Cerita remaja Tentang Aku dan Dia Part 4 {Update}

Edit mengedit masih berlanjut. Maksutnya ini tu cerpen lanjutan dari Cerpen Romantis tentang aku dan dia part 3 kemaren.
Oh ya, sekedar info. Gambar cover cerpen yang ada di blog ini bukan aku yang bikin ya. Maksutnya animasinya. Aku hanya bagian edit mengedit. Animasi asli dalam bentuk GIF. Biasanya si ku jadiin Tema hanphond. Dan berkat demen bermain di photosop ya gini jadinya.
Tu animasi ku jadiin ullzang versi kartun.
Akhir kata happy reading..!!!

Credit Gambar : Ana Merya
"Kenapa lagi loe?" Tanya Anya begitu melihat Tampang Gresia yang lagi – lagi Terlihat kusut. Padahal ia baru saja menampakan wujudnya di hadapan mereka.
"Gue lagi pengen makan orang nie"Balas Gresia ketus
"Basi" Ledek Nanda.
"Kemaren loe juga udah ngomong gitu, tapi buktinya Arga Fine – fine aja tuh" sambung
nya lagi.
" BDW on the bus way, Kenapa lagi emang nya?" Tanya Angun ingin tau.
"Loe tau nggak si?, Kemaren itu dia maksa gue jalan, Terus ke kaffe Gitu. Yah gue sebel banget ma dia, ya udah gue pesen aja makanan sebanyak – banyak nya. Tadinya sih Buat ngerjain dia, Eh nggak taunya malah gue yang di kerjain. Gue di tinggal pulang tau nggak si. Abis ludes isi Dompet gue" Geram Gresia…
"Hukakakak…. 'Dia'?. Arga maksut loe?" Nanda tidak mampu menahan tawanya.
"Siapa lagi. Liat aja ntar. Tunggu aja pembalasan gue".
"Mang nya kali ini loe mau ngapain" Selidik nanda.
Gresia tidak menjawab.yang membuat Teman – temannya hanya saling lirik. Ngeri juga melihat tampang Gresia yang sewot gitu.
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Gresia tanpak mondar – mandir dikelasnya. Kali ini ia benar – benar memeras otak untuk membalas rasa sakit hatinya. Akhirnya setelah kelamaan memikirkan antara untung dan rugi, dengan mantap di ayukan kakinya menuju ke kelas Arga.
"Arga, Ada yang nyari in loe tuh" Kata Revan sambil menyengol lengan Arga yang sedang asik ngobrol bersama lila.
"Siapa?".
"Tuh" Tujuk Revan ke arah pintu.
Begitu menoleh ke arah Pintu sebuah senyuman terukir di wajah Arga . Apalagi melihat tampang Gresia yang kusut.
"Ehem, Ada apa?" tanya Arga.
"Gue mau bikin perhitungan sama loe?".
"Soal?".
"Yang kemaren".
"O…. Gimana?. Loe tertarik buat terima tawaran gue?" Kata Arga pasang tanpang narsis.
Gresia yang mendengarnya makin tambah gondok tapi berusaha untuk di sabar – sabarkan dirinya.
"Ya udah karena loe kemaren udah nolak, Jadi loe harus berlutut dulu baru nanti gue pikirin lagi" Sambung Arga lagi.
Semua yang medengar terkejut. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat Gresia bener – benar berlutut di depan Arga. Sementara Arga yang tidak menyangka Gresia menuruti perintah nya semudah itu hanya bisa melotot heran.
"Plesse Arga…" Sejenak Gresia menarik napas.
"Gue mohon sama loe…….." Sambungnya yang membuat Arga makin melongo segaligus tersenyum puas.
"Plesse jangan ganggu gue lagi. Gue beneran mohon sama loe. Gue tu nggak pernah suka sama loe. Loe tu bukan tipe gue banget. Jadi loe nggak usah ngejar – ngejar gue lagi. Apalagi pake ngomong ma ortu gue segala kalau kita itu pacaran. Gue beneran nggak mau di jodohin ma loe. Lagian loe kan bisa nyari cewek laen tanpa perlu minta di jodohin segala. Dimana harga diri loe. Yah walau pun gue berlutut kayak nggak punya harga diri gini, tapi gue terpaksa. Ini semua gue lakuin supaya loe nggak ngarepin cinta gue lagi" Gresia ngomong pake gaya di dramatisir abis.
"WHAT THE HELL????!!!" jerit Arga super shock
"Ia. Gue minta loe nggak usah datang – datang ke rumah gue lagi cuma buat mujuk – mujuk ortu gue supaya gue mau jalan bareng sama loe".
"Ha" Seisi kelas melongo melihat nya. Sejenak suasana mulai gaduh. Akcting Gresia memang TeOPeBeGeTe deh, TOP Banget. Hi hi hi
"Wah Ga, Gue beneran nggak nyaka. Loe sampe segitu cinta nya sama Gresia" komentar Kevin
"Tapi kasian Gresia kali ga. Dia sampai mohon gitu".
"Tapi Gresia beneran hebat. Biasanya kan yang cewek – cewek pada ngantri buat jadi pacarnya. La dia malah sampai berlutut cuma supaya Arga tidak mengejar – ngejar dia lagi".
"Sumpah, kita salut sama loe Gres. Tapi kita beneran nggak nyaka kalau Arga separah itu" tambah Tania.
"Eh, Tunggu dulu. Kalian salah, gue…."
"Plaks"
Sebuah tamparan dari lila mendarat di pipi Arga sebelum ia sempat menyelesaikan ucapnnya. Sementara Gresia mati – matian menahan diri untuk tidak tertawa. "Mampus loe. Makan tu Gosip. sekalian bonus tamparan. Mang enak" batin Gresia yang diam – diam meninggal kan lokasi ketika semua perhatian tertuju pada Arga
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Sejak kejadian itu, rumor yang beredar semakin berkembang luas. Yang jelas image Arga yang selama ini terkenal sebagai playboy kelas kakap langsung ancur lebur tidak bersisa.
Sebaliknya semua berbalik merasa salut pada Gresia sebagai satu – satunya orang yang telah berhasil memecahkan rekot sebagai 'penakluk arga' *Lebay*. Hal ini jelas saja membuat Arga semakin dendam nggak ketulungan. Bahkan ia telah bersumpah akan membuat cewek yang satu itu menyesal karena telah di lahirkan di bumi ini *Low yang ni Super lebay/He he he*.
"Awas aja loe gres, Liat aja pembalasan gue. Gue bakal bikin loe beneran jatuh cinta sama Gue terus gue tinggalin biar loe patah hati. Berani – berani nya loe ngancurin image gue" Jerit Arga sambil meninju tembok yang ada di atas gedung kampusnya. Ia sengaja menyendiri di sana untuk meluapkan semua emosinya.
"Oh ye ke, Coba aja kalau loe bisa" Diluar dugaan ternyata Gresia telah terlebih dahulu ada di sana hanya Arga saja yang tidak perasaan karena tadi saking emosinya.
"Elo!" Tunjuk Arga kaget.
"kalau ngayal jangan ketinggian. Kalau jatuh bukan cuma sakit, Bisa – bisa malah langsung dead. Loe pikir ini dunia FF yang dimana Awal nya bermusuhan dan saling dendam tapi kemudian malah jatuh cinta dan happy ending" Ledek Gresia lagi.
"Terus loe pikir ini dunia sinetron dimana Pelakon utamanya malah mati atau digantikan oleh pelakon yang laen" Balas arga tak kalah sengit.
"BUKAN!!!!!. Ini tuh dunia cerpen yang alur dan jalan ceritannya seratus persen di tentukan sama si 'Star Night'. Mau ngalor ngidul suka – suka dia " Penulis ikutan nimbrung.
"Ha?!" Arga Dan Gresia Kaget.
Penulis cuma nyengir.
"Sudah lah abaikan saja tu Si 'Star Nigt' yang nggak jelas. Mending kita lanjutin aja urusan kita" Ujar Arga kemudian.
"Bener" Sambung Gresia setuju.
Penulis swetdrop. Dalam hati dendam "liat aja di bikin sad ending baru tau"…..
"Oke, Jadi loe beneran pengen bikin gue jatuh cinta sama loe?" Tanya Gresia lagi.
"that's right " Sahut Arga Mantab.
"Enak aja".
"Ya terserah gue. Yang jelas gue nggak terima image gue ancur cuma gara – gara Elo. Mang nya siapa ele berani – beraninya ngacauin hidup gue gini".
"Jadi gini cara loe mo bikin gue jatuh cinta?" sindir Gresia.
"Sekarang gue lagi emosi banget ma loe, Jadi mulai besok aja. Gue kasi kesempatan buat loe siap – siap supaya nggak sampai jatuh cinta sama gue".
"Kah kha kha….." kali ini gresia tidak dapat menahan tawanya.
"Baiklah kalau emang gitu. Kita liat aja nanti ya….. ha ha ha" Ujar Gresia masih di sela tawanya.
"eh, BDW mang berapa lama target loe buat bikin gue jatuh cinta?. Soalnya gue nggak mau hari – hari gue menjadi kelam karena ngeliat loe yang terus berkeliaran di sekeliling gue".
"Satu bulan. Dan gue jamin sebelum satu bulan loe pasti udah jatuh cinta sama gue".
"Oke, Tapi loe juga harus janji kalau gue nggak bisa jatuh cinta sama loe, loe nggak akan Muncul di hadapan gue lagi?. Deal?" Gresia mengulurkan tangannya yang langsung di balas Arga.
"DEAL!!!!".
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Gresia benar – benar menyesali keputusannya untuk menyetujui perjanjian konyol mereka. Tau kenapa?. Karena Arga ternyata benar – benar membuktikan ucapannya. Bahkan Ia sudah mengumumkan ke seluruh anak – anak sekolah tentang taruhan mereka itu.Ia juga tanpa malu- malu lagi mendekati Gresia. Apalagi semenjak kejadian di kelas kemaren ia sudah putus sama lila. Anya, Nanda Dan Angun saja sampai shok waktu mendengar gosip yang beredar tentang taruhan itu. Tapi waktu minta Klarifikasi pada Gresia, Sahabatnya itu hanya cuek bebek dan meyakin kan kalau ia sama sekali tidak akan terpengaruh.
Tapi yang membuat Gresia benar – benar kesal ada lah gara – gara Arga, Harapannya kini pupus. Ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendapat kan pangerannya karena setiap ia berdekatan dengan Dirga, entah datangnya dari mana Arga tiba – tiba langsung nongol. Siapa yang nggak gondok coba. Ditambah lagi, semenjak Lila putus dengan Arga, ia selalu berada di sekeliling Dirga. Tanpa saingan aja ngdeketinnya susah apa lagi sekarang malah di tambah ada yang menghalangi. Heh, kayaknya cuma dalam mimpi deh dia bisa jadi pacarnya Dirga.
Cerita remaja Tentang Aku dan Dia
Oh ya, Mohon maaf sebelum nya kalau ceritanya pendek – pendek…..
Soalnya ngetiknya juga hanya jika ada waktu senggang. Jadi harap maklum aja ya………..

Random Posts

  • Cerita Pendek “mungkinkah”

    Santai sembari dengerin musik yang mengalun di youtube kadang emang bisa memberikan inspirasi tersendiri. Buktinya cerita pendek mungkinkah ini bisa tercipta. Yah walau sekilas terlihat kayak nggak mungkin banget bisa menjadi nyata. Tapi ya gimana lagi. Namanya juga cerpen bebas ya kan?So, buat yang udah penasaran sama cerpen ini mendingan langsung baca aja deh guys. And buat yang udah baca, jangan lupa ya tinggalin kritik sama sarannya. Biar kedepannya bisa nulis lebih baik gitu…. Mungkinkah?"Hoam….."Thalita segera merengangkan otot – otot tubuhnya. Dipandanginya sekeliling dengan kondisi kesadaran yang masih di bawah rata rata. Sejenak di kucek – kucek matanya, Kenapa rumput semua ya?. Mungkinkah ia sedang bermimpi. Otaknya segera ia paksa untuk berkerja dengan kekuatan penuh ala Jimmy Neutron. Setelah beberapa saat barulah ia ingat. Tadi ia kan emang sengaja bolos dan memilih menyendiri di taman belakang kampus karena matanya benar – benar ngantuk. Pasti karena tadi malam ia hanya sempat tidur kurang dari tiga jam demi untuk menyelesaikan membaca novel romantis favoritnya."Hoam…."Sekali lagi mulutnya terbuka lebar untuk menghilangkan sisa – sisa rasa mengantuknya. "Masa cewek dengan santai tidur di bawah pohon, juga menguap selebar itu.”Refleks Thalita menoleh. Tak jauh darinya tampak seorang anak manusia berjenis kelamin cowok duduk tak jauh darinya yang kini sedang menatapnya lurus. Dahi Thalita juga tampak berkerut tanda heran. Perasaan tadi tidak ada siapa – siapa. Jangan jangan….."SETAN!!!!!!" jerit Thalita sekenceng – kencengnya sebelum kemudian sebuah tangan membekap mulutnya rapat – rapat."Nggak ada setan di dunia ini yang sekeren gue.”Suasana hening. Sebenernya Thalita masih ingin menjerit tapi karena mulutnya masih di pikep (???) ia hanya mampu menjerit dalam hati. Kemudian dengan cepat ia majukan wajahnya sehingga kini wajah mereka hanya berjarak tak kurang dari sejengakal."Loe yakin loe keren?" tanya Thalita sambil memperhatikan sosok yang ada di depannya dengan seksama. "Tapi kalau di lihat dari deket gini kok kayak banyak jerawatnya ya?" sambung Thalita lagi tetap dengan memasang wajah 'polosnya.Bekapan mulutnya kontan terlepas. Cowok itu juga dengan cepat memundurkan wajahnya. Berusaha memperjauh jarak diantara mereka. Setelah beberapa saat terdiam, ia segera bangkit berdiri dan berlalu pergi. Tapi sebelum itu Thalita masih mampu mendengar gumaman lirihnya."Dasar cewek aneh.”Thalita hanya mencibir. Dalam hati membalas "Loe lebih aneh, udah muncul tiba – tiba. Sok – sokan narsis lagi. Huuu…”Begitu sang cowok hilang dari pandangan, Thalita segera bangkit berdiri. Matanya menatap kekanan dan kekiri. Sepi. Sepertinya kelas sudah berakhir. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera pulang kerumah.Keesokan harinya dengan mindik – mindik (???) Thalita mengintip kelasnya dari jendela. Hado….. Dosen kepala botaknya sudah nangkring di depan kelas. Itu artinya ia sudah jelas – jelas terlambat. Digigitnya ujung kuku jari telunjuk. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Akhirnya di putuskan, dari pada dimarahin karena terlambat mendingan nggak usah masuk sekalian. Saat ia berencana untuk berbalik pergi terdengar suara bisikan yang terdengar tak jauh dari telinganya."Hayo… Mau bolos lagi ya?"Thalita menoleh. Kedua matanya yang bulet dan bening itu tampak berkedip – kedip. Mulutnya masih terkunci. Antara kaget dan shock. Tapi beberapa saat kemudian."SETAN!!!!!"Jeritan yang ia lontarkan tidak hanya membuat sosok yang ada dihadapannya terlonjak kaget tapi juga seisi kelas yang langsung menoleh kearahnya. Dengan cepat sebuah tangan membekap mulutnya yang masih mengeluarkan suara yang berpotensi membuatt seseorang terpaksa berusuran dengan dokter THT."Gue pernah bilang, nggak ada Setan di dunia ini yang sekeren gue," kata Cowok di hadapanya yang tampak kesel akan rekasinya yang dinilai bener – benar berlebihan."Terus kenapa loe bisa muncul tiba – tiba?" tanya Thalita setelah berhasi melepaskan bekapan mulutnya."Bukan gue yang datang tiba – tiba, tapi elo yang selalu terlambat menyadarinya.”Mulut Thalita sudah terbuka, siap mau balas. Tapi suara si Master botak sudah terlebih dahulu menginteruspinya."Ehem… ehem… ehem….""Eh, Bapake theneng nang kene…?"Saking saltingnya bahasa nenek moyang keluar. Untuk sejenak Thalita terdiam mendapati kening orang – orang di sekelilingnya yang terlihat berkerut bingung. Dan ia hanya mampu tersenyum kaku tanpa ada niatan untuk menjelaskan arti ucapannya barusan."Thalita, kamu kenapa?""Oh tadi dia mau bolos pak. Untung ketahuan sama saya.”Thalita menoleh. Tatapan tajam setajam silet ia lemparkan, Tapi yang ia dapatkan hanya balasan senyum tiga jari ala kelinci. #Emang ada?"Enggak kok pak. Beneran saya nggak mau bolos. Sumpah jadi orang kaya saya ngomong jujur. Ini orang aja pak. Yang nggak tau siapa, dari mana datangnya, serta di ragukan wujudnya kalau ngomong suka ngasal," balas Thalita cepat. Saking cepatnya sampai mengucapkannya juga hanya dengan satu tarikan nafas. Hebat….."Apa benar begitu?"Kali ini Thalita hanya membalasnya dengan anggukan kepala."Bener pak, tadi itu saya cuma telat. Makanya rencananya saya malah nggak masuk sekalian. Eh malah ketauan," terang Thalita terdengar mengeluh.Untuk beberapa saat suasana hening sampai tiba – tiba cowok yang tadi memergokinya tertawa nggakak disusul oleh hampir seluruh penghuni kelasnya. Thalita masih terdiam sekaligus heran. Tapi begitu mendapati tatapan tajam dari makhluk botak dihadapannya baru lah ia menyadari ucapannya barusan. Dan ia hanya mampu memberikan senyum kaku sekaku kakunya. Dalam hati ia meratap."Emang menderita punya otak pas – pasan. Sama menderitanya seperti saat sampai di terminal, pas keretanya berangkat.”Cerita Pendek Mungkinkah?"Hufh…"Tanpa memikirkan rumput yang kotor, atau celana yang ia pakai akan terkena debu, Thalita mendaratkan tubuhnya dengan santai. Di usapnya keringat yang menempel di wajahnya hanya dengan ujung bajunya tanpa perlu repot – repot mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Cape?. Tentu saja!. Karena insident yang terjadi tapi pagi, saat ini ia harus berada di halaman kampusnya lengkap dengan sapu lidi di tangannya. Tentu saja bukan untuk tidur, melainkan harus menyapu daun – daun yang dengan kurang ajarnya berguguran mengotori halaman sebagai hukuman."Cape? Nih minum," sebuah potol pocari sweet tiba – tiba nongol di hadapannya. Tanpa komando mulutnya langsung terbuka untuk berteriak."SET……..!!!!""Harus berapa kali si gue bilang gue bukan setan," rutuk sosok yang tadi mengulurkan minuman itu sambil duduk di samping Thalita dengan santai. Nggak bisa di bilang santai juga si sebenernya. Karena kedua tangannya tampak sedang di gunakan. Yang satu untuk memegangi botol, dan yang satunya membekap mulut Thalita seperti biasa. "Kalau loe emang bukan setan kenapa loe selalu muncul di hadapan gue dengan tiba – tiba?" tanya Thalita kesel."Bukan gue yang tiba – tiba, tapi elo yang tidak pernah berusaha menyadarinya.”Thalita terdiam. Perasaannya aja atau memang kalimat itu punya arti yang lain. Arti yang lebih mendalam gitu. Apalagi kalimat itu di ucapkan dengan pandangan yang menerawang jauh. Seperti orang yang lagi sedih."Thalita, gue suka sama loe….”"Mustahil. Kita baru kenal. Ralat, gue nggak kenal sama loe," balas Thalita cepat. Secepat yang bisa ia lakukan tanpa perlu berpikir sama sekali. Lagian mana ada orang yang ngaku suka dengan ekpresi sesantai itu."Itu karena loe nggak mau kenal sama gue. Loe nggak tau kan kalau selama ini gue selalu di samping loe. Memperhatikan dan mengagumi, dan mengikuti dari jauh. Gue tau semua tentang loe. Apa yang loe suka, kebencian loe akan hujan. Bahkan gue tau kebiasaan loe yang suka menggigit kuku jari di saat bingung.”Mulut Thalita terbuka tanpa suara. Maksutnya…."Secret admirer," sebelum Thalita sempat menebaknya, cowok itu sudah terlebih dahulu mengungkapkannya."Gue emang pengemar rahasia loe. Maksut gue selama ini. karena kali ini gue pengen ngungkapin langsung," sambung pria itu yang makin membuat Thalita membatu. Ia tidak sedang bermimpikan?"Thalita, gue cinta sama loe. Loe mau kan jadi pacar gue?” Kata – kata yang di ucapkan dengan tegas itu seolah menghipnotisnya. Tanpa sadar Thalita mengangguk. Walau tak urung hatinya bergumam."Hei, Mungkin kah ada kisah seperti ini????"Ending….!!Detail CerpenJudul cerpen : MungkinkahPenulis : Ana MeryaPanjang cerita : 1166 kata

  • Cerpen Romantis: MY YOUNG STEP FATHER?

    MY YOUNG STEP FATHER?oleh Putri Permatasari Donna muncul ke permukaan kolam renang dengan anggun. Tungkai kakinya yang panjang dan langsing diayunkannya untuk menaiki tangga kolam. Ia mengambil handuk kimononya di kursi dan memakainya, lalu menyisir rambutnya yang lurus panjang dengan jemarinya yang lentik. Saat akan mengambil crush lemon lime, Donna baru menyadari keberadaan seseorang. “Rafdy.” Donna melangkah mundur, ia menyipitkan matanya. Ia memandangi pria di hadapannya dengan dingin. Diangkatnya wajahnya. “Ibu tidak ada, percuma kau kemari.”Rafdy tetap berdiri di tempatnya. Jasnya berwarna hitam serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia tidak memedulikan sikap dingin Donna. “Apakah kautahu Ibumu pergi ke mana, calon anakku?”Donna menggertakkan giginya. Beraninya ia menyebutku calon anaknya! Usiamu hanya beberapa tahun di atasku dan lebih muda dari kakak pertamaku, Dina! Kau lebih pantas menjadi anak Ibuku! maki Donna dalam hati.“Ibu pergi keluar kota.” Donna tersenyum sinis. Ia mengambil crush dan meminumnya. “Kasihan sekali kau. Kau ‘kan kekasih Ibuku, tapi Ibu tidak memberitahumu ia pergi ke mana.”Rafdy mengangkat alisnya tak acuh. “Apakah ia memberitahukan ke kota mana?”“Kau memuakkan! Apakah kau tidak bisa mencari wanita lain? Apakah menurutmu Ibuku yang sudah berusia 47 tahun itu begitu menarik di matamu?” Donna membanting crush ke lantai semen. Napasnya tersengal dan wajahnya memerah karena marah. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.Rafdy berjalan dengan tenang ke arah Donna. Dielusnya pipi kanan Donna dengan punggung tangannya. “Lalu bagaimana? Apakah aku harus mencintaimu, begitu?”Dengan marah Donna mencengkeram tangan Rafdy dengan kuat. “Jaga mulutmu, brengsek!”“Kau yang harus menutup mulutmu.” Dengan mudah Rafdy melepaskan cengkeraman Donna. Diremasnya bahu Donna dengan kasar. Mata Rafdy berkilat marah. “Kau lebih muda dariku. Kau tahu, kau tidak lebih cantik dari Ibumu.” Lalu ia melepaskan Donna dan pergi ke dalam rumah dengan langkah panjang, tegap, dan angkuh. “Dan ingat, jangan membuang-buang minuman.” ujarnya tanpa menoleh.Donna mengentakkan kakinya dengan kesal, melepas handuk kimono sembarangan, dan terjun kembali ke air. Aku harus mendinginkan kepalaku, pikir Donna.*** Di rumah Dina….“Oh, jadi Ibu masih menemuinya?” tanya Dina.Donna mengerang kesal. “Tentu saja! Kak Dina, aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Aku…aku kasihan pada Dhena dan Gema, tapi aku juga sayang Ibu!”Dina merangkul adiknya dan mengelus punggungnya dengan sayang. “Tapi kurasa Dhena dan Gema menyayangi Rafdy, dan Rafdy pun sayang pada mereka.”Donna menatap kakaknya sambil mengerutkan kening. “Kakak pun tahu ia hanya ingin uang Ibu! Ia hanya memanfaatkan Ibu!” Donna menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya. “Kenapa harus Ibu?”Dina mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Aku akan bicara dengan Andi, biar ia menasehati Ibu.”“Suamimu? Kakak, hal ini….”“Donna, Andi tahu apa yang harus dilakukan.”“Baiklah, aku serahkan padamu, Kak.” Donna agak tenang melihat senyum Dina. Lihat saja, Rafdy! Takkan kubiarkan kau memanfaatkan Ibuku!”Dua hari kemudian….“Ibu, jadi kita akan menonton bioskop bersama?” Dhena bersorak riang. Ia merangkul Ibunya. Dhena adalah adik Donna yang berusia 14 tahun.Gema menatap ragu. “Kenapa Paman Rafdy tidak ikut dengan kita, Bu?”Donna melirik Gema kesal. Ia menggigit bagian dalam bibirnya. “Paman Rafdy? Untuk apa ia ikut kalian, Gema?”Retna mengelus rambut Gema dengan sayang. Ia tersenyum pada anaknya yang berusia 12 tahun itu. “Paman Rafdy sedang sibuk. Apa kau rindu padanya?”“Ibu!”Retna memandang Donna. “Sayang, maafkan Ibu.” Retna melirik Gema dan Dhena. “Ayo, Ibu rasa kita harus bergegas, filmnya keburu dimulai.” Retna menggandeng Gema dan Dhena menuju pintu. “Kau yakin kau lebih suka bersama Andre, Sayang? Hm, Ibu yakin itu adalah pertanyaan retoris.” Retna mengedipkan matanya, lalu berlari dengan kedua adik Donna. Mereka naik Starlet Metalik, mobil yang dimiliki Retna setelah Retna lulus SMU, saat ia menikah dengan Ayah Donna.Donna menghempaskan diri ke sofa dan menyetel TV. Beberapa menit kemudian Andre telah duduk di sampingnya. Mereka menikmati DVD yang dibawa Andre. Anime horor Another. Saat Donna sedang tegang menonton Another, tiba-tiba Andre mendorong dan memeluknya ke sudut sofa. Andre bermaksud untuk menciumnya. “Andre, kurasa….”“Ehem. Malam minggu memang mendukung untuk suasana yang romantis.”Donna terkejut. Ia langsung bangkit setelah Andre melompat berdiri. Donna merasa sangat malu. Wajahnya terasa panas dan pastinya memerah sampai telinga. “Apa yang kaulakukan di sini? Bagaimana kau bisa seenaknya masuk?” Donna berdiri, menatap angkuh pada Rafdy.Rafdy mengangkat alisnya ─ Donna tahu, itu kebiasaannya ─ dan balas menatap Donna. “Apa kau tidak tahu? Pintu belakang tidak dikunci. Kurasa Bi Tina lupa menguncinya.” Ia menatap Andre, membuat cowok itu rikuh.“Kurasa sebaiknya kau keluar, Rafdy!”“Donna….” Andre berusaha menenangkan Donna, namun Donna tetap menatap angkuh pada Rafdy.Rafdy melipat lengannya. Malam ini ia mengenakan kemeja pantai dan celana panjang hitam. Rambutnya dipangkas ala Tin-tin. Mau tak mau Donna menyukai penampilan Rafdy. “Andre, sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Kurasa remaja seperti kalian tidak baik kencan terlalu malam.” Andre bermaksud menyanggah ucapan Rafdy, namun keduluan Donna, “oh, begitu? Kurasa perbedaan usia kita hanya lima tahun. Kami mau kencan sampai jam berapa pun, itu bukan urusanmu!”“Jelas itu urusanku. Apa kau lupa bahwa aku ini calon Ayah tirimu?”Sebelum Donna sempat membalas kata-kata Rafdy, Andre memegang bahu Donna. “Kurasa benar apa katanya, aku harus pulang.” Andre mengecup pipi Donna ringan lalu tersenyum. “Sampai besok, Donna sayang.” Andre terseyum hormat pada Rafdy, lalu pergi. Donna memandangi kepergian Panther hitam Andre melalui kaca jendela ruang tamu.“Kau takkan pernah menjadi Ayah tiriku. Takkan pernah!” Donna mencengkeram tirai bercorak ikan tropis dengan latar biru laut. Rafdy memutar tubuh Donna sehingga mereka berhadap-hadapan. “Aku melakukan hal itu demi kebaikanmu. Tadi kalian bisa saja lepas kendali.” Suaranya tenang. Matanya yang hitam menatap langsung.Donna membelalakkan matanya. Suaranya bergetar marah saat berkata, “aku bisa menjaga diriku sendiri! Dan kau, Rafdy, Ibu tidak mau melihatmu lagi! Bukankah ia telah memutuskan hubungan denganmu?”Rafdy mengangkat bahu. Ia berjalan ke ruang keluarga dan menonton anime horor Another yang masih diputar . “Retna takkan memutuskan hubungan denganku karena ia sangat mencintaiku. Begitu pun aku.”Cinta? Kau tidak mencintai Ibuku, melainkan harta Ibuku! Dasar brengsek! maki Donna dalam hati. “Apa? Ibuku tidak memutuskan hubungan denganmu ─ oh!” Donna mengerang kesal dan putus asa. Jadi nasihat Kak Andi sama sekali tidak dipedulikan Ibu!“Duduklah, kau tidak mau melanjutkan menonton anime ini?” Rafdy sama sekali tidak peduli akan kepanikan Donna.“Tidak, terima kasih. Aku mengantuk.” Siapa sudi nonton berdua denganmu!“Putih….”“Apa?”“Kulitmu putih walau kau sering berada di bawah terik matahari.”Mata Donna yang cokelat muda menerawang. “ Turunan Ayah….”Rafdy bersandar di sofa empuk berwarna cokelat tua. “Jelas kau tidak menyukai Ayahmu, lalu kenapa kau tidak mau aku menjadi Ayahmu?”“Tidak!” Donna menggeleng. Ia meremas tangan kirinya sendiri sambil menunduk. “Aku memang tidak menyukai Ayahku, sebab ia pergi beberapa saat sebelum Gema lahir. Tapi bagaimanapun, aku tidak ingin kau menjadi Ayah tiriku! Karena kau hanya menginginkan harta Ibuku!”Tiba-tiba Rafdy bangkit dan mendekati Donna. Ia mencengkeram bahu Donna dengan kuat. Matanya menyipit, menyelidik. “Jangan kauucapkan hal itu lagi, kau tahu? Aku bukan orang tolol! Aku sungguh-sungguh mencintainya, dan aku lebih baik dari Ayahmu yang tolol itu!”“Jangan sebut Ayahku tolol!”“Lalu apa? Bodoh?”“Kau…!”Bunyi bel menghentikan pertengkaran mereka. Donna melepaskan diri. Ia memunggungi Rafdy. “Silahkan menemui Ibuku. Tapi ingat, bukan berarti aku menyetujui kalian. Rafdy, jangan hina Ayahku lagi….” Lalu Donna pergi ke kamarnya di lantai atas, sebelum Rafdy membukakan pintu untuk Retna dan kedua anaknya.Donna mengambil foto berbingkai cokelat muda di laci terbawah meja belajarnya. Ia memandangi foto itu: Ibunya yang sedang mengandung, Dina, Donna, dan Dhena yang digendong oleh seorang pria tampan. Ayah jahat! Kenapa meninggalkan kami semua? Hanya karena wanita iblis itu! Air mata Donna menetes. Ia terus merutuki Ayahnya ─ Hery ─ sambil menangis, hingga terlelap di meja belajarnya.*** “Kau terlihat ling-ling, Donna. Ada apa?” Andre menyentuh pipi Donna dengan jemarinya. Ia tersenyum sayang. “Kau bisa menceritakan masalahmu. Apakah tentang Rafdy lagi?”Donna yang sedang bersandar di bahu Andre, mengangguk. Andre merangkul dan menepuk-tepuk bahunya. “Ceritakanlah bila itu membuatmu sedikit lega.”Donna memandang ke sekitar taman kampusnya yang luas, yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiwi yang berlalu lalang, bangku taman, dan pepohonan hijau rindang. Ia sedang berteduh di bawah pohon besar bersama Andre. “Apakah selama ini aku salah, Andre? Aku selama ini menganggap bahwa Rafdy hanya menginginkan harta Ibuku, tapi semalam ia bilang ‘tidak’.” Donna mengangkat bahu. “Memang, adik-adikku, kakakku, kakak iparku, terutama Ibuku, tidak terlalu ambil pusing menanggapi anggapanku tentang Rafdy. Mereka menyukai Rafdy. Kak Dina dan suaminya, Kak Andi, hanya menaruh sedikit curiga pada Rafdy. Kurasa kau pun….”Andre mengangkat bahu. “Memang, aku menyukai dan menghormati Rafdy. “ Andre terlihat canggung.“Tapi aku merasa ia tidak sungguh-sungguh mencintai Ibuku…Memang tidak ada buktinya. Malah sebaliknya, Rafdy terlihat sangat menyayangi dan memanjakan Ibuku.”Andre menepuk kedua pipi Donna. “Itu saja sudah cukup ‘kan?” Andre tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.***“Baiklah, kau bisa diandalkan, bukan?”“Ya, Retna.”“Bagus.” Retna cipika-cipiki sekilas dengan Rafdy. “Aku memercayakan urusan kantor dan keluargaku padamu. Sampai nanti!” Retna menaiki Starletnya dengan anggun, melambai, lalu menghilang dari pandangan.Rafdy berbicara dengan Bi Tina sebentar, lalu menaiki Taft hijau tuanya, meninggalkan kepulan asap yang membuat Bi Tina terbatuk-batuk.***“Apa? Ibu keluar kota untuk urusan bisnis lagi?” Donna meminum air dingin setelah selesai makan malam.Bi Tina mengangguk. “Tapi Nona tidak usah khawatir karena Tuan Rafdy akan menemani.”Donna mendengus. “Itulah yang kukhawatirkan. Bilang pada ‘Tuan’ Rafdy, kami tidak butuh perlindungannya.”“Kurasa kalian membutuhkanku.”Gema turun dari kursi dan ber-high five dengan Rafdy. “Aku senang Paman mau menemani kami!” Ia melirik tas hitam bergaris merah di dekat kaki Rafdy. “Bawaan Paman hanya sedikit?”“Ya. Lagipula hanya tiga hari.”“Waktu yang sangat lama.” Donna berusaha keras untuk tidak membentak-bentak dan mengusir Rafdy. Ia tidak ingin dianggap sinting oleh kedua adiknya. Bi Tina sudah tahu bahwa Donna memusuhi Rafdy, pria yang dianggap tertinggi, terganteng, termacho, dan terseksi yang pernah ditemui oleh Bi Tini. “Maksudku, waktu yang amat sangat singkat, Paman Rafdy….”Rafdy berusaha menyembunyikan senyumnya. “Tadinya Paman akan mengajak kalian makan pizza, tapi ternyata sudah telat, ya?”“Kurasa perut kami masih muat, Paman!” Dhena menunjuk perutnya sambil nyengir. “Tambah ice cream?”Tawa Rafdy terdengar memuakkan di telinga Donna. Bohong, kau menyukainya, Donna! Donna menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran sintingnya. Dengan halus Donna menolak ajakan Rafdy untuk makan pizza di Pizza Hut, dengan alasan harus belajar untuk ulangan besok. Beberapa menit kemudian Donna sedang membaca majalah sambil tiduran di kamarnya. Ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ia cemas memikirkan kedua adiknya. Bagaimana jika kedua adiknya diculik, ditawan, Lalu Rafdy meminta tebusan? Oh, tidak, tidak. Saat ini Donna lebih suka berpikir bahwa Rafdy orang baik-baik, walaupun Donna ragu.Paginya Donna langsung ke kamar kedua adiknya. Donna menghela napas lega melihat mereka tertidur nyenyak. Donna hampir berteriak saat Rafdy menyentuh bahunya. “Kau membuatku terkejut!” Donna menutup pintu kamar Dhena dan Gema lalu berjalan menuju balkon. Ia yakin Rafdy mengikuti di belakang.“Hawanya sejuk.” Rafdy meregangkan ototnya. Donna hanya mengangguk tak acuh. “Donna, aku takkan meminta maaf soal aku menghina Ayahmu, karena ia….”“Karena ia memang tolol yang…yang….” Tangisan Donna teredam oleh pelukan Rafdy. “Lepaskan aku.” Bertolak belakang dengan ucapannya, Donna malah memeluk Rafdy dan ia semakin membenamkan kepalanya ke dada Rafdy yang bidang dan hangat. “Aku benci Ayah!”Lengan Rafdy melingkari tubuh Donna. Ia mengelus bahu Donna lalu memeluknya dengan erat. Rafdy tidak mengucapkan apa-apa untuk menghibur Donna. Hanya memeluk.“Rafdy….”“Ya….”“Aku harus mandi…ada kuliah.”Rafdy melepaskan pelukannya. “Mau diantar?”“Tidak, aku tak butuh.” Donna menatap Rafdy dengan bingung. “Aku tahu, aku merasa nyaman sekaligus tidak nyaman dalam pelukanmu.”“Kenapa?”Ia tidak menjawab pertanyaan Rafdy. Donna malah tersenyum sinis, lalu ia masuk ke dalam.Senyuman menghiasi wajah Rafdy. Ia bersandar di sebuah pilar sambil melipat lengan. “Kalau begitu, aku akan mencari tahu, Manis….” Suaranya nyaris berbisik, dan penuh kerinduan.“Hei, Donna, ada yang jemput, tuh! Rafdy, kata Ibuku. Kau memberitahu akan belajar kelompok di rumahku, Don? Bukankah kau tidak suka pada calon Ayah tirimu itu?”Donna mengerutkan keningnya dan memandang Silvy, temannya. “Tidak, aku tidak memberitahu Rafdy kalau aku di sini. Ini pasti kerjaan Andre!” Donna mengerang kesal. Ia melihat jam di dinding, pukul 20.10. “Aku ‘kan sudah bilang pada Andre kalau kau akan mengantarku pulang, Sil.”Silvy mengangkat bahu. “Apa perlu kukatakan pada Rafdy bahwa….”“Tidak perlu. Donna, ayo pulang.” Rafdy berdiri di muka pintu kamar Silvy. Ia mengenakan sweatshirt biru dongker dan jeans biru pudar. “Selamat malam, Gadis-gadis.” Donna tahu, pasti Silvy terpesona oleh senyuman Rafdy. Dan itu memang benar. Sejak pertama bertemu, Silvy sudah terpesona, seperti halnya Bi Tina.“Rafdy, kami masih belajar, jadi….”“Ayo pulang, Donna.”Dengan kesal Donna merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah Silvy, jadi ia tidak membantah lagi. Dalam perjalanan pulang, Donna menyetel radio keras-keras. “Kau menyetel musik tapi kau tidak menikmatinya.”“Kata siapa?”“Terlihat, tentu saja. Kau memandang keluar jendela, diam, melamun.” Rafdy memindahkan saluran radio. Terdengar alunan lagu yang lembut dan romantis.Donna tidak mencegahnya. Ia menatap keluar ke kegelapan malam. “Lalu apa urusanmu?” tanyanya ketus.Tangan kiri Rafdy menyentuh bahunya dan ia tidak berusaha menghindar. Rafdy mengangkat sebelah alisnya, heran karena Donna tidak menolak. Seperti tadi pagi, saat Rafdy memeluknya, Donna malah balas memeluk. “Donna, apa kau benar-benar membenci Ayahmu?”“Ya.”“Tapi kenapa kau tetap membela Ayahmu? Oh, aku tahu, kau pasti berpikir bahwa orang hina sepertiku tidak pantas menghina Ayahmu.” Suara Rafdy tenang tanpa emosi, hingga membuat Donna menoleh.“Itu salah satunya. Meskipun begitu, dalam lubuk hatiku, aku ingin Ayahku kembali….” Lalu Donna tiba-tiba sadar. Ia menggigit bibirnya dengan kesal. “Aku betul-betul bodoh. Aku tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang hal ini, tapi aku malah bercerita padamu!”“Tidak juga pada Andre?”Dengan enggan Donna menggeleng. Dalam kegelapan, Donna dapat melihat senyum Rafdy. “Aku mendapat kehormatan, kalau begitu.”“Ya, yang akan kusesali seumur hidupku.” Donna tersenyum pahit. Seandainya Ayah kembali, pasti Ibu takkan mau menerima. Pasti Ibu masih sangat sakit hati….”*** Seminggu setelah Retna kembali ke rumah, giliran Rafdy yang tugas keluar kota. Pada hari kedua kepergian Rafdy, Rafdy menelepon. “Oh, hai, Paman. Kau masih hidup?”“Sayang sekali, aku masih hidup. Boleh aku berbicara dengan Retna?”“Tidak, ia sedang berbelanja….”“Berikan telepon itu, Sayang.”Donna memberikan telepon pada Ibunya sambil menggerutu lalu pergi ke ruang keluarga sambil membawa majalah yang tadi dibacanya. Beberapa saat kemudian Andre datang ke rumahnya. “Malam minggu ini kau terlihat muram.” Andre duduk di sampingnya dan bermaksud merangkulnya. Tak seperti biasanya, kali ini Donna menolak. “Donna? Kenapa? Kau tak suka aku memelukmu?” “Bukan, aku….”“Apa ada pria lain?”Donna membelalakkan matanya terkejut. “Aku tidak tahu, aku….”“Aku tahu ada yang lain, Donna. Rafdy ‘kan.”“Tidak! Apa kau gila! Dia kekasih Ibuku! Calon Ayah tiriku! Dan aku sangat membencinya!”Andre menenangkan Donna. “Tak perlu marah. Aku tahu Donna, aku peka soal dirimu.”Wajah Donna memerah. Ia memejamkan matanya. Ia menyandar ke punggung sofa, putus asa. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. “Aku tidak tahu, Ndre. Aku benci Rafdy, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu salah tingkah di dekatnya. Tadi ia menelepon, dan aku kesal. Ia menelepon Ibu, bukan aku.” Donna tertawa putus asa. “Aku sudah gila….” Andre memeluknya. “Andre, maafkan aku….”“Untuk saat ini biarkan aku memelukmu….”*** Terkejut. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Donna saat ini. Donna ternganga menatap sosok di hadapannya. “Ayah?”Hery memandang Donna, matanya berkaca-kaca. “Kau banyak berubah, Donna. Kau tambah cantik dibanding dua belas tahun yang lalu.”Donna ragu, dengan canggung ia memeluk Ayahnya. “Sepertinya Ayah tambah kurus.”Hery merangkul putri keduanya itu dengan erat dan penuh kerinduan. “Donna, apa kau tidak membenci Ayah?”Donna mundur selangkah. “Waktu itu Ayah khilaf, bukan? Ayah tidak sungguh-sungguh mencintai Tante Utami, bukan?”Hery memandangnya. “Dulu Ayah berpikir bahwa Ayah mencintai Tante Utami. Tetapi setelah beberapa bulan menikahinya, Ayah baru menyadari siapa yang benar-benar Ayah cintai….” Hery menahan tangisnya. “Aku dulu membenci Ayah. Tapi aku selalu memikirkan Ayah. Aku tahu dari Ibu bahwa pernikahan Ayah hanya berlangsung beberapa bulan saja, bercerai, tanpa anak.” Donna menggigit bibir bawahnya. “Kenapa Ayah tidak kembali?”“Setelah Ayah bercerai dengan Tante Utami, Ayah pernah mencoba beberapa kali agar Ibumu menerima Ayah lagi. Namun Ibumu selalu menolak. Dan menurut Ibumu, anak-anak Ayah membenci Ayah, kau dan Dina tepatnya.”Kakak, ada siapa?” Dhena menghentikan langkahnya dan memandang pria yang merangkul kakaknya itu. Ia berusaha mengenali wajah pria itu. “Wajahmu mirip dengan di foto, pria yang menggendongku…apakah…Ayah?”“Dhena Sayang….”Dhena menghambur ke pelukan Hery. “Ayah, kau benar-benar Ayah? Ayah ke mana saja selama ini?”Untuk kedua kalinya, Donna terkejut hari ini. Ia menatap Ibunya. “Apa? Jadi…?”“Ya, jadi beberapa bulan yang lalu Ayahmu kembali menemui Ibu. Dan setelah berpikir masak-masak, akhirnya Ibu menyadari bahwa Ibu masih teramat mencintai Ayah, dan ingin menikah lagi dengan Ayah.” Donna, Dina dan suaminya, kedua orang tuanya, dan Rafdy tengah duduk di ruang keluarga. Dhena dan Gema sudah tidur di kamar mereka karena waktu telah menunjukkan pukul 11.15. “Lalu bagaimana dengan Rafdy? Apakah ia bagian dari sandiwara ini?”“Pemeran utama. Rafdy adalah sahabat Ayahmu, yang mendamaikan kami.” Retna tersenyum pada Hery dan Hery merangkulnya hangat.“Ibu….” Dina yang sedari tadi diam mulai bicara. “Apa maksudnya pemeran utama?”Retna mengangkat bahu. “Mengetes. Apakah kalian ini masih membenci Ayah atau tidak. Ibu takut kalian tidak mau menerima Ayah karena Ibu tahu, kalian tidak menyukai pengkhianatan Ayah seperti juga Ibu.”“Jadi Rafdy turun tangan.” Hery meremas tangan istrinya. “Dan 2 minggu yang lalu, Donna mengakui isi hatinya tentang Ayah. Begitu juga Dina.”Donna memandang pria yang sedang diperbincangkan. Pria itu duduk dengan santai di sofa. Kaki kanannya ditumpangkan di kaki satunya. Matanya yang hitam balas memandang Donna. Ia sama sekali tidak tersenyum. Tiba-tiba ia berdiri. “Oke, kurasa semua sudah beres. Aku harus menyingkir, lagipula sudah malam.” Hery memintanya untuk menginap namun Rafdy menolaknya dengan halus. Donna memandang kosong ke arah Rafdy yang meninggalkan ruang keluarga, diantar Hery, Retna, Dina, dan Andi. Pergi? Menyingkir? Apakah maksudnya Donna takkan bertemu lagi dengannya? Donna merasa dadanya sesak dan tubuhnya gemetar. Ia langsung berdiri dan berlari mengejar Rafdy. Ia sampai menabrak Ibunya di teras depan. Di halaman tempat Taft Rafdy diparkir, Donna menarik tangan pria itu. Napas Donna tersengal dan tak terasa pipinya telah basah. “Aku belum minta maaf padamu! Selama ini aku selalu bersikap kasar!”Rafdy terkejut, hanya sedetik. Ia tersenyum dan menghapus air mata Donna. “Wajar saja. Jika aku jadi kau, kurasa aku akan melakukan hal yang sama.” Rafdy menatapnya lembut. “Baik-baiklah dengan Andre.”“Kami sudah putus.” ujar Donna cepat. Seperti dugaan Donna, Rafdy mengangkat sebelah alisnya. Karena itu Donna meneruskan, “karena ada pria lain….”“Begitu?”“Pria itu…kau, Rafdy.”Kali ini Rafdy benar-benar terkejut. Ia memandang ke teras yang ternyata telah kosong. Wajah Rafdy memerah dan ia berdiri canggung. “Aku tidak tahu harus berkata apa.”Donna tersenyum. Ia mengusap air matanya yang masih terus mengalir. Ia menahan rasa sakit di dadanya. “Aku tahu, kau benar-benar mencintai Ibuku. Sikapmu pada Ibu sepertinya nyata.”“Hei, Nona, jangan sembarangan. Aku menghormatinya, tidak lebih.” Rafdy menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya aku tidak suka untuk mengakui rahasiaku. Sepuluh tahun lalu aku bertemu Ayahmu, dan Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu saat melihat fotomu yang selalu dibawa-bawa Ayahmu.”“Kau bohong!” Jantung Donna berdegup kencang. Rafdy menyelusupkan kedua tangannya ke belakang leher Donna, menyibakkan rambut panjang Donna, dan menariknya mendekat. Angin malam menerpa mereka, membuat Donna menggigil. Rafdy mempererat pelukannya. “Sungguh. Tapi aku agak takut juga saat kau memelototiku sewaktu Retna memberitahukan bahwa kami berpacaran.” Rafdy tersenyum mengingat hal itu. “Apakah kau sungguh jatuh cinta padaku?”“Ya….”“Boleh aku tahu ucapan nyaman tidak nyaman itu?”“Yah, aku merasa aneh…entah kenapa aku merasa nyaman dalam pelukanmu, tapi tentu saja tidak nyaman karena kau pacar Ibuku….” Donna tersipu. Ia mencengkeram kemeja Rafdy. “Tadi kau bilang akan menyingkir? Jangan pergi, Rafdy. Tetaplah di sini.”“Aku hanya pulang ke apartemenku, karena sudah malam.” Rafdy tidak bisa menahan senyumnya. “Yah, tadinya aku berniat pulang ke kota asalku, tapi karena ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, jadi…aku akan tetap di sini menemanimu.”Donna tersenyum penuh harap. “Sungguh?”“Benar. Kalau begitu, kau mau menjadi kekasihku?”“Mau!” Donna menjawab dengan semangat. “Baiklah, selamat malam.” Rafdy melepaskan pelukannya dengan enggan, karena sebenarnya ia masih ingin memeluk Donna. “Boleh aku mengantarmu ke kampus besok?”Donna mengangguk. “Sampai besok! Oyasuminasai!”“Apa?”“Have a nice dream.” Donna mengecup pipi Rafdy dengan malu-malu, lalu berlari masuk ke dalam rumah.Rafdy terkejut karena Donna mencium pipinya. Ia tersenyum lembut. Ia berbalik dan menaiki Taftnya, lalu melajukan Taftnya dengan santai, sementara dadanya bergemuruh. Yes, akhirnya Donna jatuh cinta padaku! Rafdy tidak bisa tidak tersenyum. Ia bersiul-siul gembira menuju apartemennya. Ia berpikir ia tidak akan bisa tidur, tak sabar menanti hari esok untuk bertemu kembali dengan Donna, gadis yang selama sepuluh tahun ini selalu dirindukan dan hadir dalam setiap mimpi-mimpinya!TAMATNama: Putri PermatasariFb: putri_comics86_ydws@yahoo.com

  • Cerpen Sedih: Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu

    Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.Jujur ,kau telah melukai hati perasaanku , sehingga hidup ku kehilangan arah tujuan dan membuat suram hidupku. En, kenapa kau membohongi ku, apa kau tidak iba akan diriku. Maafin aku? Janji- janjimu semua palsu .Aku sedih melihat kamu tak setia pada ku .Walau rasa sayangku begitu besar kepada mu. tapi itu percuma ,kamu seakan tak menghiraukan aku lagi.Malam Tahun baru 2011 adalah malam begita saklar .makna pergantian tahun . karna,ini juga termasuk sangat bermakna dalam hubungan kita bina selama ini .semua serba baru .Kamu dimana ? loh ko , kenapa kamu pulang ke Depok sih . oya udah , kalau kamu mau malam tahun baruan bersama keponakanmu.Bergegas aku mencoba mengecek ketempat kost an mu di bilangan Rawamangun .apa benar dia pulang ke depok atau membohongiku.Aku gak yakin Eni pulang ke depok , rasa bimbang dan gak yakin tercurah dalam perasaan ku ini.loh ko, ternyata dia membohongi ku , ku melihat sendalnya berada ditempat kerjanya .tanpa berpikir panjang aku ketuk pintu kantornya , dia tampak kaget memandang diriku .hubungan yang terjalin selama 4 tahun dirusak oleh dia sendiri. membina hubungan begitu lama, akhirnya dia berkhianat tertangkap basah dengan rekan kerjanya sedang berdua an dalam kantor. Keluar kamu, dia tampak bingung memandang ku dan penuh rasa bersalah karna telah berbohong.“Ayo, kita jalan ?“Bergegas keluar dan meninggalkan kantor ?“Pucat terlihat dalam raut wajahnya?Sadar dia telah berbohong , pembicaraan selalu dialihkan .kamu kenapa bohong? Jujur ini terasa mimpi , dibohongi pasangan adalah sesuatu paling najis . Masih terasa luka oleh perilaku dia semalam , ternyata aku belum percaya 100%.Walau pun diriku sedang libur , aku coba menyatroni tempat kost an untuk kali ke dua.rasa kepercayaan ku mulai luntur , tak kala dia tertangkap basah lagi . rekan kerjanya yang juga kenal denganku , Nampak datang ke tempat kost nya . aku gak tinggal diam, 500 menit ku mengawasi .akhirnya ku datangi kost an nya terjadi keributan , sayang tangan ku dipegang nya sehingga tak terjadi perkelahian antara hasim dan aku . merasa tertangkap basah untuk kali ke dua , dia nampak pucat terlihat diwajahnya.Jujur dengan kejadian itu , aku benar gak bisa memaafkan dia ? rasa kepercayaan ku hilang seketika dan larut dalam kekecewaan .Meski pun sudah hilang rasa cintaku . tetapi aku memandang dia , mungkin itu semua sesuatu ke khilaf an dan bisa diperbaiki kembali. Aku pun mencoba mengunjungi dia ke kost an nya dengan maksud main dan sekalian meminta maaf atas sikap ku yang arogan .sayang , maksud baik ku ga direspon dengan baik ,aku ditinggal sendiri di teras kost an nya.Ku telpon ponselnya selalu di matikan ? Ku sms ga ada balasan?Hingga akhirnya , mungkin aku harus pergi dari hati dan cintanya selamanya dan menatap esok hari yang lebih cerah. Pergi dengan perasaan galau terasa dalam hati ku . tak ada keindahan yang tercipta dunia seakan gelap menjadi gurita .Mendengar ku tidak ada di Jakarta . dia pun mencoba menghubungi diriku “hallo, kamu dimana ?Maaf , aku sudah berada di luar kota sekarang?“eh , kenapa kamu pergi ? segera balik , saya tunggu kamu di kost an sekarang.“maaf ga bisa , aku sudah di Jawa ?“oya , udah kalau itu mau kamu sih?Kegagalan dalam bercinta bukan berarti kiamat , akan tetapi kegagalan adalah sebuah pengalaman dan harus dicarikan solusinya. Hari – hari yang indah kini telah hilang. Ku coba menjalani kehidupanku dengan rasa tegar walau terkadang rasa kesepian hinggap dan selalu menghantui pikiranku.Gambaran cerita ini mungkin sedikit dari sekian banyak cerita hidup yangbisa di jadikan renungan.sehingga kita dapat belajar tentang arti sebuah cinta .karna, setiap manusia tidak ingin gagal dalam menjalin hubungan asmara.semoga kita lebih mawas diri dan menjaga hubungan jalinan kasih dengan pasangan kita.Sekarang antara aku dan dia tidak ada kontek ?mungkin dia sekarang sudah menjalin cinta dengan yang lain dan menghasilkan Buah cinta yang menhasilkan kasih sayang*******By : SUGI ALWIN REY facebook: Sugi Alwin reyThanks sob udah mau baca

  • Kirim Cerpen di Star Night

    OKE Deh….Berhubung Star Night udah nggak punya terlalu banyak waktu buat bikin cerpen ataupun lanjutin cerpen cerpen yang ada, kali ini +anna cayang mama selaku admin, pengen ngasi kesempatan buat reader yang pengen karyanya di post di persilahkan buat ngirim kesini.Syaratnya gampang kok :Yang pertama harus hasil karya pribadi. Say No To COPY_PASTE.Yang kedua Cerpen tersebut belum pernah di publikasikan di blog mana pun.Yang ketiga, saia +anna cayang mama selaku admin berhak untuk mengedit dikit dikit hasil karyanya.:pYang ke empat, Gak boleh melangar syara ya. Bahasanya yang sopan maksutnya.Yang kelima, Admin berhak mutlak untuk menentukan kapan cerpen nya akan di publisSyarat selanjutnya menyusul ^_^ Gimana cara ngirimnya?. Ikuti petunjuk berikut : ^_^Siapin dulu cerpennya *So jangan coba – coba ngirim cerpen kalau cerpennya belom di bikin… he he he #XDKirim dalam bentuk attacement ke email Anamerya17@gmail.comSertakan Biodata penulis yang mau di tempelkan di blog. Misalnya Email, Twiter, Ataupun Akun facebook. Yang terakhir, Kalau cerpen belum di publis bisa langsung hubungi admin diFacebook : Ana MeryaG Plus : +anna cayang mama Twiter : RianashinePin BB : 29E7BF03Nah, Segitu doank. Bagi yang berminat di persilahkan Untuk mengirimkan karyanya langsung ke sini. Kalau di tanya soal bayaran atau imbalan apapun itu. Hem, Maap gak pake imbalan ya. Kita cuma bikin buat seneng – seneng doank. ^_^Akhir kata : Selamat Berkarya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*