Cerita Remaja Cinta Buruan katakan cinta ~04 {Update}

Dalam setiap kisah tertulis begitu banyak cerita. Kali ini akan kah tertulis kan kisah ku? * by Star Night*
Oke, biar gak bingung n mumpung penulis sedang baik (??) untuk part sebelumnya bisa langsung di baca di Cerpen Romantis Buruan katakan cinta part 3.
Happy Reading…

Credit Gambar : Ana Merya
Setelah hampir seminggu ani tidak masuk kuliah dan tidak ada di rumahnya selama itu juga kevin udah seperti orang gila, kerjaan nya tidak ada lain, hanya menunggu hanponenya kali aja ani menelponenya tapi ternyata dugaannya salah ani tidak menelponenya sama sekali. kevin terus mencoba menghubungi ani tapi bukan hanya tidak diangkat tapi hanpone ani sekarang tidak aktif, dan kevin makin menjadi strez.
Banyak yang mencoba menghibur dan menenangkannya tapi kevin tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari hanponenya, banyak juga mahasiswi-mahisiswi yang mendekatinya sekadar sok perhatian tapi semuanya di cuekin termasuk dara.
Ehem, iklan dulu ya, kali aja ada yang mo ngeklik. he he he
Tiba – tiba suasana kampus heboh. Pasalnya ada murid pindahan baru di kampus, seorang cowok yang sangat keren dan begitu anak-anak melihatnya bakal langsung jatuh hati, cowok itu yang tak lain adalah vano, yang terkenal dengan ke playboyan nya, yang sering di juluki playboy cap gayung, karena semuanya di ambil. pokoknya playboy yang hanya dalam waktu satu minggu ia udah bisa memutuskan hubungan dengan pacarnya paling sedikit sepuluh orang. *Suwer pada bagian ini Star Night pun bingung?*.
Tapi walaupun vano terkenal dengan playboy cap gayungnya, tetap saja masih banyak cewek-cewek kecentilan yang mendekatinya sekadar memperhatikan ketampanan vano. baru aja tiga hari di kampus barunya, vano udah bisa memutuskan hubuangan dengan mahasiswi sekitar sepuluh orang . Tapi apapun itu, kekerenan vano membuat mahasiswi yang lain tidak bisa tidur semalaman, dan jika vano lewat semuannya akan pasang wajah manis agar mendapat perhatian dari sang cowok idola.
Cerpen Remaja Cinta
Pagi itu tepat dua minggu setelah kepergian ani, vano masih juga di kerubungi cewek-cewek, saat itu hari masih lumayan pagi, vano memarkirkan motornya di parkiran motor, saat ia turun dari motornya datang sebuah mobil yang baru masuk keparkiran, vano memperhatikannya hingga pemiliknya keluar dari mobil.
Semua mata terpana melihat kedatangan sang pemilik mobil, karena sang pemilik mobil adalah seorang cewek yang sangat cantik dan tak lain adalah ani?! . tapi bukan itu yang membuat yang lain pada kaget melainkan ani yang berubah drastis jadi cewek yang super cantik, rambutnya yang dulunya di ikat kini terjurai panjang tanpa poni yang menutupi mata, ani juga melepas kacamata minusnya, buku yang di bawanya tidak lagi menutupi langkahnya, kini ani bener-bener telah berubah. jalanan nya juga tidak lagi menunduk.
Ani berjalan memasuki kampusnya tapi tatapan mahasiswa-mahasiswi tidak lepas dari nya termasuk vano, cowok playboy kelas atas itu. vano langsung berhenti di tempatnya ia seperti terpaku dengan tanah yang di pijaknya, yang dia lakukan hanya menatap ani dengan pandangan kagum. ia merasa pernah mengenali bidadari yang baru turun dari mobilnya, ani udah benar-benar mirip dengan cinderella.
"elo..?!"
Kata ani dan vano hampir bersamaan begitu mereka bisa melihat dengan jelas dan mengenali satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama, sambil ber high five. banyak anak-anak yang kaget melihat keakraban mereka ada yang jeaolous ada juga yang iri. pokoknya mereka bener-bener kaget. terutama para mahasiswi karena mereka yang pertama kali melihat vano saja selalu di cuekin. ini… ani yang dulunya terlihat sangat kuper kenapa bisa akrab dengan vano cowok playboy kelas atas itu. dan yang makin membuat mereka kaget adalah ani sekarang sangat berbeda jauh dengan ani yang dulu, bahkan kalau di bedakan mungkin ani lebih cantik dari pada madona kampus, siapa lagi kalau bukan dara.
"eh, jalan yuk….." ajak vano.
Ani langsung mengangguk dan melangkah bersama vano menuju kelasnya. tanpa di sangka tanpa di duga ternyata oh ternyata…. kevin ada di tempat parkiran saat hal itu terjadi (maksudnya ani yang tampak akrab dengan vano dan penampilan ani yang beda).
Tanpak kevin sangat kaget dengan itu semua dan mungkin ia tidak bisa percaya begitu saja kalau cewek cantik bahkan super cantik yang tak lain adalah ani itu bisa akrab sama vano sang playboy kelas atas alias playboy cap gayung.
"kevin… loe kok masih di sini? masuk yuk" ajak dara. kevin hanya mengangguk dan berjalan mengikuti dara. saat di perjalanan menuju kelasnya kevin melihat ani yang tertawa akrab bersama vano, jelas terpancar kecemburuan di mata kevin.
"kev loe udah selesai tugas dari bu vivi?" tanya dara, kevin hanya diam saja dengan terus memperhatikan ani yang tanpak akrab bersama vano "kev… kevin. loe dengerin gue nggax sich?" tanya dara lagi.
"eh iya. apa tadi?" tanya kevin kaget.
"loe udah selesai tugas dari bu vivi belum?" ulang dara.
"oh udah kok" jawan kevin.
"loe kenapa? kok wajah loe merah gitu, loe cemburu ya liat ani ama vano berdua?" tanya dara.
"engax. siapa juga yang cemburu" kata kevin.
"kalau loe cemburu itu ma wajar kali kalian kan masih pacaran. kalau nggax ya terserah"
"nggax kok, gue sama sekali nggax cemburu" jawab kevin.
"tapi mata loe itu lho. mata loe itu udah menandakan kalau loe itu cemburu ama mereka"
"gue bilang gue nggax cemburu!!!" bentak kevin. dara langsung kaget dengan bentakan itu tapi kevin santai aja "jangan sok tau deh loe" lanjutnya.
"maaf… tapi guekan emang tau and gue itu seriuz. yang bilang gue lagi bercanda itu siapa? orang gue serius juga. tapi kalau gue boleh kasi pendapat sich sebaiknya loe putusin aja ani karena…"
"nggax" potong kevin cepat "sampai kapan pun ani nggax bakal gue putusin, terserah dia mau ngapain yang penting gue nggax bakal mutusin dia" lanjutnya.
"ya itu sich terserah loe. kalau loe nggax mau juga nggax apa-apa kok, gue nggax maksa, lagian itu kan cuma pendapat umum aja, coba deh loe lihat sekarang ani itu udah beda banget kayak dulu, apa lagi sekarang dia akrab ama vano, bukan gue mau bilang kalau vano itu lebih keren dari pada loe ya. tapi, coba deh loe fikir, yang ngejar vano itu lebih banyak jadi kali aja ani…"
"ani bukan cewek yang kayak gitu" potong kevin.
"ya itu kan dulu, sekarang tu beda kev, ani udah jadi cewek cantik, siapa pun yang dia mau dia bisa dapatin dengan wajah secantik sekarang. mungkin aja sekarang dia juga jadi…"
"ani nggax mungkin jadi cewek kayak gitu… dia itu pacar gue"
"kalau dia masih nganggep loe itu pacarnya harusnya dia itu memberikan loe kesempatan untuk menjelaskan, bukan asal pergi gitu aja"
"tapi ini kesalahan gue, jadi gue pantas kok menerimanya kalau sampai ani marah"
"tapi semuanya kan bisa di bicarakan. kalau dia suka sama loe pasti dia bakal percaya sama loe, dan sekarang nyatanya dia malah ninggalin loe gitu aja, tanpa mementingkan perasaan loe dia malah akrab ama cowok lain, di depan loe lagi. mungkin bener kalau dulu ani itu suka sama loe tapi sekarang…. orang itu bisa berubah kapan pun dia mau kev, contohnya sekarang baru dua minggu lalu ani berpenampilan yang maaf ya bisa di bilang katro' dan sekarang dia udah jadi cewek yang cantik bahkan sangat cantik, jadi dia pasti bisa mendapatkan cowok kayak siapa pun yang dia suka"
"tau deh. gue pusing" kata kevin.
"tapi kev, ani itu…"
"cukup dara cukup. loe itu jangan manas-manasin gue terus donk" kata kevin.
"lho ini tu kenyataan kev, coba deh loe fikir sekarang ini loe kelihatan sedih banget bahkan sangat tersiksa dan loe kayak di campak kan gitu aja, apa ani pernah mementingkan perasaan loe, kalau ia dia nggax bakal deket ama cowok lain selain elo, dan pergi tanpa pamit sama loe, kalau dia masih menganggap loe itu pacarnya dia pasti bakal memberi tau loe…"
"udahlah gue bilang cukup!!!"
"kevin, loe itu terlalu baik untuk cewek kayak ani, kalau ani masih menganggap loe pacarnya dia pasti bakal mendekati loe terlebih dahulu bukan cowok playboy itu, buat apa loe pusing-pusing mikirin orang yang udah jelas nggax mikirin prasaan elo?" kata dara.
"eh loe ngerti nggax cih gue ngomong!!! gue minta loe diem!!! jangan ikut campur urusan gue!!! ngerti nggax sich!!!" bentak kevin sambil menghentikan langkahnya, dara langsung diam, kemudian kevin pergi meningalkan dara seorang diri, ia udah nggax perduli lagi walaupun pandangan anak-anak yang lain tak lepas dari memperhatikan nya dan dara.
"aduh, seharusnya gue nggax sekasar itu ama dara, dia kan nggax salah, cuma perhatian ama gue? iiih tapi gue juga nggax bisa diam aja kalau ada yang menghina ani, apa lagi bilang kalau ani itu nggax suka gue, itu nggax boleh terjadi pokoknya ani harus jadi milik gue selamanya, gue nggax percaya dan nggax mau percaya kalau ani udah nggax suka ama gue lagi" kata kevin dalam hati dan terus melangkah meninggalkan dara yang tampak masih syok.
Cerita Remaja Cinta
Saat di kelasnya banyak anak-anak yang tidak berani menatap ani dengan pandangan yang biasa ia berikan ke arah ani, karena selain ani udah jadi cantik banget, ia juga akrab dengan vano, cowok yang selama ini mereka anggap sebagai pangeran berkuda putih.
siang itu saat ani sedang duduk sendirian dengan membaca buku ditangan, fitri, sisi dan desy menghampirinya dengan pandangan menghina seperti biasanya, mereka menatap sinis kearah ani walaupun ani telah berubah menjadi cantik. bahkan lebih cantik dari mereka.
"eh loe sengaja kan ngelakuin ini…." kata sisi kearaha ani.
"maksud kalian apa?" tanya ani bingung.
"alah jangan pura-pura bego deh, loe itu pasti sengaja kan dandan kayak gini, supaya dapat perhatian dari vano, apa belum cukup kevin loe kuasain masih vano juga?" kata fitri.
"ini gue lakuin bukan karena alasan itu kok…" kata ani.
"trus kenapa? apa loe ngelakuin ini karena mau buat kevin bilang suka sama loe seperti taruhan kita. ia!!!" bentak desy ani langsung terdiam "nah bener kan. ha ha ha gue kasi tau ya sama loe. kalau itu alasannya, loe nggax bakal pernah berhasil. karena cewek kayak loe itu nggax pantas dapat cowok sekeren kevin maupun vano. ngerti!!!"
"bukan itu kok alasannya…"
"trus apa? he? apa?… ayo jawab…"
"emang apa masalahnya ama kalian?" kata ani sambil berdiri menantang, karena ia udah nggax tahan dengan perlakuan mereka yang ia anggap udah keterlaluan.
"waht? loe udah berani ama kita ha?! eh seharusnya loe itu nyadar, inget ya, walaupun elo udah berubah penampilan jadi kayak gini, tapi menurut kita loe itu tetap cewek buruk rupa yang selalu ngegodain cowok, tau nggax?!" bentak desy.
"gue nggax perduli. eh, asal kalian tau aja ya, untuk sekarang gue udah nggax perduli lagi kalian mau ngomong apa. sampai sekarang, gue juga masih bingung ama kalian, sebenernya apa sich yang kalian mau dari gue, dulu gue dandan kayak gitu nggax terima, maunya ngehinaaaa aja, dan sekarang gue udah berubah jadi gini tetap juga nggax terima, sebenernya mau kalian tu apa?" kata ani dengan sebelnya.
"loe…"
"apa?" balas ani "dulu gue ama kevin kalian nggax terima, sekarang gue ama vano kalian nggax terima juga?! apa sich yang kalian mau sebenernya?" kata ani mulai berani. yang lain langsung terdiam.
"tetap aja loe itu nggax setia, dulu katanya loe suka sama kevin, sekarang loe udah lihat kalau vano itu lebih kerena makanya loe mau berpindah kelain hati kan?"
"eh gue itu nggax pernah berpindah kelain hati tau nggax. eh asal kalian tau aja ya, gue ama vano itu cuma…" belum sempat ani meneruskan kata-katanya tiba-tiba ada yang memotongnya terlebih dahulu.
"ada apa nich…" tanya seseorang yang berada di sampingnya.
"hendri? loe mau ngehina gue juga…." kata ani dengan sebelnya.
"nggax kok na, gue nggax mau menghina loe, emang yang mau menghina loe itu siapa? loe jangan salah faham ama gue donk, gue ke sini cuma mau negasin ke mereka kalau gue udah bukan temen mereka lagi, ternyata selama ini gue udah salah menilai elo ani, dan semua ini gara-gara mereka. mereka udah menghasut gue na, mereka semua itu ternyata jahat, gue nggax nyangka lho kalau ternyata mereka sejahat itu" kata hendri yang membuat temen-temennya menatapnya nggax percaya.
"hen loe?…."
"apa? jangan kalian fikir gue bisa diam aja kalau kalian menghina ani di depan gue, sebenernya mau kalian itu apa sich, kenapa dari dulu kalian selalu musuhin ani, sebenernya apa sich yang ani lakuin sama kalian sampai-sampai kalian buat dia kayak gini, apa kalian masih sakit hati karena kevin lebih milih ani dari pada kalian, atau kalian nggax terima karena ani lebih cantik dari kalian ha?!" bentak hendri.
"hen loe, kenapa loe belain dia sich… dia itu nggax tau diri…."
"yang nggax tau diri di sini itu kalian, apa kalian masih nggax nyadar juga, kalian bisa nya cuma menghina ani aja ya, coba deh kalian fikirin kenapa kalian segitu bencinnya sama ani, apa salah ani sama kalian…." kata kevin.
"hendri…."
"cukup" kata ani "eh udah ya, kalian kalau emang mau berantem jangan di dekat gue donk, bagi gue kalian semua itu sama, jadi jangan mengkambing hitamkan temannya sendiri, karena kalau kalian lakuin itu maka sama aja kalian itu menghina diri kalian sendiri tau nggax. udah lah hen, gue nggax butuh pembelaan loe kok, gue bisa bela diri gue sendiri kok, jadi gue nggax butuh bantuan elo, lagian gue masih inget kok apa yang loe katakan di lapangan kemaren. jadi loe nggax usah sok baik di hadapan gue…" kata ani dengan sebelnya.
"ani, itu semua karena…."
"gue bilang cukup, ok. udah lah kalian itu semua sama jadi jangan saling menyalahkan" kata ani.
"ani…" panggil vano dari luar "kantin yuk…" ajaknya.
"eh e ia. bentar…" jawab ani "e ya udah ya, gue mau ke kantin, jadi kalau kalian masih mau berantem lagi, silahkan aja di terusin, gue nggax bakal menghalangi lagi kok… udah dulu ya daaaa…" kata ani dan melangkah meninggalkan temen-temennya menuju vano yang telah menunggunya.
Begitu di koridor perempatan jalan, ani melihat kevin yang sedang berjalan berdua bersama dara, langkah mereka langsung terhenti di jalan yang sama, dan tidak ada yang berbicara duluan. kevin melangkah menuju ani dan meninggalkan dara di perempatan koridor kampus.
"ani, kok berhenti?" tanya vano.
"e gue…" ani tidak melanjutkan ucapannya karena kevin udah berada di depannya.
"ani, ikut gue…." kata kevin sambil meraih tangan ani.
"eh apa-apaan nich, loe nggax lihat apa gue udah ngajaknya duluan, loe kalau mau ngajak dia harus izin ama gue dulu, kalau nggax ngantri donk di belakang…" kata vano nggax terima.
"kalau gue mau di sini, loe mau apa? eh, asal loe tau aja ya dia itu pacar gue, jadi suka-suka gue donk mau ngapain, loe nggax suka ha?!" bentak kevin.
"kalau pun loe pacarnya harusnya loe itu punya kesopanan donk, kalau loe mau pacar loe ngehargain elo seharusnya elo hargain dia, loe kasi apa yang harusnya dia ingin kan…" kata vano.
"loe tau apa ha?!" bentak kevin.
"ya gue tau lah, pacar loe itu menginginkan elo untuk….aawwww…" jerit vano karena ani langsung mencubit lengan vano dengan keras yang buat kevin jadi bingung.
"emang apa yang pacar gue ingin kan, kenapa loe bisa tau sementara gue nggax ha?" tanya kevin.
"itu karena elo nggax mau mengerti dia, coba aja loe lebih perhatian ama dia…"
"cukup vano. loe nggax seharusnya bilang kayak gini…" bentak ani.
"tapi ani, dia harus tau apa yang loe ingin kan…"
"udah lah, ini tu nggax penting…." kata ani dengan sebelnya.
"ini ada apa sich… kenapa kalian pada kelihatan ada yang di sembunyikan dari gue, jangan bilang kalau kalian itu pacaran…" kata kevin dengan penuh penyelidik.
"ha e enggak kok…." kata ani dengan cepat.
"sebaiknya loe harus belajar untuk nggax berperasangka buruk dengan pacar sendiri dan mencoba belajar agar loe bisa percaya ama pacar loe, bukan asal menuduhnya kayak gini…" kata vano dengan sebel.
"maksud loe apa… loe fikir gue itu bukan pacar yang baik ha?"
"kalau loe mikir nya gitu, loe nggax salah kok, loe itu kan emang kayak gitu orangnya, bukannya membela pacar loe sendiri juga, ini malah memarahinya, seharusnya loe itu bisa lebih bersikap lembut ama cewek, loe jangan terlalu kasar, karena kalau loe kasar-kasar ama cewek terutama ani gue nggax bakal tinggal diam" kata vano.
"kalau gue kasar sama dia emang urusannya sama loe itu apa, emang loe itu siapanya dia ha?"
"loe nggax tau siapa gue? ya udah kalau loe pengen tau loe cari tau aja sendiri, tapi yang jelas kalau loe masih menganggap dia pacar loe, harusnya loe buat dia untuk jadi cewek yang selalu bahagia bukan malah memperlakukannya kayak boneka, karena kalau itu sempet terjadi loe harus rela kalau gue merebutnya, karena gue nggax akan membiarkan orang yang penting dalam hidup gue itu tersakiti…" kata vano.
"hah, apa? orang yang penting dalam hidup loe… heh tau apa loe tentang arti sebuah dari kepentingan seorang cewek, loe itu kan playboy yang sukanya mainin cewek…" kata kevin dengan sinisnya.
"mendingan kayak gue yang kalau suka bilang dan kalau enggak ya tinggalin, sedangkan elo… loe nyadar nggax sich kalau loe itu nggax pernah mengakuinya… kalau nggax pacar loe nggax mungkin jadi kayak gini…"
"maksud nya?"
"sebaiknya loe harus lebih mengerti cewek, belajar untuk mengetahui apa yang dia inginkan, lagian apa loe pikir loe itu cowok baik-baik? kalau emang ia, kenapa loe jalan ama cewek lain…" balas vano sambil menatap sinis ke arah dara yang tak jauh dari mereka, kevin melihat kearah dara.
"maksud loe dia? dia itu…."
"loe nggax perlu susah-susah menjelaskannya ke gue, karena gue tau kok loe itu cowok kayak apa, alah udah lah nggax usah munafik, kalau loe emang suka sama cewek lain, loe bilang aja terus terang nggax kayak gini caranya… tapi loe inget aja, sekali loe menyakiti ani loe bakal langsung kehilangan dia!!!" tegas vano.
"loe… loe berani…." kata kevin tapi langsung berhenti karena ani menariknnya agar agak menjauh dari vano.
"udah deh, loe apa-apaan sich, berantem nggax jelas kayak gini, mending sekarang loe kasi tau, loe mau apa, gue ada janji ni ama vano untuk makan bareng, jadi gue nggax mau membuat vano menunggu…" kata ani.
"apa??? loe mau makan ama dia…" kata kevin sambil menunjuk ke arah vano yang tanpak tersenyum dengan senyuman kemenangan.
"ia. udah lah loe mau bilang apa, ntar cewek yang bareng loe itu bisa jamuran nungguin elo…." balas ani sambil melirik dara dengan malesnya.
"maksud loe dara…. kita tu cuma…"
"kalau loe cuma mau ngasi tau hal yang nggax penting kayak gitu mending di cencel aja dulu, gue udah laper nich, kasihan vano kalau harus kelamaan nungguin gue…" kata ani.
"an, loe kenapa jadi kayak gini sich, apa ini masih mengenai masalah kemaren atau…"
"ani, kita jadi makan siang bareng nggax…" tanya vano.
"e ia, jadi kok, bentar ya…" jawab ani ke arah vano "e ya udah kev, loe kalau mau ngomong dan apa pun yang mau loe omongin mending di pending aja dulu, gue mau makan ama vano dulu ya…." kata ani dan melangkah meninggalkan kevin sendirian yang tampak kaget "udah kok, yuk…" ajak ani ke arah vano dan melangkah menuju kantin.
"kevin…. loe nggax apa-apa kan…." tanya dara yang datang secara tiba-tiba.
"gue nggax apa-apa kok" balas kevin dan kemudian melangkah pergi, dara mengukutinya.
"kev, loe cemburu ya…." tanya dara.
"loe ngomong apa sich, mana mungkin gue cemburu, ada-ada aja sich…"
"sebenernya loe itu suka sama ani nggax sich, kenapa elo kelihatan nggax cemburu walau ani jalan ama cowok lain di depan loe…." tanya dara.
"bukan urusan elo"
"emang bukan sich, tapi sebagai seorang teman, gue berhak tau, karena kalau loe nggax suka sama ani buat apa hubungan ini kalian lakuin medingan loe putusin dia aja, karena percuma aja hunbungan tanpa cinta kayak gini, masih banyak kok cewek yang mau sama loe, bukan cuma ani aja tau nggax" kata dara.
"gue belum kepikiran untuk memutuskannya…" kata kevin.
"0 ya udah, tapi seharusnya loe nggax tinggal diam kalau di giniin, loe itu kan manusia yang juga punya perasaan. gue nggax tega lihat loe yang kayak di permainkan kayak gini…." kata dara.
"loe emang temen gue yang baik, tapi gue minta sama loe untuk masalah ini aja, tolong loe jangan ikut campur, biarkan gue melakukna hal yang gue ingin kan…"
"ia deh, maafin gue ya…." kata dara, tapi kevin diam saja.
pulangnya ani menuju parkiran bareng vano sambil tertawa akrab dan tanpak kevin kagetmelihatnya ia langsung menghampiri ani yang baru aja tiba di tempat parkiran.
"ani, kita perlu bicara…" kata kevin.
"mau ngomongin apa lagi sich.,…" balas ani.
"loe kenapa sich? kenapa loe jadi kayak gini…"
"gue… gue nggax apa-apa kok, ini cuma perasaan loe aja kali, gue sama sekali nggax kenapa-napa…" balas ani.
"tapi…" kata-kata kevin terhenti saat mendengar kata-kata vano.
"na, gue pulang dulu ya…. inget ntar gue jemput jam setengah tiga, ok" kata vano.
"ia. ya udah sampai ketemu entar ya…" kata ani ke arah vano sambil tersenyum, kemudian vano pergi dengan motornya meniggalkan halaman campus.
"ani, loe mau jalan ama vano?" tanya kevin nggax percaya.
"he-eh, dia kan baru beberapa hari di sini, jadi dia mau minta tunjukin ama gue tempat-tempat yang bagus di sini…" jawab ani "kenapa? loe mau ikut?" tanyanya.
"emang nggax ada orang lain apa? kenapa harus elo?" tanya kevin tanpa menjawab pertanyaan ani.
"ya karena dia bilang kalau gue itu temennya yang bisa di percaya, dan nggax mengaggap dia sebagai seorang cowok playboy, dia tau kalau gue nggax mungkin suka sama dia makanya dia mengaggap gue itu bisa di percaya dari pada yang lain…"
"loe sadar nggax sich, kalau semua ini cuma akal-akalan nya dia aja, dia itu sengaja bilang gitu karena mau jalan ama loe, dia itu cowok brengsek ani, dia cuma mau mainin loe aja, karena gue punya firasat buruk tentang dia…"
"kevin, loe itu nggax boleh bilang kayak gitu, vano itu cowok baik-baik kok, dia nggax pernah macem-macem ama gue, dan saat anak-anak menghina gue dia selalu belain gue…" kata ani.
"apa loe su/ka sama vano…"
"lho, kalau emang gue suka sama dia kenapa? nggax ada masalahnya kan…."
"ani…"
"selama ini yang bilang suka sama gue baru vano aja, jadi nggax ada masalah kan kalau seandainya gue juga…"
"loe nggax boleh suka sama vano…" potong kevin.
"ha ha ha gue cuma bercanda aja kalee, lagian gue nggax suka sama dia kok, tadi gue kan cuma bilang seandai nya, jadi nggax beneran…" balas ani.
"gue nggax perduli loe mau bilang seandainya atau apapun, yang jelas loe nggax boleh suka sama dia…." kata kevin.
"ya udah, gue nggax suka sama dia. sampai kapan pun gue nggax bakal pernah suka sama dia, udah kan…." balas ani.
"ani, gue minta sama loe untuk menjauhin vano"
"lho kenapa? vano itu baik kok, dia itu temen gue…"
"tapi dia itu nggax sebaik yang loe fikirkan… dia itu cuma mau mainin loe aja ani, loe harus percaya ama gue, dia itu bukan cowok baik-baik, dia punya pacar di manapun dia tinggal jadi…"
"kevin, gue tau kok, dia itu kayak apa, jadi loe nggax perlu susah-susah kasi tau gue, tapi gue harap walaupun loe nggax suka sama orang jangan kayak gini donk caranya, vano itu nggax terlalu jahat kok…. menurut gue apa yang dia lakuin nggax salah" kata ani.
"apa loe bilang? nggax salah? loe bilang cowok yang selalu mainin cewek itu nggax salah? loe sadar nggax sich…"
"ya sadar donk, abis vano ngelakuin itu kan cuma karena cewek itu aja yang kecentilan, kalau ceweknya nggax kecentilan juga vano nggax mungkin mau ngegodanya…" kata ani.
"loe itu sebenernya siapa nya vano sich… kenapa loe seperti tau segalanya tentang dia…." tanya kevin.
"ya gue itu temennya, emang loe mau gue itu jadi siapanya ha? kita itu cuma sebatas temen aja kok, dan nggax lebih…." kata ani.
"tapi tindakan elo itu udah lebih dari pada temen ani…"kata kevin.
"maksud loe…"
"loe sadar nggax sich, kalau pembelaan loe terhadap vano itu terlalu berlebihan…"
"yang berlebihan di sini itu elo kev, elo terlalu berlebihan menganggap gue itu suka sama vano, kita tu cuma teman, sama kayak loe ama dara, kalian kan cuma temen begitu juga dengan gue…."
"tapi kita beda na, dara itu nggax seperti vano. dara itu tulus jadi sahabat gue…."
"0 jadi menurut loe vano nggax tulus gitu? kalau gitu menurut loe, loe salah kev, bahkan loe salah besar, vano itu baik, dia nggax seburuk yang loe fikirin"
"tapi kenyataannya…. loe lihat sekarang baru sehari aja loe kenal vano dia udah bisa merasuki elo untuk tetap membela dia…"
"tapi itu lah kenayataanya kev, vano itu emang baik dia nggax seburuk itu…."
"ani loe itu terlalu polos, hingga loe bisa di bohngin ama siapa aja…"
"ia, termasuk ama loe, ia kan? loe mau bilang gitu kan kev?"
"kenapa jadi loe yang nyalahin gue…"
"ya karena ini emang salah loe, gue gini gara-gara loe, udah lah ini udah siang. gue mau pulang…"
"ani gue belum selesai bicara…."
"ya udah di tunda aja buat besok, karena kalau loe sealalu nyalahin vano urusan kita nggax bakal bisa selesai, loe tau kan ini tu bukan salah vano jadi loe nggax boleh nyalahin vano…" kata ani dan siap mau pergi tapi di halangi ama kevin "aduuuh loe mau apa lagi sich…." tanya ani.
"maksud loe bilang ini semua nya salah gue itu apa? emang apa yang udah gue lakuin…" tanya kevin bingung.
"ya loe fikir aja sendiri, tapi yang jelas ini semua nggax ada hubungannya ama vano, udah ya daaaa…" kata ani dan melangkah menuju mobilnya, meninggalkan kevin sendirian di tempat parkiran.
Next cerpen romantis buruan katakan cinta part 5.

Random Posts

  • Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal Ending

    Akhirnya cerpen Rasa yang tertinggal bisa ending juga. Ngomong ngomong, walaupun sudah ending cerpen ini bisa juga di jadikan sebagai kisah before story untuk karya selanjutnya lho. Tepatnya itu cerpen tentang rasa yang kebetulan emang gabungan dari cerpen ini dan cerpen tentang aku dan dia. Untuk jelasnya baca sendiri aja. Oh iya, hampir aja lupa. Untuk yang belum baca bagian sebelumnya mendingan baca dulu. Biar nyambung sama jalan ceritanya gitu. Biar gampang bisa langsung lewat sini. Rasa Yang TertinggalCeritakan tentang seorang wanita yang ditinggalkan kekasihnyaDan dia menangis dalam pelukanku, kusadar dia bukan miliku.Dia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi meninggalkannyaDia bercerita tentang kekasihnya, yang telah pergi menutup mata.Kekasihnya telah pergi meninggal kan dia.Tinggal deraian air mata.Sesungguhnya ku tak rela melihat dia terlukaJadikan aku pengantinya.________ By _ kangen band*** Cerpen Cinta | Rasa yang tertinggal ***Sepi. sepi, tenang dan sunyi. Hanya ada hembusan angin yang berhembus pelan. Seolah ikut merasakan kepediahn sepasang anak manusia yang masih terisak di depan gundukan tanah yang masih basah di sebuah area pemakaman.“Udah Al, ayo kita pulang. Relain dia pergi dengan tenang,” walaupun sesungguhnya rasa sakit masih sangat ia rasakan tapi ia tau. Ia tidak boleh terlalu terhanyut kedalamnya karena ia sadar saat ini Alan pasti merasakan berkali – kali lipat sakitnya.“Kenapa harus dia yang pergi?” tanya Alan yang lebih tepat jika disebut rintihan.“Al, maafin gue…" hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Walau tak urung ia juga merasakan pertanyaan yang sama. Kenapa harus sahabatnya yang pergi? Kenapa gadis itu harus menyelamatkanya yang justru malah mencelakakan dirinya sendiri?“Kenapa? Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa dia harus pergi tanpa mendengarkan alasan gue. Alasan kenapa gue lebih memilih orang yang gue cintai?" rentetan kata keluar dari mulut Alan. Septia, yang sedari tadi menemaninya bahkan setelah para pengunjung lain pergi hanya mampu menutup mulutnya. Meredakan tangis yang sedari tadi ia bendung."Gue milih orang yang gue cintai adalah karena orang itu adalah sahabat gue sendiri. Tapi kenapa dia harus pergi tanpa tau kalau orang yang gue cintai itu dia? Kenapa Tifany harus pergi tanpa tau kalau gue mencintainya," isak Alan menumpahkan kepedihan dan penyesalannya. “Al, Please jangan kayak gini…" Septia ikut berlutut di samping Alan yang masih duduk terisak.“Gue cuma pengen dia tau Sep. Dan gue juga ingin tau, gimana perasaan dia selama ini?” rintih pria itu tak bertenaga.Septia terisak. Sebelah tanganya ia gunakan untuk menyeka air mata sementara tangan yang lain ia gunakan untuk membuka tas. Mengeluarkan sebuah buku berwarna pink dari dalam baru kemudian ia sodorkan kearah Alan sembari mulutnya berujar. "Dia cinta sama loe Al."Kalimat itu tak urung membuat Alan menoleh. Tak mengerti dengan maksut ucapannya. Lebih heran lagi ketika melihat diary yang Septia tujukan untuknya."Tifany suka sama loe. Dia beneran suka sama loe. Dia ingin loe bahagia karena dia pikir loe beneran suka sama gue. Al, maafin gue… Gue… Hiks hiks hiks," Septia tidak sangup menyelesakan ucapannya. Akhirnya ia memilih meraih tangan Alan, meletakan buku itu tepat di tangannya. Saat itulah Alan mulai mengerti. Cover diari itu bertuliskan nama Tifany. Dengan tangan bergetar di raihnya benda tersebut. Membuka satu demi satu lembarannya. Kata yang tertera membuat penyesalanya makin terasa berkali kali lipat. “Ayo Al. Kita pulang,” bujuk septia lagi.Kali ini Alan mengalah. Dengan berat hati ia beranjak dari duduk dengan bantuan Septia yang memapahnya. Tenaganya terkuras habis. Namun sebelum benar benar berlalu, dikeluarkannya sebuah kotak kecil dari dalam saku baru kemudian di buka dengan perlahan. Sebuah lionti bintang kini ada di tangan. Dengan hati – hati ia letakan benda tersebut di atas batu nisan. Batu nisan yang dengan ukiran nama Tifany di atasnya. Lengkap dengan tanggal lahir dan wafatnya. Untuk sejenak ingatannya kembali ke saat ia bersama Tifany beberapa waktu yang lalu. Saat ia menanyakan alasan kenapa Tifany menganggap kalau liontin itu menarik.“Karena liontin ini berbandul bintang. Bintang yang akan mengingatkan pada seseorang. Bahwa walaupun jauh, ia tetap bercahaya. Walaupun kadang menghilang, ia selalu ada. Tak mungkin di miliki, Tapi tak bisa di lupakan. Dan akan selalu ada didalam hati kita."'Seperti sahabat', dua buah kata yang Alan temukan sebagai tambahan di akhir buku diary Tifany.“Sahabat. Bahkan sampai akhir status kita tetap sebagai sahabat. Tapi gue tetep pengen minta maaf sama loe. Sebuah kata maaf yang tidak sempat gue ucapkan ketika loe masih hidup. Maafin gue Fan, yang terlalu bodoh telah nyaitin elo."“Cukup Al, ayo kita pulang,” ajak Septia sambil menarik tangan Alan. Atau menyeret lebih tepatnya. Ia sudah tidak tahan. Hatinya terlalu sakit bila terus berada di sana. Berjuta penyesalan ia rasakan. Menyesali kebodohannya dan Alan akan permainan mereka selama ini. Dari awal ia dan Alan memang sengaja melakukan kebodohan ‘ cokelat ‘ hanya untuk mencari tau tentang perasaan Tifany yang sesungguhnya. Namun sayangnya, saat mereka sudah menemukan jawabannya, Tifany sudah terlanjur pergi. Terlanjur pergi meninggal kan sebuah rasa. ‘Rasa Yang Tertinggal'.Ending…Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 05 Of 05Jumlah kata : 665 WordsGenre : Remaja

  • apa aja

    hem, setelah aku pikir-pikir ternyata semakin kita mempelajari sesuatu semakin banyak yang kita tau kalau masih begitu banyak yang tidak kita ketahui *he he he, bingung ya?/sama*. seperti yang aku rasakan saat ini. semakin aku belajar, aku makin bingung. kok makin banyak yang aku ngak tau ya. sementara yang mau di tanyain nggak ada *kecuali mbah google sih*. tapi tetap saja aku tidak bisa hanya belajar berdasarkan dari mbahku itu. siapa aja, bantuin aku donk…. jadi guru prifate pribadi aku… yang gratis tapi. ke ke ke. *apa sih?. kok jadi ngelantur gini*.sebagian

  • Cerpen Cinta | Rasa yang Tertinggal ~ 04 / 05

    Nah, satu part lagi sebelum cerpen cinta rasa yang tertinggal ini ending ya. Masih kisah seputar cinta terpendam Tifany. So buat yang penasaran sama kelanjutan kisah mereka bedua bisa langsung simak kebawah. Dan untuk yang baru mau baca, bagusan kalau baca dulu bagian sebelumnya biar nyambung yang bisa langsung klik disini.Rasa Yang Tertinggal“ DOOORR!!!”.Alan kaget mendengar teriakan barusan. Kaget yang benar benar kaget, karena kebetulan selain sedang melamun ia juga tidak menduga kalau orang yang sedang di lamunkan akan menyapanya. Tidak, setelah melihat sikap anehnya tadi malam. "Ehem, gue boleh duduk disini kan?" tanya Tifany sambil tersenyum kiku. Apalagi ketika melihat tatapan Alan yang hanya diam menatapnya. Mencoba untuk bersikap santai, gadis itu segera duduk di sampingnya. Pandanganya lurus kedepan. Memperhatikan jalanan depan kampus yang tampak sedang rame ramenya. “Oh ya, soal sikap gue tadi malam. Sorry ya," kata Tifany nyaris bergumam. Matanya masih menatap lurus kedepan walau ia yakin Alan pasti sedang menatapnya heran. Sama seperti reaksi Septia tadi pagi saat ia mengucapkan maaf padanya."Loe kok diem aja? Marah ya?" jengah karena merasa sedari tadi ia seperti sedang ngomong sendirian, Tifany menoleh kearah Alan. Pria itu tidak langsung menjawab. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Tifany sama sekali tidak bisa menebak."Gue nggak marah," akhirnya Alan buka mulut setelah beberapa saat kemudian. "Cuma jujur gue merasa heran. Loe nggak biasanya gitu. Loe emangya kenapa? Ada masalah?" sambung Alan hati – hati.Tifany tersenyum sembari angkat bahu. Kepalanya kembali menatap kearah jalan sembari mulutnya bergumam santai. "Sedikit, ceritanya tadi malam itu gue lagi patah hati.""Patah hati?" ulang Alan terkejut. Tifany membalas dengan anggukan.Kali ini Alan tidak tau harus berkomentar apa. Matanya masih tertuju kearah wajah gadis yang duduk tepat di sampingnya. Berharap bisa mendengar cerita lebih banyak. Terus terang, saat ini ia benar benar kaget."Kemaren gue baru tau, kalau orang yang selama ini gue suka, ternyata diam – diam sudah punya pacar dan menjalin hubungan dengan cewek lain.” terang Tifany masih tanpa menoleh. Pandangannya urus kedepan. Menatap kendaraan yang terus berlalu lalang. Seolah – olah hal itu sangat menarik untuknya.Alan masih terdiam. Ia menatap miris gadis di sampingnya. Tatapannya kosong. Tapi Alan dapat melihat matanya yang berkaca –kaca. Sungguh, Alan tau bagaimana perih luka yang di rasakan Tifany. Bahkan ia berani bersumpah demi apapun, saat ini ia tau dengan pasti bagaimana sakitnya. Saat orang yang dicintai ternyata mencintai orang lain.“Dia siapa? Kenapa loe nggak pernah cerita sama gue?” tanya Alan lirih yang lebih mirip jika di sebut gumaman.“He he," Tifany tertawa sumbang. "Gimana gue bisa cerita kalau sebelum gue cerita loe pasti udah nyerocos duluan soal Septia,” protes Tifany setengah bercanda tapi hal itu justru membuat Alan merasa lebih bersalah. Diam – diam di masukannya kembali sebuah kotak kecil yang sedari tadi ada ditangannya kedalam saku. Kemudian tangannya beralih mengengam tangan Tifany. Erat, Sangat Erat.“Fan, gue…"“Udahlah, loe tenang aja. Gue udah baikan kok. Lagian septia itu kan sahabat gue juga. Anaknya baik lagi. Gue bisa jamin loe nggak akan menyesal kalau bisa jadian sama dia,” potong Tifany yang lagi – lagi membuat Alan terdiam. Gadis itu menatap sahabatnya sambil tersenyum. Tapi gue yang pasti akan merasa menyesal karena udah kehilangan loe Al," sambungnya dalam hati.“Oh ya Al. Gue boleh nanya sesuatu sama loe nggak? Tapi loe harus jawab dengan jujur ya?" Tifany kembali buka mulut setelah lama keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing – masing.“Apa?" Untuk Sejenak Tifany menarik nafas dalam – dalam sembelum kata – kata itu meluncur mulus dari mulutnya.“Antara cinta dan sahabat. Loe pilih mana? Sahabat loe, atau orang yang loe cintai?”"Loe apa banget sih," Alan merasa terusik dengan pertanyaan itu. "Yee, gue kan cuma nanya," Tifany memajukan mulutnya kesel. "Lagian loe kan tinggal jawab apa susahnya coba. Loe tinggal pilih cinta atau sahabat?” "Tapi kenapa gue harus memilih?" Alan masih terlihat diak nyaman."Ya gue bilang kan ' Seandainya'. Udah, loe jawab aja. Buruan!"Lama Alan terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang harus ia berikan. Setelah menghela nafas untuk sejenak, mulutnya menjawab dengan tegas. "“Gue akan memilih orang yang gue cintai."Lagi – lagi Tifany tersenyum. Senyum yang tak jelas apa maknanya. "Gue boleh tau alasannya?"“Gue punya dua alasan. Pertama, karena menurut gue seorang sahabat tidak mungkin akan meminta gue untuk memilih. Bahkan gue yakin tanpa diminta pun dia akan mendukung gue untuk mendapatkan orang yang gue cintai," balas Alan sambil membalas tatapan Tifany yang masih terkunci untuknya. Lagi – lagi Tifany tersenyum. Kepalanya perlahan mengangguk paham. Alan benar, seorang sahabat tidak punya hak untuk memintanya memilih. Ia merasa sangat konyol karena sebelumnya berharap Alan akan memberikan jawaban yang berlawanan. Namun begitu, tak urung dadanya kembali sesak. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan kehadapan.“Dan yang kedua…"Alan tidak sempat menyelesaikan ucapanya karean Tifany sudah terlebih dulu bangkit berdiri. Bahkan gadis itu langsung berteriak sembari berlari."Septia, awas!"Masih tidak mengerti, Alan mengalihkan pandangannya. Sosok yang sedari tadi duduk disampingnya kini berlari dengan cepat meninggalkannya. Untuk sejenak, Alan terpaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat mengetahui alasan Tifany melakukan hal itu. Tak jauh di depannya tampak Septia yang dengan santai menyeberang jalan dengan headset yang terpasang di telinga tanpa menyadari dari arah kanan tampak sebuah bus yang melaju dengan kencangnya."Brank!"Suara tabrakan disusul dengan suara teriakan orang orang di sekeliling segera terdengar. Sementara Alan malah terpaku. Ia tahu harusnya ia segera berlari untuk membantu, tapi sayang tubuhnya kini justru diam tak bergerak. Tatapannya kosong ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan gadis yang di cintainya kini terbaring setelah sebelumnya terlempar jatuh dengan bersimpuh darah. Seorang gadis yang sangat ia cintai. Dan demi Tuhan, kali ini Alan benar – benar merasakan dunianya telah gelap.Next to last part cerpen cinta rasa yang tertinggal.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 04 Of 05Jumlah kata : 882 WordsGenre : Remaja

  • Cerita Pendek “mungkinkah”

    Santai sembari dengerin musik yang mengalun di youtube kadang emang bisa memberikan inspirasi tersendiri. Buktinya cerita pendek mungkinkah ini bisa tercipta. Yah walau sekilas terlihat kayak nggak mungkin banget bisa menjadi nyata. Tapi ya gimana lagi. Namanya juga cerpen bebas ya kan?So, buat yang udah penasaran sama cerpen ini mendingan langsung baca aja deh guys. And buat yang udah baca, jangan lupa ya tinggalin kritik sama sarannya. Biar kedepannya bisa nulis lebih baik gitu…. Mungkinkah?"Hoam….."Thalita segera merengangkan otot – otot tubuhnya. Dipandanginya sekeliling dengan kondisi kesadaran yang masih di bawah rata rata. Sejenak di kucek – kucek matanya, Kenapa rumput semua ya?. Mungkinkah ia sedang bermimpi. Otaknya segera ia paksa untuk berkerja dengan kekuatan penuh ala Jimmy Neutron. Setelah beberapa saat barulah ia ingat. Tadi ia kan emang sengaja bolos dan memilih menyendiri di taman belakang kampus karena matanya benar – benar ngantuk. Pasti karena tadi malam ia hanya sempat tidur kurang dari tiga jam demi untuk menyelesaikan membaca novel romantis favoritnya."Hoam…."Sekali lagi mulutnya terbuka lebar untuk menghilangkan sisa – sisa rasa mengantuknya. "Masa cewek dengan santai tidur di bawah pohon, juga menguap selebar itu.”Refleks Thalita menoleh. Tak jauh darinya tampak seorang anak manusia berjenis kelamin cowok duduk tak jauh darinya yang kini sedang menatapnya lurus. Dahi Thalita juga tampak berkerut tanda heran. Perasaan tadi tidak ada siapa – siapa. Jangan jangan….."SETAN!!!!!!" jerit Thalita sekenceng – kencengnya sebelum kemudian sebuah tangan membekap mulutnya rapat – rapat."Nggak ada setan di dunia ini yang sekeren gue.”Suasana hening. Sebenernya Thalita masih ingin menjerit tapi karena mulutnya masih di pikep (???) ia hanya mampu menjerit dalam hati. Kemudian dengan cepat ia majukan wajahnya sehingga kini wajah mereka hanya berjarak tak kurang dari sejengakal."Loe yakin loe keren?" tanya Thalita sambil memperhatikan sosok yang ada di depannya dengan seksama. "Tapi kalau di lihat dari deket gini kok kayak banyak jerawatnya ya?" sambung Thalita lagi tetap dengan memasang wajah 'polosnya.Bekapan mulutnya kontan terlepas. Cowok itu juga dengan cepat memundurkan wajahnya. Berusaha memperjauh jarak diantara mereka. Setelah beberapa saat terdiam, ia segera bangkit berdiri dan berlalu pergi. Tapi sebelum itu Thalita masih mampu mendengar gumaman lirihnya."Dasar cewek aneh.”Thalita hanya mencibir. Dalam hati membalas "Loe lebih aneh, udah muncul tiba – tiba. Sok – sokan narsis lagi. Huuu…”Begitu sang cowok hilang dari pandangan, Thalita segera bangkit berdiri. Matanya menatap kekanan dan kekiri. Sepi. Sepertinya kelas sudah berakhir. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera pulang kerumah.Keesokan harinya dengan mindik – mindik (???) Thalita mengintip kelasnya dari jendela. Hado….. Dosen kepala botaknya sudah nangkring di depan kelas. Itu artinya ia sudah jelas – jelas terlambat. Digigitnya ujung kuku jari telunjuk. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan jika sedang berpikir. Akhirnya di putuskan, dari pada dimarahin karena terlambat mendingan nggak usah masuk sekalian. Saat ia berencana untuk berbalik pergi terdengar suara bisikan yang terdengar tak jauh dari telinganya."Hayo… Mau bolos lagi ya?"Thalita menoleh. Kedua matanya yang bulet dan bening itu tampak berkedip – kedip. Mulutnya masih terkunci. Antara kaget dan shock. Tapi beberapa saat kemudian."SETAN!!!!!"Jeritan yang ia lontarkan tidak hanya membuat sosok yang ada dihadapannya terlonjak kaget tapi juga seisi kelas yang langsung menoleh kearahnya. Dengan cepat sebuah tangan membekap mulutnya yang masih mengeluarkan suara yang berpotensi membuatt seseorang terpaksa berusuran dengan dokter THT."Gue pernah bilang, nggak ada Setan di dunia ini yang sekeren gue," kata Cowok di hadapanya yang tampak kesel akan rekasinya yang dinilai bener – benar berlebihan."Terus kenapa loe bisa muncul tiba – tiba?" tanya Thalita setelah berhasi melepaskan bekapan mulutnya."Bukan gue yang datang tiba – tiba, tapi elo yang selalu terlambat menyadarinya.”Mulut Thalita sudah terbuka, siap mau balas. Tapi suara si Master botak sudah terlebih dahulu menginteruspinya."Ehem… ehem… ehem….""Eh, Bapake theneng nang kene…?"Saking saltingnya bahasa nenek moyang keluar. Untuk sejenak Thalita terdiam mendapati kening orang – orang di sekelilingnya yang terlihat berkerut bingung. Dan ia hanya mampu tersenyum kaku tanpa ada niatan untuk menjelaskan arti ucapannya barusan."Thalita, kamu kenapa?""Oh tadi dia mau bolos pak. Untung ketahuan sama saya.”Thalita menoleh. Tatapan tajam setajam silet ia lemparkan, Tapi yang ia dapatkan hanya balasan senyum tiga jari ala kelinci. #Emang ada?"Enggak kok pak. Beneran saya nggak mau bolos. Sumpah jadi orang kaya saya ngomong jujur. Ini orang aja pak. Yang nggak tau siapa, dari mana datangnya, serta di ragukan wujudnya kalau ngomong suka ngasal," balas Thalita cepat. Saking cepatnya sampai mengucapkannya juga hanya dengan satu tarikan nafas. Hebat….."Apa benar begitu?"Kali ini Thalita hanya membalasnya dengan anggukan kepala."Bener pak, tadi itu saya cuma telat. Makanya rencananya saya malah nggak masuk sekalian. Eh malah ketauan," terang Thalita terdengar mengeluh.Untuk beberapa saat suasana hening sampai tiba – tiba cowok yang tadi memergokinya tertawa nggakak disusul oleh hampir seluruh penghuni kelasnya. Thalita masih terdiam sekaligus heran. Tapi begitu mendapati tatapan tajam dari makhluk botak dihadapannya baru lah ia menyadari ucapannya barusan. Dan ia hanya mampu memberikan senyum kaku sekaku kakunya. Dalam hati ia meratap."Emang menderita punya otak pas – pasan. Sama menderitanya seperti saat sampai di terminal, pas keretanya berangkat.”Cerita Pendek Mungkinkah?"Hufh…"Tanpa memikirkan rumput yang kotor, atau celana yang ia pakai akan terkena debu, Thalita mendaratkan tubuhnya dengan santai. Di usapnya keringat yang menempel di wajahnya hanya dengan ujung bajunya tanpa perlu repot – repot mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Cape?. Tentu saja!. Karena insident yang terjadi tapi pagi, saat ini ia harus berada di halaman kampusnya lengkap dengan sapu lidi di tangannya. Tentu saja bukan untuk tidur, melainkan harus menyapu daun – daun yang dengan kurang ajarnya berguguran mengotori halaman sebagai hukuman."Cape? Nih minum," sebuah potol pocari sweet tiba – tiba nongol di hadapannya. Tanpa komando mulutnya langsung terbuka untuk berteriak."SET……..!!!!""Harus berapa kali si gue bilang gue bukan setan," rutuk sosok yang tadi mengulurkan minuman itu sambil duduk di samping Thalita dengan santai. Nggak bisa di bilang santai juga si sebenernya. Karena kedua tangannya tampak sedang di gunakan. Yang satu untuk memegangi botol, dan yang satunya membekap mulut Thalita seperti biasa. "Kalau loe emang bukan setan kenapa loe selalu muncul di hadapan gue dengan tiba – tiba?" tanya Thalita kesel."Bukan gue yang tiba – tiba, tapi elo yang tidak pernah berusaha menyadarinya.”Thalita terdiam. Perasaannya aja atau memang kalimat itu punya arti yang lain. Arti yang lebih mendalam gitu. Apalagi kalimat itu di ucapkan dengan pandangan yang menerawang jauh. Seperti orang yang lagi sedih."Thalita, gue suka sama loe….”"Mustahil. Kita baru kenal. Ralat, gue nggak kenal sama loe," balas Thalita cepat. Secepat yang bisa ia lakukan tanpa perlu berpikir sama sekali. Lagian mana ada orang yang ngaku suka dengan ekpresi sesantai itu."Itu karena loe nggak mau kenal sama gue. Loe nggak tau kan kalau selama ini gue selalu di samping loe. Memperhatikan dan mengagumi, dan mengikuti dari jauh. Gue tau semua tentang loe. Apa yang loe suka, kebencian loe akan hujan. Bahkan gue tau kebiasaan loe yang suka menggigit kuku jari di saat bingung.”Mulut Thalita terbuka tanpa suara. Maksutnya…."Secret admirer," sebelum Thalita sempat menebaknya, cowok itu sudah terlebih dahulu mengungkapkannya."Gue emang pengemar rahasia loe. Maksut gue selama ini. karena kali ini gue pengen ngungkapin langsung," sambung pria itu yang makin membuat Thalita membatu. Ia tidak sedang bermimpikan?"Thalita, gue cinta sama loe. Loe mau kan jadi pacar gue?” Kata – kata yang di ucapkan dengan tegas itu seolah menghipnotisnya. Tanpa sadar Thalita mengangguk. Walau tak urung hatinya bergumam."Hei, Mungkin kah ada kisah seperti ini????"Ending….!!Detail CerpenJudul cerpen : MungkinkahPenulis : Ana MeryaPanjang cerita : 1166 kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*