuk istirahat dulu. Diera segera mengeluarkan pocarisweet yang ada didalam tasnya. Setelah di bukanya langsung di sodorkannya pada Rian. Karena itu satu satu nya minuman yang masih tersisa.
“Minum nih. Loe haus kan.”
Rian mengambil nya dan langsung meneguk nya. Diliriknya Diera yang lagi jongkok di sampingnya sambil mengikat kemabli tali sepatunya yang lepas. Jujur dalam hati ia kagum sama nie cewek karena walaupun selama ini ia selalu bersikap jutek, tapi tu anak tetap bersikap baik kepadannya.
“Eh loe udah belom sih?”
Pertanyaan Diera membuyarkan lamunannya.
“He? Apanya?” Rian bingung. “Lho bukannya tadi loe sendiri ya yang minta kita buat istirahat dulu bentar” sambungnnya.
“Bukan soal istirahatnya. Tapi tuh” tunjuk Diera ke arah botol minuman yang ada di tangan Rian.
“Ini?” Rian mengangkat tangannya Heran.
Diera menganguk “ Ia. Udah selesai belom minumnya. Kalau udah kesini donk, gue juga mau” tambahnya lagi.
“O…. kirain tadi buat gue semua” balas Rian. Tapi tak urung tuh minuman ia berikan pada Diera.
“Hu……… enak aja, gue juga haus kali…”
Setelah rasa hausnya hilang, Diera mengeluarkan sebungkus coklat dari dalam tasnya dan langsung memakannya dengan lahap.
“Kok loe makan sendiri, buat gue mana?” tanya Rian.
“Loe kan nggak suka. Makanya nggak gue kasih. Lagian ni kan tinggal satu satuny,a” balas Diera santai sambil terus memakan coklatnya yang kini tinggal separuh. Tiba-tiba Rian menarik tangannya dan merebut coklat tersebut dan langsung memakannya. Diera jelas kaget.
“Siapa bilang gue nggak suka. Gue juga mau kali” ujar Rian sambil memasukan semua potongan coklat tersebut ke dalam mulutnya.
“Yah… kok di abisin. Gue kan masih laper” gerut Diera cemberut.
“Jadi loe nggak terima. Ya udah ni ambil lagi deh,” Rian membuka mulutnya yang penuh dengan coklat sambil mendekat kearah Diera.
“Nggak mau….. ih… gila, jorok banget sih loe” jerit Diera sambil berlari menghindar.
Rian tertawa menlihatnya yang ketakutan begitu.
“Udah siang nih, kita jalan lagi yuk” ajak Rian setelah bebrapa saat lama mereka istirahat.
“Yuk” Diera sudah siap mau jalan, tapi tiba-tiba Rian mengaduh kesakitan dan hampir jatuh. Untunglah Diera cepat menahannya.
“Yan, kayaknya kaki loe agak mulai bengkak deh, loe yakin loe bisa jalan” ujar Diera cemas.
“Tenang aja, gue kan cowok. Udah deh mendingan loe buruan jalan aja depan sana.” Bantah Rian sambil mulai melangkah melanjutkan perjalanannya.
Bersambung ke bagian selanjutnya pada Cerita SMA Diera diary ~ 04
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerpen Benci jadi cinta Vanessa Vs Ferly End

    Hufh… Akhirnya bisa sampe ending juga. Tapi full no edit. Ya mau kek mana lagi. Udah capek woi. Oke deh, happy reading ae lah“vanes… gimana sama ferly??” tanya sebuah suara dari samping reflex Vanes menoleh.“radit… ferly masih didalam lagi ditangani sama dokter…” balas vanes sambil mengusap air mata yang menetes dipipi, radit dan yang lain pun duduk di ruang tunggu rumah sakit.“loe yang sabar ya…” kata radit.“ini semua salah gue… gara-gara gue, ferly jadi kayak gini…” .sebagian

  • Cerpen Cinta Remaja: MUNGKIN CINTA MATI

    MUNGKIN CINTA MATIoleh: Marlia AndrianiCewe aneh itu mengintip dari balik bukunya di bangku taman sekolah yang menghadap ke lapang basket. seseorang yang bermain di lapang basket itu bermain sangat cantik. para wanita memujanya dengan meneriakkan namanya. tiba-tiba"hayyooow" tak ada jawaban. lalu ernes melihat ke arah lapang basket itu."hmm, ryan lagi. gak ada bosennya ya elu ngeliatin dia. tiap hari ketemu juga""yee, biarin dong. dia kan pacar gue. lo kenapa ? sirik ?""haahaha ngapain gue sirik ? yah, emang sih elo berdua kalo pacaran mesra. tapi, kalo ga ada orang tau kalian pacaran ya buat apa sirik ?""yah, elo si harusnya sirik. kan elu ga punya pacar. lagian elo juga ga pernah jatuh cinta gue rasa""kata siapa ? gue pernah jatuh cinta. malah gue sekarang lagi jatuh cinta. lo ga kenal gue. jangan sok tau." lalu ernes lari meninggalkan puri.di atap sebuah gedung, ernes marah besar."puurii !!! kapan lo ngerti perasaan gue ? lo kejam sama gue rii,lo kejam ! susah payah gue deketin loo nyari rau segala hal tentang elo. tapi, lo ga pernah paham perasaan gue rii. gue cinta sama lo puri". teriak ernes. hatinya hancur, karena ia menyadari bahwa puri tak mengerti perasaannya yang selama ini mencintainya.sore hari puri datang ke rumah ernes. ia ingin bertemudengan ernes. ingin ngobrol dengan sahabatnya itu. tapi, ketika sampai disana ia melihat rumah ernes sepi. yang ada hanya puma kucing kesayangannya ernes. puri kecewa, tapi ia berkata"mungkin ernes lagi ngunjungin oom erik dan tante nessa. kalo aku ganggunanti dia marah. sudah ahh aku pulang aja"baru saja puri melajukan mobilnya, ernes turun dari taksi, ia berjalan dengan langkah gontai. bahkan tak memedulikan puma. lalu ia masuk rumah menguncu pintu, kemudian masuk kamar dan tertidur. ia tak mau memikirkan apapun sekarang.keesokan harinya di sekolah, puri menemui ernes."nes, hari ini loo maen dong ke rumah gue. mau ada ryan. tapi gue takut sama bunda. loo maen yaa ?""ga bisa. gue ada janji sama ratna"lalu ernes pergi tanpa pamit. puri melongo, melihat ernes dan ratna naik bus berdua.satu sisi ia bahagia karena ernes akhirnya jatuh cinta. tapi, di sisi lain ia kaget akan sikap ernes yang dingin.tak lama kemudian setelah kejadian itu. merembak kabar bahwa ratna dan ernes jadian. karena itu hubungan antara ernes, puri dan ryan merenggang. ernes sudah tak pernah lagi main ke rumah puri. akibatnya puri jadi sering berantem dengan ryan."lo kenapa sih ? lo berubah, udah ga kocak kaya dulu. please rii, jangan bikin gue khawatir. gue ini pacar elo, gue berhak tau apa yang terjadi sama elo""gue juga ga tau apa yang terjadi. mungkin karena ernes punya pacar baru"."hah ? sepenting itu ya dia dimata lo ? sampe kekhawatiran gue elo ga perhatiin. rii, dia itu baru jadian, wajar dong lupa daratan. kaya kita dulu" kata ryan menjelaskan pada pacarnya itu."iya gue tau itu yan, tapi …""udahlah. ga usah dipikirin. selama ini semua masih wajar kita biarin aja. kita kan punya urusan masing-masing sayang. jadi jangan diganggu" kata ryan yang saat itu sangat menghibur puri. sehingga puri tak lagi memikirkan masalah ini.suatu siang di sekolah. puri menghampiri ernes."nes liat. frame kacamata baru. dibeliin ryan lho. haha kemaren gue jalan-jalan sama dia. eh ternyata dia ngajak gue keoptik dan beli frame kacamata baru. oooohh … so sweet banget deh pokoknya pacar gue itu""udah ceritanya ? kalo udah , gue mau pergi. makan sama ratna" kata ernes sangat dingin.sakit sekali hati puri mendengarnya. dia sudah tak tahan lagi dengan sikap ernes."nes, lo kenapa sih ? gue punya salah apa sama lo ? sampe lo kaya gini sama gue. ngomong dong nes ! gue ga tahan kalo harus diginiin sama sahabat gue sendiri !"air mata puri udh ga bisa dibendung lagi. ia menangis. tersedu-sedu. namun, ernes hanya menatapnya sedih. ia ingin sekali memeluk puri, cewe yang sangat dicintainya itu. tapi ketika ia akan memeluknya. datanglah ryan. memeluk puri dan membawanya pergi. sambil berkata pada ernes."LOO MASIH PUNYA URUSAN SAMA GUEE !!!!!"sejak kejadian itu ernes tak pernah masuk sekolah. seharii.. dua hari …sampai seminggu kemudian …."ini ga mungkin ryan. dia ga mungkin ninggalin gue.""sabar sayang. sekarang ayokita ke rumahnya" ajak ryan. membopong tubuh mungil puri yang lemah karena kaget.di rumah ernes hanya ada tokoh warga, warga sekitar, guru-guru serta teman-teman. orang tue ernes adalah anak tunggal sehingga tak memiliki saudara. dan mereka telah meninggal sejak ernes balita. dan ernes dikirim ke panti asuhan. setelah dewasa, ernes diambil oleh bekas pembantu tante nessa dan oom erik, orangtua ernes. dan sejak pembantunya meninggal, akhirnya ernes benar-benar sebatang kara.puri langsungmenghampiri jasad ernes."kenapa harus kaya gini nes ? kenapa harus di saat kita pecah ?""sayang udah. ikhlasin dia. biarin dia tenang. kamu harus berdoa agar dia diterima disisi tuhan yang maha kuasa.ernes selesai dimakamkan. puri begitu lemas. hatinya hancur. hingga tak ada lagi air mata yang bisa ia keluarkan. tapi, ia terkejut. ketika tiba- tiba ada ratna menghampirinya."rii, gue minta maap sama lo. gue ngebohongin lo"."bohong apa na ?""sebenernya …."kemudian lama mereka bicara. sekarang terungkaplah semuanya sekarang. ratna bukan pacar ernes. tapi, dia teman kecil ernes waktu di panti asuhan. ratna disini karena dia harus merawat ernes yang sakit. ernes terjangkit kancer tulang. ernes meninggal karena penyakititu."satu hal lagi yang harus lo tau ri, selama gue disini. dia selalu menangis kalo ada hal yang berhubungan sama lo. dia juga selalu bilang. dia akan selalu hidup selamanya demi puri. rasa cinta yang dimiliki dia buat lo itu besar bnanget.""cinta ??? apa maksudnya na ?""cinta rii, lo inget waktu dia terakhir sekolah ? kalian berantem kan ? nah pas pulang ke rumah. dia ga mau makan. ga mau minum. karena dia liat lo nangis. dia merasa bersalah rii.""ta tuhan ernes, kenapa lo ga pernah cerita sama gue ""dan rii, yang paling menyakitkan adalah, sebelum dia meninggal dia nunggu elo. dia bilang lo sama dia punya ikatan batin. dia pasti datang. dan ketika dia benar-benar meninggal. dia tetap nungguin lo"kemudian puri duduk bersimpuh dilantai"maafin gue nes, andai gue tau ini semua. pasti ini ga akan kaya gini"lalu ryan memeluk puri dengan erat.SELESAINAMA : MARLIA ANDRIANISEKOLAH : SMP NEGERI 2 PURWAKARTAALAMAT : DS. CIBUNGUR KEC. BUNGURSARI PURWAKARTA, JAWA BARAT.

  • CINTA YANG RUMIT

    Cinta yang Rumitoleh: Aulia Putri Ambarwati – Aku Sherovina Ramadhanty si gadis yang terkenal dengan sifat leletnya. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 11. Aku mempunyai seorang pacar yang menurutku dia sangatlah baik. Dia seorang kakak kelas satu tahun di atasku. Namanya Raffi. Dia orang yang baik, perhatian dan sangat memperdulikan aku. sudah 13 bulan aku menjalani hubungan dengannya. Aku sangat sayang kepadanya. Dia pun begitu padaku. Sehingga hubunganku dengannya selalu baik-baik saja. Tidak pernah ada pertikaian yang terjadi di antara kita. Tapi menjelang kelulusannya mulai ada gejolak-gejolak yang timbul. “Hai fi, nanti kamu mau kuliah kemana apa langsung kerja?” Tanya aku kepadanya. “InsyaAllah mau kuliah dulu, mau coba ke UGM”, “Ha? Jauh dong, terus nanti aku gimana? Kesepian dong gak ada kamu?” aku pun terkejut. “iya begitulah, mungkin kita bisa ketemu di waktu luang”. Setelah aku tahu bahwa dia akan berkuliah di tempat yang jauh, hatiku pun sedih. Aku memikirkan resiko yang akan timbul nantinya. Pasti aku akan jarang bertemu dengannya. Aku takut saat nanti aku tidak bersamanya lagi aku akan tergoda dengan lelaki lain. Pengumuman kelulusan pun berlangsung. Aku bertanya kepadanya “gimana fi? Lulus kan pasti? Hehe”, “iyadong lulus haha”, “emang NEMnya berapa?” aku kembali bertanya. “32 Sher”, “ha? Serius?”, “iya bener” Raffi menjawab. Aku pun sedikit terkejut karena NEMnya begitu tinggi dari teman-teman yang lainnya. Beberapa bulan kemudian dia pun meninggalkan sekolah menengah atas untuk melanjutkan ke jenjang sekola yang lebih tinggi. Dia masuk ke universitas yang dia inginkan. Aku pun naik tingkat ke kelas 12. Semenjak kepergiannya aku sering diam di sekolah. Aku tak semangat bersekolah seperti dulu. Nilaiku pun perlahan turun. Aku ingin sekali seperti dulu, bertemu dengannya setiap hari. Tapi sepertinya itu hanya khayalan semata. Satu bulan berlalu tanpa kehadirannya disisiku. Sepi sendiri ku jalani hari-hariku di sekolah. Sudah 15 bulan hubunganku terjalin. Tapi semenjak kepergiannya sudah tidak ada lagi yang spesial di hubunganku dengannya. Aku merasa sangat bosan. Aku pun jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Tapi aku yakin dia disana akan selalu setia kepadaku meski jarak memisahkan kita. Dua bulan berlalu. Kini hubunganku dengannya bisa dibilang seperti teman saja. Lalu di saat keadaan yang seperti ini ada seseorang yang begitu dekat padaku datang. Dia seorang yang sangat menjengkelkan tapi walaupun seperti itu dia perhatian kepadaku. Dia adalah Aldi. Teman sekelasku. Dia juga dulu mantan pacarku waktu aku kelas 10. Tempat dudukku berdekatan dengan tempat duduknya, sehingga sering kita bercanda bersama. Seiring berjalannya waktu. Aldi semakin perhatian kepadaku. Hatiku terasa tergoyah akan perhatiannya. Sampai pada suatu hari dia menyatakan bahwa dia sayang kepadaku. aku terkejut, karena dia pun telah memiliki kekasih juga. Lalu aku pun bertanya kepadanya “lu kan udah punya pacar Di kenapa mesti sayang ke gue?” dia pun menjawab “iya Sher gue tau, tapi perasaan gue ke elu muncul lagi tiba-tiba. Gue udah gak ada perasaan lagi sama dia. Tapi adanya sama elu”. Aku terkejut mendengar jawabannya itu. Hari demi hari telah terlewati. Tanpa ku sadar aku mempunyai rasa yang sama dengan Aldi. Aku juga sayang kepadanya. hatiku bertanya-tanya “mengapa perasaan ini muncul? Lalu bagaimana hubunganku dengan Raffi nantinya”. Pertikaian pun mulai terjadi. Ternyata kedekatan ku dengan Aldi di kelas itu di mata-matai oleh teman sekelasku yang dekat dengan pacarnya. Pacarnya bernama Raisa. Dia menyuruh temannya itu untuk memata-matai kami berdua. Menurutku sikap dia kepadaku biasa saja, dan sebaliknya sikapku kepadanya juga biasa. Tapi Raisa dan temannya menganggap sikap kami berdua berlebihan, seperti orang yang berpacaran. Aku dan Aldi selalu di fitnah yang tidak-tidak. Akibat masalah ini nilaiku di sekolah pun turun drastis. Masalah ini membuatku pusing. Membuat bathinku tersiksa. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberi yang terbaik bagiku. Perasaanku kepadanya semakin kuat. Sampai-sampai aku menjadi lebih sayang kepada Aldi dari pada ke Rafi. Sampai pada suatu hari aku memberi sedikit saran kepada Aldi. “udah Di, kalo lo lebih milih dia gapapa kok, gue bisa terima walaupun sebenernya hati gue sakit. Tapi gapapa gue juga masih ada Raffi. Gue Cuma bisa ngasih tau jujur sama perasaan lo sendiri. Jangan maksain perasaan lo karena akan lebih sakit nantinya, tapi semua is up to you aja.” Aldi menjawab “iya Sher gue bakalan mikirin ini semua mateng-mateng kok” Kini aku pun memikirkan yang terbaik. Aku sangat bingung, aku tidak mau ada yang tersakiti karenaku. Tapi tidak mungkin juga aku memilih dua-duanya. Hatiku sangat bimbang. Aku memikirkan ini berminggu-minggu, Setelah aku memikirkan secara matang, aku putuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Raffi. Aku hanya ingin jujur kepada perasaanku sendiri. Aku pikir “percuma saja sekarang aku berhubungan dengannya jika aku sudah tidak mempunyai rasa apa-apa seperti dulu. Bertemu pun jarang. Bahkan sekarang dia sangat sibuk dengan sekolahnya, dari pada aku membuat beban di hidupnya, lebih baik aku akhiri saja”. Aku mulai berbicara dengannya, “Fi aku mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan kaget ya”, “haaaaa?? Apaaa???” dia bersenda gurau, “beloom Raffiiii, ett dah. Jadi gini aku pengen kita putus, aku punya perasaan sama yang lain, aku punya pacar buat motivasi aku supaya semangat belajar Fi. Tapi sekarang kamu gak ada lagi. Jadi mungkin kita lebih baik putus. Kamu juga kan lagi sibuk sekolah? Udah urusin dulu aja ya sekolah kamu. Kejar dulu cita-cita kamu. Aku juga mau ngurusin sekolah aku dulu. Karena sebentar lagi UN aku mau fokus sama pelajaran dulu. Dan hanya seorang yang ada di samping aku yang bisa motivasi untuk buat aku semangat belajar. Maaf aku begini, aku gak mau nyakitin kamu lebih dalem lagi”. Dia pun hanya bisa bersedih dan terkejut mendengar perkataanku. Seperti masih tidak percaya akan pernyataanku. Aku yang dulu di percayainya akan selalu setia. Kini kepercayaannya telah hancur karena ku. Aku pun sebenarnya tidak mau menyakiti hatinya seperti ini. Tapi aku terpaksa melakukan ini semua. Aku hanya ingin jujur akan perasaanku. Masalah ku dengan Raffi pun sudah terselesaikan. Aku hanya mengaggap dia sebagai temanku. Selama 17 bulan waktu yang sangat berarti untukku karena kehadirannya. Kini aku hanya bisa mengenang masa-masa indahku saat bersamanya. Tidak lama aku putus dengannya. Aku mendengar kabar bahwa Aldi telah putus juga dengan Raisa. Aku terkejut mendengar itu. Tidak ku sangka dia mengakhiri hubungannya juga. “kenapa putus Di?” aku bertanya. “percuma juga Sher gue udah gak ada rasa lagi sama dia. Gue gak suka sama sikapnya dia yang begitu ke gue. Gue mau jomblo dulu aja. Pusing gue pacaran kalo begini terus” Pertikaian kami pun lama-lama terselesaikan. Aku mencoba kembali untuk bangkit dan tidak memikirkan hal-hal itu. Karena itu semua hanya mengganggu proses belajarku saja. Teman-temanku yaitu Priska, Medina dll. mendukung agar aku kembali menjalani hubungan dengan Aldi. Teman-teman Aldi pun yaitu Rizky, Nael, Chandra, Ray ikut mendukungnya. Akhirnya pada tanggal 04 November 2011, Aldi mengajakku untuk kembali bersamanya. Saat itu aku sedang berada di Balkon Sekolah.”Sherovina Ramadhanty, maukah kau kembali padaku?” dia berteriak di depan banyak orang. Banyak orang yang melihat. Hatiku terasa bergetar. Aku sangat deg-degkan mendengar itu semua. lalu aku berpikir sejenak, lalu aku memutuskan untuk menerimanya. “Revaldi, aku mau kembali padamu”. Orang-orang di sekitarku banyak yang berteriak “ciyee-ciyee”. Perasaanku sangat senang saat itu. Raisa dan temannya tidak bisa menerima ini semua. tapi seiring berjalannya waktu, kini mereka bisa menerima hubunganku dengan Aldi. Dan pada akhirnya kini aku dapat berbahagia menjalani cinta dan kasih bersamanya kembali. ~THE END~Your comments are very meaningful for me :)Penulis : Aulia Putri Ambarwatiemail : Lovelly_girlz27@yahoo.comadd on facebook : http://www.facebook.com/#!/Auliuwwzzfollow on twitter : http://twitter.com/#!/AmbarwatyAul:

  • Cerpen Remaja Tentang Aku dan Dia Part 1 {Update }

    Oke guys. Sejak pertama bikin blog, cerpen remaja tentang aku dan dia adalah cerpen pertama yang di posting disini. Yah, namanya juga perdana. Selain masih belajar ngeblog, nulis juga masih suka asal asalan. Makanya cerita dan EYD berantakan. Nah karena itu, kalau pas ada waktu luang biasanya mampir kesini sambil ngedit satu satu. Oke deh, biar nggak banyakan curcol bisa langsung simak jalan ceritanya ke bawah. Happy reading….Credit Gambar : Ana Merya“Gres, kok makanannya di liatin aja sih?” aanya Anya yang melihat ulah sahabatnya yang dari tadi hanya mengaduk aduk bakso di mangkunya tanpa sedikit pun mencicipinya.“Gresia?” ujar Nanda yang heran karena sahabatnya yang satu itu tidak merespon sama sekali.“Hoi!!” kali ini Anggun mengucapkannya dengan keras sambil mengunang-guncang tubuh temannya.“Eh… apa?” Gresia tampak kaget."Nah, ketahuan kan, lagi melamun ini pasti," komentar Nanda dengan tatapan menyipit.Gresia mencibir. "Nggak kok, siapa yang melamun coba?""Ya elo lah. Masa nenek gue," tuduh Anya sewot. "Hem, tapi ngomong – ngomong loe ngelamunin apa sih? Perasaan jauh banget?" Anggun pasang raut penasaran. Anya dan Nanda kompak mengangguk setuju. “Udah di bilang gue nggak ngelamun juga."“Terus dari tadi bengong apa donk namanya?”“He he he… lha wong gue Cuma lagi mikir kok. Cuma keasikan," balas Gresia sambil nyengir.Nanda memutar mata. Itu mah sama aja. "Emangnya yang loe pikirin itu apa?""Ada aja."Pletak.Pletak.“Gila loe, sakit tau," Gresia meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena sebuah jitakan yang mulus mendarat di kepalanya. Bahkan tanpa permisi sama sekali. “Makanya cerita. Masa ia sama kita aja loe pake rahasia-rahasiaan segala sih," paksa Nanda lagi.“Kalau gue nggak mau cerita terus kenapa?”Pletak pletak.Kali ini dua jitakan mendarat dengan serentak di kepalanya.“Astaga, kalian mau bunuh gue ya?”Anggun mencibir. “Jangan lebai, nggak ada orang yang mati cuma gara-gara kepalanya di jitak."“Udah buruan cerita!” sambung Anya yang sedari tadi terdiam.“Ia, gue cerita," Gresia terpaksa mengalah, terlebih ketika tatapan membunuh dari teman-temannya. Dalam hati ia berpikir, kok dia bisa berteman sama mereka ya padahal sadis begitu.“E, sebenarnya," Gresia mengantungkan ucapannya. Sejujurnya ia tidak yakin jika menceritakan permasalahannya saat ini adalah keputusan yang tepat. Terlebih ketika ia sudah cukup mengenal ketiga orang yang kini ada di dekatnya. Ia bisa menebak reaksi mereka begitu mendengar kabar yang akan di sampaikannya."Apa sih? Nggak usah sok bikin penasaran gitu deh," Nanda mulai gusar. "Gue di jodohin," gumam Gresia nyaris tak terdengar.Hening. Seolah-olah begitu berat mencerna kabar yang baru di dengarnya. Tapi tak berapa lama kemudian."Ha ha ha, nggak lucu!" potong Anggun tak percaya. Anya dan Nanda juga berpendapat sama. Hari gini mau di kibulin. Nggak mempan. Tapi saat melihat raut Gresia yang terlihat serius Nanda kembali bertanya."Loe serius?". Gresia membalas dengan anggukan. Membuat ketika temannya saling pandang baru kemudian tanpa di komandani serentak ngakak. Untuk kali ini Gresia setuju dengan kalimat kalau "penyesalan selalu di akhir. Buktinya, sekarang ia nyesel cerita.“Elo di jodohin?!” ujar Anya memastikan.“Itu pertanyaan atau pernyataan," gerut Gresia sebel. Sementara Nanda dan Anggun masih belum bisa menghentikan tawanya.“Please deh, nggak ada yang lucu di sini," geram Gresia kesel.“Abis ada ada aja. Di kira ini masih jaman Siti Nurbaya kali ya,” ujar Nanda di sela tawanya.“Tapi ngomong-ngomong loe di jodohin sama siapa? Keren nggak? Kalau keren mah nggak papa donk. Lagian loe kan jomblo,” tanya Nanda kembali.Gresia menatap wajah temannya satu persatu. Kali ini ia ragu. Apa menceritakannya merupakan keputusan yang tepat. Ia sangat tau tabiat sahabatnya yang satu itu. Ia paling tidak suka mengetahui segala sesuatunya hanya setengah-setengah.“Arga,” akhirnya Gresia buka mulut dengan suara lirih yang nyaris tidak terdengar.“Uhuk uhuk,” Anggun yang kebetulan sedang mengunyah baksonya langsung tersedak.“Loe bilang siapa?” tanya Anggun kemudian.“Arga? Si kentang goreng itu?” tanya Nanda lagi. Gresia hanya mengangguk.“Maksut loe si playboy cap ikan hiu itu?” tambah Anya. Lagi lagi Gresia hanya mengangguk.“Yang pacarnya Lila itu?” sambung Anggun yang masih tidak percaya.“Udah di bilang ia juga."“OMG,” jerit ketiganya serentak.“Loe beruntung banget,” gumam Nanda lagi.“Loe lagi muji atau ngeledek?” geram Gresia.“He he he,” Nanda cuma nyengir. Jelas saja itu ledekan. Beruntung dari mana pacaran sama playboy.“Tapi kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Anya tampak antusias. "Ceritanya panjang."“Ya udah pendekkin. Gitu aja kok repot,” Nanda angkat bahu.Kemabli menatap wajah ketiga temannya, Gresai terdiam. Belum sempat mulutnya terbuka, suara bel tanda waktu istriahat berakhir terdengar. “Lain kali aja deh, udah bel tuh. Mending kita masuk kelas aja lagi,” ujarnya merasa lega.“Yah," serentak Nanda, Anya dan Nanda pasang raut kecewa. Sebaliknya Gresia justru malah tersenyum.“Tapi inggat loe harus cerita sama kita,” ancam Nanda sebelum Gresia beranjak pergi dari tempat duduknya.“Nggak janji,” sahut Gresia santai sambil meloyor pergi di ikuti oleh teman-temannya yang masih merasa kecewa.Selama pelajaran berlangsung, Gresia sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti nya. Pikirannya masih melayang mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana bisa kedua orang tuanya merencanakan perjodohan yang menurutnya teramat sangat konyol dan sama sekali tidak masuk di akal. Masih mending kalau ia di jodohin sama Dirga _ Cowok yang selama ini diam-diam ditaksirnya. Tapi ini malah sama si Arga. Cowok yang terkenal playboy, suka mainin cewek plus udah punya pacar lagi. Kurang ngenes apa lagi coba. Saat istirahat kedua, Gresia dengan cepat ngacir meninggalkan kelas sebelum teman – temannya sempat menginterogasi. Ia bahkan memilih ke perpus sebagai tempat persembunyian.“Gue mau ngomong sama loe."Gresia yang sedang asik membaca langsung menoleh ke asal suara yang ada di samping nya. Ia celingak clinguk menoleh ke kanan dan kekiri. Masih tidak yakin kalau orang yang entah sejak kapan duduk disampingnya sedang berbicara kepadanya.”Loe ngomong sama gue?” tanya Gresia setelah yakin kalau tidak ada orang lain selain dirinya.“Loe pikir gue ngomong sama tembok? Udah gila apa?” balas Arga ketus.“Yee, siapa tau. Lagian loe kan emang aneh,” gumam Gresia lirih.“Apa loe bilang barusan?" tanya Arga menaikan alisnya.“He he he. Nggak ada apa-apa kok,” elak Gresia cepet.“Awas loe kalau sampai berani bilang gue aneh."Bukannya takut Gresia justru malah tersenyum. Dengan polosnya ia bertanya. “Lho jadi loe denger?”“Loe pikir gue budek."“Kali aja," gadis itu angkat bahu.“Wah bener-bener loe, tadi undah ngatain gue aneh, sekarang ngataing gue budeg. Berani loe sama gue?” ujar Arga penuh penekanan. Refleks Gresia langsung mengeleng-geleng.“Udah deh, gitu aja di ributin. Tadi Loe bilang ada urusan sama gue. Ya udah ngomong aja."“Nggak di sini. Loe ikut gue,” tanpa ba bi bu Arga meraih tangan Gresia dan menariknya keluar dari perpus.“STOP!” bentak Gresia Kontan Arga menghentikan langkahnya.“Kenapa?” tanya Arga dengan tampang Bete.“Nggak usah pegang-pegang gue segala deh."“WHAT?!”.Gresia hanya memanyunkan mulutnya sambil melirik tajam Kearah Arga.“Loe pikir gue tertarik sama loe?”“Ye siapa tau, loe kan playboy. Kambing di bedakin aja doyan, apa lagi gue yang cantik gini."Arga segera berbalik. Kali ini ia memandang Gresia intens dari kepala sampai kaki. Gresia saja sampai salting di lihatin seperti itu.“Tertarik sama makhluk yang model kayak gini? Ih amit-amit deh,” sahutnya kemudian sambil bergidik.“Maksut loe?!” Gresia merasa tersindir.“Mendingan loe ngaca deh. Rata gitu,” cibir Arga sambil tersenyum mengejek. Tapi sedetik kemudian.“ADUH!” jeritnya.“Mampus loe,” geram Gresia sambil berlalu pergi meninggal kan Arga yang masih kesakitan karena kakinya di injek sekenceng-kencengnya.“Dasar cewek gila. Sarap,” maki Arga sambil terus mengusap-usap kakinya yang masih sakit, sementara Gresia sudah jauh pergi meninggalkannya.“Sial! Tadi gue manggil dia kan buat nomongin masalah kita. Kok malah gue di tinggalin gini. Sambil kesakitan lagi. Awas loe. Tunggu aja pembalasan gue. Argh!"Cerpen Remaja Tentang Aku dan DiaBrugh.“Aduh sory sory sory, gue nggak sengaja."Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Gresia segera berjongkok untuk mengumpulkan kertas – kertas ulangan yang berserakan di lantai. Karena sikap ceroboh yang dimilik tanpa sengaja ia menabrak orang.Tepat saat ia berusaha mengambil kertas yang ada di hadapannya, secara bersamaan sebuah tangan juga melakukan hal yang sama. Refleks Gresia menoleh.Deg.Sepertinya lapisan ozon bener-bener sudah menipis dan telah terjadi pemanasan global di mana-mana yang menyebapkan berkurangnya oksigen ( ???) karena kali ini Gresia mendadak merasa sulit untuk bernapas. Matanya terasa silau menatap makhluk yang ada di hadapannya yang tidak lain adalah Dirga. Cowok yang diam-diam di taksirnya.“Dirga?"Lagi-lagi Gresia merasa kesulitan untuk bernafas begitu melihat sebuah senyuman manis yang di lontarkan makhluk di hadapannya.“Aduh sori ya, tadi gue beneran nggak sengaja,” tambah Gresia kemudian setelah berhasil mengatasi gejolak di dadanya.“Nggak papa kok. Kayanya gue tadi juga salah. Soal nya gue jalan tadi nggak liat-liat."Tuh kan siapa coba yang nggak akan jatuh cinta. Dirga itu selain keren, punya senyum yang manis, juga orangnya sopan. “Ya udah gue duluan ya,” pamit Dirga beberapa saat kemudian. Gresia hanya mengangguk sambil terus memandangi punbggung pria itu yang terus berjalan menjauh sampai kemudian hilang dari pandangan.To Be Continue….Next : Cerpen Remaja Tentang aku dan dia part 02Detail cerpenJudul Cerpen : Tentang Aku dan dia ! 01Penulis : Ana MeryaTwitter : @CerpenStarnightPanjang cerita : 1. 387 WordsGenre : RemajaStatus : Complete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*