Cerita remaja Tentang Aku dan Dia Part 4 {Update}

Edit mengedit masih berlanjut. Maksutnya ini tu cerpen lanjutan dari Cerpen Romantis tentang aku dan dia part 3 kemaren.
Oh ya, sekedar info. Gambar cover cerpen yang ada di blog ini bukan aku yang bikin ya. Maksutnya animasinya. Aku hanya bagian edit mengedit. Animasi asli dalam bentuk GIF. Biasanya si ku jadiin Tema hanphond. Dan berkat demen bermain di photosop ya gini jadinya.
Tu animasi ku jadiin ullzang versi kartun.
Akhir kata happy reading..!!!

Credit Gambar : Ana Merya
"Kenapa lagi loe?" Tanya Anya begitu melihat Tampang Gresia yang lagi – lagi Terlihat kusut. Padahal ia baru saja menampakan wujudnya di hadapan mereka.
"Gue lagi pengen makan orang nie"Balas Gresia ketus
"Basi" Ledek Nanda.
"Kemaren loe juga udah ngomong gitu, tapi buktinya Arga Fine – fine aja tuh" sambung
nya lagi.
" BDW on the bus way, Kenapa lagi emang nya?" Tanya Angun ingin tau.
"Loe tau nggak si?, Kemaren itu dia maksa gue jalan, Terus ke kaffe Gitu. Yah gue sebel banget ma dia, ya udah gue pesen aja makanan sebanyak – banyak nya. Tadinya sih Buat ngerjain dia, Eh nggak taunya malah gue yang di kerjain. Gue di tinggal pulang tau nggak si. Abis ludes isi Dompet gue" Geram Gresia…
"Hukakakak…. 'Dia'?. Arga maksut loe?" Nanda tidak mampu menahan tawanya.
"Siapa lagi. Liat aja ntar. Tunggu aja pembalasan gue".
"Mang nya kali ini loe mau ngapain" Selidik nanda.
Gresia tidak menjawab.yang membuat Teman – temannya hanya saling lirik. Ngeri juga melihat tampang Gresia yang sewot gitu.
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Gresia tanpak mondar – mandir dikelasnya. Kali ini ia benar – benar memeras otak untuk membalas rasa sakit hatinya. Akhirnya setelah kelamaan memikirkan antara untung dan rugi, dengan mantap di ayukan kakinya menuju ke kelas Arga.
"Arga, Ada yang nyari in loe tuh" Kata Revan sambil menyengol lengan Arga yang sedang asik ngobrol bersama lila.
"Siapa?".
"Tuh" Tujuk Revan ke arah pintu.
Begitu menoleh ke arah Pintu sebuah senyuman terukir di wajah Arga . Apalagi melihat tampang Gresia yang kusut.
"Ehem, Ada apa?" tanya Arga.
"Gue mau bikin perhitungan sama loe?".
"Soal?".
"Yang kemaren".
"O…. Gimana?. Loe tertarik buat terima tawaran gue?" Kata Arga pasang tanpang narsis.
Gresia yang mendengarnya makin tambah gondok tapi berusaha untuk di sabar – sabarkan dirinya.
"Ya udah karena loe kemaren udah nolak, Jadi loe harus berlutut dulu baru nanti gue pikirin lagi" Sambung Arga lagi.
Semua yang medengar terkejut. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat Gresia bener – benar berlutut di depan Arga. Sementara Arga yang tidak menyangka Gresia menuruti perintah nya semudah itu hanya bisa melotot heran.
"Plesse Arga…" Sejenak Gresia menarik napas.
"Gue mohon sama loe…….." Sambungnya yang membuat Arga makin melongo segaligus tersenyum puas.
"Plesse jangan ganggu gue lagi. Gue beneran mohon sama loe. Gue tu nggak pernah suka sama loe. Loe tu bukan tipe gue banget. Jadi loe nggak usah ngejar – ngejar gue lagi. Apalagi pake ngomong ma ortu gue segala kalau kita itu pacaran. Gue beneran nggak mau di jodohin ma loe. Lagian loe kan bisa nyari cewek laen tanpa perlu minta di jodohin segala. Dimana harga diri loe. Yah walau pun gue berlutut kayak nggak punya harga diri gini, tapi gue terpaksa. Ini semua gue lakuin supaya loe nggak ngarepin cinta gue lagi" Gresia ngomong pake gaya di dramatisir abis.
"WHAT THE HELL????!!!" jerit Arga super shock
"Ia. Gue minta loe nggak usah datang – datang ke rumah gue lagi cuma buat mujuk – mujuk ortu gue supaya gue mau jalan bareng sama loe".
"Ha" Seisi kelas melongo melihat nya. Sejenak suasana mulai gaduh. Akcting Gresia memang TeOPeBeGeTe deh, TOP Banget. Hi hi hi
"Wah Ga, Gue beneran nggak nyaka. Loe sampe segitu cinta nya sama Gresia" komentar Kevin
"Tapi kasian Gresia kali ga. Dia sampai mohon gitu".
"Tapi Gresia beneran hebat. Biasanya kan yang cewek – cewek pada ngantri buat jadi pacarnya. La dia malah sampai berlutut cuma supaya Arga tidak mengejar – ngejar dia lagi".
"Sumpah, kita salut sama loe Gres. Tapi kita beneran nggak nyaka kalau Arga separah itu" tambah Tania.
"Eh, Tunggu dulu. Kalian salah, gue…."
"Plaks"
Sebuah tamparan dari lila mendarat di pipi Arga sebelum ia sempat menyelesaikan ucapnnya. Sementara Gresia mati – matian menahan diri untuk tidak tertawa. "Mampus loe. Makan tu Gosip. sekalian bonus tamparan. Mang enak" batin Gresia yang diam – diam meninggal kan lokasi ketika semua perhatian tertuju pada Arga
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Sejak kejadian itu, rumor yang beredar semakin berkembang luas. Yang jelas image Arga yang selama ini terkenal sebagai playboy kelas kakap langsung ancur lebur tidak bersisa.
Sebaliknya semua berbalik merasa salut pada Gresia sebagai satu – satunya orang yang telah berhasil memecahkan rekot sebagai 'penakluk arga' *Lebay*. Hal ini jelas saja membuat Arga semakin dendam nggak ketulungan. Bahkan ia telah bersumpah akan membuat cewek yang satu itu menyesal karena telah di lahirkan di bumi ini *Low yang ni Super lebay/He he he*.
"Awas aja loe gres, Liat aja pembalasan gue. Gue bakal bikin loe beneran jatuh cinta sama Gue terus gue tinggalin biar loe patah hati. Berani – berani nya loe ngancurin image gue" Jerit Arga sambil meninju tembok yang ada di atas gedung kampusnya. Ia sengaja menyendiri di sana untuk meluapkan semua emosinya.
"Oh ye ke, Coba aja kalau loe bisa" Diluar dugaan ternyata Gresia telah terlebih dahulu ada di sana hanya Arga saja yang tidak perasaan karena tadi saking emosinya.
"Elo!" Tunjuk Arga kaget.
"kalau ngayal jangan ketinggian. Kalau jatuh bukan cuma sakit, Bisa – bisa malah langsung dead. Loe pikir ini dunia FF yang dimana Awal nya bermusuhan dan saling dendam tapi kemudian malah jatuh cinta dan happy ending" Ledek Gresia lagi.
"Terus loe pikir ini dunia sinetron dimana Pelakon utamanya malah mati atau digantikan oleh pelakon yang laen" Balas arga tak kalah sengit.
"BUKAN!!!!!. Ini tuh dunia cerpen yang alur dan jalan ceritannya seratus persen di tentukan sama si 'Star Night'. Mau ngalor ngidul suka – suka dia " Penulis ikutan nimbrung.
"Ha?!" Arga Dan Gresia Kaget.
Penulis cuma nyengir.
"Sudah lah abaikan saja tu Si 'Star Nigt' yang nggak jelas. Mending kita lanjutin aja urusan kita" Ujar Arga kemudian.
"Bener" Sambung Gresia setuju.
Penulis swetdrop. Dalam hati dendam "liat aja di bikin sad ending baru tau"…..
"Oke, Jadi loe beneran pengen bikin gue jatuh cinta sama loe?" Tanya Gresia lagi.
"that's right " Sahut Arga Mantab.
"Enak aja".
"Ya terserah gue. Yang jelas gue nggak terima image gue ancur cuma gara – gara Elo. Mang nya siapa ele berani – beraninya ngacauin hidup gue gini".
"Jadi gini cara loe mo bikin gue jatuh cinta?" sindir Gresia.
"Sekarang gue lagi emosi banget ma loe, Jadi mulai besok aja. Gue kasi kesempatan buat loe siap – siap supaya nggak sampai jatuh cinta sama gue".
"Kah kha kha….." kali ini gresia tidak dapat menahan tawanya.
"Baiklah kalau emang gitu. Kita liat aja nanti ya….. ha ha ha" Ujar Gresia masih di sela tawanya.
"eh, BDW mang berapa lama target loe buat bikin gue jatuh cinta?. Soalnya gue nggak mau hari – hari gue menjadi kelam karena ngeliat loe yang terus berkeliaran di sekeliling gue".
"Satu bulan. Dan gue jamin sebelum satu bulan loe pasti udah jatuh cinta sama gue".
"Oke, Tapi loe juga harus janji kalau gue nggak bisa jatuh cinta sama loe, loe nggak akan Muncul di hadapan gue lagi?. Deal?" Gresia mengulurkan tangannya yang langsung di balas Arga.
"DEAL!!!!".
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Gresia benar – benar menyesali keputusannya untuk menyetujui perjanjian konyol mereka. Tau kenapa?. Karena Arga ternyata benar – benar membuktikan ucapannya. Bahkan Ia sudah mengumumkan ke seluruh anak – anak sekolah tentang taruhan mereka itu.Ia juga tanpa malu- malu lagi mendekati Gresia. Apalagi semenjak kejadian di kelas kemaren ia sudah putus sama lila. Anya, Nanda Dan Angun saja sampai shok waktu mendengar gosip yang beredar tentang taruhan itu. Tapi waktu minta Klarifikasi pada Gresia, Sahabatnya itu hanya cuek bebek dan meyakin kan kalau ia sama sekali tidak akan terpengaruh.
Tapi yang membuat Gresia benar – benar kesal ada lah gara – gara Arga, Harapannya kini pupus. Ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendapat kan pangerannya karena setiap ia berdekatan dengan Dirga, entah datangnya dari mana Arga tiba – tiba langsung nongol. Siapa yang nggak gondok coba. Ditambah lagi, semenjak Lila putus dengan Arga, ia selalu berada di sekeliling Dirga. Tanpa saingan aja ngdeketinnya susah apa lagi sekarang malah di tambah ada yang menghalangi. Heh, kayaknya cuma dalam mimpi deh dia bisa jadi pacarnya Dirga.
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Oh ya, Mohon maaf sebelum nya kalau ceritanya pendek – pendek…..
Soalnya ngetiknya juga hanya jika ada waktu senggang. Jadi harap maklum aja ya………..

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis | Kala Cinta Menyapa ~ 05 / 13

    Next dari kisah kala cinta menyapa part 5, secara cerpen requesan yang satu ini emang rada molor. Tepatnya 13 part. Untuk yang penasaran dengan lanjutannya bisa langsung simak kebawah. Sementara reader baru mendingan baca bagian sebelumnya dulu biar nyambung melalui kala cinta menyapa bagian 4. Yang jelas, happy reading aja lah….Kala Cinta MenyapaBegitu turun dari bus Rani segera melangkah menuju kekelasnya. Tak lupa kado yang ia beli kemaren ia tenteng di tangan. Hari ini kan Irma ulang tahun, jadi sekalian saja ia bawa kekampus. Sambil melangkah kekelas tangannya melirik jam dan sekali – sekali menoleh ke sekeliling. Kenapa ia belum melihat wujud sahabatnya ya?. Setelah berfikir beberapa saat segera di keluarkannya hape dari dalam saku. Mengetikan beberpa kata sebelum kemudian meng’send’nya. Tidak sampai semenit hapenya terlihat berkedip – kedip sebagai tanda ada pesan masuk.“Yah, Irma malah sakit. Terus kado ini gimana donk,” rumam Rani pada dirinya sendiri sambil melirik kado yang ada di tangan. Setelah berfikir untuk sejenak ia memutuskan untuk memberikannya besok saja dan memilih untuk langsung kekelas.Saat melewati koridor tak sengaja ia berpapasan dengan Erwin yang muncul dari arah berlawan. Rani segera membatalkan niatnya untuk menyapa saat melihat Erwin yang sama sekali tidak menoleh kearahnya tapi justru malah asik berbicara pada sahabatnya yang entah siapa. Akhirnya Rani kembali melanjutkan niat awalnya untuk kekelas.“Eh Erwin, masih inget nggak cewek yang gue bilang kemaren?” tanya Joni sambil melirik kearah Erwin yang melangkah di sampingnnya. Sama sekali tidak menyadari kalau lawan bicaranya saat ini justru diam – diam melirik kearah seseorang yang baru saja berpapasan dengannya.“Ternyata dia sudah punya pacarlah,” Sambung joni lagi.“O,” balas Erwin singkat.“Sayang banget ya, gagal deh gue jadiin pacar."“Heh,” Erwin hanya mencibir sinis.“Padahal gue udah terlanjur naksir sama dia. Eh, kemaren sore gue malah nggak sengaja liat dia jalan bareng sama Doni di taman bermain waktu pembukaan kemaren."“Doni?” ulang Erwin.“Iya… Seangkatan sama kita. Tapi dia anak ekonomi,” terang Joni kemudian.“O, dia,” balas Erwin tampak mengagguk – angguk.“Loe kenal?” tanya Joni lagi.“Enggak,” kali ini Erwin mengeleng.“Busyet. Kalau loe nggak kenal ngapain loe pake sok gaya kenal segala,” gerut Joni kesel. Erwin hanya angkat bahu.“Tapi gue nggak heran juga si kalau loe nggak kenal. Secara loe kan kuper,” balas Joni meledek.“Sialan loe, gue sekeren ini di bilang kuper. Nggak tau apa loe kalau gue ini tu jadi idola kampus,” balas Erwin terlihat narsis membuat Joni mencibir sinis walau tak urung dalam hati membenarkan ucapan sahabatnya barusan.“Eh tapi joni, loe kan tau banyak tentang anak – anak kampus kita. Nah, loe kenal nggak sama cewek yang berpapasan sama kita tadi?” tanya Erwin setelah beberapa saat mereka terdiam.“Cewek?. Cewek yang mana?” tanya Joni heran.“Yang tadi itu lho. Dia pake baju warna merah, terus pake kacamata. Kita ketemu tadi ruang lab,” terang Erwin lagi. Joni terdiam, mencoba mengingat – ingat tentang orang yang di makstu oleh sahabatnya.“O… Maksut loe si Rani?"“Iya… Loe kenal?” tambah Erwin lagi.“Kenal deket si enggak. Tapi gue tau lah. Dia itu anaknya lugu dan poloskan?” tambah Joni lagi.“Dia memang polos. Terus imut juga,” humam Erwin lirih tanpa sadar tersenyum teringat kejadian – demi kejadian yang telah lalu.“Imut?” ulang Joni heran sambil memperhatikan reaksi sahabatnya yang tidak biasa. Kali ini Erwin mengangguk membenarkan.“Kenapa loe menatap gue kayak gitu?” tanya Erwin heran saat mendapati tatapan temannya yang menyipit kearahnya.“Tumben loe nanyain cewek. Ini pasti ada apa – apanya kan?” tembak Joni langsung.“HA?”“Pake ngatain imut segala lagi. Loe naksir dia ya?” sambung joni lagi.“Apa an si. Ya enggak lah,” bantah Erwin terlihat salah tingkah. “Jangan ngaco deh loe."“Terus maksut loe bilang dia imut segala apa?”“Ya dia memang imut. Apa lagi waktu dia sedang tidur. Polos kayak bayi,” terang Erwin sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian ia menyesali ucapannya saat mendapati senyuman aneh di wajah Joni. Astaga, apa yang ia katakan barusan?“Waktu dia tidur? Hei, apa ada yang terlewatkan di sini?” tanya Joni.“Oh, kita sudah telat, Ayo langsung kekelas,” elak Erwin sambil melangkah cepat namun masih kalah cepat dengan langkah Joni yang menghalangi.“Eits, tunggu dulu. Loe mau kemana? Kelas kita baru masuk setengah jam lagi. Masih ada cukup waktu untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya,” tahan Joni membuat Erwin gelisah.“Apaan si. Nggak ada apa – apa kok. Gue tadi cuma salah ngomong doank."“Jangan ngeles. Loe liat dia tidur dimana?” tanya Joni lagi. Kali ini Erwin benar – benar di buat mati gaya olehnya.“Jangan bilang kalau loe suka ngintipin cewek tidur?"“Pletak”Sebuah jitakan mendarat telak di kepala Joni atas balasan tebakan ngawurnya.“Sialan loe. Sakit tau,” gerut Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Makanya kalau ngomong jangan asal njeplak,” balas Erwin cuek.“Ya sudah kalau gitu loe cerita donk,” serang Joni balik.Erwin terdiam sejenak. Menimbang – nimbang apa yang harus dia lakukan. Menceritakan semuanya atau tidak?“Tunggu dulu. Gue baru inget. Kalau nggak salah Rani itu cewek yang di gosipkan nyelamatin loe waktu jatuh setelah pulang bermabuk – mabukan kan? Ah, soal gosip itu kan loe juga belum cerita. Secara gue juga heran, sejak kapan loe doyan minum?” ujar joni setengah berteriak.“Atau jangan – jangan loe beneran mabok, terus loe ketemu cewek. Dan kayak di drama – drama gitu, loe nggak sadar dan kemudian…”“Pletak."Untuk kedua kalinya jitakan mendarat di kepala Joni yang bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.“Imagi loe terlalu liar,” sungut Erwin sebel.“Dari pada tangan yang liar,” protes Joni sambil mengusap – usap kepalanya yang terasa berdenyut.“Salah sendiri mikir aneh – aneh."“Kalau loe nggak mau gue mikir yang aneh – aneh makanya buruan cerita. Gosip itu bener nggak si. Perasaan tu gosip hot banget."“Tentu saja salah. Enak aja. Seumur – umur gue nggak pernah tu minum – minuman. Yang nyebarin gosip itu aja yang sedeng. Seenaknya aja. Lagian Si Rani bukan bantuin gue, hanya saja kebetulan dia memang ada di dekat gue waktu gue jatuh kedalam got. Dan dia….”“Loe jatuh dalam got? Wukakakka,” potong Joni tak mampu menahan tawanya. Membuat Erwin memberengut sebel dan menyesal telah mengatakannya.“Sudah lah, lupakan saja,…” kata Erwin akhirnya sambil berjalan meninggalkan Joni.“Hei tunggu dulu. Ngambek kayak cewek aja. Loe kan belum cerita sampai selesai. Lagian loe juga belum bilang gimana ceritanya loe bisa liatin tu cewek tidur yang katanya imut,” tahan Joni lagi.“Kan sudah gue bilang, lupakan!” sambung Erwin kemudian.“Loe harus CE-Ri-TA!” hadang Jodi penuh penekanan.“Kalau gue nggak mau?” tantang Erwin.Mata Joni sedikit menyipit sambil tersenyum sinis.“Loe mau gosip ‘Versi’ Joni menyebar? Ho ho ho, Sepertinya loe belum tau kemampuan gue dalam bergosip ria ya?”Erwin menghentikan langkahnya. Menatap lurus kearah Joni. Setelah menghela nafas akhirnya ia berujar. “Baiklah. Gue akan cerita. Tapi nggak disini. Ayo ikut gue."“Nah, gitu donk,” Joni tertawa penuh kemenangan dan segera berjalan mengikuti Erwin yang entah akan membawanya kemana.Kala Cinta Menyapa Selama Pelajaran berlangsung Erwin sama sekali tidak konsentrasi. Bukan saja karena dosen yang mengajarkannya sama sekali tidak menarik tapi juga karena Joni sedari tadi terus menginterogasinya. Padahal ia sudah menceritakan semuanya tanpa di tambah atau di kurang sedikitpun. Di tambah lagi makluk satu itu juga telah menyimpulkan hal yang konyol atas kasusnya. Masa ia dikira naksir sama tu cewek. Yang benar sajalah.Begitu jam kuliah selesai Erwin segera beranjak bangun. Bersiap – siap untuk pulang. Joni tentu saja langsung mengekor di belakang.Saat melewati ujung koridor matanya tak sengaja menangkap sosok rani yang berjalan dikejauhan.“Eh Erwin, itu bukannya cewek yang loe taksir ya?” tunjuk Joni.“Gue nggak naksir sama dia!” balas Erwin penuh penekanan.“Iya deh, loe nggak naksir. Gue ralat omongan gue tadi,” Joni memonyongkan mulutnya sebel . “Erwin, itu bukannya cewek yang loe bilang imut ya?” sambung Joni sok polos tanpa merasa bersalah sedikitpun. Padahal jelas – jelas saat ini Erwin sedang menatap tajam kearahnya.“Loe nggak bisa protes. Loe kan emang bilang ke gue kalau menurut loe tu cewek imut,” potong Joni cepat.“Terus kenapa memangnya?” geram Erwin sebel.“Loe nggak pengen nyamperin dia?”“HA?”“Eh tunggu dulu, itu bukannya si Doni, cowok yang jalan bareng cewek yang gue taksir?” sambung Joni lagi. Refleks pandangan Erwin terarah mengikuti telunjuk Joni dimana tampak Rani yang sedang menghampiri cowok yang ‘katanya’ bernama Doni.“Ayo kita hampiri,” sambung Joni lagi sambil menarik tangan Erwin.“Eh tunggu dulu. Mo ngapain si?” tahan Erwin cepat menghadang langkah Joni.“Ya ela. Loe nggak liat tu cewek bawa kado. Jangan bilang kalau dia mau ngasi ke tu cowok. Ya ampun masa mentang – mentang kita sahabat nasip kita sama?” keluh Joni.“Nggak, Kita di sini aja!"“Tapi…” Joni tidak melanjutkan ucapannya saat melihat tatapan tajam Erwin. Walau ia masih penasaran namun tak urung ia manut dan memilih memperhatikan Rani dari kejauhan.Sementara itu, Rani sendiri yang berniat untuk langsung pulang segera membatalkan niatnya saat matanya mengangkap sosok yang sepertinya ia kenal. Tanpa pikir panjang segera dihampirinya.“Doni!”Merasa namanya di panggil Doni yang berniat langsung pulang berbalik, keningnya berkerut heran saat mendapati gadis berkacamata yang kini berlari kearahnya.“Loe beneran Doni kan, yang biasanya bareng sama Irma?” tanya Rani mencoba memastikan.Masih belum mengerti arah tujuan pembicaraan mereka, Doni memilih hanya membalas dengan anggukan.“Buat gue?” tanya Doni dengan kening berkerut saat melihat cewek yang tidak di ketahui identitasnya menyodorkan kado tepat ke wajahnya.“Tentu saja bukan, emang nya siapa elo. Kenal juga kagak. Ini itu kado buat Irma. Hari ini kan dia ulang tahun. Tadinya mau langsung gue kasi kedia. Eh , waktu gue SMS dia bilang malah dia sakit. Ya udah, gue belom sempet mampir ke sana. Makanya karena katanya loe itu tetanggaan sama dia gue titip sama loe aja ya?”“Irma? Sakit? Terus hari ini dia juga ulang tahun?” tanya Doni kaget.Melihat Wajah kaget sekaligus bingung yang tergambar dari wajah Doni membuat Rani kembali menarik kotak kado yang ia sodorkan.“Oh, gue salah orang ya? Maaf, gue pikir loe itu sahabatnya Irma yang biasanya sering pulang – pergi bareng. Jadi bukan ya?” tanya Rani bingung sambil mengaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.“Bukan, maksud gue bener. Gue memang sahabatnya Irma kok,” Doni cepat meralat.“La kalau loe memang sahabatnya dia masa loe nggak tau kalau hari ini dia ulang tahun. Mana katanya lagi sakit lagi. Jangan – jangan…”Rani tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Doni sudah terlebih dahulu berlari pergi meninggalkannya. Matanya terus menatap kepergian Doni dengan bingung sekaligus kecewa. Kenapa hanya sekedar di titipin kado saja tu orang nggak mau. Akhirnya dengan langkah gontai Rani melanjutkan niatnya untuk langsung pulang saja. Soal kado, sepertinya ia baru bisa memberikan setelah ia bertemu Irma langsung. Hu… Next to Kala Cinta Menyapa Part 6Detail CerpenJudul Cerbung : Kala Cinta MenyapaPenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaStatus : CompleteGenre : Remaja, RomatisPanjang : 1.306 WordsLanjut Baca : || ||

  • Cerpen cinta Tantang Aku dan Dia part 6 {Update}

    Next to part 6 Cerpen cinta tentang aku dan dia. Acara edit mengedit kan baru bisa selesai di part ending. So lanjut aja deh…Tetep "alon alon asal kelakon". XDOh ya, yang belum baca part sebelumnya bisa baca dulu gih di cerpen romantis tentang aku dan dia part 5.Credit gambar : Ana Merya“Lho Gres, Loe mau kemana?” Tanya Arga heran.“Ya mau pulang donk” Sahut gresia cuek sambil terus melangkah."Kan dari kemaren gue udah bilang, loe kalau pulang dan pergi harus bareng sama gue" Ujar Arga sambil berusaha mensejajarkan langkahnya.sebagian

  • Cerpen Sedih: Surat Terakhir Dari Kak Rosa

    Surat Terakhir dari Kak RosaOleh: Sevty AgustinMalam itu,aku memasuki rumah dengan perlahan lahan. Kuperhatikan satpam rumahku terlelap ditempatnya. “hahhh,amaan,”pikirku dalam hati. Tetapi baru selangkah memasuki ruang tamu,teriakan mama sudah terdengar ditelingaku. “Niaaaaaaaa…! Jam sepuluh kamu baru pulang. Kemana aja kamu?” teriak mamaku. “mmmm,anu.. Aku habis kerja kelompok dirumah temen ma,” jawabku berbohong. “Kamu ini..!Udah pinter bohong sekarang ya.. Nih apaan!?” kata mama sambil mengangkat kantung plastic belanjaanku. “Duh!Bego banget. Kenapa gak sadar ya aku megang kantung belanjaan nih”ujarku dalam hati. “Niaaaa.. Kamu ini udah pulangnya malem,terus udah berani bohong sama mama. Tiru tuh kakakmu,Rossa. Gak pernah bohong. Terus malam malam gak keluyuran kayak kamu. Malam malam dia belajar pelajaran buat besok pagi.” Kata mamaku panjang lebar. Huh!Lagi lagi kak Rosa. Selalu kak Rosa. Kak Rosa adalah kakakku satu satunya. Kak Rosa memang beda denganku. Kak Rossa pendiam dan pintar. Sedangkan aku cerewet dan gak ada pinter pinternya. Kadang aku berfikir aku bukanlah anak kandung mamaku yang seorang single parent. “Sekarang kamu masuk ke kamar. Mulai besok, pulang sekolah harus langsung pulang. Gak boleh keluyuran kemana mana lagi!” kata mama untuk sekian kalinya. Beliau sepertinya sangat marah denganku. Aku memasuki kamarku dengan langkah gontai. Akh..! Coba aja aku anak tunggal dan gak punya kakak seperti kak Rosa!Keesokan harinya aku pergi ke sekolah dengan buru buru. Cepat cepat aku turun ke bawah dan duduk di meja sarapan bersama mamaku. Tak kulihat kak Rosa disana. “Ma,kak Rosa mana?”tanyaku ingin tahu. “Kak Rosa udah berangkat duluan. Mangkanya,biasain kamu bangun pagi pagi seperti kak Rosa,jadinya gak telat kayak gini”ujar mamaku yang lagi lagi membandingkan aku dengan kak Rosa. Tak kugubris perkataan mamaku karena saat ini yang kupikirkan adalah cepat cepat ke sekolah supaya gak telat nyampenya.“Hh..hh.. Nyaris aja gue telat.” Kataku dengan napas tersengal sengal. “Woy, Nia my honey.. Telat mulu’ lo!” ujar Dista teman sebangkuku. “Udah deh,jangan bikin gue tambah kesel!” ujarku. “Kesel kenapa say?Gara gara kakak lo?”Tanya Dista. “Siapa lagi”, sahutku datar. Dista hanya geleng geleng kepala dan langsung mengeluarkan buku pelajaran Fisika karena pak Ahmad sudah ada didepan pintu. Pelajaran Fisika pun berlangsung dengan rasa kantuk mendengar ocehan dari pak Ahmad.“Cepetan Nia. Entar obral baju didepan stasiun udah keburu abis..”, teriak Dista. Buset deh suara tuh anak kenceng banget sampe kedengeran dari kantor guru. “Iya, iya. Lagian salah Bu Mianya nih, ngehukum nyuruh gue nulis 2 lembar rumus mtk”, kataku ngedumel. Kulihat reaksi Dista hanya diam. “Woi,lo kerasukan ya? Bengong aja,jadi pergi gak?”, kataku. “mmmm,kayaknya gak bisa deh Nia,tuh kakak lo udah jemput di gerbang sekolah”ujar Dista. What?! My sister ngejemput gue? Tumben banget. Paling dia Cuma nyari muka didepan mama sok sok mau ngejemputku. Kuhampiri kak Rosa yang berada didalam mobil bersama sopir keluarga kami. “Ngapain kakak ngejemput aku?Aku gak minta dijemput!” ujarku dingin. “Kakak sekali sekali pengen jemput adik kakak yang manis ini”, kata kak Rosa. “Udah deh,kakak gak usah sok manis didepanku. Kakak Cuma nyari muka aja kan didepan mama dengan sok sok jemput aku!”, kataku dengan nada yang tidak enak didengar. “Nggak Nia,kakak sama sekali gak…” omongan kak Rosa langsung kupotong “udahlah! Aku gak butuh penjelasan kakak.” Kataku sambil berlari meninggalkan kak Rosa. Sekilas kulihat mata kak Rosa berkaca kaca. “Alah,paling cuma akting”, gumamku. Kini aku hanya berlari gak tau tujuanku mau kemana. Yang jelas ketempat yang lebih tenang.Aku baru pulang kerumah setelah jam menunjukkan pukul 20.12 malam. Kubuka pintu rumahku, dan terlihatlah mama sudah berdiri didepan pintu bersama kak Rosa. Aku sudah pasrah bakal dimarahin mama habis habisan. “Niaaa..Lagi lagi kamu bikin onar. Terus ngapain lagi tadi siang pake acara bentak bentak kakakmu?”, kata mama penuh emosi. “Oh,jadi dia ngadu ngadu ke mama? Terus dia bilang apa lagi tentang aku?”,kataku tak kalah emosi. “Nia,kakak gak bilang ke mama tentang kejadian tadi siang”,kata kak Rosa dengan mata berkaca kaca. “Udah deh,kakak gak usah sok nangis nangis segala. Kakak tu jahat! Kakak slalu ngerebut perhatian mama dariku!Mending kakak gak udah ada didunia ini. Aku benci sama kakak!,” teriakku dengan air mata yang sudah membanjiri pipiku. Kemudian Plakk! Mama menampar pipiku. “Nia,bukan kak Rosa yang bilang ke mama.Tapi pak Salman yang bicara langsung dengan mama. Kamu gak pantas ngomong begitu! Dia itu kakak kandung kamu sendiri! Kamu memang beda dengan kakakmu!”, kata mamaku yang sama sekali gak ngerasa bersalah setelah menamparku. “Udah ma,ini bukan salah Nia,”ujar kak Rosa. “Ya,aku memang beda dengan kak Rosa. Kak Rosa seribu kali lipat lebih baik disbanding aku. Atau jangan jangan aku bukan anak kandung mama dan adik kandung kak Rosa. Dia selalu aja menyita perhatian mama. Di mata mama aku slalu salah. Aku benci dengan kalian semua!” ujarku sambil berlari meninggalkan mereka. Hatiku pedih dan remuk. Mengingat mama menamparku,mengingat kak Rosa penyebab semua ini.Aku terus berlari sampai aku menangkap sebuah cahaya didepanku dan aku terdorong ke depan menabrak pohon besar didepanku. Bruuuk! Suara tabrakan yang keras,belum sempat melihat siapa yang tertabrak,aku sudah tak sadarkan diri.Mataku terasa berat sekali. Saat benar benar sadar aku sudah berada dirumah sakit dengan mama duduk sambil menangis disamping ranjang. “Ma,apa yang terjadi?” kataku pelan. “Kemarin ma…lam sa..at kejadian itu kakakmu me..ninggal tertab…rak mobil demi nye..lamatin ka..mu sayang,” kata mama sesegukan. Apa?! Kak Rosa meninggal? Itulah harapan yang kuinginkan sejak dulu. Hidup tanpa kehadiran kak Rosa. Entah harusnya aku senang atau sedih. Tapi jauh didalam hatiku aku merasakan pilu dan sedih yang luar biasa. Tanpa sadar aku menangis. Ya Allah,apakah aku begitu kejam membenci kakakku yang meninggal gara gara menyelamatkan aku? Apakah aku menyesal menyalahkan kakakku yang tak pernah menyalahkan aku? “Ma..mama bohong kan?kak Rosa gak meninggalkan kan?” kataku dengan air mata yang semakin deras. “Benar saying.. Kak Rosa udah meninggal karena luka yang terlalu parah.Besok hari pemakamannya.Ini ada surat dari kak Rosa sebelum dia meninggal.” Ujar mama sembari memberikan sepucuk surat kepadaku. Kubaca perlahan lahan baris tiap baris surat itu.Dear Sania adik kakak yang kakak sayangi, Nia,kakak tau kamu marah sama kakak,kamu benci sama kakak. Kakak juga tau selama ini kamu sedih slalu dibanding banding dengan kakak. Tapi kakak gak bermaksud begitu terhadap kamu Nia. Kakak sangat sayang sama Nia dan maaf apabila kakak udah nyakitin hati kamu.Kakak juga minta maaf krn gak bisa jadi kakak yang terbaik buat kamu. Dan apabila ini surat terakhir kakak untukmu,tolong jangan pernah marah dengan kakak lagi. Kakak ingin kamu slalu tersenyum. Dan jika kakak udah gak ada lagi,tolong jaga mama baik baik dan jangan kecewain mama. Sesungguhnya mama dan kakak sangat menyayangimu Nia. Kak RosaHatiku miris membaca surat terakhir dari kak Rosa. Kakak yang selama ini kubenci, kakak yang selama ini aku hiraukan ternyata sama sekali tak pernah benci terhadap sikapku. Kulihat tulisan tangan yang dibuat kak Rosa berantakan. Pasti saat itu dia sedang menahan sakit menulis surat ini. Kemudian aku menangis dipelukan mama.Hatiku miris melihat kakakku dikubur didalam tanah. Tak bias kutahan air mata yang sejak tadi membendung dikelopak mataku. Mama menangis sejadi jadinya. Aku sangat menyesal telah membenci kakakku satu satunya. Sekarang tinggal aku sendiri di tempat peristirahatan terakhir kakak. Kurogoh sakuku dan kukeluarkan sepucuk surat yang kutulis,Dear kak Rosa yang kusayangi,Kak,Nia mau minta maaf sama kakak. Harusnya Nia minta maaf dari dulu, tapi Nia baru sadar bahwa kakak adalah kakak yang Nia sayangi satu satunya. Kakak gak perlu minta maaf ke Nia karena kakak gak salah. Nialah yang salah sejak awal. Nia selalu benci dengan kakak,padahal kakak gak pernah benci sama Nia. Nia gak tau kalo kakak menanggung beban seberat ini gara gara Nia slalu bentak bentak kakak. Kakak adalah kakak yang terbaik bagi Nia.Kakak gak pernah marah waktu Nia marah marah sama kakak Nia memang adik yang gak tau diri. Tapi Nia janji slalu ingat pesan kakak buat jagain mama. Semoga kakak mau maafin Nia dan kakak tenang disana..Nia Kuletakan surat dariku untuk kak Rosa diatas tanah kuburan. Lalu kuhapus air mata yang membanjiri pipiku dan pergi meninggalkan pemakaman dengan hati yang begitu miris.Nama: Sevty AgustinTgl Lhr: 17 Agustus 1997Facebook: Sevty AgustinTwitter: @sevty_agustin

  • Cerpen Cinta Sedih: Sebening Cinta Embun

    Sebening Cinta EmbunOleh: Novie An-Nuril KhiyarEmbun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.“gimana kabarmu embun?”“seperti yang kamu lihat, tak ada kemajuan. Obat hanyalah media yang bertujuan memperparah keadaanku. Dan lihat saja saat ini, aku masih terbaring lemah dirumah sakit kan?”, Keluhnya.“obat bukan memperparah keadaanmu, tapi mencegah rasa sakitnya. Embun,, kamu harus optimis ya”.“hei rei, aku selalu optimis. Kamu nya aja yang cengeng. Kalo jenguk aku pasti kamu mau nangis,, iya kan? Udahlah rei,,, aku udah terima semua yang di takdirkan Tuhan,, dan saatnya aku untuk menjalaninya, kamu jgn khawatir, aku baik-baik aja kok”. Benar kata embun, aku selalu ingin menangis ketika melihat keadaannya. Lelaki setegar apapun, pasti akan sedih melihat keadaannya, termasuk aku.***Sudah 2 minggu tak kutemui senyum embun di sekolah. Sangat sepi yang aku rasakan. Orang yang aku cintai sedang bertaruh nyawa melawan kanker otak yang telah merusak sebagian hidupnya. Apa? Cinta? Apakah benar aku mencintainya??? Entahlah,, aku hanya merasakan sakit di saat melihat dia seperti ini. ya Tuhan, izinkan aku menggantikan posisinya. Aku tak ingin melihat wanita yang aku sayangi terbaring lemah di sana. Tolong izinkan aku.Seperti biasa, aku menyempatkan diri setelah pulang sekolah untuk pergi menjenguk embun di rumah sakit.“hai embun,, bagaimana kabarmu?”“sudah merasa lebih baik di bandingkan hari kemarin. Gimana keadaan sekolah kita?”“baik juga. Cuma… ada sedikit keganjalan.”“keganjalan apa rei?”“karena di sana tak kutemukan senyummu embun….”“ada ada aja kamu rei,,, hahaha. O iya, kata dokter, besok aku udah di izinin pulang lho. Aku senang banget. Kamu bisa kan jemput aku di sini”.“apa? Serius?” tanyaku kaget dan senang juga.“sejak kapan aku bisa bohong sama kamu. Aku serius reivan algibran. Hehehhe”.“gak perlu sebut nama lengkapku embun azzula,, aku percaya kok”. Senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu embun,,, bathinku.***Waktu terasa cepat berlalu, karena sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu kamar embun. Aku mengetuknya dan…” pagi embun,,”“pagi juga reivan,, gimana, kamu dah siapkan antar aku kemanapun aku mau…?”“siap tuan putri,, aku selalu siap mengantarmu kemanapun engkau mau. Heheheh”“ok,, sekarang aku pengen ke taman. Tempat kita pertama kali bertemu rei,, kamu bisa antar aku ke sana kan?”.“siip, berangkat”.Taman ini menjadi tempat favorit kami. Sedih, suka, marah akan kami lontarkan di tempat ini. Tempat yang penuh dengan bunga-bunga yang kami tanam dari nol. Ya, taman ini karya kami. Taman yg terletak tepat di belakang gedung sekolah. 1 petak tanah yg tak pernah tersentuh oleh tangan manusia, ntah apa alasan mereka. Tanah yg tandus, bunga yg layu telah kami sulap menjadi taman cinta yang begitu indah, yang di tumbuhi bunga2 kesukaan kami. Sejak embun di rawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini, walaupun dekat dengan sekolahku.“rei, kenapa semua bunga di sini layu,, apakah tak pernah kamu rawat?”. Tanyanya. Apa yang harus aku jawab,, aku tau, dia pasti marah.“mereka layu karena tak ada embun di sini”. jawabku seadanya.“embun? Bukannya tiap pagi selalu ada embun yg membasahinya?”“tak ada yg lebih berarti selain embun azzula bagi tanaman ini, termasuk aku”. Jelasku yg membuat dia terdiam sesaat.“maksud kamu?”, dia menatapku dalam.“tak ada,, mereka cuma butuh embun azzula yg merawatnya, bukan embun biasa dan aku. Mereka kesepian, karena sudah 2 minggu tak melihat senyum dan tawamu embun”.“ya, aku menyadarinya itu. Sahabat,,, maafin embun ya,,, maaf selama ini embun gak bisa merawat sahabat serutin kemarin. Itu karena kesehatan embun yg semakin berkurang. Dulu embun bisa berdiri sendiri, sekarang embun harus menggunakan tongkat, kursi roda dan bahkan teman. Teman seperti rei, yg bisa memapah embun. Thanks y rei..”“eh,, ii iya, iya embun, sama sama.”Sudah seharian kami di sini,, tanpa di sadari embun terlelap di pangkuanku. Menetes airmataku ketika melihat semua perubahan fisik yg terjadi padanya. Wajahnya yg pucat, tubuhnya yg semakin kurus, dan rambutnya yg semakin menipis, membuat aku kasihan. Kenapa harus embun yg mengalaminya? Tapi aku juga salut, tak pernah ada airmata di wajahnya. Dia sangat menghargai cobaan yg diberikan Tuhan kepadanya, dia selalu tersenyum, walaupun sebenarnya aku tau, ada kesedihan dibalik senyum itu.“rei…” desahnya“ia embun. Kamu dah bangun ya? Kita pulang sekarang yuk,,, “ ajakku ketika dia sadar dari mimpinya.“aku mau di sini terus rei,, kamu mau kan nemenin aku. Aku mau menunggu embun datang membasahi tubuhku. Sudah lama sekali aku tak merasakannya”.“tapi angin malam gak baik buat kesehatan kamu”.“aku tau, tapi untuk terakhir kali nya rei,,, pliss…”.“maksud kamu apa? Aku gak mau dengar kalimat itu lagi”.“gak ada maksud apa-apa,,, kita gak tau takdir kan. Dah ah,, kalo kamu gak mau nemenin aku, gak apa-apa. Aku bisa sendiri”.“gak mungkin aku gak nemenin kamu embun,, percayalah… aku akan selalu ada untukmu”.“ gitu dong,, itu baru sahabat aku.” Ucapnya sambil melihat bunga-bunga di sekelilingnya.“embun…”“ya,,,”“kamu suka dengan embun?”“sangat. Aku sangat menyukainya. Embun itu bening, sangat bening. Dan bening itu menyimpan sejuta kesucian. Aku ingin seperti embun, bening dan suci. Menurutmu bagaimana?”“aku juga mencintai embun. Mencintai embun sejak mengenal embun”.“rei, kamu tau… aku ingin seperti embun. Embun yang bisa hadir dan memberi suasana beda di pagi hari. Embun yg selalu di sambut kedatangannya oleh tumbuhan”.“kamu sudah menjadi embun yg kamu inginkan.”“maksudmu?”“tak ada”.Aku sengaja merahasiakan perasaanku terhadapnya. Karena aku tau, tak ada kata “ya” saat aku menyatakan perasaanku nanti. dia tak mau pacaran, dan dia benci seorang kekasih, ntah apa alasannya.Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Embun pun terlelap kelelahan di sampingku.“embun,,,, embun,,,,,, bangun embun,, sekarang sudah pagi. Katanya mau melihat embun, ayo bangun” pujukku,, tapi tak kudengarkan sahutan darinya.“ayolah embun, bangun. Jangan terlelap terlalu lama…” aku mulai resah, apa yg terjadi. Kurasakan dingin tubuhnya, tapi aku menepis fikiran negatif ku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun pagi.“embun sayang,, ayo bangun. Jangan buat aku khawatir”. Lagi lagi tak kudengarkan sahutannya. Tubuhnya pucat, dingin, kaku,,. Aku mencoba membawanya kerumah sakit dengan usahaku sendiri. Dan,,, “ kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Embun sudah menghadap sang pencipta” itulah kata-kata dokter yg memeriksa embun yg membuat aku bagai tersambar petir. Aku lemah, jatuh, dan merasa bersalah. Kalau tak karena aku yang mengajaknya ke taman, mungkin tak kan seperti ini. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi… aku tak sanggup.***Beberapa bulan kemudian….Aku temui surat berwarna biru dan ada gambar embun di surat itu.Teruntuk reivan alghibranEmbun…Titik titik air bening yg jatuh dari langitDan membasahi kelopak bunga yg aku sukai.Aku ingin seperti embun, yg bisa hadir di hati orangYg menyayanginya. Tapi aku tak menemui siapa orang itu???Rei … makasih ya, dalam waktu terakhirku, kamu bisa menjadi embun di hatiku. Dan tak kan pernah aku lupakan itu. Rei,, maaf kalau sebenarnya aku suka sama kamu. Aku sengaja tak mengungkapkannya, karena aku tau.. sahabat lebih berharga di banding kekasih.O ia rei,,, tolong rawat taman kita ya,, aku gak mau dia layu karena tak ada yg memperhatikannya lagi. Karena taman itu adalah tempat pertemuan kita pertama dan terakhir kalinya.sekali lagi,, makasih dah jadi embun selama aku hidup dan tolong,, jadiin aku embun di hatimu ….salam manis… embun azzula.“Embun,,,kamu tau, pertama aku kenal kamu, kamu telah menjadi embun dihidupku, yang menyejukkan hatiku. Dan kamu adalah butiran bening yang selalu buat aku tersenyum, seperti embun yang selalu buatmu tersenyum.Taman ini, bukan aku yg akan merawatnya, tapi kita. Dan taman ini tak akan pernah mati, karena kamu selalu ada di sini, di sini rumah mu.” Kalimat terakhirku ketika meletakkan setangkai bunga mawar yg aku ambil dari taman di atas pusaranya. Pusara yg terletak di tengah-tengah taman embun. Dan kunamai taman itu dengan nama EMBUN. embun.. yang tak kan pernah mati…the endFb : Novie An-Nuril Khiyartwitt : @noviepurple19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*