Cerita SMA Diera Diary ~ 01 {Update}

Berhubung Cerita SMA Diary Diera adalah cerpen pertama yang di post di blog ‘Star Night’, maka Cerpen ini juga akan di jadikan cerpen pertama yang direhap ulang di blog ini. Kalau di pikir pikir sebenarnya ada hikmahnya juga insidet yang terjadi kemaren. Jadi admin punya kesempatan buat mengedit kembali tulisan admin sembari nunggu semangat nulis balik lagi.
Okelah, berikut part pertamanya dari serial Diera Diary, yang tentu saja sudah lebih rapi di bandingkan versi sebelumnya. Buat yang mau baca lagi silahkan, buat yang enggak juga nggak papa. Yang jelas, Admin cuma berusaha untuk sedikit merapikan hasil karya seblumnya. Selamat membaca ya…

Cerita SMA Diera Diary ~ 01 Update
Diera menutup buku pelajaran yang baru saja di bacanya dan kembali menyimpan di antara tumpukan buku-buka yang ada di meja belajar. Perhatiannya ia alhikan kearah Hp yang tergeletak di samping. Segera di raihnya benda mungil tersebut, sambil rebahan di kasur di ia nyalakan mp3 dengan volume full untuk mendegarkan lagu-lagu kesukaannya.
Ditariknya nafas dalam-dalam begitu pikirannya kembali melayang mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Rasa kesel kali ini benar-benar memenuhi rongga hatinya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ia taksir alias di sukai diam-diam ternyata tidak lebih dari seorang yang sangat menyebalkan.
Jadi ceritanya gini, saat itu ia baru saja selesai makan siang di kantin sekolah. Ia sebenarnya sudah siap-siap untuk langsung pergi tapi perhatiannya sudah terlebih dahulu teralih ke arah seseorang yang sedang berjalan masuk. Bukan hanya dia sih yang memperhatikan, tapi hampir seluruh penghuni kantin cewek menatap sosok tersebut sambil diam-diam membenahi dandanannya. Biasalah, CPCP alias curi pandang cari perhatian secara yang datang adalah Rian yang merupakan cowok yang menurut hampir seluruh siswi di sekolah termasuk dirinya, merupakan cowok paling cool.
Bahkan jika Diera boleh jujur, ia sendiri sudah cukup lama naksir pada Rian. Terhitung sejak pertama sekali masuk sekolah. Hanya saja walau pun sekarng sudah hampir masuk tahun pelajaran terakhir, ia sama sekali belum pernah melakukan kontak sama Rian karena tu orang selalu saja di kelilingi cewek-cewek cantik yang berusaha menarik perhatiannya kebetulan mereka memang bukan rekan sekelas.
Cerita berlanjut, kebetulan siang itu semua meja di kantin sudah penuh semua kecuali kursi yang ada di samping Diera karena teman-teman yang biasa bersamanya sedang mendapat kan 'hadiah' dari gurunya gara-gara kompak nggak bikin pr. Niatnya sih pengen seru – seruan, sayangnya nggak pilih pilih guru dan berakhirlah acara makan siang dengan tugas dihadapan.
Berusaha memasang senyum paling manis, Diera berharap agar ‘pangeran’ itu berkenan untuk duduk disampingnya. Ntah mungkin karena memang malaikat lewat disampingnya sehingga doanya langsung terkabul atau memang itu hanya kebetulan saja, yang jelas Rian memang bener-benar berhenti tepat di hadapannya.
" Loe udah selesai makan ya?" tanya Rian kearahnya.
Tak menyangka akan disapa duluan senyum Diera semakin mengembang. Dengan berlahan kepalanya mengangguk membenarkan.
" Kok masih duduk di sini?" tanya Rian lagi.
“Oh itu. Iya sih. Tapi nggak papa kok, lagian gue juga nggak keberatan kok kalau harus nemenin loe.”
"Loe emang nggak. tapi gue yang keberatan soalnya selera makan gue bisa langsung hilang kalau di temenin cewek kayak loe.”
Detik itu juga senyum di wajah Diera langsung lenyap tanpa. Cewek kayak loe? Maksutnya?
"Mendingan loe buruan cabut deh sebelum selera makan gue beneran ilang" tambah Rian santai tanpa memperdulikan wajah shock gadis dihadapannya.
Untuk beberapa saat Diera terdiam sebelum kemudian kesadarannya pulih. Tatapan tajam segera ia lemparkan kearah sosok dihadapannya. Tapi yang ditatap terlihat santai dan justru malah jelas jelas memasang tampang mengusir dirinya.
"Loe kok masih duduk sih. buruan, kaki gue udah pegel nih.”
"Terus masalah buat gue,” balas Diera menantang.
Mata Rian tampak berkedap – kedip. Seumur – umur baru kali ini ada cewek yang berani menantang dirinya. Dan lagi, Rian masih ingat kalau cewek yang berdiri dihadapannya beberapa saat yang lalu masih sempat memasang senyum cute di wajahnya.
"Kalau loe emang mau duduk ya duduk aja disana. Kalau loe emang nggk mau mendiangan loe cabut aja dari sini. nggak ngaurh jua ama gue" tambah Diera sambil gantian menlamabaikan tangannya tanda ngusir.
Tanpa memperdulikan tatapam kesel Rian, Diera justru malah memesan es sirup rasa stroberi kepada pelayan yang ada di sana. Sambil menunggu pesanannya datang ia pura-pura asik membaca buku yang baru diamabil dari dalam tasnya. Namun, tanpa diduga buku tersebut langsung berpindah tangan.
"Mau loe apa sih?" tanya Rian.
" Justru mau loe yang apa. Pake ngambil buku gue segala. Balikin nggak !!!" bentak Diera sambil berusaha mengambil bukunya kembali yang justru malah diangakt lebih tinggi oleh Rian.
"Ih loe tu nyebelin banget sih,” gerut Diera setengah membentak.
“Kadi loe mau buku loe balik?"
"ya ia lah. itu buku pr gue kali. Ntar mau di antar ke pak Ridwan. Jadi buruan balikin.”
"Nih!" kata Rian sambil menyodorkan buku tersebut. Tapi sebelum Diera sempet meraihnya Rian sudah terlebih dahulu melepaskannya. Alhasil buku tersebut sukses mendarat di lantai.
"Elo….!" Tujuk Diera tepat di wajah Rian tapi tesangka masih hanya angkat bahu, membuat Diera semaikin sebel. Akhirnya dengan terpaksa Diera membungkuk untuk mengambil bukunya kembali. Diluar dugaan, pada saat yang sama air turun dari atas. Tepat menyiram kearah bukunya yang masih tergeletak dilanti.
"Ya Tuhan, buku gue…."
"Ups… Sori. sengaja…"
Diera mendongak, matanya menatap tak percaya kearah Andreani, teman sekelasnya yang kini berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah botol minuman kosong ditangan. Bukti nyata kalau ia pelakunya.
"Elo apa-apaan sih,” bentak Diera tak mampu menahan diri.
"Itu akibatnya karena elo udah berani ganguin Rian," balas Andreani sambil mendoroang pundak Diera. Rian hanya menatapnya dengan kaget plus bingung dengan apa yang terjadi.
"HA!" Diera tampak bingung. Memang apa hubungannya?
"Jadi mendingan sekarang juga loe buruan pergi deh. Atau loe mau tas loe mengalami nasib yang sama" tambah Angela sambil mengangakat botol aqua yang ada di tangannya tepat di atas tas Diera yang masih tergeletak di meja.
Diera sebenernya ingin membalas tapi urung karena melihat sekeLillyngnnya. Kelima teman Andreani ada di sana. Jadi percuma juga ia melawan. Sudah pasti kalah lah dia. Dengan terpaksa di ambil tasnya dan segera berlalu dari hadapan mereka diikuti tatapan rian yang terus memperhatikannya sampai ia menghilang dari balik pintu kantin.
"Gimana Rian, sekarang udah nggak ada lagi yang nganguin loe kan? Jadi loe bisa makan dengan tengang," Angela tersenyum manis sambil menarikan kursi untuk Rian.
"Maksut kalian tadi apa sih?" tanya Rian tanpa memperdulikan perhatian Angela sama sekali.
"Memangnya kita kenapa?"
"Ya apa maksut kalian pake nyiram buku dia segala. Kasian tau.”
“Ha ha ha, kasihan? Biarin sajalah. Itu emang pantes buat cewek kayak dia. Lagian ngapain sih loe mikirin Diera segala?"
"Diera? Siapa?" kening Rian tampak berkerut samar.
“Ya cewek yang tadi lah. Udah deh, lupain aja. Mendingan sekarang loe duduk. Loe mau makan apaa? Biar sekalian gue pesenin buat loe" tawar Andreani lagi.
"Nggak usah. Gue udah nggak laper" balas Rian sambil pergi tanpa menoleh lagi.
"Huh…." Diera kembali menghembus kan nafas panjangnnya. Dilepasnya earphon dari terlinganya. Karena selain insiden yang terjadi di kantin tadi masih ada yang bikin ia tambah kesel yaitu ia terpaksa harus di hukum di luar kelas dan menyelesaikan kembali semua soal prnya karena ia tidak mengumpulkan tugas yang telah diberikan.
Dengan berlahan ia bangit, diraihnya jam beker di meja, pukul sepuluh lewat seperempat. Akhirnya diputuskannya untuk tidur saja. Tidak lupa ia memasang alaram. karena besok ia masih harus datang pagi karena kebetulan besok ia mendapat giliran piket membersih kan kelas.
Setelah beres, kembali di nyalakan mp3nya. Sambil rebahan di kasur ia mulai memjamkan matanya di iringi lagu D’bagindas, band Favoritnya. Bahkan buku hariannya penuh dengan lagu lagu tersebut yang akan mengantarnya ke alam mimpi.
Cinta
Berapa kali… ku harus kata kan cinta
Berapa lama… ku harus menunggu mu
Di ujung gelisah ini aku …
Tak sedetik pun tak ingat kamu
Namun dirimu masih begitu
Acuhkan ku tak mau tau
luka luka luka yang ku rasakan
bertubi tubi tubi engkau berikan
cinta ku bertepuk sebelah tangan
tapi aku balas senyum keindahaan
bertahan satu cinta…
bertahan satu c.i.n.t.a…
bertahan satu cinta…
Bertahan satu c.i.n.t.a….
Cerita SMA Diera Diary ~ 01 Update
“Gila, tu orang emang keren banget ya. Coba aja jadi cowok gue… u,,,, pasti gue seneng banget deh” kata Lilly pada teman-temannya sambil ngemil kripik singkong di taman.
“DOR!!!” teriak Diera yang baru datang dari perpustakaan.
“Eh dor pintu, doraemon” Lilly kumat latahnya.
“Ha ha ha “ Diera malah tertawa dan segera mengambil kripik yang ada di tangan Lilly dan langsung memakannya.
“Ih jahil banget sih loe. Bisa nggak sih sehari saja nggak ganguin gue!” bentak Lilly sambil merebut kembali kripik nya yang baru saja di rampok sahabatnya itu.
“He he he…. Enggak!” balas Diera santai. “Abisnya ya kalau nggak ngerjain loe, kayak gimana gitu… ibarat sayur nie ya, nggak di kasih garam,. Hambar.”
“Ia. Ngggak di kasih bawang, penyedap sama minyak sekalian” tambah Lilly sewot. Yang lain hanya tertawa mendengarnya.
“Eh tapi lagi pada ngosipin apa sih. Kayak nya seru banget?” tanya Diera kemudian.
“Siapa lagi kalau bukan tentang pangeran kita…. Rian ” sahut Narnia
“Kita?…, kalian aja kali, gue nggak” ralat Diera lagi.
“Masa sih? Yakin loe nggak naksir ma dia. Bukannya buku diary loe penuh nama dia ya. Gue udah baca lo…” ledek Hera sambil tertawa. Kontan Diera yang sedang mengunyah keripik di mulutnya langsung tersedak.
“Ha?.. yang bener loe ra?” Lilly kaget. Hera mengangguk membenarkan.
“Enggak kok. Hu,…. Ngasal aja loe kalo ngomong” bentak Diera malu.
Teman-temannya yang lain lansung ikutan mengodanya.
“Terus ra, emang dia nulis apa aja. Kok loe nggak cerita ma gue sih. Kapan loe bacanya,? Dimana?”
Sebrondongan pertanyaan keluar dari mulut teman-temannya yang penasaran.
“Ia. Waktu gue lagi jalan kerumahnya. Gue temuin di kamarnya dia. Loe mau tau gak apa aja yang di tulis….”
Diera segera meraih kripik yang ada di tangan Anggun dan langsung memasukan semuanya ke dalam mulut Hera sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya. Kontan Hera kaget.
“ Ah, Gila ya loe. Mau bunuh gue?”
“Ia, sekalian mau gue jadiin daging cincang,” geram Diera lagi.
“Udah ra, loe lanjutin lagi,” kata Lilly yang sudah sangat penasaran sambil memegani Diera yang berusaha memberontak.
“Awas loe. Berani ngomong sepatah kata aja beneran gue bunuh loe” ancam Diera yang kini sudah tidak berdaya karena bukan hanya Lilly yang memeganginya tapi juga Niken dan Anggun.
“Ha ha ha…..” Hera malah ketawa sendiri melihatnya.
“Udah cepetan ra, certain ma kita” desak Lilly tampak tak sabar.
Hera memandang ke arah Diera yang terus memandangnya dengan tatapan memohon.
“Kalian beneran mau tau?”
“Ya ia lah. Makanya buruan cerita in. muter-muter mulu loe dari tadi.”
“E, tapi sory ya. Mending kalian cari tau aja sendiri. Gue nggak mau berita gue di bunuh masuk ke Koran cuma gara gara ngebocorin rahasia sahabatnya. Jadi kalau emang kalian mau tau, cari tau aja ndiri. Palingan tu diary ada di dalam tas nya” terang Hera.
Diera bersukur dalam hati. Rahasianya aman. Tapi beberapa saat kemudian ia memandang teman-temanya yang juga sedang menatap kearahnya. Jangan bilang kalau mereka…
Benar saja dugaanya. Semuanya langsung berhamburan cepat-cepat sampai menuju kekelasnya. Untuk mengambil diary nya yang ada di dalam tas tentunya. Diera sudah berusaha mengeluarkan semua tenaganya untuk sampai duluan. Tapi tetap saja ia kalah cepat karena kini tas nya ada di tangan Anggun, sementara ia sendiri sudah tidak berdaya.
“Pleasse donk. Kalian jangan jahat gitu deh ma gue” pintanya memohon pada Lilly yang masih memegangi tangannya.
“Ah loe. Tenang aja. Lagian sejak kapan di antara kita semua pake ada rahasia-rahasiaan segala.”
“Tuhan tolong gue….” pinta Diera dalam hati nya. Sementara itu teman-temannya sudah membongkar semua isi tasnya dengan sangat antusias, tapi…..
Hasilnya nihil.
Selain dari buku-buku tidak ada lagi benda berharga yang mereka cari. Rasa kecewa jelas tepancar dari wajah mereka. Sebaliknya Diera langsung merasa lega.
“Yah kok nggak ada si….”
“Sukurin. Abis kalian jahat sih ma gue,” kata Diera segera mengumpulkan kembali semua barang-barangnya yang berantakan di mejanya. Pada saat bersamaan bel tanda waktu istirahat selesai pun terdengar. Satu persatu dari teman-temannya masuk kekelas.
Diera sedang konsentrasi mendengarkan penjelasan dari pak Agus tentang perkembang biakan pada mamalia. Sampai ada sesuatu yang mengusik ingatannya.
“Tunggu dulu…. Kalau emang diary gue nggak ada di dalam tas. Terus sekarang di mana donk?” pertanyaan itu muncul dengan sendirinya yang membuatnya cemas. Bagaimana pun juga buku itu tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.
Diera mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir ia benda itu ada di tangannya.
Oh ya tadi malam, gue isi terus gue taruh dalam tas kemudian…. “ ia coba mengingat-ingat kemabali. “Tapi kalau emang gue taruh ke dalam tas kok nggak ada ya?” ia makin bingung and cemas.
“YA TUHAN!!!” pekik nya sepontan sambil berdiri, kontan semua memandangnya karena kaget, apalagi saat itu pak Agus sedang menerang kan pelajarannya.
“Diera ada apa?” tanya Pak Agus. Terlebih dilihatnya tampang Diera sudah pucat.
“Loe kenapa, sakit?” tambah Lilly yang duduk di sampingnya merasa heran.
“E… anu pak…nggak kok . E… cuma saya mau minta izin buat kekamar mandi sebentar” kata Diera gugup.
Begitu keluar dari kelasnya Diera segera berlari ke perpustakaan kelasnya. Ia baru inggat kalau tadi sebelum ketaman ia ke perpus dulu untuk mengembalikan buku buku yang kemaren ia pinjam. Dan ia baru nyadar kalau waktu itu nggak sengaja diary ia juga ia bawa.
Begitu sampai di perpus ia segera mencarinya ke tempat-tempat yang tadi ia datangi. Tapi walaupun ia sudah mondar-mandir ketempat-temapa tersebut hasil nya tetap nihil. Membuatnya semakin merasa panic.
“Duh gue harus cari di mana lagi nih…?” gumamnya kebingungan. Ia sudah bertanya ke penjaga nya tapi tu orang bilang nggak tau. Dengan lemes Diera kemabli menuju kekelasnya.
“Ra loe kenapa?” tanya Lilly saat mereka merapikan buku-bukunya karena udah waktunya pulang sementara temannya yang satu ini malah lemes begitu.
“Loe beneran sakit. Kok pucet gitu muka nya?” sambung Anggun sambil menyentuh keningnya. Ia Heran karena tadi waktu istirahat Diera masih baik-baik aja.
“Mati gue….”
“Loe kenapa sih?” teman-temannya makin bingung.
“Diary gue ilang.”
“Ilang?” ulang Hera, Diera membalas dengan anggukan lemesnya.
“Ha?! Kok bisa?”
“Serius loe?”
Diera menganguk bahkan ia sudah hampir menangis. Nggak kebayang gimana kalau sampi diary itu di baca sama orang-orang. Padahal isinya kan curhatan semua.
“Coba deh loe inget-inget lagi. Palingan juga di rumah loe” Hera mencoba menenangkan.
“Nggak. Gue itu inget banget. Tadi itu gue nggak sengaja ke bawa waktu ke perpus, trus waktu gue lagi milih-milih buku gue taruh gitu. Dan gue lupa ngambil lagi. Tadi juga udah gue cek, tapi nggak ada. Gimana donk."
“Ya udah lah ra,… ayo kita temenin nyari lagi, kali aja keselip dimana gitu.”
Akhirnya semuanya kembali ke perpus. Bahkan sampai perpus nya mau di tutup karena memang sudah waktunya pulang tuh diary masih juga nggak ketermu di mana wujudnya. Semuanya sepakat pulang dan akan kembali mencarinya besok.
To Be Continue. Lanjut baca ke Cerita SMA Diera Diary ~ 02 untuk mengentahui kelanjutan ceritanya.
~ With Love ~ Ana Merya ~

Random Posts

  • Cerpen Cinta: Kata Cinta Yang Kedua

    Kata Cinta Yang KeduaOleh: Farhatul AiniAwal aku masuk kuliah selama beberapa hari menjalani penyiksaan yang begitu pahit oleh senior yang kejam dan jahat. Dengan berkendaraan bus yang penuh sesak, ku masuki bus itu dengan sedikit hati hati, ku duduk di sebuah tempat dekat jalan, yang kurasa agar tidak terlalu sulit jika aku turun nanti, ku duduk dengan manisnya, sambil melihat orang di sekitarku. Rasanya ada yang aneh dengan gerombolan 6 orang yang duduk paling belakang itu. Rupanya aku kenal salah satu dari mereka tapi aku tidak tau namanya, ya.. teman satu jurusanku namun kita sama sekali tidak bertegur sapa, mungkin karna aku terlalu pendiam, mungkin juga dia tidak mengenaliku. Namun ada seseorang salah satu dari mereka yang agaknya terlalu memperhatikanku, dan saat aku melihatnya ke belakang untuk melihat keadaan, rupanya dia sedang melihatku , tatapan kami terhenti di salah satu sudut. Karena dia yang terlebih dulu melihatku, dia pula yang melempar senyum terlebih dulu kepadaku, tanpa canggung aku pun membalas senyumnya.Ku buka kembali Diary lamaku saat aku pertama kali bertemu dengan Kevin. Rasanya tak pernah terfikirkan olehku akan melewati masa sesulit ini ketika telah mengenalnya. “hayooo ngelamunin Kevin ya?” tiba-tiba Adel datang ke kamar.“apaan si lo, sok tau.”“eh apaan tuh liat dong, lucu gitu bukunya, ada foto kamu sama Kevin lagi.” Sambil merebut buku yang di tangan Widy.“eh jangan itu Diary gue” balik Widy merebutnya, tapi tak berhasil.“ah biarin gue pengen tau.”Akhirnya Widy menyerah membiarkan Adel membaca buku Diarynya itu. Setelah lama Adel membaca halaman pertama buku itu diapun berkata.“jadi rupanya lo tuh suka pada pandangan pertama nih.”“eh engga ya, dia dulu yang ngelempar senyum ke gue, terus minta nomer gue ke Raka, temen satu jurusan gue itu yang satu bus sama gue waktu itu. smsin gue, ngajak jalan, sampe deket kaya gini, dan tiba-tiba dia pacaran sama Nuna.” Menceritakannya dengan emosi, lalu Widy mengeluarkan air matanya.“sabar ya wid, gue rasa Kevin tuh ga bermaksud nyakitin elo, dia kan ga tau kalo Noumi itu kakak lo.”“dia tuh kakak tiri gue, dan kalo emang seorang kakak dia gak mungkin sejahat ngerebut orang yang gue suka.”“tapi lo gak pernah bilangkan orang yang lo suka itu Kevin, mana dia tau kalo dia yang lo suka.”“udahlah Del ga usah bahas dia lagi, mulai sekarang gue benci sama Kevin dan Noumi!”Noumi, dialah yang sudah menghancurkan semuanya, aku terbiasa memanggilnya Nuna(sebutan kakak perempuan dalam bahasa Korea),dia adalah kakak tiri aku yang kuliah dan tinggal di Korea , dia tinggal disana bersama Paman Lian yang membuka usaha restaurant khas Korea, aku yang tidak suka dengan musim dingin hanya tinggal di Jakarta bersama Papah dan Mamah tiriku. Noumi ternyata teman sewaktu SMA Kevin, yang pernah disukai Kevin dulu tapi kenapa harus Noumi? dia orang yang terdekat denganku, dan kenapa aku harus tau sekarang, ketika aku sudah benar-benar menyayanginya.Beberapa minggu lalu Kevin pernah menyatakan cinta padaku, tepatya saat aku pulang kuliah, tanpa ragu dia menyatakan kata-kata cinta itu dengan lancar, sampai aku seperti terhipnotis tak sadar melihat tingkah dan deretan kata-kata itu. Namun karna aku bingung dan ragu aku menjanjikannya akan menjawab pada saat malam minggu di Cafe tempat biasa kita makan bersama.Memang waktu belum mengijinkan kita, pada saat itu banyaknya tugas yang datang mengahampiri membuat aku lupa akan hal itu. Berjam-jam ternyata dia menunggu di Cafe, dan aku memang benar-benar lupa. Seperti penyesalan yang amat mendalam, dia mengira aku tak datang menemuinya karna aku menolak cintanya, beberapa kali aku jelaskan aku lupa untuk datang ke Cafe itu, tapi Kevin hanya menjawab “lupakan saja Wid, anggap saja itu tak pernah terjadi.” dan aku sangat tau Kevin, sesekali ia dikecewakan, dia takan pernah memberikan kesempatan untuk orang yang pernah mengecewakannya. Dan aku menunggu dia menyatakan cinta itu lagi, karna aku takan menyia-nyiakannya untuk kedua kali, karna aku mencintainya. Tapi kemana dia, cinta itu tak pernah keluar dari mulutnya lagi sampai pada akhirnya dia menemukan Noumi, sahabatnya dulu yang pernah disukainya. Sampai pada akhirnya aku memutuskan, untuk merelakan semuanya. Bahwa Kevin kini telah menjadi milik Noumi. Malam ini sengaja aku duduk ditaman rumah, malam inikan malam ulang tahunku tapi semuanya nampak sepi, Papah Mamah yang sedang berkunjung ke Korea menjenguk Paman Lian yang sedang sakit, tidak kunjung pulang sampai hari esok tiba. Headset yang tertempel ditelinga seperti melekat, aku menikmati alunan musik yang bertema galau, pas sekali dengan apa yang ku rasakan. Tiba-tiba Pemandangan yang tidak menyenangkan, oh Noumi dan Kevin, inikah kado terburuk yang pernah kudapatkan dihari ulangtahun ku besok, kemesraan yang tampaknya mereka pamerkan membuatku iri, harusnya aku yang sedang tertawa mesra bersama Kevin disana. Tak biasa mereka pulang semalam ini tepatnya jam 10 malam, pasti mereka habis makan di Cafe, nonton, semua hal yang mengasikan.Saat mereka lewat didepanku, akupun sengaja menutup mata, agar tidak menambah beban pikiranku, dan diam-diam saat mataku terpejam, rasanya pipiku sudah basah terbanjiri air mata.“kenapa malam-malam kamu masih diluar Wid?” tanya Kevin.Rupanya alunan musik yang terdengar ditelinga Widy, membuatnya tidak mendengarkan ada suara apapun selain lagu lagu yang didengarnya.“hei widy.” Sapa Kevin sambil menyentuh tangan Widy, agar Widy merasakan bahwa disana ada orang yang mengajaknya berbicara.Mata Widypun terbuka dan dengan kagetnya, sampai gelas lemon tea didekatknya terjatuh.“eh, eh Kevin.”Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, suara pecahan gelas membuatku makin panik dan aku memunguti pecahan-pecahan gelas itu. Sebenarnya jika situasi sedang normal aku tidak akan melakukan hal itu, aku akan mengusir Kevin jauh-jauh dan menyuruhnya pergi. Dengan tergesa-gesa membereskannya membuat beling pecahan gelas itu, melukai tanganku. Kevin hanya terdiam melihat tingkahku. Dan ketika ia tersadar iapun langsung membantuku, mengeluarkan sapu tangan, dan membalutkannya ke tanganku yang luka.“kamu tuh kenapa si, ga biasanya banget?” tanya Kevin.“habisnya kamu tuh dateng tiba-tiba, bukannya tadi kamu bersama Nuna masuk kedalam eh tiba-tiba kamu ada disini.”“ya gapapa dong sekali-kali akukan pengen sama kamu.”Kata-katanya membuat aku benar-benar kesal, kamipun duduk berdua diatas ayunan panjang itu. Diam sejenak tanpa ada yang berkata-kata.“sebaiknya kamu panggil Nuna sanah, dan aku mau istirahat.”Diam itu saat bersama Kevin itu, membuat kenyamananku terganggu, aku putuskan untuk kembali ke Kamar.“eh Wid, disini aja. Noumi sedang mandi katanya dan kamu harus menemani aku.”“kenapa begitu”“karna akukan tamu, masa tamu dibiarkan sendiri, ayolah yah yah…” mintanya dengan manja.“engga!” Widy lari menuju rumah, dan Kevinpun mengejarnya“kenapa kamu jadi seperti ini si Wid? Kamu tidak seperti kamu yang dulu dan aku tidak suka.”“dan kamu pikir aku suka kamu dekat dengan Nuna, lalu melupakan aku begitu saja?”“apa wid, jadi kamu tidak suka aku dekat Noumi?”“eh bukan itu maksud aku.” Widy berusaha mengelak.“wid sekarang aku tau perasaan kamu, akhirnya kamu menjawab semua rasa penasaran yang aku rasakan selama ini.”“maksudnya?”“sebenarnya aku tidak pernah pacaran bersama Noumi, akupun tidak pernahkan bilang kalo aku pacaran sama Naomi bukan, tapi kamu sendiri yang menganggap semua itu.”jelas Kevin.“ah sudahlah lepaskan, aku tidak mau lagi mendengar semua itu.”Widypun lari ke dalam rumah, dan berhenti ketika melihat Noumi sedang membuat kue ulang tahun, ah pasti itu buat Kevin, hari ini kan dia juga ulang tahun. Pasti mereka bakalan ngerayain bareng diatas penderitaan gue.Kevinpun ikut lari ke dalam rumah.“Widy, kenapa kamu masuk ke dalam, harusnya kamukan menemani Kevin diluar.”“ah urusi saja pacarmu itu sendiri.”Ketika Widy mencoba berlari lagi menuju kamar, langkahnya terhenti karna salah satu tangganya berhasil dipegang erat oleh Kevin.“jangan pergi lagi Widy.”Sontak Widypun kaget dan mencoba melepaskan pegangan itu, saat berhasil terlepas widypun berkata.“apa si maunya kalian itu, aku hanya ingin tenang silahkan kalian bercinta sesuka kalian tapi jangan ganggu aku lagi.”“Widy apa maksud kamu?”“Nuna pacaran sama Kevinkan, dan Nuna tau dia itu orang yang sering Widy ceritakan kepada Nuna saat kita sedang curhat bersama melalui e-mail.”Noumi hanya tersenyum lalu mengatkan “Happy Birthday Widy.”Nuna sambil berteriak, aku bingung seperti konyol sekali, itukan kue untuk merayakan hari ulang tahun Kevin.“Widy maafkan aku, ini semua rencana aku, aku ingin tau sekali lagi perasaan kamu, dan aku rasa ini satu-satunya cara agar aku tau perasaan kamu, kamu cemburukan wid aku bersama Noumi, dan itu artinya kamu juga suka kan sama aku?”Widy seolah tak percaya akan hal itu, air matanya mengalir ke lekuk pipinya.“aku cinta sama kamu widy, sekali lagi aku ungkapkan itu, dan aku mau kamu menjawabnya sekarang, apapun jawaban kamu aku siap, tak perlu menunggu lain waktu, maukah jadi pacar aku?”Tanpa berkata Widy langsung memeluk Kevin.“jangan lakukan ini lagi, aku juga cinta kamu dan kamu harus tau itu.”Pelukan yang berlinang air mata, mengakhiri sebuah kebahagiaan.“Nuna maafkan aku yang selama ini sudah membenci Nuna.”“tidak apa-apa, memang harusnya begitu kalo memang Nuna melakukan itu.”Malam itu malam yang indah, aku merayakan ulang tahunku bersama Kekasihku dan Nuna, orang yang sangat aku sayang. -selesai-Twitter: @ainigonilFacebook: farhatul.aini@yahoo.comCerpen Farhatul Aini yang lainnya bisa dibaca dalam Hate The Rain, Aku Tanpa Dia dan Izinkan Aku Memilih.

  • Cerpen Remaja Take My Heart ~ 18

    Cerpen Remaja Take My Heart ~ 18 _ Versi lanjutan. Omo, Nie cerpen kapan endingnya yak?, Suwer aku ndiri udah nggak sabar banget buat nge'end'kan nya. ha ha haBut, mau gimana lagi. Selama puasa jam kerja nambah. Dari jam 09 pagi sampe jam 09 malam. 7 hari seminggu full nggak pake libur. Hebat kan?. Ngebet banget pengen kaya kayaknya #nyindirmodeon.Tapi walau pun begitu, aku tetep usahain kok buat bikin lanjutannya. Toh pada akhirnya part ini muncul kan?. Akhir kata happy reading aja deh..Take My Heart Keesokan harinya, seperti biasa Vio berangkat ke kampus menggunakan bus. Begitu sampai, sekilas ia menoleh ke sekeliling, Merasa sedikit canggung akan situasi yang akan ia alami dinanti. Bagaimana ia harus bersikap jika sekiranya nanti ia bertemu Ivan.sebagian

  • Puisi Galau “Tepian Hati”

    #GALAU KUADRAD!!!!!!……..Pusisi edisi galau yang ini hasil karya dari sang mami aka Vieta Niezt. Tenang, ku udah minta izin kok. Aku sengaja niat untuk mengeposkan puisi galau ini karena aku ngerasa ni Puisi kok pas banget ya sama hidup ku. sungguh!!!Okelah, dari pada banyakan cincong yang jelas jelas gak jelas, mendingan ikutan baca yuks. N for Mami Vieta Niezt, Thanks ya. Love you as always….TEPIAN HATIQ tau semua rasa tak pernah sama..Q tau kadang kepastian tak jua adaingat lah…ini akan terus ku tapakisatu persatu,,tiada celah,,,sebagian

  • Cerpen Cinta Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 10

    Buat temen temen semua yang pada nungguin lanjutannya, kali ini udah muncul nih cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 10. Soal ending? Kayaknya masih lama deh. Di usahain nggak sampe lebih dari part 15 walau nggak janji juga sih. Secara, jujur aja deh, kelanjutan cerpennya belom di ketik. Baru di pikirin ni cerita mau di bawa kemana…. #Backsound lagu Armada.Oh ya, biar nggak bingung sama jalan ceritanya, sebaiknya baca dulu episode sebelumnya dalam cerpen cinta kenalkan aku pada cinta part 09. Happy reading…..Kenalkan Aku Pada Cinta Setelah sebelumnya Astri sempat merasa uring – uringan karena motornya yang pagi itu mendadak mogok, namun pada akhrinya gadis justru itu malah mensukurinya. Bukan, bukan menyukuri motornya, tapi mensyukuri dirinya yang ternyata memiliki seorang kakak. Walau mereka sering berantem, tapi sepertinya pria itu masih bisa di manfaatkan. Yah, jadi tukang ojek dadakan misalnya.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*