Cerita SMA “Be The Firs & The Last”

Hallo Reader Star Night.
Star Night datang lagi ni. Kali ini dengan Cerita SMA , Cerpen Kiriman dari Salah satu Reader Star Night. Gimana ya Ceritanya?. Langsung sama – sama kita cek yuks. Lets Go…..

Credit gambar: Ana Merya
Cerita SMA
Sophia, terkenal sebagai cewek palinnngggg jutek di sekolah SMP 1. Dia sebetulnya baik, tapi dia tidak suka ama yang namanya ‘cowok’. Kejadiannya, dia pernah diputuskan oleh mantan pacarnya dengan alas an yang sangat tidak masuk akal. Coba aja pikirkan, masa alasannya karena, Tony (mantan pacar Sophia) sudah bosan dengan Sophia. Jelas saja Sophia langsung pergi dengan hati remuk. Rasa marah, sakit hati, kesal bercampur aduk jadi satu. Vanes dan Dila, BFFnya Sophia mencoba untuk menghibur Sophia. Yang malah jadinya, Sophia tambah marah dan mulai bersikap super jutek. Di hadapan cewek-cewek, Sophia adalah orang terbaik dan tersabar di dunia. Di hadapan cowok-cowok, dia bagaikan iblis dibalik malaikat.
Suatu hari, Sophia sedang berjalan di koridor sekolah dan tanpa ia sadari, ia menabrak seorang ‘cowok’. Dengan nada juteknya ia berbicara kasar dengan ‘cowok’ itu.
“Hei! Kalau jalan itu pake mata dong!! Ga keliatan apa badan segede ini!” kata Sophia dengan ketus.
“Eh, sori banget, gue ga sengaja. Gue lagi sibuk nyari kelas gue.” Jawab ‘cowok’ itu.
“Kenapa ga tanya aja ama murid yang ada disini! Kan gampang! Ga usah bolak-balik sekolah ini kayak cacing kepanasan! Udah ah!” balas Sophia sambil meninggalkan ‘cowok’ itu yang bengong melihat perilaku Sophia.
Bel berbunyi, tanda jam istirahat selesai. Semua siswa-siswi bersiap balik ke kelas. Begitu juga dengan Sophia, Vanessa, dan Dila. Sesampai di kelas, Ms. Tina, belum kelihatan di kelas. Sophia segera duduk dekat dengan Dila seperti bersiap untuk curhat. “Eh, lo liat ga cowok yang tadi nabrak gue?” Tanya Sophia.
“Liat, kenapa mang?” balas Dila.
“Dia itu cowok ga tau diri, masak gue se-gede ini ga keliatan, jangan-jangan dia malah sengaja lagi untuk nabrak gue sekedar cari perhatian atau apalah” cerita Sophia dengan nada sebel.
“Ya lo jangan segitunya kali”
“Maksud lo?” Tanya Sophia.
“Sapa tau aja dia itu ga sengaja, ga ngeliat lo ada disitu karena lagi sibuk memperharhatikan sesuatu, kalau misalnya lo yang jadi cowoknya, lo sakit hati ga dibentak kaya gitu? Udah ga tau apa-apa, ga sengaja, dibentak lagi. Mending sekarang lo minta maaf” jawab Dila panjang lebar.
“Eitsss, kok jadi gue yang minta maaf?” tolak Sophia.
“Iyalah, lo yang bentak-bentak ga jelas, nanti di kira pasien yang baru keluar dari RSJ lagi” canda Dila.
Sophia langsung mencubit lengan temannya itu. “Ouch, sakit tau.. Iya deh Nona Sophia, den takut nanti dicubit lagi” jawab Dila dengan laga orang polos.
Melihat itu, Sophia langsung ketawa, disusul oleh tawa Dila juga. “Makasih Dila, gue seneng lo jadi sahabat gue” batin Sophia.
5 menit kemudian, Ms. Tina datang membawa berita penting. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa baru namanya Andre, dia pindahan dari Amerika. Andre, ayo silahkan ke sini..” kata Ms. Tina. Sesaat, cowok ganteng dan tinggi itu masuk ke kelas. Wajahnya hamper meng-hipnotis seisi kelas 9A, kecuali Sophia.
“Ya ampun, itu kan cowok tadi yang menabrak gue, gawat dah kalau sampe dia lapor Ms. Tina, harga diri gue langsung menurun deh” kata Sophia dalam hati.
Untungnya, Andre tidak melapor tentang kejadian tadi siang. Sophia sekarang bisa bernapas lega. “Tapi, setelah dipikir-pikir, kok nama Andre kayak nama temen gue waktu TK ya?” kata Sophia dalam hati. Tp dia segera menghilangkan lamunan itu saat pelajaran Ms. Tina sudah dimulai. 1 setengah jam kemudian, bel tanda pulang berbunyi.
Sesampai di rumah, Sophia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Menghilangkan rasa lelah dan kantuknya semasa di sekolah. Tapi itu tidak berlangsung lama sampai mamanya mengetuk pintunya dengan keras, memaksa mamanya berbicara dengan Sophia. Dengan rasa malas ia membukakan pintu tersebut. Mamanya terlihat sangat gembira sekali. “Soph, Viki, teman km waktu TK udah balik ke Indonesia loh!” kata mama dengan gembira.
“Masa ma?” Tanya Sophia dengan berbinar-binar. Mamanya mengganguk. “Dan, mama dan papa juga kedua orangtua Viki berniat untuk menjodohkan kamu dengan dia” kata mama.
“Apa? Mama jangan berlebihan deh.. Sophi kan baru kelas 9, masa udah dijodohiin? Lagian kalau Vikinya mau.. Trus, masa langsung tunangan atau nikah? Apa kata dunia?” balas Sophia.
“Ehem, jadi udah mikiriin tentang nikah ya?” Langsung saja muka Sophia memerah karena malu.
Baru kali ini Sophia ga jutek karena masalah cowok. Dari TK, dia dan Viki yang masih kecil sudah berjanji akan menikah. Waktu itu mereka masih kecil, jadi belum ngerti apa arti cinta.
“Sudah deh, jangan melamun Soph, mendingan sekarang kita ke mall, ok?” kata mama memberi usulan.
Belum sempat Sophia menjawab mamanya sudah terlebih dahulu menarik tangannya dan membawanya ke pusat perbelanjaan. “Ni sayang, bajunya bagus” kata mama.
Sophi menolak. Mama lalu kembali sibuk memilih dress untuk nanti. Sophi pun terpaksa sibuk, walau dalam lubuk hati senang ingin bertemu dengan Viki.
“Nah, ini aja ya say, udah mau telat loh.. Mau kan?” kata mama setengah memelas.
Sophi mengiyakan saja. “Dress itu lumayan, matching dengan sepatunya” kata Sophia dalam hati. Pulang dari mall, Sophia segera ke kamar mandi dan bersiap-siap. Setengah jam kemudian, Sophia siap pergi dengan baju dressnya berwarna putih ditambah high heelsnya. Selama perjalanan, Sophi tidak tau dia sedang berada dimana. Dia hanya mengikuti saja kemanapun kedua orangtuanya pergi. Kemudian, ia sampai di sebuah restoran dimana sudah ada 3 orang yang sedang duduk, dan bagi Sophi, mereka terlihat familiar sekali.
“Maaf ya sudah membuat anda menunggu lama-lama” kata papa kepada om itu.
“Tidak apa-apa pak, silahkan duduk.” Jawab om itu.
“Ndre, ada Sophia tuh” kata tante yang disebelah om itu.
“Loh, apa jangan-jangan Viki itu Andre? Gawat..” batin Sophia dalam hati.
Cowok yang sekarang sedang duduk disebrang Sophia segera melihat Sophia. Tentu aja cowok itu sedikit kaget.
“Loh, bukannya loe yg waktu itu, Ooh,oh, jadi itu..” kata cowok yang bernama Andre atau Viki itu.
Jelas saja muka Sophia langsung memerah. Selain rasa malu, dia juga menyesal, kenapa harus membentak Andre waktu itu. Selain karena dia Viki, dia juga adalah orang yang selama ini Sophi cari. Tapi tiba-tiba Andre berdiri.
“Om, tante, mama, papa, boleh ga Andre ajak Sophia jalan-jalan keluar?” Tanya Andre kepada mama papanya, dan juga mama papanya Sophia.
“Boleh, silahkan” kata mama dengan tersenyum.
Lalu Andre menarik tangan Sophia dan mengajak Sophia ke suatu tempat. Sophia yang masih syok, hanya diam saja. Mereka sampai di suatu bukit yang luas. Disana mereka bisa melihat bintang berkerlap-kerlip dan juga bunga-bunga yang luas.
“Vik, sori ya masalah tadi pagi. Gue ga tau klo itu lo. Gue juga lagi bad mood deh kalau berhubungan dengan yang namanya ‘cowok’, jadi kebawa emosi deh” kata Sophia.
“Iya, nggak papa.. Gue udah tau itu lo, mana mungkin sih gue lupa ma Sophia yang cantik ini, kan cuman ada 1 di dunia” kata Andre sambil tersenyum.
Muka Sophia langsung merah seperti udang rebus.
“Oh ya, gue punya hadiah untuk lo” kata Andre beberapa menit kemudian. Lalu Andre merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink diikat dengan pita bermotif bunga.
“Coba deh lo buka, jangan dipelototiin mulu” “Ok, ok..” jawab Sophia. Lalu ia membukanya dan langsung kaget.
“Kenapa Soph? Ga suka ya?” Tanya Andre.
“Ga suka? Your kidding me? Ini bagus banget tau ga.. Lo beli dimana?”
“Di Amrik, sebelum ketemu lo gue udah siapiin nih bawa oleh-oleh, hehehehe..” kata Andre.
Hadiah yang diberikan Andre, memang sangat indah. Seorang peri tanpa sayap memakai baju biru muda bergliter sedang duduk di bulan sambil memegang bintang. Bulan dan Bintang adalah hal yang paling disukainya sejak kecil. Dan Andre tau itu. “BTW, boleh ga besok gue duduk sama lo? Temen lama nih, kangen” kata Andre. “Boleh, tapi emang sih tampang gue itu imut, ngangenin” balas Sophia. Andre langsung nyengar-nyengir. Dan terbukti setiap hari mereka semakin dekat. Orangtua mereka pun semakin senang. Dan pada tanggal 13 Februari, sebelum Valentine, sekolah mereka mengadakan acara Valentine. Saat itu mereka sudah masuk kelas 1 SMA. Acara itu diisi oleh banyak kegiatan. Tentu saja, Sophia dan Andre datang bersama-sama karena di acara itu mereka disuruh datang berpasangan. Sophia datang dengan gaun merah muda, diisi pita besar dipinggangnya. Gaun itu terlihat bercahaya. Sedangkan Andre, memakai setelan jas. Sophia dan Andre berjalan-jalan sekitar sekolah sampai suatu saat, nama Andre dipanggil untuk maju kedepan. Ternyata Andre akan menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Wish Upon A Star’. Lagu itu adalah favoritku, dan Andre akan menyanyikannya. Andre memulai lagunya dan bernyanyi.
“Remember when I said I won’t miss you, the truth is that I do..
I never stop thinking about you. We are meant together, the 2 of us are bound
Now it seems like forever I can’t get you off my mind
If I could wish upon a star, then I would hold you in my arms
And I know we could love once again..
If I could turn the hands of time then you would love will still be mine..”
Lalu, tiba-tiba nyanyian Andre terhenti karena Andre jatuh pingsan.
Andre dibawa ke rumah sakit. Sophia langsung menghubungi orangtua Andre dan mama papanya. Berkali-kali rasanya Sophia ingin menangis, tapi ia tahan. Beberapa lama kemudian orangtua Andre datang disusul dengan kedua orangtuanya. Setelah beberapa lama menunggu, dokter sudah keluar dari ruang UGD dan membawa berita buruk.
“Maaf, tapi Andre mengidap penyakit gagal ginjal kronis, hanya donor ginjal yang dapat membantunya. Saat ini, pihak rumah sakit sedang mencari ginjal di seluruh kawasan rumah sakit di Jakarta.” Kata dokter tersebut.
Sophia langsung berlari ke runag Andre. Disitu, Andre masih terbaring tak berdaya. Orangtua Andre juga sangat sedih tapi mereka harus cepat-cepat pergi karena masih ada urusan di kantor mereka. Orangtua Sophia juga harus pergi karena mereka sebentar lagi akan mengadakan rapat penting. Tinggalah Sophia dengan Andre berduaan. Sophia selalu menjaga Andre yang saat itu masih tertidur lelap.
“Sophi, Sophi..” panggil Andre.
“Andre, lo dah bangun?” “Udah kok, sejak kapan lo jaga disini?”
“Sejak lo pingsan tadi..”
“Gue ada dimana?”
“Di rumah sakit, Ndre..” kata Sophia dengan sedih.
Lalu Sophia melirik jam tangannya. Waktu tepat menunjukan jam 12: 15. Sophia mendesah.
“Kenapa Soph?”
“Ga pa pa, cuman kecapean aja..” jawab Sophia, dengan letih.
“Eh, sini deh, gue punya sesuatu buat lo”
“Oh ya? Apa?”
“Kan udah Valentine’s Day nih, jadi ku kasih kamu ini aja” kata Andre sambil memberikan sekotak kado berwarna pink polkadot.
“Huh, sakit-sakitan masih sempet beli-beliin segala, udah ah, kamu tidur aja gih! Nanti malah tambah sakit lagi..” oceh Sophia.
“Yeh, iya nek lampir, mulai muncul deh virus juteknya” canda Andre. Sophia langsung menatap Andre dengan sinis. Setelah beberapa lama, Andre mulai tertidur lagi. Sophia kemudian turun ke lobby rumah sakit dan menuju Café yang dibuka 24 jam. Sehabis memesan nasi goreng dan jus jeruk, ia langsung membuka hadiah dari Andre. Disitu terdapat sebuah surat, sebuah gambar, dan sebuah kotak musik. Sophia membuka kotak musik itu dan mengalunlah lagu ‘Wish Upon A Star’ mengiringi tarian balet dari penari balet itu. Sophia lalu menutupnya dan lagu itupun terhenti. Lalu Sophia ingin membaca surat itu, tapi ia urungkan karena ia ingin melihat gambar tersebut. Gambar itu jelas-jelas buatan Andre. Gambar seorang gadis yaitu Sophia. Sophia sangat terharu sekali. Ia tidak pernah memberikan sesuatu yang berharga untuk Andre tapi Andre selalu memberi yang terbaik untuk dia. Lalu, Sophia mulai membuka dan membaca surat tersebut perlahan-lahan
“Dear Sophia,
Sophi, kamu senang ga sama permberianku tadi? Aku tau sejak kecil kamu suka dengan tarian balet. Kotak musik itu pas banget untuk nemeniin kamu tidur. Ehmm, gue ga tau gimana harus mulai ini, tapi…. Gue itu suka banget sama lo.. Walaupun gue tau kalau lo ga mungkin suka sama sahabat lo sendiri. Tapi itu ga akan ngubah perasaan gue terhadap lo. Apapun jawaban lo, gue akan terima dengan lapang dada… Will you be my Valentine?”
Andre..
Selesai membaca, Sophia menangis terharu. Ia segera menghapus air matanya dan mulai memakan nasi gorengnya karena nasi gorengnya sudah mulai dingin.
Sesudah makan, Sophia segera balik ke kamar Andre karena waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi dan berpamitan dengan Andre untuk segera pulang karena sudah ada Tante Andre yang menggantikan. Sesampai di rumahnya, Sophia segera tertidur dengan pulas. Siangnya, tepatnya jam 01:30, Sophia sudah bersiap-siap lagi untuk pergi mengjengkuk Andre lagi. Sesampai di Rumah Sakit, Sophia kaget karena di kamar Andre sudah banyak dokter yang berkumpul. Saat memasuki kamar Andre, dan langsung menangis karena monitor jantung Andre sudah bergerak dengan datar, tak ada reaksi apa-apa dari jantungnya….
10 tahun kemudian…
Hari ini semua pada disibukkan oleh pernikahan antara Andre dan Sophia yang sudah bersiap-siap.. Waktu lalu, Andre tidak meninggal karena ternyata Andre hanya ingin mencandai Sophia dan sudah berkerja sama dengan para dokternya.. Hahahahahahha… 😀 Dan sekarang, mereka hidup bahagia selamanya…..
The End
Ho ho ho….
Gimana Sama Cerita SMA tadi?. Sama kayak Star Night nggak, yang harus buka kamus duluan?. Ya maklum lah bahasa inggris Star Night kan pas – pasan kalau nggak mau di bilang kurang.he he he #buka aib. But whatwver lah. Yang penting bisa menghibur.
Oh ya untuk info, Cerita SMA ini adalah cerpen kiriman Dari reader Setia di Star Night. Buat Reader yang lain kalau mau karya nya nangkring di Star Night, bakal di terima dengan tangan terbuka kok. Asalkan Karya tersebut belum pernah di publis di blog manapun Kecuali di Fan page atau catatan Fb. Jika Tertarik Silahkan langsung hubungi admin melalui FB supaya kita juga bisa saling kenal..
Okelah, Berikut biodatanya:
Nama : Dea Aspasia
Email : carlesa.cika@yahoo.co.id

Random Posts

  • Cerpen Cinta “Ketika Cinta Harus Memilih” ~ 14

    Cerpen Cinta "Ketika Cinta Harus Memilih" Part 14 kembali relase. Tinggal dua episode lagi. Kok rasanya lama amad ya? wkwkwkwkwk….Jadi mendadak bingung nih, kira kira kalau sampai cerpen cinta yang satu ini end, ni blog mau di update apa lagi ya? Secara adminnya udah nggak punya stok cerpen lagi buat di posting. Haruskan ni blog vakum beneran?… ck ck ckOke lah, daripada banyak bacod langsung aja yuks, kita simak kelanjutan ceritannya. Ketika Cinta Harus MemiliReferensi lagu : Tak Rela miliknya merpati band…..Sesungguhnya aku tak rela, melihat kau dengannyaSungguh hati terlukaCukup puas kau buat diriku, Merasakan cemburuKembalilah kepadakuRangga sedang sibuk membereskan kamarnya ketika Hape nya tiba – tiba bergetar. Dengan segera diraihnya benda mungil tersebut. Sedikit mengernyit heran saat membaca id callernya. Cisa?. Ada apa dia menelponnya?.sebagian

  • Cerpen Lucu Mis. TULALIT part 2 {Update}

    Inget cerita mis tulalit sebelumnya? Soalnya kali ini admin muncul dengan lanjutan Cerpen lucu mis tulalit part 2. Secara kalau di end gitu aja kan nggak asik. Ngomong – ngomong cerpen yang satu ini tokoh tokohnya semua admin ambil dari nama temen – temen sekolah Admin dulu lho. Wkwkwkwkwk, nggak papa lah, toh mereka nggak ada yang baca ini. #krik #krikNah, biar nggak kebanyakan bacod mendingan kita langsung baca aja yuk. Cekidot…Cerpen lucu Mis TulalitLetak rumah April memang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, sehingga biasanya ia pulang-pergi hanya perlu berjalan kaki barengan sama Sri yang rumahnya tepat didepan rumah April. Sambil terus berjalan tak jarang mereka saling mengobrol dengan topic yang beraneka ragam. Dari hal yang penting sampe yang tidak penting sama sekali selalu berhasil menjadi pembahasan di antara mereka. Suatu hal yang tidak akan bisa mereka lakukan lagi sekiranya waktu telah berlalu dan masing – masing sudah melanjutkan jalan hidupnya sendiri sendiri. Saat – saat yang pasti akan mereka rindukan kelak nantinya.“Oh ya, senin besok kan udah mulai tryout nih, gimana persiapan kalian?” tanya Minda. Kebetulan hari ini ia juga jalan kaki begitu juga Gia dan Nia. Lagi pula mereka memang tinggal dalam satu kompleks.“Kalau gue sih udah siap luar dalam,” balas Sri yang memang terkenal kutu tumo, eh salah maksudnya kutu buku.“Memangnya kamu nyiapin daleman buat apa?” tanya April heran.“Kok daleman sih? Gila loe,” semprot Sri cepat. “Maksud gue itu luar dalem. Kalau luar misalnya pencil, penghapus, ruler sama peralatan ujian lain lah pokoknya. Sedangkan dalam maksudnya ngapal materi yang buat diujiankan. Bukannya pakaian dalam. Nggak nyambung banget sih loe.”“O… kirain,” April mangut-mangut paham.“Dasar Mrs. Tulalit,” ledek Gia ikutan nimbrung.“Jadi loe udah nyiapin luar dalam juga nggak pril?” tanya Nia tiba – tiba.“Kalau dalamnya sih adalah dikit-dikit tapi kalau luarnya udah belom ya?” April mencoba mengingat-ingat.“Ah elo, ditanya malah balik nanya. Gimana sih,” Nia sewot.“Memangnya loe kemaren udah beli peralatannya belom?” tanya Sri.“Kalau nggak salah sih kemaren udah. Tapi gue taruh dimana ya?”.“Ya Allah April. Ampun deh.”“Lama-lama kayaknya sakit loe makin parah ya?” tambah Gia yang nggak habis pikir akan sifat lupa sahabat nya yang satu ini. Nia, Minda dan Sri juga hanya bisa menatap April miris, sementara yang di tatap justru malah tengelam dalam ingatannya sendiri. Ingatan yang ia harapkan bisa menemukan peralatan sekolahnya.Begitu sampai dirumah, April langsung masuk ke kamar dan mencari peralatan sekolahnya. Pas ia mau membuka pintu lemari tempat ia menyimpan barang-barang, pintu tersebut terkunci rapat. Terpaksa ia harus mencari anak kuncinya terlebih dahulu karena ia lupa kemaran naruh dimana. Seingatnya sih di laci meja belajar, tapi kok nggak ada. Diatas pintu dan jendela yang biasa ia taruh sembarangan juga nggak ada. Bahkan dikolong meja, kursi, lemari sama tempat tidurnya juga hasilnya sama. Nihil!Ditengah keputus asaannya akhirnya April menemukan benda mungil tersebut. Ternyata kuncinya ada di dalam Vas bunga meja belajarnya. April baru ingat kemaren waktu ia buru-buru mau keluar tu anak kunci memang ia selipin si situ.“April sudah siang nih. Makan dulu!,” terdengar teriakan mamanya dari dapur.“Ia ma, bentar. April mau ganti baju dulu!” sahut April balas berteriak.Selang sepluluh menit kemudian, April melangkah keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang biasa ia kenakan saat di rumah. Dengan langkah ogah-ogahan ia berjalan menuju kedapur. Hatinya sudah bisa menebak apa yang terhidang di meja makan. Pasti tumis kangkung sama sambal kacang kalau nggak sama tempe goreng. Tiap hari kangkung kangkung kangkung. Mentang mentang tinggal ngambil dibelakang rumah. Memangnya kambing apa, gerut April dalam hati.Setelah mengambil piring dan sendok April duduk dan menbuka tudung saji. Begitu melihat apa yang terhidang dihadapannya, ia langsung kaget. Dikucek-kucek matanya kali aja salah melihat, tapi enggak. Dicubit lengannya sendiri keras-keras “Auww sakit,” jerita mengaduh keluar dari mulut April. Jadi dugaan kalau itu mimpi segera sirna.Ia heran apa yang ada dihadapannya bukanlah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kini yang terhidang diatas meja adalah nasi dengan lauk rendang daging, gulai ayam, tumis mie dan tiga butir telor rebus. Ditambah acar mentimun, lengkap dengan kacang dan nenasnya, walaupun nggak ketinggalan tumis kangkung dan ikan asin goreng.“Lho Pril, makanannya kok cuman dilihatin aja?” tanya mama yang baru muncul dari belakang, heran karena April bengong melototi makannya.“Makanan segini banyak datangnya dari mana?” tanya April.“O, itu. Tadi budemu yang mengantarkannya kesini. Kemarenkan anaknya baru nikah, jadi bikin acara kenduri walimah, dan kebetulan sisanya masih banyak banget. Makanya dibawa kesini,” terang mama kemudian.“Coba aja ya ma, tiap hari kita makannya kayak gini! kan enak. Ini nggak asyik kangkung terus!” komentar April berandai – andai.“Sudah jangan ngayal kamu, kan masih untung bisa makan pakek sayur, walau Cuma sama tumis kangkung dari pada hanya pekek garam,” sergah mama menasehati.Mendengar ia April tidak berkomentar apa – apa lagi. Lagi pula apa yang mama katakan sepenuhnya benar. Sekiranya ia selalu mengharapkan sesuatu yang lebih tanpa meresapi apa yang ia punya kapan ia bisa belajar bersukur. Akhirnya disendokannya nasi dan mulai memakan makannya. Kali ini April makan dengan sangat lahap, bahkan ia sempat nambah. Selesai makan ia langsung menuju kekamarnya untuk kembali mencari peralatannya yang masih belum ia temukan.“Ma, ada lihat penghabus April nggak?” teriak April dengan suara kenceng. Karena kebetulan ia sedang ada di kamar, sementara ibunya sendiri sedang berada dibelakang.“Apa?” sang mama balas berteriak.“Lihat karet penghapus April nggak…..???!!!!” kali ini suaranya lebih kenceng karena sepertinya mama masih nyuci dikamar mandi.“Apa……? Ada tikus….!”Dengan tergopoh-gopoh mama datang lengkap dengan sapu lidi ditangan“Mana Pril…..! tikusnya…..?” tanya mama April kaget.“Bukan tikus mama…! Tapi karet penghapus. Mama ada lihat karet penghapus April nggak?” terang April.“Kamu ini. Mama kira ada tikus, nggak taunya karet penghapus.”Lah ini kenapa malah April yang kena marah. Ia tadi kan hanya bertanya. Lagi pula siapa yang salah coba. Orang di bener ngomong penghapus. Kalau mama yang salah nangkep harus nya itu bukan salahnya donk.“Yah mama. Kan mama yang nggak denger. Jadi gimana? Mama ada lihat nggak?” ulang April kesel. Pertanyaanya saja belum di jawab, eh ia malah di marahi.“Nggak tuh. Digudang kali. Sudah cari sendiri aja, mama lagi nyuci, kamu ganggu aja,” jawab mama sambil berlalu meninggalkan April dengan tampang bingungnya.“Ah mama, suka ngasal banget si. Hari gini nyari penghapus di gudang,” sungut April sembari melanjutkan pencariannya.Tapi dicari bagai mana jugak tetap nggak ada, bahkan April telah membongkar tumpukan bukunya berkali-kali, siapa tau terselip, tetapi hasilnya tetap. Nihil!.Saat sedang kebingungan, telinga April menangkap suara sumbang Bintang, adiknya yang sedang melantunkan lagu ‘Masih disini masih denganmu’ milik goliat band yang lagi ngetren di TV. Sepertinya adeknya baru pulang dari jalan-jalan.“Bintang loe ada lihat karet penghapus kakak nggak?” tanya April langsung begitu ia melihat batang hidung adeknya.“Karet penghapus?” Bintang balik bertanya.“Ia….! mereknya Fabercastel. Warna putih, loe ada lihat nggak….??!!” tanya April lebih mendetail.Bintang terdiam. Mencoba mengingat – ingat apa yang di ucapkan kakaknya barusan“O…! Itu. Bintang pakek buat ngganjal meja belajar, habis tinggi sebelah. Jadi goyang-goyang. Kebetulan Bintang liat ada karet penghapus kakak yang nganggur. Ya sudah. Bintang pake deh,” terang Bintang dengan tampang watados alias wajah tanpa dosa sama sekali.“Apa?!” April tampak kaget sekaligus tidak percaya.“Ya…. Sory… Kirain nggak dipakek. Lagian Bintang temuin ada dikolong tempat tidur kakak. Ya udah Bintang ambil. Habisnya kalau pakek kertas, takut nanti malah ada kecoaknya. Hi…” terang Bintang sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang terlintas dalam benaknya barusan.“Dengkul mu ditaruk diotak ya…..???!! Eh salah otak loe ditaruk didengkul ya. Aneh-aneh aja kelakuannya, kenapa nggak sekalian buat ngeganjal rumah aja?!” omel April tidak kira – kira. “Kekecilan kali kak. Lagian sejak kapan rumah kita bisa goyang-goyang…” balas Bintang santai.“Udah sini balikin,” perintah April tidak sabar.“Iya ,bentar. Bintang ambil dulu.”Bintang langsung menuju kekamarnya. April hanya menunggu diluar dengan hati mayun.“Nih,” kata Bintang sambil menyerahkan penghapusnya ketangan April. April cengo ketika menatap benda mungil yang kini dalam gengamannya. Bintang benar benar makhluk yang tidak berperasaan. Penghapusnya kini telah berada dalam kondisi tragis. Selain sudah patah jadi dua persis kayak lagunya ‘alda’ karena tidak kuat menahan beban meja, Warnanya juga sudan nggak karu – karuan. Dari putih polos menjadi abu-abu dengan bintik-bintik hitam.“Kok jadi gini sih?!” April nggak terima.“Ya. Emang begitulah keadaannya,” sahut Bintang dengan logat drama.“Nggak bisa! Pokoknya loe harus ganti.”“Mau ganti pakek apa, Bintang aja nggak punya duit buat beli.”“Kakak nggak mau tau pokoknya loe harus ganti,” April ngotot.“Ada apa sih ni. Kok ribut-ribut,” tanya mama yang baru muncul karena mendengar suara gaduh.“Bintang ni ma. Masa karet penghapus April di pakek ngeganjal meja belajar dia, terus dikembalikan kondisinya udah kayak gini,” April sambil menunjukkan karet penghapus yang ada ditangannya.“Lho?! Kan malah jadi dua?” tanya mama heran.“Mama gimana sih, ini kan jadi dua karena patah.”“Tapikan masih bisa dipakek.”“Dipakek gimana? La wong kotor gini. Banyak debunya, terus jadi item kayak mukanya dia,” kesel Arpil sambil menujuk lurus ke wajah adiknya. “Entar kalau dipakek, yang ada kertas ujian April malah rusak,” tambah April lagi.“Ya sudah. Jangan marah-marah. Nggak enak di denger tetangga. Lagi pula kamukan bisa beli lagi. Lagian adikmu pasti nggak sengaja.”“Bener ma,” timpal Bintang cepat. Merasa diatas angina karena ada yang belain.“Mama kok jadi belain dia sih?! Jelas – jelas dia yang salah. Lagian Arpil uang dari mana coba?!”“Kalo gitu pakek aja nih uang mama,” ujar mamanya sambil merogoh saku dan memberikan uang pada April.“Seribu…..!!! Buat apaan…..??!! Mana cukuplah ma….!!”“Mama adanya cuman segitu. Ya kamu tambahin aja, pakek uang jajan kamu. Udah mama mau kebelakang dulu, mau menyelesaikan cucian, jangan ribut-ribut lagi.”Selesai berkata mama langsung meninggalkan mereka, Bintang juga langsung cabut entah kemana, takut disemprot lagi sama kakaknya. Dengan perasaan mayun April kembali masuk kekamar, langsung rebahkan kasur dan tertidur pulas.Cerpen lucu mis tulalit ~ 02Waktu baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, tetapi suasana kelas April terdengar sangat gaduh sekali, hampir semua siswa sudah datang, maklum hari ini adalah hari pertama ujian try out.“Nia kamu punya pencil berapa?” tanya April.“Satu.”“Kalau ruler…..?”“Satu juga.”“Kalau karet penghapus?” tanya April lagi.“Sepuluh… “jawab Nia nyasal, habis temannya yang satu ini ada-ada saja pertanyaannya.“Sepuluh?!” wajah April tampak sumeringah“Ada apa sih? Heran gue, masih pagi ni. Jangan bikin yang aneh-aneh dulu deh.”“Siapa yang aneh. Loe kali, masak cuman nanya karet penghapus doang nggak boleh. Tapi beneran loe punya karet penghapus sepuluh?”“Ya enggak lah. Secara buat apaan. Satu aja nggak abis ngapain gue pake sepuluh coba.”“Tu kan loe yang aneh, jadi orang plin-plan banget sih. Belum juga ada lima menit April nanya, udah bikin orang bingung. Sebenarnya yang pantas dipanggil Mis Tulalit tu siapa sih,” sungut April kesel.“Bener – bener deh loe pri. Kayaknya ngomong sma loe harus lurus aja ya,” Nia geleng geleng kepala.“Akh, dasar elonya aja yang kebanyakan belal – belok. Ditanya beneran juga. Loe itu punya karet penghappusnya satu atau sepuluh?”“Satu,” balas Nia singkat dan padat.“Tinggal jawab satu aja molornya kemana-mana. Nggak tau apa Time is money.”“Time is Money. Heh, sok gaya banget sih loe," cibir Nia. “Tapi buat apa sih pagi-pagi loe nanyain peralatan segala?” tanya Nia heran.“April nggak punya karet penghapus,” sahut April dengan raut sok sok an di buat lemes. Sengaja mencari simpati Nia yang kini menatapnya.“Pensil ama ruler juga……??”“Bolot juga ya loe. Sama kayak mama dirumah. Kan tadi April bilang cuman karet penghapus.”“Kalau gitu ngapain tadi nanyain pensil sama ruller gue?” tanya Nia tidak mengerti.“Sekedar basa-basi. Ya biasalah tradisi orang Indonesia. Loe belom tau ya? Makanya kalau baca tu koran sindo, jangan koran kiloan,” lagak April sok menasehati.“Basa basi apaan. Ini tu basa-basi, tapi bahasa basi. Tadi bukannya sok time is money”“Eh lupa..” April cengengesan.“Kalian berdua kenapa sih…..? Pagi-pagi udah cek-cok, bukannya siap-siap buat try out, padahal kan udah bel, pasti bentar lagi pengawas datang,” sela Sugeng yang dari tadi hanya menonton ulah keduanya.“Gara-gara Mrs. Tulalit nih…. Dodol,” ledek Nia.“Heran, sama – sama dodol kok ngatain orang dodol,” gumam Izal santai tanpa memperduliakn Nia yang melotot padanya.“Enak donk,” balas April tak kalah santai. Secarakan dodol makanan favoritnya. Apalagi kalau dodol Garut. Mak nyoss.Nia sudah ingin buka mulut, tetapi terpaksa dibreack dikerongkongan dan kembali ditelan keperut, pasalnya dua orang pengawas sudah ada diambang pintu. Siap dengan setumpuk soal ditangan.Suasana kelas langsung hening, persis dikuburan, masing-masing konsentrasi sama soalan bahasa indonesia, bahkan sangking heningnya sampai suara sayap nyamuk yang berterbangan pun terdengar. Baiklah, bercanda. Suara nyamuk berterbangan terdengar bukan karena suasana hening tapi karena kebetulan sekolahan mereka memang berada di dekat kebun karet (???).Tepat pukul 09:30 WIB semuanya harus mengumpukan semua jawaban berserta soal. Selanjutnya istirahat setengah jam, baru nanti pukul sepuluh dilanjutkan dengan soalan bahasa inggris“Bagaimana Pril, soalannya tadi. Susah nggak?” tanya Nia sambil duduk disampingnya. Selama ujian mereka memang duduk berjauhan karena pembagian kursi berdasakan abjad. “Tengan aja. Pokoknya kalau sama April dijamin deh, semuanya pasti rebes,” sahut April tegas. Nia hanya mencibir sambil mengelengkan kepala prihatin. Secara yang di maksut sahabatnya rebes, bukan beres.“Tapi nggak papalah Pril, tenang aja inikan baru try out,” ujar Jumy menyemangati. Sementara sebelah tangannya dengan santai menyuapkan bakwan goreng yang di beli di warung mbak yem tadi pagi. Karena tak sempat sarapan di tambah tadi juga sudah langsung masuk kelas gadis itu memang sengaja menyembunyikan makanannya di dalam laci meja.“Iye ke…” ledek Dedew sinis. Setelah mengemasi peralatan tulisnya ia bangkirt berdiri. “Eh keluar dulu yuk, cari angin segar dulu,” ajak Dedew sambil melangkah keluar disusul teman temannya yang mengekor di belakan.Selang beberapa waktu kemudian detengan bel kembali terdengar tanda ujian selanjutnya segera di mulai. Masing masing siswa dan siswi kini sudah siap dihadapan meja masing masing. Dan April sendiri benar-benar dibuat pusing tujuh keliling, pasalnya dari 50 soal yang diberikan nggak ada satu pun yang nyangkut diotaknya. Abis bahasa inggris yang ia tau hanya ‘yes’ dan ‘no’ doank.April ngelirik Izal, tapi Izal sama sekali tidak menoleh kearahnya. Begitu juga dengan zofa dan Idah. Mau minta tolong sama Nia, posisinya tidak memungkinkan banget. Apalagi ia duduk tepat dihadapan meja pengawas. Apa akalnya? Apalagi jarum jam di dinding terus perbutar. Sampai kemudian April mendapatkan ide yang super brilian gila. Mau tau?. Nggak usah deh, soalnya rahasia. Ntar kalau dikasi tau pada niru kaya April semua. So untuk kebaikan kita semua, mending di sensor saja ya. Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 11:00 lebih 30 menit, masih tersisa setengah jam lagi sebelum bel bertanda pulang terdengar . Tapi April tenang-tanang saja, duduk diam sambil memainkan tutup bulpennya, dibuka dipasang, dibuka lagi, trus dipasang. Kok bisa santai? Ya iyalah, secara ke 50 soal yang diberikan sudah terisi semua.“Lho April, kok kamu santai – santai. Memangnya sudah selesai?” tanya pak Surasman. Kebetulan hari ini memang giliran beliau yang ngawas dikelas April barengan sama bu Murtafiah.“Sudah Pak,” jawab April santai. Bu Murtafiah sedikit mengenyitkan alisnya tanda heran, begitu juga teman-temannya.“Dia pakek ide gila apa lagi sekarang,” gumam Nia sendiri. Secara Nia kan tau betul dengan ulah ajaib sahabatnya yang satu ini.“Selesai? Kamu yakin?” tanya Pak surasman mencoba menyakinkan.“Yakin pak,” sahut April mantap.“Coba dicek lagi, mungkin ada yang ragu,” saran Bu Murtafiah menasehati.“Udah kok bu, sudah tiga kali malah. Lagian mau diulang sampai sepuluh kali pun hasilnya akan tetap sama. Kan kancingnya tetep tujuh,” terang April polos.“Kancing? Maksut kamu,” Bu Murtafiah tampak makin curiga. April yang menyadari ada yang salah dengan apa yang ia katakan segera berusaha untuk meralat kembali ucapannya.“Ehem. Anu bu…..April salah ngomong. Maksut April kunci bukan kancing. Iya kunci jawabannya lima, A, B, C, D dan E ya jawabannya kalau nggak A ya B, mungkin C atau malah D bahkan bisajadi jawabanya E. Jadi April tinggal milih salah satunya aja.”“Tapikan nggak berarti bisa asal milih sembarang aja.”“Siapa yang milih sembarangan, orang April pakek perhitungan juga kok.”“Maksudnya?” Pak Surasman ikut ikutan curiga. “Perhitungan apa?” kejar Bu Murtafiah.“Perhitungan…… e …… perhitungan apa ya……?! pokoknya perhitungan lah,” sahut April gugup yang memuat dirinya semakin tampak mencurigakan. Ida dan Sofa’ sendiri tampak saling pandang. Sepertinya kedua orang itu juga merasakan hal yang sama. “Jangan-jangan kamu nyontek ya?” tebak Bu Murtafiah tiba – tiba.“Astahfirulloh hal azzim . Itu sih namanya pencemaran nama baik bu. Secara yak an. Seorang April, yang sudah terkenal baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua. Jadi mana mungkinlah April nyontek. Dan kalau bapak sama ibu masih nggak percaya, silakan tanya sama teman-teman April. Atau kalau nggak ibu bisa periksa aja meja April.”“Iya buk. Kami semua kenal April kok. Dia nggak mungkin nyontek,” sela Izal yang dari tadi hanya mendengarkan ikut angkat bicara. “Yah kecuali kalau memang ada kesempatan sih,” sambungnya bergumam lirih yang langsung di hadiahi pelototan tajam setajam silet dari si April.“Benar buk. Dia emang rada-rada tulalit sih, tapi dia nggak mungkin bikin curang gitu kok,” tambah Guntur yang langsung mendapatkan lirikan dari si Minah. Wah tumben – tumbenan ni anak baik. Pasti ada udang di balik bakwan.“Kalau mau bantui, ya sudah. Bantuin aja. Tapi nggak usah pake ngehina juga donk,” kata April sewot.“Siapa yang menghina?” balas Guntur balik. Dalam hati pria itu pasti menyesal telah sempat berniat baik untuk membelanya.“Elo tuh. Kalau nggak ngapain coba ngatain April tulalit kalau bukan menghina namanya?”“O… itu,” Guntu mengangguk paham. “Itu bukan menghina April sayang, justru kalau gue bilang loe nya pinter baru menghina namanya. Sama fitnah juga,” sambung Guntur yang langsung di balas sorakan tawa seisi kelas yang mendengarnya. “Sudah….. sudah jangan berantem, ibu percaya kok sama April. Kalau begitu, sini mana lembar jawabanya kamu,” lerai Bu Murtafiah akhirnya mengalah.“Ini buk”“Ya sudah, sekarang kamu boleh keluar. Biarkan teman-teman kamu menyelesaikan ujiannya dulu,” kata Pak Surasman menambahkan.“Baiklah pak, permisi" balas April sambil berlalu, meninggalkan ruangannya masih diikuti tatapan heran seisi kelas.Hari sabtu pagi April berjalan menuju kekelasnya setelah dari kantin. Sri sama Nia sudah menyingkir duluan, katanya sih tadi ada keperluan gitu, terpaksa April kembali kekelasnya sendirian. Rencananya sih selepas ini ia langsung pulang, karena hari ini memang tidak masuk pelajaran sekolah, hanya akan diperiksa pengumuman hasil ujian try out kemaren, tetapi berhubungan ada sedikit trouble terpaksa diundur, hingga Senin mendatang.Begitu menginjak kaki tepat dipintu masuk. Tiba-tiba……..Byuuuurrrrrrr…….. byuuuurrrrrDua ember air sukses membasahinya kontan saja April yang baru datang langsung kaget dan berteriak-teriak“Tolong….. tolong ……… ada Tsunami.!!!!" teriak April sekencang-kencangnya. Disusul tawa terbahak-bahak seisi kelas.April kaget, refleks memandang kesekeliling, ia baru nyadar kalau ia dikerjain sama teman-temannya.SelamatUlang tahun, Kami ucapkan.Selamat, Panjang umur!Kita ’kan doakan.Selamat… Sejahtera, sehat sentosa!!Selamat panjang umur, dan bahagia!Nyanyian teman-temannya serentak sambil bertepuk tangan. Rupanya mereka sengaja mempersiapkan ini semua sebagai kejutan untuknya, dan tampak Nia dan Sri datang sambil membawa kue lengkap dengan lilin berbentuk angka 17 diatasnya. “Hiks…. hiks…. hiks," Tiba-tiba April menangis.“April jangan menangis donk," Ria, tapi bukannya diam justru tangisannya makin kencang.“Ia, loe pasti terharu dengan ini semua, benarkan," tambah Mustafa'“Dan loe pasti nggak nyangka kalau kita segitu perhatiannya sama loe," sambung yang lain, tapi April tetap menangis.“Tapi sudah dong Pril, jangan nangis terus. Buruan tiup lilinnya, terharunya nanti aja, dilanjutin kalau udah nyampai dirumah," tambah yang lain nggak sabar.“Siapa yang terharu. April lagi nangisin Handphone April, tau," kata April disela tangisnya.“Handphone loe kenapa?" tanya Izal heran plus kaget.“Pasti jadi eror deh, gara-gara disiram air sama kalian," sahut April sambil merogoh saku roknya yang juga basah.“Apa!?" kata Hakim setengah berteriak karena kaget dan langsung meraih Hp yang ada digenggaman April.Benar saja benda mungil tersebut kini sudah tampak tidak bernyawa, layarnya juga tampak bures, karena kemasukan air yang disiram tadi. Hakim berniat untuk membuka casing dan mencopot batraynya, tapi dengan sigap dirampas oleh April.“Handphone gue," ratap April sambil belinangan air mata *sumpahlebay*.“Loe diem aja dulu, biar dioperasi sama Hakim. Biar gitu gitu, doi kan rada pinter sama yang begituan," kata Nia menenangkan April yang histeris.“Loe sih kenapa nggak bilang kalau bawa handphone disaku loe," cela Izal, tadi kebetulan dia berdua yang menyiram sama sugeng.“Kalian juga nggak bilang kalau mau nyiram April," balas April balik menyela.“Kalau kita bilang udah bukan surprise donk," idah menimpali.“Tapi kita minta maaf deh, beneran nggak sengaja," kata sugeng dengan tampang bersalah.“Iya… entar kita patungan deh, buat beli Hp yang baru buat loe," tambah yang laen.April langsung mengangkat mukanya jelas terlihat ceria.“Beneran……?”“Iya…," teman-temannya mengangguk tanpa semangat. Harus patungang?….. mana hapenya BB lagi.“Satu sama… he….he…. he…." teriak April tiba-tiba, sambil tertawa lepas, jelas saja semanya heran kesambet ya nih orang.“Maksud loe…..? “tanya Nia heran.“Bentar ya”April langsung berjalan kemejanya dan mengeluarkan sesuatu dari kantong tasnya. Ternya batu batray ABC. Kemudiannya ia membuka penutup handphone yang ada ditangan dan memasukkan batray tadi kedalamnya. Setelah ia pencet salah satu tombol secara sembarangan dan langsung terdengar lirik lagu ketauan milik mata band. Ternyata handphone yang ada ditangannya adalah handphone maianan yang biasanya dijual dipasar kaki lima dengan harga delapan ribuan.“Dasar April…..! kuang ajar loe," bentak Guntur sewot, April hanya cengengesan.“Bener-bener deh” sambung yang lain.“Ia. Rencana mau ngerjain, eh nggak taunya kita yang dikerjain” timpal Sri.“He he he. Mangnya Cuma kalian aja yang bisa ngerjain orang. April juga bisa kali” April menyombongkan diri.“Kalau gitu buruan deh potong kuenya. Udah kepingin makan ni kita” kata Nia nggak sabar.“Ia. Bentar. Nggak sabar banget sih” kata april kemudian.“Tapi pril, kok loe bisa tau sih kalau loe hari ini bakal kita kerjain?” tanya Agus tiba-tiba.“Ya ia lah. Secara ulang taun April ndiri masa lupa. Lagian kalian tau nggak sih, dewi fortuna kan selalu bersama april” sahut April santai.“Oh ya?” ledek Sri.Dan tiba-tiba Izal mengambil sisa air yang ada di ember dan langsung menyiramkannya ke April. Karena kaget april sama sekali tidak bisa menghindar.“Makan tu dewi fortuna………!!!!!” ledek Izal.Teman-temannya bengong sebentar, dan kemudian,“Ha ha ha……………!!!!” tawa seisi kelas langsung meledak bersama.End untuk season ini ya… Walau masih ada lanjutannya pada Cerpen lucu Mis Tulalit part 3. Pengen tau gimana ceritanya, lanjut baca aja deh… With love ~ Ana Merya ~

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 09 | Cerpen Cinta

    Ketika Cinta Harus Memilih part 9. Oh ya All, admin sendiri juga bingung nih. Perasaan disetiap cerpennya admin selalu memulai dengan cuap cuap, tapi selalu aja setiap adminnya abis ngeposting ada inbox yang nanyain pertanyaan yang jawabannya jelas jelas dikasi tau duluan. Emang cuap cuapnya admin biasanya gak di baca yak? #tepokJidatAh satu lagi, pertanyaan yang sering muncul adalah. Kenapa postingan di sini gak langsung di post sekali lalu aja?. Ya ela, yang logis aja lah. Kalau di posting sekali lalu, Star Night otomatis nggak update lagi donk. Iya kan?Baiklah, berhubung cuap cuapnnya udah kebanyakan kita langsung ke cerpen aja ya. Untuk part sebelumnya bisa di cek disini.Ketika Cinta Harus Memilih“Cinta, loe kan belom jawab pertanyaan gue. Cisa itu siapa?. Kok dia bisa bareng sama Rangga sementara loe sendiri malah naik bus sendirian?” tanya kasih yang masih belum puas dengan jawaban atas pertanyaannya tadi.sebagian

  • Short Story Arti Sebuah Senyuman

    All, masih inget Short Story be friends forever nggak?. Itu lho, yang kisahnya si Natasya sama si Arya. Nah, Arti sebuah senyuman ini masih lanjutannya cerpen yang itu. Rencananya sih mau di jadiin series kalau pas ada kejadian yang membekas di hati aja. Iya… Rencananya sih gitu…Nah, gimana ceritanya yuks kita cek bareng. Oh ya, berhubung lepi Admin rada eror, gak bisa pake photoshop. covernya pake foto adminnya aja ya. Ha ha ha, Narsis dikit gak papa lah ya. XD Ana MeryaEntah berapa lama Natasa duduk diam seperti itu, ia sendiri juga tidak tau. Yang jelas ice cream yang ada dimangkuk dihadapannya sudah mencair semua. Bahkan tampa ia cicipi sedikit pun. Yang ia lakukan sedari tadi hanyalah mengaduk aduknya sembari melamun.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*