Cerita Remaja Cinta Buruan katakan cinta ~04 {Update}

Dalam setiap kisah tertulis begitu banyak cerita. Kali ini akan kah tertulis kan kisah ku? * by Star Night*
Oke, biar gak bingung n mumpung penulis sedang baik (??) untuk part sebelumnya bisa langsung di baca di Cerpen Romantis Buruan katakan cinta part 3.
Happy Reading…

Credit Gambar : Ana Merya
Setelah hampir seminggu ani tidak masuk kuliah dan tidak ada di rumahnya selama itu juga kevin udah seperti orang gila, kerjaan nya tidak ada lain, hanya menunggu hanponenya kali aja ani menelponenya tapi ternyata dugaannya salah ani tidak menelponenya sama sekali. kevin terus mencoba menghubungi ani tapi bukan hanya tidak diangkat tapi hanpone ani sekarang tidak aktif, dan kevin makin menjadi strez.
Banyak yang mencoba menghibur dan menenangkannya tapi kevin tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari hanponenya, banyak juga mahasiswi-mahisiswi yang mendekatinya sekadar sok perhatian tapi semuanya di cuekin termasuk dara.
Ehem, iklan dulu ya, kali aja ada yang mo ngeklik. he he he
Tiba – tiba suasana kampus heboh. Pasalnya ada murid pindahan baru di kampus, seorang cowok yang sangat keren dan begitu anak-anak melihatnya bakal langsung jatuh hati, cowok itu yang tak lain adalah vano, yang terkenal dengan ke playboyan nya, yang sering di juluki playboy cap gayung, karena semuanya di ambil. pokoknya playboy yang hanya dalam waktu satu minggu ia udah bisa memutuskan hubungan dengan pacarnya paling sedikit sepuluh orang. *Suwer pada bagian ini Star Night pun bingung?*.
Tapi walaupun vano terkenal dengan playboy cap gayungnya, tetap saja masih banyak cewek-cewek kecentilan yang mendekatinya sekadar memperhatikan ketampanan vano. baru aja tiga hari di kampus barunya, vano udah bisa memutuskan hubuangan dengan mahasiswi sekitar sepuluh orang . Tapi apapun itu, kekerenan vano membuat mahasiswi yang lain tidak bisa tidur semalaman, dan jika vano lewat semuannya akan pasang wajah manis agar mendapat perhatian dari sang cowok idola.
Cerpen Remaja Cinta
Pagi itu tepat dua minggu setelah kepergian ani, vano masih juga di kerubungi cewek-cewek, saat itu hari masih lumayan pagi, vano memarkirkan motornya di parkiran motor, saat ia turun dari motornya datang sebuah mobil yang baru masuk keparkiran, vano memperhatikannya hingga pemiliknya keluar dari mobil.
Semua mata terpana melihat kedatangan sang pemilik mobil, karena sang pemilik mobil adalah seorang cewek yang sangat cantik dan tak lain adalah ani?! . tapi bukan itu yang membuat yang lain pada kaget melainkan ani yang berubah drastis jadi cewek yang super cantik, rambutnya yang dulunya di ikat kini terjurai panjang tanpa poni yang menutupi mata, ani juga melepas kacamata minusnya, buku yang di bawanya tidak lagi menutupi langkahnya, kini ani bener-bener telah berubah. jalanan nya juga tidak lagi menunduk.
Ani berjalan memasuki kampusnya tapi tatapan mahasiswa-mahasiswi tidak lepas dari nya termasuk vano, cowok playboy kelas atas itu. vano langsung berhenti di tempatnya ia seperti terpaku dengan tanah yang di pijaknya, yang dia lakukan hanya menatap ani dengan pandangan kagum. ia merasa pernah mengenali bidadari yang baru turun dari mobilnya, ani udah benar-benar mirip dengan cinderella.
"elo..?!"
Kata ani dan vano hampir bersamaan begitu mereka bisa melihat dengan jelas dan mengenali satu sama lain, lalu mereka tertawa bersama, sambil ber high five. banyak anak-anak yang kaget melihat keakraban mereka ada yang jeaolous ada juga yang iri. pokoknya mereka bener-bener kaget. terutama para mahasiswi karena mereka yang pertama kali melihat vano saja selalu di cuekin. ini… ani yang dulunya terlihat sangat kuper kenapa bisa akrab dengan vano cowok playboy kelas atas itu. dan yang makin membuat mereka kaget adalah ani sekarang sangat berbeda jauh dengan ani yang dulu, bahkan kalau di bedakan mungkin ani lebih cantik dari pada madona kampus, siapa lagi kalau bukan dara.
"eh, jalan yuk….." ajak vano.
Ani langsung mengangguk dan melangkah bersama vano menuju kelasnya. tanpa di sangka tanpa di duga ternyata oh ternyata…. kevin ada di tempat parkiran saat hal itu terjadi (maksudnya ani yang tampak akrab dengan vano dan penampilan ani yang beda).
Tanpak kevin sangat kaget dengan itu semua dan mungkin ia tidak bisa percaya begitu saja kalau cewek cantik bahkan super cantik yang tak lain adalah ani itu bisa akrab sama vano sang playboy kelas atas alias playboy cap gayung.
"kevin… loe kok masih di sini? masuk yuk" ajak dara. kevin hanya mengangguk dan berjalan mengikuti dara. saat di perjalanan menuju kelasnya kevin melihat ani yang tertawa akrab bersama vano, jelas terpancar kecemburuan di mata kevin.
"kev loe udah selesai tugas dari bu vivi?" tanya dara, kevin hanya diam saja dengan terus memperhatikan ani yang tanpak akrab bersama vano "kev… kevin. loe dengerin gue nggax sich?" tanya dara lagi.
"eh iya. apa tadi?" tanya kevin kaget.
"loe udah selesai tugas dari bu vivi belum?" ulang dara.
"oh udah kok" jawan kevin.
"loe kenapa? kok wajah loe merah gitu, loe cemburu ya liat ani ama vano berdua?" tanya dara.
"engax. siapa juga yang cemburu" kata kevin.
"kalau loe cemburu itu ma wajar kali kalian kan masih pacaran. kalau nggax ya terserah"
"nggax kok, gue sama sekali nggax cemburu" jawab kevin.
"tapi mata loe itu lho. mata loe itu udah menandakan kalau loe itu cemburu ama mereka"
"gue bilang gue nggax cemburu!!!" bentak kevin. dara langsung kaget dengan bentakan itu tapi kevin santai aja "jangan sok tau deh loe" lanjutnya.
"maaf… tapi guekan emang tau and gue itu seriuz. yang bilang gue lagi bercanda itu siapa? orang gue serius juga. tapi kalau gue boleh kasi pendapat sich sebaiknya loe putusin aja ani karena…"
"nggax" potong kevin cepat "sampai kapan pun ani nggax bakal gue putusin, terserah dia mau ngapain yang penting gue nggax bakal mutusin dia" lanjutnya.
"ya itu sich terserah loe. kalau loe nggax mau juga nggax apa-apa kok, gue nggax maksa, lagian itu kan cuma pendapat umum aja, coba deh loe lihat sekarang ani itu udah beda banget kayak dulu, apa lagi sekarang dia akrab ama vano, bukan gue mau bilang kalau vano itu lebih keren dari pada loe ya. tapi, coba deh loe fikir, yang ngejar vano itu lebih banyak jadi kali aja ani…"
"ani bukan cewek yang kayak gitu" potong kevin.
"ya itu kan dulu, sekarang tu beda kev, ani udah jadi cewek cantik, siapa pun yang dia mau dia bisa dapatin dengan wajah secantik sekarang. mungkin aja sekarang dia juga jadi…"
"ani nggax mungkin jadi cewek kayak gitu… dia itu pacar gue"
"kalau dia masih nganggep loe itu pacarnya harusnya dia itu memberikan loe kesempatan untuk menjelaskan, bukan asal pergi gitu aja"
"tapi ini kesalahan gue, jadi gue pantas kok menerimanya kalau sampai ani marah"
"tapi semuanya kan bisa di bicarakan. kalau dia suka sama loe pasti dia bakal percaya sama loe, dan sekarang nyatanya dia malah ninggalin loe gitu aja, tanpa mementingkan perasaan loe dia malah akrab ama cowok lain, di depan loe lagi. mungkin bener kalau dulu ani itu suka sama loe tapi sekarang…. orang itu bisa berubah kapan pun dia mau kev, contohnya sekarang baru dua minggu lalu ani berpenampilan yang maaf ya bisa di bilang katro' dan sekarang dia udah jadi cewek yang cantik bahkan sangat cantik, jadi dia pasti bisa mendapatkan cowok kayak siapa pun yang dia suka"
"tau deh. gue pusing" kata kevin.
"tapi kev, ani itu…"
"cukup dara cukup. loe itu jangan manas-manasin gue terus donk" kata kevin.
"lho ini tu kenyataan kev, coba deh loe fikir sekarang ini loe kelihatan sedih banget bahkan sangat tersiksa dan loe kayak di campak kan gitu aja, apa ani pernah mementingkan perasaan loe, kalau ia dia nggax bakal deket ama cowok lain selain elo, dan pergi tanpa pamit sama loe, kalau dia masih menganggap loe itu pacarnya dia pasti bakal memberi tau loe…"
"udahlah gue bilang cukup!!!"
"kevin, loe itu terlalu baik untuk cewek kayak ani, kalau ani masih menganggap loe pacarnya dia pasti bakal mendekati loe terlebih dahulu bukan cowok playboy itu, buat apa loe pusing-pusing mikirin orang yang udah jelas nggax mikirin prasaan elo?" kata dara.
"eh loe ngerti nggax cih gue ngomong!!! gue minta loe diem!!! jangan ikut campur urusan gue!!! ngerti nggax sich!!!" bentak kevin sambil menghentikan langkahnya, dara langsung diam, kemudian kevin pergi meningalkan dara seorang diri, ia udah nggax perduli lagi walaupun pandangan anak-anak yang lain tak lepas dari memperhatikan nya dan dara.
"aduh, seharusnya gue nggax sekasar itu ama dara, dia kan nggax salah, cuma perhatian ama gue? iiih tapi gue juga nggax bisa diam aja kalau ada yang menghina ani, apa lagi bilang kalau ani itu nggax suka gue, itu nggax boleh terjadi pokoknya ani harus jadi milik gue selamanya, gue nggax percaya dan nggax mau percaya kalau ani udah nggax suka ama gue lagi" kata kevin dalam hati dan terus melangkah meninggalkan dara yang tampak masih syok.
Cerita Remaja Cinta
Saat di kelasnya banyak anak-anak yang tidak berani menatap ani dengan pandangan yang biasa ia berikan ke arah ani, karena selain ani udah jadi cantik banget, ia juga akrab dengan vano, cowok yang selama ini mereka anggap sebagai pangeran berkuda putih.
siang itu saat ani sedang duduk sendirian dengan membaca buku ditangan, fitri, sisi dan desy menghampirinya dengan pandangan menghina seperti biasanya, mereka menatap sinis kearah ani walaupun ani telah berubah menjadi cantik. bahkan lebih cantik dari mereka.
"eh loe sengaja kan ngelakuin ini…." kata sisi kearaha ani.
"maksud kalian apa?" tanya ani bingung.
"alah jangan pura-pura bego deh, loe itu pasti sengaja kan dandan kayak gini, supaya dapat perhatian dari vano, apa belum cukup kevin loe kuasain masih vano juga?" kata fitri.
"ini gue lakuin bukan karena alasan itu kok…" kata ani.
"trus kenapa? apa loe ngelakuin ini karena mau buat kevin bilang suka sama loe seperti taruhan kita. ia!!!" bentak desy ani langsung terdiam "nah bener kan. ha ha ha gue kasi tau ya sama loe. kalau itu alasannya, loe nggax bakal pernah berhasil. karena cewek kayak loe itu nggax pantas dapat cowok sekeren kevin maupun vano. ngerti!!!"
"bukan itu kok alasannya…"
"trus apa? he? apa?… ayo jawab…"
"emang apa masalahnya ama kalian?" kata ani sambil berdiri menantang, karena ia udah nggax tahan dengan perlakuan mereka yang ia anggap udah keterlaluan.
"waht? loe udah berani ama kita ha?! eh seharusnya loe itu nyadar, inget ya, walaupun elo udah berubah penampilan jadi kayak gini, tapi menurut kita loe itu tetap cewek buruk rupa yang selalu ngegodain cowok, tau nggax?!" bentak desy.
"gue nggax perduli. eh, asal kalian tau aja ya, untuk sekarang gue udah nggax perduli lagi kalian mau ngomong apa. sampai sekarang, gue juga masih bingung ama kalian, sebenernya apa sich yang kalian mau dari gue, dulu gue dandan kayak gitu nggax terima, maunya ngehinaaaa aja, dan sekarang gue udah berubah jadi gini tetap juga nggax terima, sebenernya mau kalian tu apa?" kata ani dengan sebelnya.
"loe…"
"apa?" balas ani "dulu gue ama kevin kalian nggax terima, sekarang gue ama vano kalian nggax terima juga?! apa sich yang kalian mau sebenernya?" kata ani mulai berani. yang lain langsung terdiam.
"tetap aja loe itu nggax setia, dulu katanya loe suka sama kevin, sekarang loe udah lihat kalau vano itu lebih kerena makanya loe mau berpindah kelain hati kan?"
"eh gue itu nggax pernah berpindah kelain hati tau nggax. eh asal kalian tau aja ya, gue ama vano itu cuma…" belum sempat ani meneruskan kata-katanya tiba-tiba ada yang memotongnya terlebih dahulu.
"ada apa nich…" tanya seseorang yang berada di sampingnya.
"hendri? loe mau ngehina gue juga…." kata ani dengan sebelnya.
"nggax kok na, gue nggax mau menghina loe, emang yang mau menghina loe itu siapa? loe jangan salah faham ama gue donk, gue ke sini cuma mau negasin ke mereka kalau gue udah bukan temen mereka lagi, ternyata selama ini gue udah salah menilai elo ani, dan semua ini gara-gara mereka. mereka udah menghasut gue na, mereka semua itu ternyata jahat, gue nggax nyangka lho kalau ternyata mereka sejahat itu" kata hendri yang membuat temen-temennya menatapnya nggax percaya.
"hen loe?…."
"apa? jangan kalian fikir gue bisa diam aja kalau kalian menghina ani di depan gue, sebenernya mau kalian itu apa sich, kenapa dari dulu kalian selalu musuhin ani, sebenernya apa sich yang ani lakuin sama kalian sampai-sampai kalian buat dia kayak gini, apa kalian masih sakit hati karena kevin lebih milih ani dari pada kalian, atau kalian nggax terima karena ani lebih cantik dari kalian ha?!" bentak hendri.
"hen loe, kenapa loe belain dia sich… dia itu nggax tau diri…."
"yang nggax tau diri di sini itu kalian, apa kalian masih nggax nyadar juga, kalian bisa nya cuma menghina ani aja ya, coba deh kalian fikirin kenapa kalian segitu bencinnya sama ani, apa salah ani sama kalian…." kata kevin.
"hendri…."
"cukup" kata ani "eh udah ya, kalian kalau emang mau berantem jangan di dekat gue donk, bagi gue kalian semua itu sama, jadi jangan mengkambing hitamkan temannya sendiri, karena kalau kalian lakuin itu maka sama aja kalian itu menghina diri kalian sendiri tau nggax. udah lah hen, gue nggax butuh pembelaan loe kok, gue bisa bela diri gue sendiri kok, jadi gue nggax butuh bantuan elo, lagian gue masih inget kok apa yang loe katakan di lapangan kemaren. jadi loe nggax usah sok baik di hadapan gue…" kata ani dengan sebelnya.
"ani, itu semua karena…."
"gue bilang cukup, ok. udah lah kalian itu semua sama jadi jangan saling menyalahkan" kata ani.
"ani…" panggil vano dari luar "kantin yuk…" ajaknya.
"eh e ia. bentar…" jawab ani "e ya udah ya, gue mau ke kantin, jadi kalau kalian masih mau berantem lagi, silahkan aja di terusin, gue nggax bakal menghalangi lagi kok… udah dulu ya daaaa…" kata ani dan melangkah meninggalkan temen-temennya menuju vano yang telah menunggunya.
Begitu di koridor perempatan jalan, ani melihat kevin yang sedang berjalan berdua bersama dara, langkah mereka langsung terhenti di jalan yang sama, dan tidak ada yang berbicara duluan. kevin melangkah menuju ani dan meninggalkan dara di perempatan koridor kampus.
"ani, kok berhenti?" tanya vano.
"e gue…" ani tidak melanjutkan ucapannya karena kevin udah berada di depannya.
"ani, ikut gue…." kata kevin sambil meraih tangan ani.
"eh apa-apaan nich, loe nggax lihat apa gue udah ngajaknya duluan, loe kalau mau ngajak dia harus izin ama gue dulu, kalau nggax ngantri donk di belakang…" kata vano nggax terima.
"kalau gue mau di sini, loe mau apa? eh, asal loe tau aja ya dia itu pacar gue, jadi suka-suka gue donk mau ngapain, loe nggax suka ha?!" bentak kevin.
"kalau pun loe pacarnya harusnya loe itu punya kesopanan donk, kalau loe mau pacar loe ngehargain elo seharusnya elo hargain dia, loe kasi apa yang harusnya dia ingin kan…" kata vano.
"loe tau apa ha?!" bentak kevin.
"ya gue tau lah, pacar loe itu menginginkan elo untuk….aawwww…" jerit vano karena ani langsung mencubit lengan vano dengan keras yang buat kevin jadi bingung.
"emang apa yang pacar gue ingin kan, kenapa loe bisa tau sementara gue nggax ha?" tanya kevin.
"itu karena elo nggax mau mengerti dia, coba aja loe lebih perhatian ama dia…"
"cukup vano. loe nggax seharusnya bilang kayak gini…" bentak ani.
"tapi ani, dia harus tau apa yang loe ingin kan…"
"udah lah, ini tu nggax penting…." kata ani dengan sebelnya.
"ini ada apa sich… kenapa kalian pada kelihatan ada yang di sembunyikan dari gue, jangan bilang kalau kalian itu pacaran…" kata kevin dengan penuh penyelidik.
"ha e enggak kok…." kata ani dengan cepat.
"sebaiknya loe harus belajar untuk nggax berperasangka buruk dengan pacar sendiri dan mencoba belajar agar loe bisa percaya ama pacar loe, bukan asal menuduhnya kayak gini…" kata vano dengan sebel.
"maksud loe apa… loe fikir gue itu bukan pacar yang baik ha?"
"kalau loe mikir nya gitu, loe nggax salah kok, loe itu kan emang kayak gitu orangnya, bukannya membela pacar loe sendiri juga, ini malah memarahinya, seharusnya loe itu bisa lebih bersikap lembut ama cewek, loe jangan terlalu kasar, karena kalau loe kasar-kasar ama cewek terutama ani gue nggax bakal tinggal diam" kata vano.
"kalau gue kasar sama dia emang urusannya sama loe itu apa, emang loe itu siapanya dia ha?"
"loe nggax tau siapa gue? ya udah kalau loe pengen tau loe cari tau aja sendiri, tapi yang jelas kalau loe masih menganggap dia pacar loe, harusnya loe buat dia untuk jadi cewek yang selalu bahagia bukan malah memperlakukannya kayak boneka, karena kalau itu sempet terjadi loe harus rela kalau gue merebutnya, karena gue nggax akan membiarkan orang yang penting dalam hidup gue itu tersakiti…" kata vano.
"hah, apa? orang yang penting dalam hidup loe… heh tau apa loe tentang arti sebuah dari kepentingan seorang cewek, loe itu kan playboy yang sukanya mainin cewek…" kata kevin dengan sinisnya.
"mendingan kayak gue yang kalau suka bilang dan kalau enggak ya tinggalin, sedangkan elo… loe nyadar nggax sich kalau loe itu nggax pernah mengakuinya… kalau nggax pacar loe nggax mungkin jadi kayak gini…"
"maksud nya?"
"sebaiknya loe harus lebih mengerti cewek, belajar untuk mengetahui apa yang dia inginkan, lagian apa loe pikir loe itu cowok baik-baik? kalau emang ia, kenapa loe jalan ama cewek lain…" balas vano sambil menatap sinis ke arah dara yang tak jauh dari mereka, kevin melihat kearah dara.
"maksud loe dia? dia itu…."
"loe nggax perlu susah-susah menjelaskannya ke gue, karena gue tau kok loe itu cowok kayak apa, alah udah lah nggax usah munafik, kalau loe emang suka sama cewek lain, loe bilang aja terus terang nggax kayak gini caranya… tapi loe inget aja, sekali loe menyakiti ani loe bakal langsung kehilangan dia!!!" tegas vano.
"loe… loe berani…." kata kevin tapi langsung berhenti karena ani menariknnya agar agak menjauh dari vano.
"udah deh, loe apa-apaan sich, berantem nggax jelas kayak gini, mending sekarang loe kasi tau, loe mau apa, gue ada janji ni ama vano untuk makan bareng, jadi gue nggax mau membuat vano menunggu…" kata ani.
"apa??? loe mau makan ama dia…" kata kevin sambil menunjuk ke arah vano yang tanpak tersenyum dengan senyuman kemenangan.
"ia. udah lah loe mau bilang apa, ntar cewek yang bareng loe itu bisa jamuran nungguin elo…." balas ani sambil melirik dara dengan malesnya.
"maksud loe dara…. kita tu cuma…"
"kalau loe cuma mau ngasi tau hal yang nggax penting kayak gitu mending di cencel aja dulu, gue udah laper nich, kasihan vano kalau harus kelamaan nungguin gue…" kata ani.
"an, loe kenapa jadi kayak gini sich, apa ini masih mengenai masalah kemaren atau…"
"ani, kita jadi makan siang bareng nggax…" tanya vano.
"e ia, jadi kok, bentar ya…" jawab ani ke arah vano "e ya udah kev, loe kalau mau ngomong dan apa pun yang mau loe omongin mending di pending aja dulu, gue mau makan ama vano dulu ya…." kata ani dan melangkah meninggalkan kevin sendirian yang tampak kaget "udah kok, yuk…" ajak ani ke arah vano dan melangkah menuju kantin.
"kevin…. loe nggax apa-apa kan…." tanya dara yang datang secara tiba-tiba.
"gue nggax apa-apa kok" balas kevin dan kemudian melangkah pergi, dara mengukutinya.
"kev, loe cemburu ya…." tanya dara.
"loe ngomong apa sich, mana mungkin gue cemburu, ada-ada aja sich…"
"sebenernya loe itu suka sama ani nggax sich, kenapa elo kelihatan nggax cemburu walau ani jalan ama cowok lain di depan loe…." tanya dara.
"bukan urusan elo"
"emang bukan sich, tapi sebagai seorang teman, gue berhak tau, karena kalau loe nggax suka sama ani buat apa hubungan ini kalian lakuin medingan loe putusin dia aja, karena percuma aja hunbungan tanpa cinta kayak gini, masih banyak kok cewek yang mau sama loe, bukan cuma ani aja tau nggax" kata dara.
"gue belum kepikiran untuk memutuskannya…" kata kevin.
"0 ya udah, tapi seharusnya loe nggax tinggal diam kalau di giniin, loe itu kan manusia yang juga punya perasaan. gue nggax tega lihat loe yang kayak di permainkan kayak gini…." kata dara.
"loe emang temen gue yang baik, tapi gue minta sama loe untuk masalah ini aja, tolong loe jangan ikut campur, biarkan gue melakukna hal yang gue ingin kan…"
"ia deh, maafin gue ya…." kata dara, tapi kevin diam saja.
pulangnya ani menuju parkiran bareng vano sambil tertawa akrab dan tanpak kevin kagetmelihatnya ia langsung menghampiri ani yang baru aja tiba di tempat parkiran.
"ani, kita perlu bicara…" kata kevin.
"mau ngomongin apa lagi sich.,…" balas ani.
"loe kenapa sich? kenapa loe jadi kayak gini…"
"gue… gue nggax apa-apa kok, ini cuma perasaan loe aja kali, gue sama sekali nggax kenapa-napa…" balas ani.
"tapi…" kata-kata kevin terhenti saat mendengar kata-kata vano.
"na, gue pulang dulu ya…. inget ntar gue jemput jam setengah tiga, ok" kata vano.
"ia. ya udah sampai ketemu entar ya…" kata ani ke arah vano sambil tersenyum, kemudian vano pergi dengan motornya meniggalkan halaman campus.
"ani, loe mau jalan ama vano?" tanya kevin nggax percaya.
"he-eh, dia kan baru beberapa hari di sini, jadi dia mau minta tunjukin ama gue tempat-tempat yang bagus di sini…" jawab ani "kenapa? loe mau ikut?" tanyanya.
"emang nggax ada orang lain apa? kenapa harus elo?" tanya kevin tanpa menjawab pertanyaan ani.
"ya karena dia bilang kalau gue itu temennya yang bisa di percaya, dan nggax mengaggap dia sebagai seorang cowok playboy, dia tau kalau gue nggax mungkin suka sama dia makanya dia mengaggap gue itu bisa di percaya dari pada yang lain…"
"loe sadar nggax sich, kalau semua ini cuma akal-akalan nya dia aja, dia itu sengaja bilang gitu karena mau jalan ama loe, dia itu cowok brengsek ani, dia cuma mau mainin loe aja, karena gue punya firasat buruk tentang dia…"
"kevin, loe itu nggax boleh bilang kayak gitu, vano itu cowok baik-baik kok, dia nggax pernah macem-macem ama gue, dan saat anak-anak menghina gue dia selalu belain gue…" kata ani.
"apa loe su/ka sama vano…"
"lho, kalau emang gue suka sama dia kenapa? nggax ada masalahnya kan…."
"ani…"
"selama ini yang bilang suka sama gue baru vano aja, jadi nggax ada masalah kan kalau seandainya gue juga…"
"loe nggax boleh suka sama vano…" potong kevin.
"ha ha ha gue cuma bercanda aja kalee, lagian gue nggax suka sama dia kok, tadi gue kan cuma bilang seandai nya, jadi nggax beneran…" balas ani.
"gue nggax perduli loe mau bilang seandainya atau apapun, yang jelas loe nggax boleh suka sama dia…." kata kevin.
"ya udah, gue nggax suka sama dia. sampai kapan pun gue nggax bakal pernah suka sama dia, udah kan…." balas ani.
"ani, gue minta sama loe untuk menjauhin vano"
"lho kenapa? vano itu baik kok, dia itu temen gue…"
"tapi dia itu nggax sebaik yang loe fikirkan… dia itu cuma mau mainin loe aja ani, loe harus percaya ama gue, dia itu bukan cowok baik-baik, dia punya pacar di manapun dia tinggal jadi…"
"kevin, gue tau kok, dia itu kayak apa, jadi loe nggax perlu susah-susah kasi tau gue, tapi gue harap walaupun loe nggax suka sama orang jangan kayak gini donk caranya, vano itu nggax terlalu jahat kok…. menurut gue apa yang dia lakuin nggax salah" kata ani.
"apa loe bilang? nggax salah? loe bilang cowok yang selalu mainin cewek itu nggax salah? loe sadar nggax sich…"
"ya sadar donk, abis vano ngelakuin itu kan cuma karena cewek itu aja yang kecentilan, kalau ceweknya nggax kecentilan juga vano nggax mungkin mau ngegodanya…" kata ani.
"loe itu sebenernya siapa nya vano sich… kenapa loe seperti tau segalanya tentang dia…." tanya kevin.
"ya gue itu temennya, emang loe mau gue itu jadi siapanya ha? kita itu cuma sebatas temen aja kok, dan nggax lebih…." kata ani.
"tapi tindakan elo itu udah lebih dari pada temen ani…"kata kevin.
"maksud loe…"
"loe sadar nggax sich, kalau pembelaan loe terhadap vano itu terlalu berlebihan…"
"yang berlebihan di sini itu elo kev, elo terlalu berlebihan menganggap gue itu suka sama vano, kita tu cuma teman, sama kayak loe ama dara, kalian kan cuma temen begitu juga dengan gue…."
"tapi kita beda na, dara itu nggax seperti vano. dara itu tulus jadi sahabat gue…."
"0 jadi menurut loe vano nggax tulus gitu? kalau gitu menurut loe, loe salah kev, bahkan loe salah besar, vano itu baik, dia nggax seburuk yang loe fikirin"
"tapi kenyataannya…. loe lihat sekarang baru sehari aja loe kenal vano dia udah bisa merasuki elo untuk tetap membela dia…"
"tapi itu lah kenayataanya kev, vano itu emang baik dia nggax seburuk itu…."
"ani loe itu terlalu polos, hingga loe bisa di bohngin ama siapa aja…"
"ia, termasuk ama loe, ia kan? loe mau bilang gitu kan kev?"
"kenapa jadi loe yang nyalahin gue…"
"ya karena ini emang salah loe, gue gini gara-gara loe, udah lah ini udah siang. gue mau pulang…"
"ani gue belum selesai bicara…."
"ya udah di tunda aja buat besok, karena kalau loe sealalu nyalahin vano urusan kita nggax bakal bisa selesai, loe tau kan ini tu bukan salah vano jadi loe nggax boleh nyalahin vano…" kata ani dan siap mau pergi tapi di halangi ama kevin "aduuuh loe mau apa lagi sich…." tanya ani.
"maksud loe bilang ini semua nya salah gue itu apa? emang apa yang udah gue lakuin…" tanya kevin bingung.
"ya loe fikir aja sendiri, tapi yang jelas ini semua nggax ada hubungannya ama vano, udah ya daaaa…" kata ani dan melangkah menuju mobilnya, meninggalkan kevin sendirian di tempat parkiran.
Next cerpen romantis buruan katakan cinta part 5.

Random Posts

  • Cerpen Lucu Mis. Tulalit Part 3 ~ Update

    Berhubung masih napsu (??) buat edit mengedit postingan, pokoknya edit aja deh. He he he, Lagian daripada terlupakan….Bener gak?. Harusnya bener donk!!! * maksa modeon.Tapi, ah andaii aja Takdir itu juga bisa diedit (^_^) *Mulai gak jelas. Credit Gambar : Ana MeryaSetelah ujian akhir nasional barlalu maka semua siswa di berikan kesempatan untuk berlibur, walau pun setulalit-tulalitnya april, alhamdulillah ia berhasil lulus juga. Emang si nilai pas-pasan, tapi dari pada kurang. ya nggak?… *PS: Yang setuju bilang ya berari orang yang nggak mau maju. secara masa dibandingkan sama yang lebih jelek*, rencananya ia mau ngelanjutin kuliahnya di AMIK, selat panjang.sebagian

  • ANTARA PERSAHABATAN DAN CINTA

    ANTARA PERSAHABATAN & CINTAKarya oleh :“ D’aNgeL oF RizVia ”SMP Nusa Bangsa yang semula terkesan damai dan syahdu, tiba-tiba pecah oleh hiruk pikuk para siswa. Semua pintu kelas telah terbuka lebar untuk siswa-siswi yang akan kembali ke rumah. Mereka tampak saling berebutan menuju halaman sekolah. Di halaman sekolah, Livia, Zizy, A’yun, dan Qory sedang menunggu sahabat2 mereka yang lain, yaitu Arsya, Fian, Romi, Marvel, dan Nuri. Setelah kelima cowok itu datang, mereka segera pulang ke rumah bersama-sama. Itulah yang mereka lakukan setiap hari, berangkat sekolah, istirahat di kantin, bahkan pulang sekolah pun mereka bersama-sama, karena mereka semua bersahabat sejak kecil. Tapi lain bagi Arsya dan Marvel, karena Arsya adalah murid pindahan dari Indramayu, Jawa Barat. Sedangkan Marvel adalah mantan pacar Livia. Meski begitu, mereka tetap menjalin persahabatan dengan keduanya. Yah,, persahabatan sejak kecil, sekarang dan mungkin untuk selamanya.Suatu hari di bulan April 2010, Livia mendapat masalah dengan pacarnya yaitu Arinal. Karena Arinal sudah tidak pernah menghubungi Livia lagi, dan itu yang membuat Livia menjadi sedih, Livia berpikir bahwa Arinal sudah tidak mencintai dia lagi, sudah berkali-kali Livia meminta pendapat pada ketiga sahabatnya, yaitu Zizy, A’yun, dan Qory, tapi mereka selalu meminta Livia untuk memutuskan hubungan dengannya dan mencari cowok yang lebih baik lagi, karena memang sudah sejak awal mereka tidak pernah menyetujui hubungan Livia dengan Arinal. Hingga Livia meminta pendapat pada sahabatnya yang lain, yaitu Arsya, Fian, dan Romi, tetapi jawaban mereka sama saja, Livia bingung dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Tetapi Arsya selalu menghiburnya, dia selalu memberikan motivasi kepada Livia, hingga sedikit demi sedikit hubungan mereka semakin dekat dan semakin akrab, dan kini Arsya lah yang menggantikan Arinal dalam inbox sms di hp-nya Livia. Dan lambat laun pula, timbul chemistry dalam hati mereka berdua.Pada suatu hari, terjadilah pertengkaran antara Livia dengan Arsya, awalnya Arsya marah kepada Livia karena suatu hal, dan Livia sudah meminta maaf, tetapi Arsya berat untuk memaafkannya, hingga Livia nekat membohongi Arsya dengan cara menyamar menjadi seseorang yang bernama Vina agar dia bersedia memaafkan Livia. Awalnya Arsya percaya, dan pada suatu sore setelah pulang sekolah, hari itu hujan deras, Arsya meminta pada Livia untuk menemuinya di kebun belakang rumah, walau saat itu hujan deras, tapi Livia tetap datang dan dengan tubuh basah kuyup, disitulah Arsya memaafkan Livia. Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua kembali membaik seperti semula, hingga pada suatu hari, kebohongan Livia terbongkar, Arsya tahu bahwa selama ini Vina itu adalah Livia sendiri, dan Arsya berpikir bahwa Livia membohongi dirinya agar bisa memanfaatkannya untuk bisa memaafkan Livia, akhirnya terjadilah pertengkaran besar antara Arsya dan Livia, berkali-kali Livia meminta maaf pada Arsya tetapi Arsya menolak, hingga Livia pun menyerah dan dia membiarkan Arsya melampiaskan kekesalannya dengan cara menjauhi Livia dan berhenti menghubungi Livia. Sudah 1 minggu berlalu, Arsya masih tetap belum memaafkan Livia, dan pada suatu malam, Livia merenung sendiri di luar rumah, dia sedih karena sampai saat itu Arsya belum juga memaafkannya, dia juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu keputusan Arsya untuk mau memaafkannya, tanpa tersadar dia menangis, sambil menatap bintang2 di langit malam, dia berdo’a kepada tuhan agar Arsya mau memaafkannya, tiba-tiba Livia mendapat sms dari Fitri, temannya yang 1 rumah dengannya, Romi, dan juga Arsya. Dalam sms itu, Fitri bertanya2 tentang Arsya, setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Livia dan Arsya, Fitri menyuruhnya untuk menghubungi Arsya lewat sms, tetapi Livia menolak karena dia tahu bahwa Arsya tidak akan membalasnya, dan dia takut Arsya akan marah padanya. Tapi Fitri terus mendesaknya. Akhirnya Livia memberanikan diri untuk menghubungi Arsya kembali, dan tidak disangka, Arsya membalas sms Livia, dan pada malam itulah Arsya kembali memaafkan Livia, dan pada saat itulah Livia tahu bahwa Arsya lah yang mendesaknya untuk menghubunginya dengan berpura2 menjadi Fitri. Sejak kejadian itu, Arsya semakin tahu dan mengenal siapa Livia sebenarnya, Arsya mengetahui semua sifat luar dan sifat dalam Livia. Dan sejak kejadian itu pula, Livia semakin merasa bahwa dia punya perasaan dengan sahabatnya, Arsya.Di bulan Juni 2010, saat liburan akhir semester, Arsya pulang ke kota asalnya, yaitu Indramayu, walaupun Arsya dan Livia berjauhan, tetapi mereka tetap berhubungan lewat sms, dan pada suatu hari Livia menyatakan perasaannya kepada Arsya, Dia berterus terang bahwa dia mulai jatuh cinta padanya sejak kejadian pertengkaran itu, Livia berkata bahwa dia tidak bisa menahan lagi perasaannya, dia pikir perasaannya pada Arsya begitu kuat, dan ternyata Arsya membalas pernyataan cinta Livia, tak disangka bahwa Arsya pun mencintai Livia, tetapi sayangnya, cinta mereka tidak bisa bersatu, karena mereka berdua sama2 sudah ada yang punya, mereka berdua sama2 sudah mempunyai kekasih, dan mereka berdua juga tahu akan hal itu, akhirnya Arsya terpaksa memutuskan untuk tetap menjalin cinta dengan Livia tanpa status, dan tetap menjalani hubungan dengan kekasih masing2, dan Livia pun menyetujuinya karena sudah tidak ada cara lagi untuk mereka berdua, sedangkan mereka berdua sendiri tidak bisa mengakhiri cinta mereka begitu saja. Hal yang lain terjadi pada A’yun dan Fian, pada saat yang sama, Fian menyatakan cintanya kepada A’yun, tak disangka bahwa Fian sudah lama menyimpan perasaan cintanya itu selama 5 tahun, dan akhirnya A’yun pun menerimanya dan mereka resmi menjalin hubungan.Yah, cinta yang berawal dari sebuah persahabatan. Dan hari-hari baru pun mulai mereka jalani bersama2. Sahabat2 mereka pun sudah mengetahui semua yang terjadi antara Livia dan Arsya dan mereka mendukungnya.Seiring dengan berjalannya hubungan Livia dg Arsya, hubungan Livia dan Arinal tidak pula membaik, hubungan mereka semakin renggang, dan Livia pun semakin yakin bahwa yang dulu pernah dikatakan oleh ketiga sahabatnya itu adalah benar. Livia juga semakin yakin untuk memutuskan hubungannya dengan Arinal, tetapi Arsya selalu mencegahnya. Arsya tidak ingin Livia putus dengan Arinal yang disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah hubungan mereka berdua. Tetapi Livia tetap pada keputusannya. Awalnya Arsya mencegahnya, tetapi Livia meyakinkan Arsya bahwa keputusannya itu bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran Arsya dalam hidupnya, melainkan karena Livia memang sudah tidak lagi mencintai Arinal lagi, dan dia sudah terlanjur sakit hati karenanya. Akhirnya Arsya pun percaya dan mau menerima keputusan Livia dan sejak itu, status Livia menjadi single kembali.Pada bulan Agustus 2010, Arsya pun mendapat masalah yang sama dengan kekasihnya Sella, hubungan mereka pun putus di tengah jalan, dikarenakan Sella terpaut hati dengan yang lain. Arsya sangat terpukul, dia sangat sedih dan kecewa dengan keputusan Sella, Arsya bingung harus bagaimana, dia pun menghubungi Livia dan menceritakan semua yang terjadi padanya, dalam hati Livia senang juga sedih, dia senang karena sudah tidak ada lagi yang memiliki Arsya dan itu memudahkannya untuk mendapatkan Arsya, tapi di lain hati dia juga sedih melihat Arsya yang sedih dan terpukul karenanya, Livia tak sampai hati melihat Arsya terpuruk dalam kesedihan seperti itu, Livia pun bingung harus berbuat apa, dia hanya bisa menghibur Arsya lewat sms, karena saat itu Arsya tak lagi bersamanya, Arsya kembali ke Indramayu, berkali-kali dan berhari-hari Livia terus menghibur Arsya, hingga Livia pikir Arsya mampu melupakan Sella begitu juga dengan kenang2annya. Tapi ternyata, tak semudah itu bagi Arsya untuk menjauhi Sella, bahkan melupakannya. Sudah 4 bulan berlalu sejak tragedi cinta Arsya di bulan ramadhan, hubungan Livia dengan Arsya pun semakin dekat, semakin membaik, dan semakin serius, tetapi Arsya masih belum bisa untuk menjadi milik Livia sepenuhnya, Livia pun hanya bisa pasrah menerima keadaan cintanya saat ini, karena dia tak mau terlalu memaksa Arsya untuk menjadi milik dia sepenuhnya. Pada bulan November 2010, Livia, Arsya, Fian dan semua sahabatnya merayakan hari ultah A’yun di rumahnya. 2 hari sebelum hari H, Livia dan sahabatnya yang lain merencanakan sesuatu untuk memberikan kejutan pada A’yun, dan ternyata kejutan itu pun sukses besar, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk A’yun dan Fian, Livia dan Arsya, dan juga sahabat2nya yang lain. Dan pada bulan ini juga, menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi Livia dan Arsya, karena di bulan ini, hubungan mereka semakin tumbuh harum mewangi, Arsya semakin menyayangi Livia, dari hari ke hari, sikap Arsya pada Livia pun semakin mesra dan romantic, begitu juga dengan Livia. Tetapi sayangnya, keadaan itu tidak bertahan lama, mulai memasuki bulan Januari 2011, hubungan mereka pun renggang dikarenakan Livia mendengar kabar bahwa Arsya kembali dekat dengan mantan pacarnya, yaitu Sella. Kabar tersebut membuat Livia sangat kesal, bahkan Arsya pernah berduaan dengan Sella di depan kelas Livia, dan Livia melihatnya ketika kelas bubar, hingga Livia tidak mau keluar dan itu membuat teman-temannya keheranan.“Kenapa kamu Liv..? koq nggak jadi keluar.. padahal kan kamu tadi bersemangat banget pengen pulang..” Kata Bella. “Tuh, liat aja sendiri, ada pemandangan yang bikin sakit hati.!!” Kata Livia kesal. Lalu Bella pun keluar dan melihat Arsya berduaan dengan Sella, dan menyindir mereka, “Ehm2, pacaran koq di sekolahan sich.. Inget2, ini sekolah, bukan tempat pacaran..!!” Sindir Bella. Dan mereka berdua pun pergi. Saat sampai di rumah, Arsya mendekati dan menggoda Livia, tetapi Livia malah menampakkan wajah kesalnya, hingga membuat Arsya terheran-heran dan bertanya pada Livia.“Dek, kenapa sich..?? koq cuek gitu,,,” Tanya Arsya.“Tau dech, pikir aja sendiri,,!!” Kata Livia kesal.“Iiicch, marah ya.. Ada apa sich emangnya..??” Tanya Arsya bingung.“Huh, udah puas ya tadi berduaan di depan kelas..!! Nggak tau malu banget sich..!! Bikin sakit hati aja..!!” Kata Livia marah.“Berduaan..?? Ya ampun.. Jadi gara2 itu.. Gitu aja koq marah sich..” Kata Arsya.“Kamu ini gimana sich, gimana nggak marah coba,! Aku pikir kamu udah bisa lupain si Sella, tapi ternyata ini malah berduaan, di depan kelas aku lagi,,!! Gila kamu ya..!!” Kata Livia yang semakin marah.“Ya udah, aku minta maaf dech,, nggak akan ngulangin yang kayak gitu lagi,, maafin aku ya dek..” Kata Arsya meminta maaf.“Tau ah..!! Udahlah, males aku ngomong sama kamu..!!” Kata Livia berlalu.”Tunggu2.. Jangan gitu donk,, aku kan udah minta maaf, iya2 aku janji, maaafin aku ya My Princess..” Bujuk Arsya.“Ya udah iya, aku maafin, tapi bener ya jangan di ulangin lagi, janji..!!” Kata Livia sambil mengacungkan jari kelingkingnya.“Iya, aku janji adekku tersayang..” Kata Arsya membalas. “Nah, sekarang senyum donk.. jangan cemberut gitu, jelek tau..” Kata Arsya lagi sambil mencubit pipi Livia.“Hufft, iya sayang…” Kata Livia tersenyum senang.Setelah kejadian itu, hubungan mereka pun kembali normal. Dan dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua saling menyayangi, dan cinta mereka berdua begitu kuat, dan tak bisa terpisahkan. Dan mereka pun menjalani hari-hari indah seperti biasanya. Pada bulan Februari 2011, terjadi pertengkaran kembali antara Livia dan Arsya, karena Arsya melihat dan mengetahui bahwa Livia kembali berkomunikasi dengan mantan pacarnya yaitu Marvel, Arsya cemburu begitu melihat Livia SMS_an dengan Marvel, Livia yang mengetahuinya segera meminta maaf pada Arsya, tetapi Arsya diam saja, seakan-akan dia tak mau memaafkan Livia, 5 hari Livia menjalani hari tanpa Arsya di sampingnya, Livia sedih dan meminta maaf kembali pada Arsya, bahkan Livia berkata bahwa dia tidak akan berhubungan lagi dengan Marvel, tak akan membalas sms Marvel lagi, dan bahkan akan menghapus nomer Marvel dari kontak HPnya, setelah mendengar pernyataan Livia itu, Arsya pun akhirnya mau memaafkan Livia. Dan pada bulan ini, LPP (Language Progress Program) di sekolah mereka mengadakan tour di Jogjakarta untuk menyelesaikan tugas terakhir mereka yaitu conversation dengan turis2 yang ada disana. Tetapi kini, hanya Livia dan Qory yang ikut, karena A’yun dan Zizy sudah sejak awal tidak mengikuti LPP. Saat berada dalam bis, Livia menghubungi Arsya, dia meminta maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Arsya tadi saat di rumah, dan disitulah Livia berpamitan dengan Arsya, sekaligus meminta do’a agar selamat sampai tujuan juga selamat sampai di rumah dan agar lancar dalam menjalankan tugasnya saat disana. Setelah itu mereka melanjutkan SMS_annya, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa dalam bis itu dia sangat kedinginan, sedangkan sweaternya ada di dalam tas dan Livia tak bisa mengambilnya karena sweater itu ada di dasar tas, Arsya pun memberikan perhatiannya pada Livia dengan menyuruhnya untuk mengambil sweater itu meskipun ada di dasar tas, demi Livia agar tidak kedinginan lagi, dan selama dalam perjalanan tour itu Arsya selalu memberikan perhatian pada Livia hingga Livia kembali. Livia juga tidak lupa untuk memberi Arsya dan sahabat2nya oleh-oleh dari Jogja. Saat di Malioboro, Livia membelikan kaos hitam Jack Daniel dan souvenir berupa gantungan segitiga yang di dalamnya terdapat miniatur candi borobudur untuk Arsya. Begitu juga dengan sahabat2nya. Livia juga membelikan oleh-oleh berupa bakpia untuk sahabatnya juga untuk keluarganya, Livia pun sampai di rumah kembali pada pagi harinya.Dan pada bulan Maret 2011, tepatnya pada tanggal 4 dan 5, Livia, Zizy dan A’yun pergi ke Malang untuk mengikuti Tes Penerimaan Siswa Unggulan Baru di MAN 3 MALANG, sebelum pergi, Livia menyempatkan untuk berpamitan dengan Arsya dan meminta dukungannya sekaligus do’a untuknya, begitu juga dengan A’yun dengan Fian, mereka juga meminta dukungan dan do’a kepada semua teman dan sahabatnya. Dan pada tanggal 10, Livia melihat pengumuman kelulusan tes tersebut, tapi ternyata, Livia, Zizy dan A’yun tidak lulus, Livia pun membicarakan hal itu dengan Arsya lewat sms, saat SMS_an itu, Livia berkata bahwa mereka bertiga tidak lulus dan Livia sangat sedih, lalu Arsya pun menghiburnya dengan berkata bahwa tidak semuanya yang kita inginkan bisa tercapai, dan itu semua membutuhkan proses, Arsya mengakui bahwa Livia adalah cewek yang pintar dan cerdas, dan Arsya yakin bahwa Livia dan yang lainnya pasti bisa diterima pada tes regulernya, Arsya berkata bahwa dia bangga bisa mempunyai cewek seperti Livia yang pintar, karena dia tahu kalau Malang itu adalah tempat sekolahnya anak-anak yang pintar,, mendengar hal itu, Livia menjadi semangat dan tidak bersedih lagi, Livia pun berterima kasih pada Arsya karena sudah memberinya dukungan dan semangat.Pada tanggal 23 Maret, Livia merayakan ultahnya bersama dengan Arsya, A’yun, Fian, Romi, Bella, dan Ana. Dua hari sebelumnya tepatnya tanggal 21 Maret, A’yun mempunyai rencana untuk ngerjain Livia habis2an, saat malamnya, Livia mengirim SMS pada Arsya, tetapi Arsya tidak membalasnya, setelah agak lama, Arsya membalas dan meminta maaf karena dia telat, Arsya berkata bahwa dia keasyikan SMSan dengan Lia, cewek Indramayu tetangganya, Livia pun kesal dan marah pada Arsya, dan saat itu juga, A’yun sms Livia, dia berkata bahwa dia sangat marah sekali dengan Arsya karena siang tadi Arsya mencubit pipinya di depan Fian, dan sekarang A’yun bertengkar dengan Fian, A’yun pun meminta tolong pada Livia agar Livia mau membantunya membicarakan masalah ini dengan Arsya, Livia pun bingung harus bagaimana, karena saat itu Livia juga sedang bermasalah dengan Arsya. Keesokan paginya, Livia bertemu dengan A’yun di sekolah, A’yun marah2 pada Livia karena perbuatan Arsya kemarin, Akhirnya Livia berjanji untuk membantunya, saat itu juga, Arsya ngerjain Livia lagi, sehingga membuat Livia makin sedih, dan malam harinya, Livia berkata pada Arsya lewat SMS tentang masalah A’yun itu, lalu Arsya meminta nomer A’yun untuk meminta maaf, setelah agak lama, Livia merasa sudah mengantuk dan dia ketiduran, tapi Arsya membangunkan Livia, Arsya melarang Livia tidur karena Arsya kesepian dan tak bisa tidur, Arsya meminta Livia untuk tetap menemaninya malam itu, Livia pun terpaksa menyetujuinya. Pada pukul 12.00 malam tepat, Hp Livia berdering, seseorang menelponnya, dia memakai privat number, Livia pun mengangkatnya, “Surprise..!!!” Ternyata itu adalah Arsya, Arsya mengucapkan met ultah pada Livia, Livia sangat bahagia sekali, Arsya bercerita bahwa Lia, dan masalah A’yun dan Fian itu adalah bagian dari sandiwara mereka untuk memberikan surprise ini padanya, Arsya juga berkata bahwa dia menelponnya karena dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan met ultah ke Livia. Pada keesokan harinya tepatnya tanggal 23 Maret, setelah pulang sekolah, Livia, Ana, Bella, dan teman2 lainnya yang tergabung dalam kelompok dance Livia mengadakan latihan di rumahnya, saat perjalanan menuju rumah Livia, Ana menyiram Livia dengan air yang dibawa oleh Ana dari rumah, Livia sangat terkejut, tapi Livia tak bisa lari, setelah sampai di rumah, Ana menariknya sampai di kamar mandi dan menyiram Livia kembali, Livia sangat malu, karena disitu ada Arsya dan Fian. Setelah itu Livia mengganti bajunya dan mulai latihan kembali. Tiba2 A’yun datang, dan langsung menuju ke atas menemui Fian pacarnya, Arsya dan Romi, setelah itu dia turun lagi menemui Ana dan meminta Ana untuk menemaninya ke atas. Setelah agak lama, Ana kembali turun memanggil Livia dan mengajaknya ke atas juga, saat di atas, Ana mengajak Livia untuk membicarakan sesuatu tentang kelompok dancenya di luar, tiba2 dari belakang Arsya menyiramnya, disusul dengan siraman dari A’yun, Fian, Romi, Ana dan Bella, Livia sangat terkejut juga bahagia, setelah penyiraman selesai, tiba2 Arsya datang di hadapan Livia dengan membawa sebuah kado di tangannya. Arsya mengucapkan met ultah sekali lagi pada Livia, dan memberikan kado tersebut padanya, dan Arsya menyuruh Livia untuk membukanya. Dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan di dalamnya terdapat surat, Livia pun membacanya, dan Arsya meminta Livia untuk segera memakai jam tangan itu, tetapi Livia menolaknya karena jam tangan itu terlalu besar untuk ukuran tangan Livia, tetapi Livia berjanji akan segera memakainya, setelah itu A’yun dan Fian yang memberinya kado, isinya adalah 1 boneka semut besar, 1 boneka teddy kecil dan gantungan. Setelah semua teman2 Livia sudah pulang, Marvel , mantan pacar Livia datang untuk mengucapkan met ultah pada Livia. Setelah agak lama mengobrol, akhirnya Marvel pun pulang. Malam harinya saat SMSan, Arsya berkata bahwa dia sangat bahagia karena bisa merayakan hari ultah Livia, dia berkata bahwa dia sangat bahagia ketika melihat Livia tersenyum dan tertawa bahagia seperti tadi dan berharap bahwa hari bahagia itu akan selalu terjadi, sehingga Arsya selalu bisa melihat Livia tersenyum selalu. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan buat Livia, Arsya, dan sahabat2nya.Pada akhir bulan Maret 2011 itu, Livia dan Arsya juga semua sahabat2nya mengikuti ujian Try out UN. Dan pada tanggal 9 April, Livia mengajak Fian untuk ikut memberikan surprise di hari ultah Arsya, pada pukul 10.00, Livia naik keatas untuk menemui dan memberikan kejutan itu untuk Arsya, dengan membawa kue ultah buatannya sendiri, disertai dengan nyanyian ultah ala Livia, membuat Arsya terkejut dan tersentuh hatinya, setelah itu Livia menyuruh Arsya untuk meniup lilinnya dan memakan kuenya, tetapi Arsya malah memberikan potongan kue pertamanya tersebut pada Livia dan menyuapinya, setelah itu baru Arsya meminta Livia untuk balik menyuapinya, Livia sangat bahagia, begitu juga Arsya yang merasa bahagia dengan adanya surprise dari Livia. Setelah agak lama, tiba2 Fian datang dan langsung melempar tepung yang ada di genggamannya pada Arsya, belum puas dengan lemparan tepung itu, Fian pun melemparkan tepung itu juga pada Livia, hingga mereka berdua sama-sama belepotan karena lemparan tepung itu, saat melihat Livia yang wajahnya penuh dengan tepung, Arsya pun tertawa dan mengusap wajah Livia dengan tangannya, membersihkan tepung itu dari wajahnya, begitu juga Livia, dia pun mengusapkan tangannya pada wajah Arsya yang penuh dengan tepung. Setelah selesai membersihkan wajah masing-masing, Arsya menggenggam tangan Livia dan berterima kasih pada Livia karena telah memberikan surprise itu padanya, dia berkata bahwa dia sangat bahagia sekali hari itu, lalu Arsya mencium kedua tangan Livia hingga membuat Livia tersipu malu. Dan pada awal bulan Mei, Arsya meminta izin pada Livia untuk pergi, pulang ke rumah asalnya di Indramayu. Awalnya Livia berpikir untuk tidak mengizinkan Arsya pergi, tetapi Livia memikirkan kebahagiaan Arsya juga, Livia berpikir bahwa Arsya butuh istirahat di rumah asalnya, dan akhirnya Livia pun mengizinkannya. Dan Arsya pun berterima kasih pada Livia dan mencium pipi Livia. Livia tersipu malu dan merasa bahagia. Tepat di hari perginya Arsya, Livia diminta oleh sahabatnya Fian untuk menemani dia mengantar kepergian Arsya ke stasiun. Awalnya Livia ragu2 karena pada saat itu adik Livia sakit keras dan Livia diminta untuk menjaga adiknya itu di rumah sakit. Karena Livia tidak ingin melewatkan kesempatan indah itu, akhirnya Livia meminta izin pada kedua orang tuanya dengan alasan reuni alumni, dan Livia pun ikut mengantar kepergian Arsya ke stasiun bersama dengan Fian. Sebenarnya Arsya tidak mengizinkan Fian untuk mengajak Livia ikut serta mengantarnya karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk padanya saat di jalan nanti, tetapi Fian tetap bersikeras untuk mengajak Livia dan dia berkata bahwa tidak akan terjadi apapun pada Livia dan dia juga berjanji untuk menjaga Livia saat di jalan nanti, dan akhirnya Arsya pun menyetujuinya dengan terpaksa. Saat tiba di stasiun, Arsya pun mengucapkan kata terakhirnya sebelum meninggalkan Livia pergi. Dia berpesan pada Livia untuk selalu menjaga kesehatannya selama tak ada Arsya disampingnya, dan selalu mengingat Arsya dimanapun dan kapanpun, dan akan selalu menjaga hati dan cintanya hanya untuk Arsya sampai saatnya Arsya kembali. Livia pun menyetujuinya dan berjanji akan melakukan semua yang diminta oleh Arsya. Begitupun sebaliknya dengan Arsya. Kemudian Arsya pun mencium pipi dan kening Livia dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan setelah itu Arsya pergi meninggalkan Livia dan Fian menuju kedalam peron. Setelah Arsya masuk, Livia dan Fian pun pulang.Satu minggu berlalu Livia jalani hari-harinya tanpa Arsya, tapi walaupun mereka berjauhan, mereka tetap saling memberi kabar, saling sms_an, saling merindu, dan masih tetap saling menjaga perasaan masing-masing. Tetapi, kebahagiaan yang Livia rasakan tidak bertahan lama, sampai suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.Satu minggu sudah Livia menanti kabar dari Arsya yang tak kunjung membalas satupun sms dari Livia. Livia sangat sedih dan tak hentinya memikirkan Arsya. Sampai suatu hari, Livia mengirim sms pada Arsya yang berisi bahwa Livia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan yang sudah dia alami, Dia berkata bahwa lebih baik Livia pergi dari hidup ini dan tak kembali untuk selama-lamanya, dan Livia pikir Arsya akan tetap bahagia dan mungkin akan lebih bahagia jika melihat dan mendengar bahwa dirinya sudah tiada, dan tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupannya, dan terakhir Livia mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada Arsya. Disertai dengan tangisan dan keputus-asaan, Livia mengirimkan sms itu pada Arsya dan mulai mengambil sebuah cutter yang digunakan untuk melukai lengannya sendiri. Tapi sayangnya, Arsya tidak menggubris sms Livia, Livia semakin sedih dan semakin menggores lengannya. Sahabatnya, A’yun dan Fian yang mengetahui hal itu langsung mengirim sms pada Livia dan bertanya apa yang terjadi padanya. Tapi Livia tidak menjawabnya, A’yun dan Fian semakin takut jika terjadi hal yang buruk yang menimpa Livia. Esok paginya, A’yun dan Fian datang ke rumah Livia untuk memastikan keadaan Livia, saat A’yun masuk ke kamar Livia, A’yun menemukan Livia tergeletak dengan lengan penuh darah, A’yun terkejut dan menjerit hingga Fian datang menyusul ke kamar, begitupun dengan Fian, dia sangat terkejut melihat Livia tergeletak lemas disana. Lalu tanpa pikir panjang, A’yun segera menyuruh Fian untuk mengangkatnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Livia pun dirawat dan dokter berkata bahwa Livia kehilangan banyak darah, hingga dia harus melakukan transfusi darah dan sayangnya, persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. A’yun dan Fian terkejut, mereka sangat sedih dengan apa yang menimpa sahabatnya, Livia. Mereka semakin sedih saat tahu bahwa darah mereka tidak ada yang cocok untuk di donorkan pada Livia dan satu-satunya orang yang darahnya cocok untuk di donorkan darahnya hanyalah Arsya. Fian pun bertanya pada dokter sampai kapan Livia bisa bertahan menunggu adanya donor darah tersebut, dan dokter pun menjawab bahwa Livia masih bisa bertahan selama 3 jam. Mendengar pernyataan dari dokter, Fian segera menelpon Arsya dan memberi kabar padanya tentang keadaan Livia yang kritis saat ini. Setelah berbicara panjang lebar, Fian kembali dengan tangan kosong, tanpa hasil, Arsya tidak bisa datang saat itu juga karena sibuk, dan meminta maaf pada mereka karena tidak bisa menolong Livia. Fian sangat kecewa dan sangat marah pada Arsya, tetapi A’yun menenangkannya dan mengajak Fian untuk tetap mencari donor darah untuk Livia. Saat A’yun dan Fian sudah hampir menyerah dan waktu sudah hampir habis, tiba2 Marvel datang dan berkata bahwa darahnya cocok dengan Livia dan dia bersedia untuk mendonorkan darahnya pada Livia. A’yun dan Fian sangat senang dan meminta Marvel untuk menemui dokter. Setelah tranfusi darah selesai dilakukan, dokter berkata bahwa keadaan Livia berangsung-angsur membaik. Mereka bertiga pun senang dan bersyukur bahwa sahabatnya akan sembuh, A’yun dan Fian juga berterima kasih pada Marvel telah membantu mereka juga Livia. Dan mereka pun bergantian menjaga Livia di rumah sakit. 3 hari sudah Livia jalani hari-hari buruknya di rumah sakit dan kini dia sudah kembali ke rumah. A’yun pun bertanya pada Livia apa yang terjadi padanya, dan mengapa Livia menggoreskan cutter tajam ke lengannya sendiri. Livia pun menceritakan apa yang terjadi padanya dan Arsya. Mendengar cerita Livia, Fian jadi semakin marah pada Arsya, tiba2 Livia menerima sms dari Arsya, dalam sms itu, Arsya marah2 pada Livia karena sms Livia dulu, dia berkata bahwa saat itu Arsya pergi jalan2 dengan teman2nya disana dan dia tidak membawa hp, hp nya dia tinggalkan di rumah dan sms Livia saat itu di buka dan dibaca oleh orang tua Arsya, hingga saat Arsya pulang, orang tuanya memarahi Arsya. Livia sangat sedih dengan sms Arsya, dia sedih kenapa Arsya tidak bisa memahami keadaan Livia dan malah memarahinya saat dia baru saja melewati masa-masa buruknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan Livia, akhirnya Arsya berkata pada Livia bahwa lebih baik hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja, tidak lebih karena Arsya menyadari bahwa dirinya tidak bisa membahagiakan Livia dan malah membuatnya terluka, Livia pun tidak setuju dengan pernyataan Arsya dan berkata bahwa selama ini Livia tidak pernah merasa dilukai oleh Arsya dan semua yang terjadi padanya itu bukan semata-mata karena Arsya, tetapi karena kesalahan dirinya sendiri. Livia juga meminta maaf pada Arsya karena telah membuat dia dimarahi oleh orang tuanya dan meminta Arsya untuk menarik kata-katanya tadi. Livia juga menjelaskan bahwa jika Arsya merubah hubungan mereka menjadi sebatas teman biasa saja, Livia akan semakin sedih dan terluka, Livia akan lebih bahagia jika masih tetap bisa bersama dengan Arsya hingga sampai tiba saatnya nanti mereka harus berpisah. Arsya bingung dan tak bisa memutuskan hari itu juga, dan Arsya pun mohon diri pada Livia untuk mengakhiri sms tersebut. Dan diakhir sms, Arsya masih memberikan kiss bye nya untuk Livia. 1 hari setelah kejadian itu, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan Livia sangat bersyukur karena Arsya masih mau membalas sms nya, dan Arsya masih mau memaafkan Livia dan tetap mengizinkan Livia untuk memanggilnya dengan sebutan “Maz”. Dan 2 hari setelah itu, Livia dan Fian mengikuti rekreasi ArSemA(Arek Sembilan A) ke Malang dengan tujuan ke beberapa tempat, yaitu Masjid Turen, Wendit, Pasar Lawang dan terakhir adalah Wisata makam Sunan Ampel di Surabaya. Awalnya Livia pergi dengan perasaan bahagia, karena dia bisa pergi bersenang-senang dengan teman2 dan sahabat2nya. Saat perjalanan pulang, dia mencoba untuk menghubungi Arsya karena saat itu dia sangat merindukan Arsya. Tetapi ternyata Arsya menjawab sms itu dengan jawaban yang tidak pernah diharapkan oleh Livia, di sms itu dia malah memarahi Livia karena dia masih memanggil namanya dengan sebutan “Maz”, dan Arsya meminta pada Livia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan itu lagi, Livia sangat sedih dan meminta maaf pada Arsya dan mencoba untuk menjelaskannya tetapi Arsya tidak peduli dan malah mengakhiri sms itu. Livia benar2 sedih dan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, Fian. Fian terkejut dan mencoba untuk membantu Livia karena dia merasa kasihan dengannya, Fian mencoba untuk menghubungi Arsya tetapi semuanya sia-sia, karena Arsya sama sekali tidak menggubris mereka. Livia semakin sedih, melihat hal itu, Fian segera menghubungi A’yun untuk datang menghibur Livia, tetapi semua itu juga sia-sia. Berkali-kali Livia mencoba menghubungi Arsya, tetapi Arsya benar-benar tidak memperhatikannya, bahkan Livia sempat berpikir bahwa Arsya sudah tidak mencintainya lagi, dia berpikir bahwa Arsya sudah memiliki kekasih hati yang baru, yang membuat Livia semakin sedih, hancur dan terluka. Pada malam harinya, Livia mencoba menghubungi Arsya kembali, dan akhirnya Arsya mau mengangkatnya, dan disitu Livia meminta maaf pada Arsya atas semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini, dan menanyakan sebab Arsya tidak mengizinkannya lagi memanggil dengan sebutan “Maz”. Tetapi Livia malah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diinginkan olehnya. Arsya memaafkan tetapi dia tidak mau memberikan alasan kenapa dia tidak lagi mengizinkan Livia memanggilnya dengan sebutan “Maz” lagi, Arsya hanya berkata bahwa lebih baik hubungan mereka berdua hanya sebatas teman biasa saja, dan tak bisa melanjutkannya lagi, dan mengenai alasan, Arsya tidak mau menjawabnya, dia hanya diam saja. Livia sangat sedih dan mencoba membujuk Arsya, Livia berusaha untuk membuat Arsya merubah keputusannya, tetapi Arsya tidak peduli dan tetap pada keputusannya. Hal itu membuat Livia meneteskan airmatanya, dan menangis memohon2 pada Arsya, tetapi sayangnya Arsya tidak bisa merubah keputusannya itu, dan Arsya pun mengakhiri pembicaraan itu. Sepeninggal Arsya, Livia terus meneteskan airmatanya hingga membuat matanya bengkak. Livia sangat sedih dan terpukul saat mendengar langsung keputusan Arsya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah terlanjur mereka jalani dengan hati yang tulus dan suci.Esok paginya, Livia menceritakan semua kejadian yang telah dia alami pada sahabat2nya, mereka semua sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang Livia ceritakan. Fian, Marvel, A’yun dan Qory geram pada Arsya atas apa yang sudah dia lakukan pada Livia. Dulu, mereka sangat mempercayai Arsya untuk menjadi pengganti Arinal, untuk menjadi kekasih hati Livia, mereka sangat mendukung Arsya, tetapi sekarang, mereka benar2 geram pada Arsya dan merasa menyesal telah mempercayakan semua itu pada Arsya. Fian dan Marvel adalah orang yang pertama kali merasa kecewa dan marah pada Arsya, karena Fian mewakili ke-4 sahabat Livia pernah memberikan kepercayaan seutuhnya pada Arsya untuk selalu menjaga Livia, menjaga hati juga cintanya, tetapi semua itu malah di salah gunakan oleh Arsya dan mengkhianati Livia. Sedangkan Marvel, sebagai cinta pertama Livia dan orang yang pernah mengisi relung hati Livia yang juga telah memberikan kepercayaan pada Arsya untuk selalu menjaga dan mencintai Livia sepenuh hatinya, dan memberikan janji untuk tidak menyakiti hati Livia dan mengkhianatinya. Kemudian, mereka mencoba untuk menghibur Livia dan berkata untuk tidak terlalu terpuruk dalam kesedihannya, karena mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Arsya itu demi kebahagiaan Livia juga. Akhirnya Livia pun mendengarkan nasihat sahabat2nya dan mencoba untuk menerima semua takdir yang telah diberikan untuknya dan Livia juga akan selalu menanti kedatangan Arsya kembali.2 Minggu kemudian, terdengar kabar bahwa Arsya telah kembali dan hal itu membuat Livia senang, tetapi Livia kembali teringat dengan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua, hingga membuat Livia kembali bersedih dan mencoba untuk menjaga jarak dengan Arsya. Saat itu, adalah hari2 terakhir Livia bisa berkumpul dan bertemu dengan teman2nya, yaitu Romi dan terutama dengan Arsya, karena 3 hari setelah itu, akan diadakan acara wisuda tahun 2010/2011 di sekolah Livia. Sebenarnya Livia ingin menciptakan lebih banyak kenangan manis lagi dengan sahabat2nya, begitu pula dengan Arsya, tetapi hal itu sangat tidak mungkin, mengingat hal yang sudah terjadi antara Livia dan Arsya, hingga Livia pun menyerah dan tak mau memaksakan kehendak Arsya, walaupun begitu dia juga harus tetap bersyukur karena pernah diberikan kesempatan yang sangat tak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya untuk bisa menciptakan kenangan manis itu berdua dengan Arsya.Tibalah saatnya untuk Livia berpisah dengan semua sahabat2nya setelah acara prosesi wisuda selesai. Saat di pertengahan acara, Livia sempat menangis sesenggukan karena mengingat banyaknya kenangan manis yang telah mereka buat bersama yang saat itu juga harus dia tinggalkan. Dan pada akhir acara, Livia tak mau kehilangan kesempatan untuk berfoto ria bersama sahabat2nya, bercanda dengan mereka untuk yang ke terakhir kalinya sebelum mereka semua pergi meninggalkannya begitu juga sebaliknya. Tetapi hanya 1 orang yang menolak untuk foto dengannya saat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Arsya sendiri, padahal Fian, Romi, Marvel, dan Nuri mau memberikan kesempatan pada Livia untuk foto bersama diri mereka secara bergantian, setelah Arsya dibujuk rayu dan akhirnya dia tetap menolak ajakan itu, Livia pun menyerah dan membiarkan Arsya dalam kesenangannya sendiri. Dari jauh Livia menangis melepaskan kepergian Arsya dan dari jauh pula Livia mengucapkan selamat tinggal pada Arsya untuk selama-lamanya.===== THE END =====Nama : Azimatul AlifiyahStatus masih pelajar kelas 10 (X-A)Alamat : Jl. Bandung 7 Malang (Ma'had al-Qalam Man 3 Malang)Minat : Nulis cerpen, novel, dengerin musik, baca cerpen n novel..Alamat FB : stewart_pattinson@ymail.com

  • Cerpen Cinta | Rasa Yang Tertinggal ~ 02 / 05

    Oke, masih bareng admin ya. Secara mau ketemu siapa lagi kalau nggak sama adminnya. Dan kemunculan kali ini sengaja membawa lanjutan dari cerpen Rasa Yang tertinggal yang kini memasuki bagian kedua. Nah, karena ini jelas bagian kedua, so biar nyambung sama jalan ceritanya pastinya harus baca bagian satunya donk. Biar gampang bisa langsung di baca lewat sini ==} cerpen cinta rasa yang tertinggal part 1.Sembari menunggu jam masuk kuliah, Tifany menghabiskan waktu sembari duduk santai di bawah pohon jambu yang tumbuh terawat di halaman kampus. Tangannya dengan telaten mengupas satu persatu biji kwaci yang sengaja ia beli untuk menemani. Sementara di sampingnya Alan tampak menikmati kripik singkongnya."oh ya Fan, hari minggu besok loe ada acara nggak?" tanya Alan beberapa saat kemudian."E…. Enggak kayaknya," balas gadis itu tanpa berpikir. "Emang kenapa?" sambungnya balik bertanya tanpa menoleh. Perhatiannya masih ia fokuskan pada biji kwachi. Kalau di pikir kerajinan benget ya dia jajan beginian. Udah kecil, di buka susah, giliran di kunyah langsung hilang."o, syukur deh. Kalau gitu besok jalan yuk."Ajakan Alan membuat pikian Tifany tentang kwaci langsung buyar. Kepalanya menoleh kearah sahabatnya dengan tatapan mengamati. Sepertinya ia masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. Tapi melihat raut Alan yang terlihat sedang menanti jawaban darinya sepertinya itu bena."Jalan. Bareng ma loe?" merasa kalau Alan tidak mengerti arti tatapan kebingunan yang ia lemparkan, Tifany memilih menyuarakannya dalam bahasa verbal."yupz, di lapangan glora besokan pembukaan taman hiburan. Kita kesana yuk!""Ha ha ha."Bukannya menolak, apalagi mengiyakan, Tifany justru tertawa. Tangapannya tersebut tak urung membuat sebelah alis Alan terangkat. Emang lucunya dimana?"Loe ngajak gue jalan? Nggak salah?" sambung Tifany setelah tawanya reda. Alan masih belum mengubah raut wajahnya. "Lho kenapa? Gue kan cuma ngajak loe jalan, bukan nya kencan.""Justru itu," telunjuk Tifany terulur kearah Alan. "Kenapa loe malah ngajak gue jalan bukannya kencan sama pujaan hati loe itu?" jelas Tifany. Pertanyaan yang mungkin akan ia sesali nantinya."Pujaan hati?" Alan masih kebingungan. Tifany tampak memutar mata jengah. "Oh, maksut loe Septia?"Kali ini Tifany angkat bahu. Memangnya pujaan hati Alan ada berapa sih."Akh, loe bener juga. Kenapa tadi gue nggak kepikiran kesana ya?"Alan pasti adalah sosok yang benar benar bodoh sekiranya ia tidak mampu membaca raut kecewa di wajah Tifany. Atau mungkin bukan Alannya yang bodoh, tapi justru Tifany lah yang terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Namun begitu hasilnya tetap sama, tidak ada yang berubah."Jadi loe mau pergi bareng Septia?" tanya Tifany lirih. Ia tidak menoleh kearah Alan saat bertanya. Pura – pura kembali asik pada Kwaci di tangan."E…. Menurut loe?" bukannya menjawab. Alan balik bertanya. Tifany hanya angkat bahu.Untuk sejenak Alan terdiam. Namun sudut matanya mencoba untuk membaca reaksi Tifany yang masih asik dengan aktifitasnya. Terus terang, ia tidak mengerti dengan gadis itu. Cukup lama mengenal bukan berarti ia benar benar tau."Ya enggak lah. Secara gue kan udah terlanjur ngajak elo.""Terlanjur?" ulang Tifany. Kali ini gadis itu menoleh, menatap langsung kearah Alan yang kini tampak melemparkan senyum untuknya. "He he he. Nyantai aja lagi. Jangan tersingung gitu. Gue cuma bercanda. Maksut gue, gue kan ngajak elo, masa gue perginya sama Septia. Lagian…""Lagian….?" Tifany penasaran karena Alan sengaja mengantungkan ucapannya."Lagian muka loe udah mendung gitu. udah kayak mau turun hujan. Ntar kalau tetangga ada yang liat jadi salah sangka lagi. Dikira gue ngapa – ngapain anak gadis orang," ledek Alan sambil berlari menghindar jika tidak ingin sandal yang tiba – tiba melayang mendarat di kepalanya."Sialan loe," rutuk Tifany sewot namun tak urung dalam hati ia merasa senang. Mendadak, ia merasa tak sabar untuk menunggu hari minggu tiba.Dan seperti yang di janjikan, Alan benar benar mengajak dirinya. Tifany bahkan sempat merasa was was ketika pria itu menjemputnya di kostan. Bukannya apa, ia kan sekamar dengan Septia. Yang notabenenya bukan hanya bersahabat tapi juga adalah gadis yang ia tau sebagai seseorang yang di sukai oleh Alan. Jadi kalau sampai ia melihat mereka. Akh entahlah… Hanya untungnya pas Alan muncul, Septia sudah tidak ada. Tifany sendiri tidak tau sahabatnya itu kemana. Karena yang ia tau, pagi pagi sekali Septia sudah pamit pergi.Dari kostan, mereka segera menjuju ke taman Glora. Alan benar, taman hiburan hari ini baru di buka. Suasana benar benar ramai. Terlebih bertepatan dengan hari libur. Hanya sayangnya, pilihan Alan menjadi tidak bermutu ketika pria itu memilih wahana pertama yang akan mereka naiki."Sumpah, loe malu – maluin gue banget," gerut Tifany menutupi wajahnya dengan sebelah tangan sambil diam -diam sedikit melirik ke kanan dan kekiri. Dengan cepat gadis itu berjalan meninggalkan wahana yang baru saja mereka naiki. Sementara Alan tampak mengekor di belakang."Lho, emangnya gue ngapain?" tanya Alan dengan tampang watados yang membuat Tifany sumpah pengen menjejalkan sendal jeptinya."OMG Alan!!! Anak 5 tahun ajan nggak ada yang teriak – teriak kayak loe waktu naek begituan," tunjuk Tifany kearah wahana yang baru saja mereka naiki. Jangan tanya namanya, karena ia tidak sudi untuk menyebutkan. Tidak setelah melihat Alan yang berteriak teriak di ketinggian. Menurutnya hal itu teramat sangat memalukan. Seperti korban "Masa Kecil Kurang Bahagia" saja."Ha ha ha, ya ampun Fan. Nyantai aja lagi. Loe kok segitu banget sih?'Lagian yang pentingkan kita happy. Urusan pendapat orang mah, bodo amat.""Nyantai gimana? Loe nggak liat no, tu anak – anak pada ngetawaain kita?" semprot Tifany sewot. Dan ia benar, beberapa anak anak yang tadi naik bersamanya kini memang sedang menertawai mereka.Alan menghentikan langkahnya. Ditariknya kedua pundak Tifany sehingga kini tepat menghadap kearahnya."Kalau bukan kita yang peduli sama kebahagiaan kita sendiri, lantas siapa?"Untuk sejenak Tifany terpaku mendengarnya."Lagi pula apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain sama sekalikan?. Kita hanya berusaha untuk meraih kebahagiaan kita sendiri. Dan asal loe tau, ini hanya sebuah contoh sederhana yang pengen gue tunjukan sama loe. Tapi yang perlu loe ingat adalah 'Raih Kebahagiaan loe, jangan terlalu perdulikan pendapat orang lain selama itu tidak merugian'. Mengerti?""Tumben hari ini otak loe beres."Sebuah jitakan mendarat di kepala Tifany sebagai balasan atas respon konyolnya."Sialan loe, emangnya selama ini otak gue bermasalah apa?"Tifany tidak menjawab. Ia hanya meringis sambil mengusap – usap kepalanya."Udah, jalan lagi yuk," ajak Alan beberapa saat kemudian.Dan tanpa menunggu persetujuan dari Tifany, Alan sudah terlebih dahulu mengandeng tangannya. Langkah mereka terhenti di sebuah stand pernak pernik ( ??? ). Pertama sekali mereka berhenti di sana, perhatian Tifany langsung tertuju pada sebuah liontin bintang."Wow, keren," puji Alan sambil meraih liontin yang sedari tadi hanya di perhatikan Tifany."Loe juga suka?""Bentuknya yang sederhana, tapi nggak norak. Murah tapi bukan murahan. Gue mau beli ini deh.""Tapi inikan buat cewek?"."Gue juga tau kali. Lagian gue kan bilang cuma mau beli. Bukan berarti gue yang make. Udah sini, coba tes loe pake," kata Alan sambil memasangkannya di leher jenjang Tifany."Cantik," puji Alan yang secara sadar ataupun tidak membuat wajah Tifany sedikit merona."Loe suka?" tanya Alan lagi, refleks Tifany menganguk karena dari awal ia memang sudah tertarik pada liontin tersebut."Kalau gitu, kira – kira kalau gue beli buat Septia dia bakal suka nggak ya?""Septia?" gumam Tifany lirih."He'eh," balas Alan sambil mengangguk tanpa menyadari reaksi Tifany yang mati – matian menyembunyikan rasa kecewanya."Selama ini loe kan bilang kalau gue cuma bisanya ngasih dia coklat. Jadi kali ini gue pengen ngasih sesuatu yang special buat orang yang gue suka," tambah Alan lagi."Nggak perduli barang apapun yang loe kasi sama dia, kalau memang dia beneran suka sama loe, dia pasti akan menyukainya.""Gitu ya?" Alan tampak berpikir. "Cokelat yang selama ini gue kasi nggak pernah kembali. Apa itu artinya dia juga suka sama gue?" sambung pria itu beberapa saat kemudian."Mungkin. Tapi bisa aja kan tu cokelat nggak dia makan, misalnya di buang mungkin," ujar Tifany sekenanya."WHAT???!! Dibuang?" "Tidak. Bukan. Gue berani bersumpah demi apapun kalau cokelat itu dimakan, nggak di buang," ralat Tifany cepat. Ini obrolan mereka kenapa jadi rambang gitu sih."oh ya? Sukurlah kalau emang kayak gitu. Asal loe tau aja, dalam cokelat itu gue titipkan rasa cinta gue untuk – 'nya'. Itu ungkapan hati gue kalau gue benar – benar mencintai orang yang memakannya.""Gue tau," balas Tifany lirih. "Tapi maaf, maaf banget. Sayang nya selama ini tu cokelat gue yang makan," sambung nya lagi dalam hati. Mendadak ia merasa sangat bersalah."Gue nggak yakin loe beneran tau Fan," balas Alan tak kalah lirihnya.Next to Cerpen Cinta Rasa yang tertinggal part 3.Detail Cerpen Judul cerita : Rasa Yang TertinggalStatus : CompletePenulis : Ana MeryaTwitter : @ana_meryaPart : 02 Of 05Jumlah kata : 1. 326 WordsGenre : Remaja

  • Happy 2nd Anniversarry Star Night

    Happy 2nd Anniversarry Star Night!!!. Omo, nggak terasa ya udah dua tahun berlalu sejak pertama sekali admin kenalan sama yang namnya blog. Nggak nyangka juga kalau Star Night sekarang jadi blog kumpulan khayalan bebas saia. Hahahai…Jadi inget postingan pertama sekali Star Night yang jelas nggak jelas banget. Bismillah… udah gitu doank… XDUntuk sejarah Blog Star Night udah di ceritain kan di Anniversarry yang pertama kemaren. So nggak perlu di ulang lagi dunk.Sebenernya niatnya si, mau bikin Cerpen spesial ulang tahun. But, berhubung abis akhir bulan so nggak sempet ngetik. Laporan numpuk. Gimanapun ceritanya saia tetap lebih mengutamakan kerja di dunia nyata. Sempet nyesel juga kenapa maren maren malah sok sokan nulis cerpen cinta romantis kenalkan aku pada cinta, Kenapa nggak nulis cerpen Spesial ulang tahunya duluan. Tapi ya, Mau gimana lagi sodara sodara, Saia lupa #gubrak.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*