Cerbung The Prince Part 13

Baiklah, Di lanjutin protes, lanjutannya lama protes, gak di lanjutin apa lagi. C'Mon, Kerjaan ku bukan cuma nulis cerpen aja kale…. #banting sendok.
Oke deh, tapi salah ku juga kali ya, kenapa nie cerpen, ehem cerbung maksudnya nggak ending – ending. Ya sudah kalau begitu, Mantepin diri sendiri buat ngeEnding Cerpen The prince the princess and mis cinderela ini dulu.
#FIGHTING!!!!!….

Credit gambar : Ana merya
"Andre, kok muka loe kusut gitu?".
Andre menoleh, mendapati Revan yang kini sedang menatapnya khawatir.
"Nggak papa kok" Elak andre.
"Masih masalah kevin ya?" tanya Revan lagi.
Untuk sejenak Andre terdiam sebelum kemudian mengangguk lemah.
"Gue nggak bermaksut untuk mencampuri urusan kalian. Hanya saja kalau gue boleh tau, sebenernya loe punya hubungan apa sama tu anak".
Lagi – lagi Andre terdiam, Menimbang – nimbang tentang apa yang harus di lakukannya. Setelah terlebih dahulu menarik nafas untuk sejenak mulutnya kembali berujar.
"Ceritanya panjang".
"Gue siap dengerin kalau loe emang berniat untuk bercerita".
Dan kemudian mengalirlah cerita itu dari mulut Andre.
"HA?" mulut Revan terbuka setengah tak percaya setelah mendegar cerita panjang lebar dari mulut Andre. "Maksutnya loe sebagai Riany, Jadi musuh sekaligus pacar Kevin tapi pada saat bersamaan loe Juga jadi Andre yang noteben nya sebagai sahabat karib kevin tanpa dia tau kenyataan yang sesungguhnya?".
Andre mengangguk lemah, Dan sebelum ia sempat melihat raut kaget hilang dari wajah Revan ia sudah terlebih dahulu dibuat kaget saat mendapati sosok seseorang yang berdiri mematung tak jauh darinya.
"K…Ke…. Kevin?" Ujar Andre setengah tak percaya. Reflkes Revan segera mengikuti arah pandangan Andre.
"Andre dan Riani adalah orang yang sama?" Gumam Kevin lirih. Jelas ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar bahkan apa yang baru saja ia katakan.
"Ah, Gue pasti sedang bermimpi" Sambung kevin lagi sambil memukul – mukul kepalanya sendiri. "Ini mustahil" sambung Kevin lagi sambil berbalik dengan langkah semboyongan kearah mobilnya. Tanpa Revan maupun Andre sempat mencegahnya.
Cerpen the prince the princess and mis cinderella part 13
"Hufh"..
Untuk kesekian kalinya aku kembali menarik nafas berat. Astaga, jantung ku kali ini benar – benar terasa mau copot. Sumpah, seumur hidup aku belum pernah merasa segugup ini untuk bertemu dengan Kevin.
"Oke riani, loe pasti bisa. Fighting" Ujar ku sendiri sambil melangkah menghampiri kevin yang tampak sedang duduk di taman kampus.
"Kevin, Kita bisa bicara sebentar?".
"Nggak" sahut kevin ketus.
"Tapi ada yang pengen gue jelasin sama loe".”
Gue nggak mau denger".
"Tapi kev…".
"Loe mau jelasin apa ha?. Loe mau bilang kalau gue ini ternyata gampang di bodohin. Atau loe mau menunjukan ke semua orang kalau sesungguhnya Gue, KEVIN. Dengan gampangnya di bohongin sama loe dengan nyamar jadi cowok untuk pura – pura jadi sahabat gue, Karena pada saat bersamaan seorang cewek yang bernama riani itu jadi musuh gue" Kata kevin setengah berteriak sehingga menarik perhatian semua yang ada di sana.
"Plok plok plok" Kevin tampak bertepuk tangan. "HEBAT".
"Kev, bukan itu maksut gue".
"Gue nggak perduli apa maksut loe. Yang pengen gue tau, Selain dari cewek cupu dan cowok gadungan loe punya kepribadian apa lagi?" tanya kevin tegas.
"Atau jangan – jangan loe dibalik kacamata loe, loe juga bisa jadi cewek pangilan?".
"Plak".
Sebuah tamparan medarat telak di pipi kevin.
"Gue nggak nyangka loe bisa berfikir gue serendah itu".
Selesai berkata aku segera berbalik. Sial, kenapa air mata ini kembali menetes si.
"Argh, Sial" Geram kevin kesel.
"Bro, sabar dulu. Sebenernya ada apa?".
"Loe tau cewek yang barusan. Dia, udah bohongin gue dengan nyamar jadi cowok. Dia udah bohongin gue dengan pura -pura jadi sahabat gue. Dan dia juga…..".
"Loe yakin dia sengaja?".
"Loe yakin nggak ada kesalah pahaman disini?".
"Atau loe udah denger alasan dia?".
Berbondong pertanyaan keluar dari mulut sahabat – sahabatnya.
"Saran gue, coba loe pikirin dengan kepala dingin. Gue nggak yakin Riani sepicik itu. Yah, loe pasti lebih tau dia dari pada kita".
Kevin terdiam, tanpa kata ia segera berbalik pergi.
Cerpen the prince the princess and mis cinderella part 13
Lama kevin terdiam dilama kamarnya. Walau suasana tenang tapi perang batin jelas terjadi dalam dirinya. Ia sendiri masih bingung denga kenyataan apa yang telah di terimanya. Jujur saja ia merasa marah, Ia merasa ia telah di bohongi mentah – menatah. Namun disisi lain ia juga merasa lega. Andre, Yang selama ini selalu berat untuk ia akui sendiri kalau sesungguhnya ia merasa menyukainya ternyata seorang wanita. Hei, bukankah itu artinya ia masih normal?.
Sesungguhnya ia juga masih penasaran dengan gadis itu. Tentang alasannya melakukan semua ini. Secara kalau di ingat – ingat lagi, sepertinya gadis itu juga tidak terlihat memanfaatkannya. Atau ia memang harus mengikuti saran teman – temannya untuk mencari tau langsung.
Namun sebersit keraguan kembali menyelimutinya saat mengingat kejadian tadi siang. Menyadari ruat marah sekaligus kecewa riani jelas membuatnya merasa bahwa mungkin tidakannya tadi keterlaluan. Dan setelah menimbang – nimbang semuannya akhirnya ia memutuskan untuk langsung menemui gadis itu.
"Kevin, kamu mau kemana?".
Langkah kevin yang sedang menuruni tangga terhenti saat mendengar suara mama dari ruang tengah. merasa heran tumben jam segini kedua orang tuanya ada di rumah.
"Mau keluar bentar ma. kenapa?".
"Duduk sini sebentar. Ada yang ingin mama dan papa mu bicarakan".
Manut, Kevin segera melangkah menghampiri kedua orang tuanya dan duduk tepat di hadapan mereka.
"Ada apa?"Tanya Kevin heran setelah beberapa saat kedua orang tuanya masih terdiam.
"Hufh… Baiklah, begini anaku. Kami bukan lah orang tua yang selalu mendikte anaknya. Apalagi berniat untuk mengatur masa depanmu. Tapi…".
"Tapi…?" Kejar Kevin.
"Tapi dengan amat terpaksa kami harus menjodohkanmu".
"HA?" Mulut Kevin mangap. Asli kaget.
"Dia adalah donatur terpesar di perusahaan papa mu. Dan kita tidak bisa menolaknya".
"Ma, Pa. Ini bukan jaman siti nurbaya. Bahkan siti nurbaya juga sepertinya lebih baik. Paling nggak dia wanita. Sedangkan kevin…" Kevin langsung membantah dengan tegas.
"Dengar dulu anak ku. Mama masih belum selesai bicara".
"Kevin nggak mau denger. Pokoknya kevin menolak perjodohan ini".
"Papa tidak bisa menolaknya. Karena nasip perusahan di pertaruhkan disini. Tapi papa juga tau kalau kamu berhak untuk menentukan masa depan mu sendiri. Karena itu hanya ada satu cara untuk menolak perjodohan ini"Papa angkat bicara.
"apa?".
"Kau harus membawa calon istri pilihanmu sendiri".
Kevin menoleh. Apa – apa an ini.
"Dan kau harus segera mendapatkannya secepat mungkin. Kau punya waktu tiga hari untuk itu. Jika tidak…" Papa tidak melanjutkan ucapannya tapi sepertinya kevin sendiri juga sudah mengerti arah dan maksut dari ucapannya.
"Itu mustahil…" Gumam Kevin lirih.
"Sama mustahilnya untuk mama dan papa mu menolak tanpa alasan yang jelas. Jadi pikirkan itu".
Selesai berkata papa segera belalu, disusul oleh sang mama. Sengaja meninggalkan kevin sendirian dengan kebingunannya. Astaga, apa yang harus di lakukannya. Masalahnya dengan Riani saja belum beres kenapa malah ditambahin lagi. Kalau begini ceritanya ia benar – benar bias gila.
Baiklah, All. Jujur bukan punya Radja (???) kali ini ana ngetiknya disela – sela kerjaan yang menumpuk. Nyolong – nyolong waktu gitu deh. Sungguh. #anggkat dua jari.
Soalnya ana udah beneran nggak bisa lagi exsis di dunia maya sesering dulu. Mungkin udah saatnya ana untuk serius di dunia nyata. So…. #artiin sendiri.
Akhir kata, Maap ya kayaknya harus nunggu lagi deh. Tapi kalau mau ana juga punya rekom untuk baca – baca di sini. Remaja Xsis and Cipta Karya Cerpen. Itung – itung sambil nunggu lanjutannya muncul. ^_^

Random Posts

  • Cerpen Teenlit “Dia {Nggak} Suka Aku?! ! ~ 1/2

    Lagi bingung nyari ide buat lanjutin cerpen part karena tetep nggak nemu. Yah seperti biasa, mencoba nyari ide selingan. Nulis cerpen yang di usahain bisa langsung end sekali ketik. Sebenernya emang langsung end si, tapi ternyata kepanjangan. So di jadin dua part deh. Cerpen teenlit "Dia {Nggak} suka aku?!" . Judulnya sesuatu yak, ala tebak tebakan. Soalnya phan pake tanda seru sama tanda tanya. Gimana sama cerpennya langsung simak ke bawah aja deh. Cekidots…Cerpen Teenlit "Dia {Nggak} Suka Aku?!Cerpen remaja Cinta "Dia {Ngggak} suka akuMeskipun nafasnya kini sudah ngos – ngosan, Rika tetap nekat berlari. Nggak tau ini memang harinya yang sedang sial atau apa. Yang jelas dari tadi pagi begitu banyak kejadian buruk melandanya. Mulai dari tidurnya tadi malam yang di hantui mimpi buruk, bangun pagi kesiangan. Harus ngantar adiknya, Chicy ke sekolah dulu karena motornya tiba – tiba bocor sehingga ia harus meminjam motor adiknya yang sekolahnya memang lebih deket dari rumah. Namun sialnya, ternyata saat memakai motor Cicy pun, tiba – tiba di jalan mogok juga. Dan ia tidak tau itu karena apa. Terpaksa ia dorong hingga sampai kebengkel. Karena tak ingin terlambat kesekolah, ia tinggal. Untung saja bengkelnya tidak jauh dari sekolah, sehingga ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya ia tetap harus berpacu dengan waktu. Lewat dari jam 07:00 gerbang sekolah akan di tutup. Jadi memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berlari.Saat melihat gerbang sekolah yang masih terbuka di kejauhan, senyum mengembang di bibir Rika. Walau keringat membasahi, ia tetap merasa gembira. Paling tidak, ia belum terlambat bukan? Lagipula selaku siswa teladan di sekolahnya, seumur hidup Rika memang belum pernah datang terlambat.Namun senyum di wajah Rika berlahan memudar sebelum kemudian benar – benar punah saat matanya menangkap sebuah senyum misterius milik seseorang yang berdiri di depan gerbang. Fadlan, rival seumur hidupnya kini tampak berdiri di sana sambil memegang gembok. Jangan bilang kalau pria itu akan mengunci pintu pagarnya. TIDAK!!!.Terlambat, saat kaki Rika tiba di sana, pintu gerbang sudah benar – benar di tutup. Membuat tenaga Rika yang sudah lemes semakin ngedrop. Matanya menatap kesel kearah Fadlan yang tampak tersenyum puas. “Fadlan. Bukain nggak!. Loe iseng banget si jadi orang!” bentak Rika kenceng.“Enggak,” balas Fadlan santai. “Ini kan udah jam 07:00. Emang sudah saatnya pintu pagar di tutup kale. Lagian salah sendiri, punya motor itu buat di tungangin. Bukan di dorong – dorong. Ha ha ha. Da da Rika, selama menikmati keterlambatannya ya. Gue masuk dulu. Bye bye,” kata Fadlan sambil melambaikan tanganya sebelum kemudian berlalu. Mengabaikan teriakan sumpa serapah Rika di belakangnya.Untunglah sepertinya Rika masih bernasip mujur. Karena beberapa saat kemudian, Pak Tarno, panjaga sekolahnya muncul. Karena ia sudah cukup di kenal di sekolah itu ia mendapat sedikit kemudahan. Sudah ia katakan bukan kalau selama ini ia selalu menjadi siswa teladan. Bahkan ketika ia menceritakan kronologi kejadianya, Pak Tarno hanya tertawa. Pria tua itu berkata, ia juga sempat heran kenapa tiba – tiba ada Fadlan menawarkan diri untuk menutup gerbangnya. Sepertinya pria itu sengaja melakukannya saat tak sengaja melihat dirinya waktu mendorong motornya yang mogok tadi. Sialan. Ketika Rika memasuki kelas, tatapan tajam segera ia arahkan kearah Fadlan yang tampak cengengesan dengan senyum tanpa dosanya. Membuat Rika yang sudah kesel semakin kesel. Dalam hati ia berjanji ia akan menyiapkan pembalasan yang setimpal untuk pria itu nantinya. Awas, liat saja. Waktu terus berlalu. Jam istirahat telah tiba. Walau kakinya terus melangkah, Rika tetap tidak berhenti mengerutu. Merasa kesel akan ulah gurunya. Ia tau kalau disekolahnya ia memang seorang yang layak di jadikan suri teladan karena sikap rajinnya. Dan jujur sebenernya ia juga merasa cukup bangga ketika guru selalu memberi perhatian lebih padannya. Sayangnya, perhatian yang di berikan kadang mencakup segala hal. Termasuk ia yang pertama sekali mendapat perhatian untuk membawa tumpukan tugas dari seisi kelas ke ruang gurunya. Ayolah, emangnya ia kacung gadungan. Mana bukunya berat. Banyak lagi. Sampai sampai itu hampir menutupi wajahnya. “Rika awas…”Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, yang Rika tau saat ini ia sudah duduk di lantai. Semua bukunya sudah bertebaran entah ke mana, sementara jidatnya sendiri benar – benar terasa berdenyut nyeri. Melihat bola yang mengelinding tak jauh darinya membuat ia bisa menebak apa yang terjadi. Begitu kepalanya menoleh, matanya langsung melotot tajam kearah Fadlan yang sedang berlari kearahnya..“Loe nggak papa?” tanya Fadlan dengan nafas yang masih ngos – ngosan. Sebelah tanganya terangkat mengusap keringat yang membasai dahinya dengan tatapan terjurus kearah Rika yang masih belum bergerak sama sekali.“Nggak papa gimana? Nggak liat ni jidat gue benjol gini?!”Fadlan terdiam. Kali ini matanya mengamati Rika dengan seksama. “Cuma dikit gitu. Manja banget sih?” kata Fadlan santai sembari berjalan kearah bola kaki yang tadi tidak sengaja ia tendang jauh saat bermain di lapangan samping sekolah yang justru nyasar kekepala Rika yang kebetulan lewat.Rika melongo. Bukan hanya karena sikap santai Fadlan tapi juga karena tiada iktikad bertangung jawab sama sekali dari makhluk itu. Terlebih saat ia melihat punggung Fadlan yang mulai berjalan meninggalkan dirinya begitu mendapatkan bolanya kembali.“Gue di bilang manja?” gumam Rika sendiri. “Eh busyed. Dasar cowok songong. Tidak bertanggung jawab. Minta maaf kek, bantuin beresin buku ini dulu kek. Dasar kurang ajar!” teriak Rika kesel, tapi Fadlan hanya membalas dengan lambaian tangan tampa menoleh sama sekali.Walau masih merasa sangat kesel, Rika akhirnya membereskan buku bukunya kembali. Merasa percuma berteriak – teriak memaki Fadlan yang sama sekali tidak perduli. Dalam hati ia terus menyumpahi makhluk itu agar celaka.Setelah menyelesaikan tugasnya, Rika segera menuju kearah kantin sekolah. Ia yakin ketiga temannya pasti sudah menunggu. Tak lupa, di belinya sebutir telur dari pemilik kantin untuk meredam benjolan di jidatnya.“Ya ampun Rika, jidat loe kenapa?” tanya Icha khawatir begitu melihat wujud Rika yang kini duduk di hadapannya. Tatapan Andriani dan Lauren juga menyiratkan rasa penasaran yang sama.“Kena bola” sahut Rika singkat.“Bola? Kok bisa?”“Ya bisa donk. Ini buktinya.”“Ye ditanya baik baik, jawabnya sewot gitu. Santai aja kali,” komentar Lauren, tapi Rika yang melongos.“Tunggu dulu. Jangan bilang kalau itu ulah Fadlan lagi?” tebak Andrani beberapa saat kemudian. Saat melihat raut kesel di wajah Rika bertambah langsung meyakinkannya kalau tebakannya benar.“Ha ha ha,” tawa koor langsung meluncu dari bibir Lauren, Andrean dan Icha. Benar – benar kontras dengan raut wajah Rika saat ini. “Nggak ada yang lucu,” gerut Rika kesel.“Ha ha ha, Beneran deh kita heran banget. Emang kali ini gimana lagi kronoligi kejadiannya. Secara seriusan tau, dari jaman dulu kala kenapa si loe nggak pernah akur sama cowok yang satu itu. Tiap hari pasti ada ada aja. Perasaan baru kemaren loe bilang loe ketabrak doi yang lagi belajar sepeda, tadi pagi loe dikunci diluar pagar sama dia, lah masa kali ini malah kena bola,” komentar Icha di sela tawanya.“Tau, tu cowok emang pembawa sial buat gue kali.”“Hush. Nggak boleh ngomong gitu tau. Entar kena batunya baru tau rasa.”“Kena batunya apaan. Orang yang gue omongin beneran juga. Sumpah ya, nggak ada orang lain di dunia ini yang gue benci selain tu cowok.”“Hati – hati sis, entar kena omongan sendiri lho. Inget, orang bilang benci sama cinta itu beda tipis. Soalnya sama sama selalu di pikiran. Entar tau tau loe jatuh cinta sama dia baru tau rasa,” kata Andini menasehati yang di balas cibiran sinis Rika. Jatuh cinta sama musuh bebuyutan? Dalam dunia mimpi juga mustahil.“Bener tuh apa yang Andini bilang. Yang kaya di Ftv atau di drama korea kan seringnya gitu. Loe yang demen nonton pasti juga nyadar itu kan Rik?” Lauren menambahkan. Icha juga tampak mengangguk angguk membenarkan. “Ngaco loe ya pada. Sembarangan aja kalau ngomong,” kesal Rika. “Lagian ni ya, walau dunia kebalik sekalipun. Itu nggak akan kejadian. Mustahil, imposible. Nggak akan pernah. NEVER!!!!” sambung Rika menegaskan. Tapi lagi lagi ketiga sahabatnya hanya tertawa. Selang waktu berlalu, seperti biasa. Setiap Pak Ivan yang masuk kekelas, Rika selalu kebagian tugas untuk mengumpulkan tugas dari teman – temannya baru kemudian membawanya keruang guru. Jika menurutkan hati, Rika ingin sekali protes. Tapi entah mengapa jika ia berhadapan langsung dengan wajah guru bahasa indonesianya itu, bibir nya selalu terkunci rapat. Bahkan biasanya senyum selalu mengambang. Ia yakin, itu pasti karena pengaruh dari wajah tampan yang di miliki Pak Ivan. Apalagi gurunya memang masih bujangan. Benar benar penganiaayan yang tidak termaafkan.Tepat saat di korirodor belokan kelasnya, dari arah yang berlawanan tampak seseorang yang belari dengan begitu kencang. Karena kemunculannya yang begitu tiba – tiba, Rika sama sekali tidak bisa menghindar sehingga tabrakan pun terjadi. Setumpuk buku yang ia bawa kini berserakan di lantai sementara ia sendiri sudah terlebih dahulu terduduk diam.“Sory … sory … sory… Gue nggak sengaja.”Mulut Rika yang terbuka untuk marah – marah terpakasa ia tahan saat melihat raut bersalah di wajah seseorang yang berjongkok di hadapannya sambil mengumpulkan buku – bukunya. Melihat dari penampilannya, sepertinya pria itu adalah adik kelasnya.“Kelvin, jangan lari loe!!”Secara refleks Rika menoleh. Hal yang sama dilakukan oleh sosok yang berada di hadapannya. Keduanya menatap kearah seorang gadis yang sedang berlari kearah mereka.“Mampus gue.”Rika mengernyit ketika mendengar gumaman lirih Kelvin. Selang beberapa saat kemudian gadis itu melongo saat mendapati buku yang telah di susun Kelvin kembali berhamburan. “Sory ya. Gue bukan nggak mau bantuin ataupun bertangung jawab. Tapi ini beneran urgen. Gue harus kabur sekarang. Beneran sory banget,” tanpa menunggu kalimat balasan sama sekali dari Rika, Kelvin langsung bangkit berdiri sebelum kemudian kabur menghilang entah kemana.“Tunggu dulu, maksutnya tu orang kabur tanpa bantuin gue sama sekali?” gumam Rika sendiri setelah sedari tadi hanya terdiam. Mungkin karena otaknya beberapa saat ini memang suka lola sehingga kali ini kurang tangkap dengan apa yang terjadi.“Akh, dasar rese. Sial banget sih gue,” gerutu Rika. Walau kesel tangannya mulai bergerak mengumpulkan buku – bukunya kembali.“Makanya kalau jalan itu hati – hati, liat kiri kanan juga.”Rika kembali menoleh. Matanya berkedap – kedip dengan mulut setengah terbuka tanpa kata. Pandangannya lurus kearah makhluk dihadapanya yang tidak menoleh sama sekali. Justru ia malah tampak sedang mengumpulkan buku milliknya. Rika tidak sedang bermimpikan? Fadlan sedang membantunya mengumpulkan buku. Fadlan?!“Lagian loe jadi cewek sok baik banget.Walaupun sesama cowok, oke gue akui kalau Pak Ivan itu keren, tapi emang harus segitunya juga ya. Mau – maunya aja loe di jadiin kacungnya.”“Yee.. apaan sih. Siapa yang di jadiin kacung. Lagian loe tumben – tumbenan perduli sama gue. Kesambet ya?” balas Rika judes.Fadlan hanya melirik sekilas sebelum kemudian bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Rika. Melihat Fadlan yang berlalu, Rika cepat – cepat melakukan hal yang sama. Tadinya tidak berniat untuk mengejar makhluk itu. Apalagi sampai harus mengekorinya di belakang. Tapi masalahnya, sebagian buku yang harusnya ia bawa ada pada Fadlan, terlebih arah yang Fadlan ikutin adalah jalan menuju ke ruangan guru.“Fadlan, loe mau kemana si? Buku nya kenapa loe bawa?” tanya Rika sambil berusaha mensejajarkan langkahnya. Tapi Fadlan tidak bergeming, kakinya terus melangkah. Dan tau tau mereka telah sampai. Setelah menyerahkan bukunya, pria itu segera berlalu. Kali ini, barulah Rika benar – benar berniat untuk mengejarnya. Tapi bukan karena ia naksir Fadlan ya, ia Cuma penasaran akan sikap aneh makhluk itu barusan. “Loe ngapain ngikutin gue?” tanya Fadlan risih.Rika tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit menatap kearah Fadlan. Berusaha menyelidiki maksut tersembunyi dari pria itu.“Tadi itu loe ngapain? Loe bantuin gue?” tanya Rika curiga..“Heh,” Fadlan sedikit mencibir sinis. Gadis itu bodoh atau apa. Sudah jelas – jelas tadi ia memang membantu, kenapa masih bertanya. Tanpa menjawab ia terus melangkah.“Jiah, gue di cuekin. Hei serius ini. Jawab donk. Tadi itu loe kenapa bantuin gue?” kejar Rika lagi.Tiada yang menduga, Fadlan yang sedari tadi melangkah tiba – tiba berhenti mendadak dan langsung berbalik. Rika yang tidak siap dengan kemungkinan itu langsung mengerem kakinya segera. Hingga kini hanya berjarak kurang dari dua centi, wajah Fadlan jelas berada tepat di hadapnnya. Membuat jantungnya terasa berhenti berdetak sebelum kemudian berdenyut dua kali lebih cepat dari biasanya. Akh, situasi ini….Cut.#Krik Krik Krik…. Bersambung…. Ha ha ha, #admin kurang kerjaan. Sory man ceman, tadinya mau di bikin oneshot, eh ternyata kepanjangan. Terpaksa deh, di potong dulu. Di jadiin dua part. Ide dadakan yang admin tulis pas kebingungan ngetik kelanjutan cerpen kenalkan aku pada cinta #gubrag.Oke, kira – kira ada yang bisa nebak {dengan benar} endingnya gimana? Kan kali aja ada yang demen berimaginasi bebas kayak admin. Xi xi xi⌣»̶•̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌ With love •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣ Ana Merya •̵̭̌•̵̭̌✽̤̥̈̊•̵̭̌•̵̭̌«̶⌣Powered by Telkomsel BlackBerry®

  • ANTARA CINTA dan KELUARGA

    ANTARA CINTA dan KELUARGAoleh PURWATIHidup akan menjadi indah selama kita masih memiliki dan berada disamping orang –orang yang kita sayangi, seperti anita yang dimana dia masih memiliki kedua orang tua, adik dan kakak yang selalu mengingatkannya dikala dia melakukan suatu kesalahan, anita yang masih berumur 16 tahun dan duduk dibangku sekolah SMK yang dimana dia masih melewati masa-masa pubertas sama seperti yang dirasakan oleh remaja yang lain.Pada saat itu anita menyimpan perasaan sayang pada seorang cowok yang bernama “Andre”.tanpa dia sadari bahwa dari awal dia masuk dibangku sekolah SMK anita sudah dilarang oleh keluarganya untuk berpacaran,tetapi anita tetap saja menentang perintah orang tuanya itu,anita dan andre menjalani hubungan berpacaran sudah hampir dua tahun. Dia menjalani semua itu tanpa sepengetahuan dari orang tua anita,apakah ini kekonyolan dari sebuah cinta ? seperti ada pepatah kalau “ Cinta itu Buta “ yang bisa membutakan mata dan hati bagi insan yang merasakannya seperti “Anita”… Andre selalu ada disaat Anita membutuhkannya,disaat anita merasa sedih dan bahagia.mungkin itu yang membuat anita menganggap andre adalah segalanya dalam hidup anita,hari-harinya selalu dia jalani dengan andre meskipun mereka berpacaran dengan cara long distance,karena andre bekerja dan sudah jelas jauh dari anita,,tetapi anita tidak menyadari semua itu. Suatu ketika anita memasuki bangku perkuliahan,dari sinilah kedua orang tua dan kakaknya mengetahui tentang hubungannya dengan andre melalui seluler anita yang berisi sms-sms dari andre yang selama ini dia dan andre sembunyikan,dan tanpa sepengetahuan anita tiba-tiba andre berkunjung kerumah anita,andre tidak pernah mendapat respon baik dari keluarga anita karena sudah dari awal keluarga anita tidak menyukai dan menyetujui hubungan mereka.Pada saat itu keluarga anita marah besar sampai ayah dan ibu anita jatuh sakit mengetahui perbuatan anita yang selama ini menentang perintah mereka mulai saat itulah anita diberi pilihan antara keluarga, kuliah atau pacar.Pada suatu malam anita berada pada perasaan bingung dengan pilihan yang diberikan oleh orang tuanya,, dia tidak ingin melepaskan pacarnya tetapi dia juga tidak ingin melepaskan keluarga dan kuliahnya.tapi dia harus menentukan pilihan yang harus dia ambil, akhirnya anita memilih keluarga dan kuliahnya dia berjanji pada orang tuanya untuk tetap fokus pada kuliah dan masa depannya. Dia tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya.Akhirnya anita sekarang berusaha untuk mengembalikan rasa kepercayaan orang tuanya pada dirinya dan dia berkomitmen untuk selalu memandang masa depannya.>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> sekian <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<Cinta yang sebenarnya itu ialah cinta yang nantinya akan diberikan oleh Tuhan pada kita,dan cinta yang tanpa restu dari kedua orang tua tidak akan pernah abadi untuk selamanya.Nama : PURWATIEmail : watikyupz@yahoo.com

  • Cerpen Persahabatan: Jatuh Cinta yang Salah

    Jatuh Cinta Yang SalahOleh Leriani ButonSahabat adalah serangkaian jalian kasihDikala jatuh dia akan datang untuk mengangkatknyadengan kedua tangannya.Selalu mengharapkan kebahagiaan yang teruraiDi setiap serat-serat persahabatanBagiku sahabat adalah sebagian nafas yang aku punyaWalau terkadang mereka sering pergi meninggalkanku…Tapi, mereka telah tergores di tinta jalan hidupku….Sahabat tak pernah terurai oleh massa…Dan tak kan pernah sirna hanya karena kebencianMeskipun kadang tak sependapatNamun selamanya akan tetap menjadi sahabat…. Dulu, aku memiliki kehidupan yang sangat suram di masa kecilku. Aku nyaris tak punya teman ketika aku duduk di bangku SD dulu. Setiap kali aku mencoba untuk mendekati mereka, mereka malah menjauhi dariku. Padahal aku berusaha untuk bisa berteman dengan mereka, dulu aku menekan rasa maluku untuk mendekati mereka. Namun, itu semua sia-sia. Mereka menganggap suaraku hanyalah gemuruh yang lewat dan akan menghilang setelah suasana menjadi cerah. Mereka bilang padaku, aku hanyalah anak yang jelek, cupu’, dekil yang hanya dianggap sampah. Aku akui aku jelek dan cupu’. Namun, aku ga’ dekil. Tapi itu adalah presepsi orang. Dan aku harus terima itu. Aku hanya tak ingin membuat masalah.Hingga di suatu ketika, ada seseorang yang datang di kehidupanku. Sahabat pertama yang kumilki, dialah Arlen. Dia sangat baik padaku. Setiap kali aku menagis karena ejekkan teman-temanku, dialah yang menenangkanku. Meskipun kami masih kecil pada saat itu dan masih di anggap anak ingusan, namun bagiku dia adalalah malaikat berwujud manusia yang akan selalu menjagaku. Katika aku bersamanya, akhirnya banyak teman-teman yang aku punya. Aku akui, ketampanan Arlenlah yang membuat mereka mau berteman denganku. Aku sangat bahagia. Arlen selalu mengatakan padaku untuk tidak menangis di kala aku di ejek dengan sebutan mata kodok. Dia selalu bilang mataku ini indah seperti mata bidadari.Hingga di suatu ketika, Arlen pergi meninggalkanku. Dia pindah di kota Ambon. Rasanya sulit bagiku menghadapi semua ini sendirian. Teman-teman yang sempat ada, kini menghilang sejak kepergiannya Arlen. Dan kini aku harus memulainya lagi dari awal .Hari berganti hari. Tanpa terasa tahun-tahun pun terlewatkan. Ternyata 8 tahun sudah aku dan Arlen tak pernah bertemu. Bahkan sejak kepergiannya di hari itu, dia serasa benar-benar menghilang tanpa ada sepatah katapun dan tanpa meninggalkan jejak. Aku hanya bisa menangis ketika tahu dia sudah tidak ada di sisiku lagi. Begitu sulit menghadapi teman-teman yang suka memilah-milah teman. Namun, aku tahu aku akan mendapatkan sahabat yang baik di suatu hari nanti. Dan aku tahu dengan kekuatan cinta yang aku milki, semuanya akan terlihat mudah untuk dihadapi.Ya,,,, ternyata semuanya telah terjawab, aku sekarang memilki banyak teman dan bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Aku tahu Allah akan memberi jalan kepada orang yang mau berusaha untuk berubah. Dan itu terbukti di kehidupanku….Di tahun yang ke-8, di pertengahan tanggal bulan Desember lebih tepatnya 16 Desember 2008, Di kala itu aku masih duduk di bangku SMA. aku mendapatkan nomor ponselnya Arlen dari salah satu sahabatku Antoni. Kebetulan dia jalan-jalan ke ambon, dan bertemu dengan Arlen. Dari situlah Arlen menitipkan nomor ponselnya kepada Antoni untukku. tanggal 17 Desember 2008 aku menghubungi Arlen. Namun, dia tak pernah membals SMSku. Besoknya aku SMS dia lagi, namun tak ada sms balasan darinya. Sejak sat itu aku pun tidak menghubunginya lagi. Aku berfikir, Antoni cuman ingin mempermainkanku. Di hari yang ke-6, tepatnya tanggal 23 Desember 2008, aku di SMS sama Arlen. Itulah kali pertama aku dan Arlen berhubungan lewat komunikasi telpon.Ya Allah… betapa senangnya hatiku saat itu. Aku hanya bisa terdiam mendengar kelembutan suaranya. Suaranya masih terdengar seperti kami masih SD dulu, benar-benar lembut. Hingga disuatu hari aku ngirim sms ke dia, namun dia tak membalasnya tapi dibalas sama temannya yang bernama Alvin. Dari situlah akhirnya aku berteman dengan Alvin. Ternyata Arlen sengaja membiarkan temannya yang membalas SMSku. Dia ingin mendekatkanku dengan temannya Alvin. Sejujurnya hari itu aku agak kecewa, tapi ternyata Alvin adalah orang yang baik yang memilki banyak kesamaan denganku. Mulai dari aktivitas sampai dengan hal yang kami sukai. Dan itu membuatku tarasa nyambung dengannya.Semuanya masih berjalan dengan baik. Aku dan Alvin masih tetap berteman baik. Dia selalu mengirim SMS disaat waktu yang tepat. Sedangkan Arlen menghilang tanpa jejak. Aku sudah merasa nyaman dengan Alvin. Namun, di saat Alvin akan menyatakan persaanya padaku, malah aku menerima Arlen sebagai pacarku. Sungguh aku telah menyakiti persaan Alvin.Sejak saat itu, Alvin pun menghilang dari kehidupanku. SMS yang biasanya ku terima dari dia setiap hari, kini tak ada lagi. Mungkin dia marah padaku. Itulah awal persahabatnku hancur.Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin mengenal Arlen. Dia tak seperti Arlen yang kumilki seperti dahulu. Lingkungan telah merubahnya. Setiap kali dia ketemu denganku, dia selalu menceritakan mantan-mantannya padaku. Yang lebih parahnya lagi dia bilang padaku kalau dia masih mencintai mantannya. Dan lebih kacaunya lagi dia menyukai sahabatku Regina. Ya ampun…. Aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa tersenyum ketika dia mengatakan hal itu padaku. Entahlah apa yang dia inginkan. Yang pastinya itu membuatku sakit mendengarnya. Dia tidak memikirkan persaanku yang saat itu masih menjadi pacarnya.Aku berusaha bersabar, setiap kali dia curhat tentang masa lalunya aku selalu merubah statusku yang tadinya pacar, menjadi sahabat setia yang akan mendengarkan semua yang ia katakan. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang punya perasaan. Aku tak kuat mendengar pacarku selalu mengungkit-ngungkit mantan pacar yang masih dicintainya. Kalaupun aku bertahan, entah sampai kapan aku bisa bertahan menyembunyikan persaanku yang hancur setiap kali dia menceritakan hal itu padaku?Ya Allah… aku tak kuat menerima semua ini. Rasanya sakiiiit sekali…. Hingga di suatu hari aku ngirim sms dia, namun nomor ponsel yang ku gunakan adalah nomor ponselku yang baru. Dia membalas SMS ku. Namun di beberapa bulan berikutnya, aku tak pernah mengSMSnya lagi. Dan dia juga tak pernah mengSMSku.Hingga di suatu hari, dia SMSan dengan fitria temanku, dan bertanya kepada fitria kenapa aku ga’ pernah lagi menghubunginya? Dan fitria menyampaikan hal itu padaku. Dua hari selepas itu, aku pun mengirim SMS padanya. Dan dia membalas SMS ku juga dengan bertanya siapa aku. Aku menyuruhnya menebak.Awalanya tebakannya membuatku GR setengah mati. Dia berkata kalau akau adalah pacarnya yang jauh namun dekat di hati. “hah,,,,melegakan, ternyata Arlen masih mengingatku,” pikirku dalam hati.Ternyata aku salah menduga, orang yang dia bilang pacar yang jauh namun dekat di hati adalah bukan aku tapi pacarnya yang lain Dea Yesika. Ya Ampun,,,, aku hanya berusa mengatur nafas untuk membuat air mataku tak boleh terjatuh. Namun apa daya, aku adalah manusia biasa yang punya persaan dan sore itu air mataku akhirnya jatuh juga. Ternyata selam ini, dia tak pernah save nomor baruku. Aku hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.Setelah mengetahui kebenarannya, aku pun mengSMSnya kalau yang dia tebak adalah salah. Ternyata dia tak pernah mengingatku. Mungkin selama ini aku keGRan dengan apapun yang dia katakan padaku di awal sebelum kami berdua berpacaran. Cinta telah membutakan mata hatiku. Sampai-sampai aku tak bisa melihat ketulusan dari orang yang menyayangiku. Dan Aku tak bisa membedakan yang mana kebohongan dan yang mana kebenaran.Setelah dia tahu kalau orang yang dia tebak adalah salah, dia pun mengirim SMS ke fitria dan meminta nomorku. Kamu tahu, setelah dia tahu kalau aku adalah orang yang SMSan dengan dia tadi, dia malah meminta maaf kepada fitria bukan padaku. Aku heran, dia tak bisa membedakan yang mana orang yang dia sakiti dan yang mana orang yang harusnya di mintai maaf.Tapi, tak apalah. Lagian aku bukan hakim yang harus menuntut dia untuk mengucapkan maaf padaku. Bagiku Arlen yang ku milki bukanlah Arlen yang ada padaku sekarang, tapi yang kumiliki hanyalah Arlen yang dulu ketika kita masih di bangku Sekolah Dasar. Aku tak membencinya, aku hanya kecewa dengan sikapnya yang sekarang. Waktu telah merubah dia menjadi orang lain. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Yang pastinya hidup ku akan terus berjalan meskipun tanpa Arlen.Mungkin benar sahabat akan selamaya menjadi sahabat. Namun, tak sedikit sahabat bisa menjadi cinta. Aku mengerti ini adalah kesalahanku dengan Arlen. karena di dalam hubungan yang kami jalani, ada seseorang yang kami sakiti. Dia adalah Alvin. “Maafkan aku sahabatku…!!!! Aku berharap kita bisa bertemu lagi dan bisa bersahabat seperti dahulu lagi.Cinta Is GreatSemua akan berakhir pada waktunyaTak akan ada yang tersisaSemua yang ku miliki akan hilangYang tersisa hanyalah cintaCinta,,,,,Entahlah itu benar ada atau tidak?Kalaupun banar ada, mengapa cepat sekali berubah?Ketika ku mencoba untuk percayaYang ada hanya dustaYa, dusta!Mungkinkah aku jatuh cinta pada orang yang salah?Atau mungkin aku yang terlau bodoh dalam mengenal cinta?Namun, bagiku semua itu tak begitu berartiCinta memang ada untuk orang yang bisa merasakannyaDan cinta juga bisa tak ada bagi orang yang tak pernah merasakannyaSemua orang bisa berubah karena cinta.Namun tak sedikit orang orang yang mendustainyaHah,,, cinta memang gila. Dan kini aku telah memaafkan semua yang telah terjadi. Aku tak bisa membencinya hanya karena dia pernah menyakiti hatiku. Dia sama sepertiku, dia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Selama 10 tahun berakhir, di tahun yang ke-11 aku baru ketemu lagi dengan Arlen, ketika itu aku berencana pulang kampung. dulu kami pacaran jarak jauh. Ternyata fellingku benar, dia telah berubah menjadi Arlen yang tak ku kenal. Namun, dengan perubahnnya itu, tak kan membuatku menghapusnya menjadi sahabat pertamaku.Pertemuan kami terjadi begitu singkat. Ketika dia melihatku, dia hanya meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya padaku di waktu dulu. Sebagai seorang sahabat, aku memaafkannya. Karena aku tahu sahabat takkan pernah terubah hanya karena kebencian. Sejak saat itu, aku pun membuka lembaran baru bersama Arlen dengan memulai persahabatan yang dulu sempat hilang. Aku memang menyayanginya, namun rasa sayang itu tak lebih dari rasa sayangku sebagai seorang sahabat. Kesalahan di waktu dulu takkan terulang kembali.Sejak saat itu, kami tak bertemu lagi. Karena aku harus melanjutkan studyku di Makassar. Namun, bukan berarti kami kehilangan komunikasi. Sesekali dia mengSMSku atapun sebaliknya. Aku akan menjalin persahabatan ini dengan rasa sayang, kesaling hormatian, dan Saling menasehati tanpa harus mendustainya. Aku tahu, bila aku memulai dengan kebohongan, maka semuanya akan berakhir dengan kepahitan. Aku berharap dia bisa mengerti dengan persahabatan yang kami jalani saat ini.THE END

  • Cerpen: Cinta Tak Berujung

    Cinta Tak Berujungoleh: Ari IndiastutiAku Ari Indi yang bisa dipanggil Ari atau Indi. Sore itu aku sedang berjalan-jalan bersama adik sepupuku hari ini. Kupikir hari ini hari yang cukup cerah. Umurnya mungkin baru 4 tahun lebih sedikit. Tapi tingkahnya terkadang seperti orang dewasa saja.Yah… hari minggu pagi seperti ini memang menyenangkan. Tak ada beban pikiran untuk berangkat pagi ke kuliah. Apalagi pagi-pagi seperti ini jalanan tidak terlalu ramai. Kendaraan yang berlalu lalang sedikit.“Kak indi!”,terdengar suara kecil adikku memanggilku.“Ya? Ada apa sayangku?”, tanyaku sambil berjongkok mensejajarkan diri dengan adikku yang lucu ini.“Itu tempat apa kak?”, tanyanya dengan nada lucu sambil menunjuk ke sebuah bangunan. Matakupun mengikuti arah yang ditunjuknya.Ternyata Upi’, nama adik sepupuku ini, menunjuk ke sebuah sekolah kanak-kanak yang memang cukup jauh dari tempat tinggalku. Sehingga aku jarang main ke tempat ini.“Itu sekolah TK, pi’. Tahun depan Upi’ sekolah disini mau?”, tanyaku pada gadis kecil berambut keriting ini.Tapi tunggu dulu. Hari minggu seperti ini kenapa anak-anak TK masuk ya?“Kak, masuk kesana yuuukkk!”, adikku mulai merengek . Jika sedang merengek seperti ini tak ada yang bisa menolaknya.Tapi lumayan. Kebetulan aku ingin tahu sedang ada acara apa disana. Jadi adikku ini bisa dijadikan alasan jika ditanya salah satu orang yang ada disana. Aku mengambil tempat duduk di beranda rumah yang ada di sekitar Taman Kanak-kanak itu. Bukan hanya aku yang duduk disini. Ada juga seorang lelaki yang cukup tampan mengajak seorang anak laki-laki seumuran Upi’.Ternyata sedang ada semacam pentas yang menampilkan kemampuan anak TK disini. Lucu sekali. Aku jadi teringat saat itu,dan memoryku kembali 11 tahun lalu. Masa kecilku, lebih tepatnya masa Taman Kanak-kanakku yang kuhabiskan bersamanya. Dulu aku tidak tinggal disini. Dulu aku tinggal di Semarang. Dan ketika aku Sekolah Dasar kelas 2 ayahku dipindah tugaskan ke Magelang.Tapi kenangan masa-masa ketika aku di Semarang tetaplah melekat dalam hatiku. Apalagi masa-masa TK saat itu. Bersama cinta masa kecilku. Entah bisa dibilang cinta masa kecil atau apalah. Yang penting bukan cinta monyet. Karena aku dan dia bukan monyet. hhehhee… JEh? Kulihat ada 2 orang anak sedang menyanyi di depan. Yang satu laki-laki,satunya perempuan. Lucu sekali melihat mereka berdua. Mengingatkanku ketika aku masih seumuran mereka dulu. Bersamanya. Benar-benar masa kecil yang indah untuk diingat dan tak akan pernah kulupakan.Namanya Adi Yudha. Aku mengenalnya karena kami satu sekolah saat masih Taman Kanak-kanak dulu. Sejak perkenalan itu entah mengapa kami merasa cocok. Aku dan Yudha anak dari keluarga tentara. Dan kami tinggal di sebuah kompleks asrama Srondol. Entah kebetulan atau apa rumah kami berdekatan,barhadapan bahkan.Banyak hal kami lalui bersama. Dari memanjat pohon, bahkan ketika jatuh dari pohon Yudha yang menolongku. Main PS bareng. Makan bareng,terutama makan kerang .Banyak hal kami lakukan bersama. Pernah Juga sepeda kesayanganku dibocorin banyak sama temenku. Dan Yudha juga yang membantuku. Aku menumpuk banyak alasan agar dia mau mengantarku berangkat maupun pulang sekolah.“kaakkkkkkk!”, aku mendengar seorang anak kecil berteriak padaku. Mengagetkanku saja.“Ada apa sih?”, tanyaku menekan kemarahanku.Upi’ membangunkanku dari kenangan indahku. Tambah lagi laki-laki seumuran denganku yang sejak tadi duduk disebelahku malah menertawaiku. Sementara yang ditanya hanya diam saja dan duduk disampingku.“Ada yang lucu mas?”, tanyaku ketus. Tak peduli kalau Upi’ ada disebelahku.“Hmhmhmhm…. Tidak!”, jawab cowok itu sambil menahan tawanya.“Hhhh!”,aku mengalihkan pandanganku ke panggung tanpa menghilangkan raut wajah sebalku.“Aku ulin! Kau?”, kudengar cowok itu mulai berbicara. Sepertinya tawanya sudah reda.Kemudian kuangkat kepalaku menatapnya.Dia sedang berdiri. Menyunggingkan sedikit senyum. Mungkin itu senyum andalannya. Dan mengulurkan tangannya padaku. Apa aku harus menolak uluran tangannya atau tidak. Jika ku tolak pasti dia sakit hati.“Aku Ari Indi”, kupilih untuk mengulurkan tanganku menyambut jabatan tangannya. Kubuang semua egoku. Dalam pikirku aku tak boleh menyakiti hati orang lain meskipun itu berarti aku yang harus tersakiti.Aku tercengang. Yang kulihat malah Upi’ sedang senyum-senyum gak jelas sambl memandangi wajah Ulin. Oh Tuhan! Anak kecil jaman sekarang terlalu mudah dewasa. Aku merasakan handphone di saku celana jeansku bergetar. Setelah kulihat ternyata ada satu pesan diterima.1 pesan diterimaDari : Wenny Nda Q [085643445566]Heiiii nda??km dmn cih?Replay….Ke: Wenny Nda Q [085643445566]Di TK kartika IV srondol sktr rmh, lg jln2 ama adek, ksni aj… ^^Kelihatannya sudah tidak ada balasan lagi. Akupun memasukkan kembali Handphoneku dan menengok Ulin juga adikku.“Siapa? Cowokmu ya?”, tanya Ulin padaku. Yang sontak membuatku gelagapan.Bagaimana tidak. Aku dan Wenny memang dekat. Kita kemana mana berdua.Tapi tidak ada hubungan apapun diantara kami selain teman. Jujur saja aku memang menyukainya. Sangat. Entah sejak kapan aku memiliki perasaan pada cowok itu.“Hey!”, ulin megibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku. “Napa malah nglamun non?”, tanyanya lagi.“Eh? Bukan! Cuma temen kok!”, kataku . Tak mau menumbuhkan lebih banyak pertanyaan di otaknya.Akupun berpamitan pada Ulin dan berjalan menuju pinggir jalan.“Tin!Tin!Tin!!!!!!” Sebuah suara klakson motor mengagetkanku. Ternyata itu Wenny yang menjemputku. Tapi moodku sudah berubah buruk saat ini. Setelah sampai dirumahpun aku tetap diam. Sementara aku hanya berdiam di kamar. Untuk beberapa saat aku hanya membuka album masa TKku.“Indii, nak Wenny mau pamit!”, kata ibuku. Aku segera beranjak dar kamarku. Ketika ku tengok kebelakang, ayah ibuku sudah masuk dalam rumah.“Kamu kenapa Nda,kok kayaknya lagi ada masalah?”, tanya Wenny tiba-tiba.“Lagi gak enak badan aja kok nda,gak apa-apa”,.muka pucat yang sebenernyaa bohong.“Jika ada apa-apa ceritalah padaku. Aku siap mendengarnya.ok Nda”, katanya sambil merangkulku. Wenny memang bersikap seolah mengerti apa yang kualami. Aku tahu dia hanya mencoba mengerti. Sebelum dia pergi tak lupa dia selalu menjabat tanganku,dan cium kening, seperti pacaran saja. hehhehehee J“Makasihh”, lirihku. Ya… aku mengucapkan itu begitu lirih. Aku tak mau menyakitinya. Dia, orang yang kusayangi. Untuk saat ini.Dia yang mengisi hatiku, dia orang yang sempurna buatku.Kulihat dia mengangguk. Setelah dia pergi dari pandanganku, aku kembali memasuki kamarku. Aku memikirkan semuanya. Aku tak mau menyakiti siapapun. Aku mengambil album TKku. Kubuka lembar demi lembar. Mengenang masa TK. Masa bersama Yudha.Aku masih ingat ketika kami hujan-hujanan. Berlari menerjang hujan hanya dengan jas hujan kecil milik kami. Begitu menyenangkan. Aku juga ingat waktu itu aku jadi rajin juga karenanya. Ya… Karena seorang Yudha.Pertemanan kami terbilang cukup awet. Meski terkadang ada sedikit pertengkaran kecil diantara kami. Tapi, akhirnya baikan juga. Hingga saat itu tiba. Ayahku dipindah tugaskan ke Magelang. Aku terkejut. Aku tak bisa berpisah dengan Yudha. Terlalu sulit untukku berpisah dengan Yudha. Tetapi Yudha kecil begitu tegar. Dia tetap menenangkanku. Bahkan sebelum kepindahanku, dia memberikan hadiah 1 kardus untukku yang berisi benda-banda lucu. Dia juga mengantarku. Menyedihkan memang berpisah dengannya. Tapi aku senang masih bisa mengenangnya.Aku berniat mencari jejak semua teman-teman TKku. Setiap pulang sekolah, sebelum kembali ke rutinitas belajarku aku sempatkan mengutak-atik hapeku. Tak lupa pula dengan laptopku. Aku ingin mencari teman-teman TKku. Paling tidak nomor handphonenya.1 minggu…. 2 minggu… 1 bulan… 2 bulan sudah aku mencari nomor handphone teman-teman masa kanak-kanakku. Tapi tidak satupun diantar mereka yang tau nomor handphone Yudha. Kata salah satu temanku, tak lama setelah kepindahanku, ayah yudha juga dipindahtugaskan. Katanya Yudha pindah ke Gunung Pati.Pencarian 1 tahun berhasil. Tanpa membuang waktu akupun menelpon nomor yudha.“Halo, Assalamu’alaikum”, suara khas seorang cowok menyambut teleponku. Meskipun aku tau itu bukan suara khas mlik Yudha kecil. Karena semakin dewasa suaranya juga berubah bukan.“Ya, H-halo”, ucapku agak gugup. Entah kenapa jantung berdetak cepat saat ini. “Apa benar ini Yudha?”, tanyaku mencoba menghilangkan rasa gugupku.“Iya, benar. Dengan siapa ya?”, mendengar itu hatiku seakan melayang. Ya tuhan, pencarianku tak sia-sia kini aku menemukannya.Setelah aku menyebutkan namaku. Dari suaranya aku bisa mendengar kalau dia juga senang. Kamipun bercerita banyak di telepon. Tak kupedulikan pulsaku,kami telepon 3jam. Aku baru tahu, ternyata dia mencariku. Ya… yudha juga mencariku. Dia juga takut kalau-kalau kami bertemu ternyata aku sudah melupakannya. Mana mungkin aku melupakannya. Cinta masa laluku. Bahkan waktu ulang tahunku yang ke 17 tahun ini. Harapanku adalah bertemu dengannya.Hari demi haripun berlalu. Setelah pencarianku itu, kini aku telah lebih dekat dengan Yudha. Aku tahu disampingku ada Wenny sekarang. Tapi aku tak pernah tau apa maksud kedekatan kami selama ini. Aku sekarang lebih sering mengobrol dengan Yudha, meski hanya melalui telepon saja.Hari ini tanggal 25 Desember 2010. Di salah satu bumi perkemahan daerah Gunung Pati dekat SMP 24. Jantung terus berdetak lebih cepat setiap mengingat kedekatanku dengan Yudha.Aku kesana untuk ambil komik untuk Wenny yang cuma ada di Semarang.Kami berjalan, naik dan naik. Mencari pemandangan indah untuk meluangkan waktu kami, dan mengobrol. Mengenang masa lalu kami.kami berada di bukit yang kata dia kalau di malam itu indah banget..Hatiku semakin berpacu dengan waktu ketika kami saling mengungkapkan perasaan kami. Ya…“Yud, aku lama cari kamu karena aku sayang banget sama kamu,,”dia tercengang dengan kata –kataku dan aku buru-buruminta maaf.“Ari, kamu itu gak perlu minta maaf karena aku juga sayang sama kamu”,Oh,ternayata kita itu sama –sama menyukai. Aku tak tau pastinya sejak kapan.Kita selanjutnya hanya tertawa, dan tak memikirkan kalimat yang aku ucapakan. Lalu kupetik bunga merah yang akan sebagai saksiku. Lalu kami naik kesebuah gasebo dan kita mengalihkan pandanganku ke pemandangan di depan kami.Aku pulang dengan perasaan bahagia. Tak kusangka Yudha kecil kini sudah berubah semakin dewasa. Dia menjadi cowok yang alim, baik, dan tetap menjadi Yudha yang ku kenal dulu. Dengan humor-humor kecilnya yang selalu membuatku tertawa. Kata-katanya yang membuatku tenang,disaat aku butuh sesuatu pun Yudha yang menjadi tempat cerita dan memberikan solusi yang buat aku tenang.Hariku terasa senag bersama Yudha dan Wenny.Gimana kisah selanjutnya indi? dengan siapakah cintanya akan berlabuh?Tunggu saja ya,,,Sekilas cerita sebelumnya,aku lagi bahagia dengan hadirnya Wenny dan Yudha.Namun, kebahagian itu gak selamanya. Keesokannya aku dibuat syok dengan status FB Wenny yang jadi “menikah dengan Annis”,lalu aku segera sms,,Kepada :Wenny Nda Q [085643445566]Tu maksudnya status menikah apa? kok sama dia?Gak berapa lama dia balas,,“thrretttt,,threttt,,thretttt,,,,,”Dari : Wenny Nda Q [085643445566]Lh0 nda kan emg udh tau q ma dia?..Aku langsung tersentak akan kata-kata dia, walaupun aku memang tidak jelas hubungannya. Tapi dia udah perhatian, antar jemput atau menemani aku kemana saja. Aku tak bisa terima kenyataan. Aku cerita dengan Ibu semua. Dia tahu perasaan aku dan melarang aku dekat.Belum aku sembuh sakit aku cerita sama Yudha dan bertanya kalimat suka yang pernah kita ungkapain bersama-sama. Tapi aku tambah sakit saat ku baca sms dari Yudha.1 pesanDari :Yudha [085643095613]Assalammualaikum ari, aku tahu perasaanmu saat ini tapi aku juga mau ngomong kalau aku sudah punya cewek. Maaf aku tak bisa bohongi perasaan ini, aku sayang kamu tapi gimana aku sudah punya ccewek.Seketika aku menangis semakin menjadi-jadi.kenapa semua terjadi padaku.Aku dengan berat hati membalas sms darinyaKepada :Yudha [085643095613]Walaikumsalam Yud, iya Yud gak apa-apa. Aku juga tahu kalau kita hanya teman kecil ya. tapi kita tetap temen ya….Ada balasan dari Yudha,tapi aku udah gak sanggup buat jawab sms.Aku juga dengan Wenny tidak smsan untuk 3 bulan.Hari-hariku hanya diam.Masih meratapi kisahku,tapi aku harus bangkit..Setelah 3 bulan,,,,,1 pesanDari:Dari :Mz Wen [085643445566]Indi, dlu nah beliin komik, boleh q ambil.^^Kepada : Mz wen [085643445566]Iya ambil, dirmh.10 menit kemudian,,,,,Mz Wenny udah didepan rumahku,aku buka dan aku suruh duduk.Hanya senyum kecut yang aku berikan.“Duduk mz,” dengan nada berbeda dari 3 bulan lalu yang aku ramah sekali. Karena walupun sudah lama aku tetap merasa sakit itu masih membekas di hati ini dan tak akan hilang.“Iya, makasih. Sendirian dirumah?” dia mungkin merasa tidak enak tapi gimana komik itu udah gak ada di toko manapun dan aku punya itu komik. Mau tidak mau dia tetap temui aku. Dia juga berbeda tak seperti dahulu.Aku pun tak jawab pertanyaan dia, dan kebelakang untuk buatkan minum.“Ini mz minumnya,, waduh, maemanny cuma ini,, maaf ya,,. Entar ya, tak ambilke,,, minum dulu deh..” ya, aku mulai agak gak ketus sih, gimanapun dia udah baik 3 bulan temani aku, layaknya pacar tapi kenyataan pahit aku terima di belakang.“Ok.. maksh, malah repot-repot,, dikeluarke semua makannya,, hhee”, katanya sambil tertawa, seakan tak pernah terjadi apapun,,Lalu kuberikan komik itu, dan itu benar, dia tanya “Ganti berapa?”Aku sih dikit bohong ”Gak sah, gratis aja, itu juga dikasih sama temen kok,” Walupun hati ini sakit, aku belain ke semarang, ambil komik , bayar juga di yudha, dia terima beres dan hanya ucapan makasih. Tapi tak apalah, itung-itung dia bawakan makanan, temani aku kemna-mana aku bayar dengan komik itu.“Bener nih, makasih ya..” Dia sambil tersenyum, senyum manis yang dulu buatku sekarang dia milik orang. Kita mengobrol sih, seperti biasa aja hanya gak panggil “nda”, itu buatku sedih tapi harus terima semuanya.Saat aku ngobrol sama Wenny handphoneku bergetar,,Dari :Pratama [087731088706]Ao,, agy apa? jo lupa maem ntr maag.. heheReplay…Kepada :Pratama [087731088706]Ao juja,, ea,, mksh ez ingetin q sllu ya,, :DSedikit ku lirik Wenny sepertinya lihat aku yang lama membalas sms itu dan terlihat serius. Memang aku lama banget, itu aku sengaja.“Cie, udah dapat cowok? kenalin dong sama aku, siapa cowok yang beruntung dapatin kamu??”, kata Weny yang sambil tertawa dan sambil menggoda aku.Sambil tersenyum aja aku, “Gak kok, temen aja”. Sambil berpikir kata-kata Weny ‘cowok yang beruntung dapatin kamu’, apa ya maksud dia? Aku berpikir kata-kata dia sampai aku terkejut.“Hellllooo,, kesambet lho say ama syaiton,, hehhe”,, gaya khas lucunya sambil ketawa.Itu yang aku suka darinya, senyum ramah yang gak pernah habis buatku, jadi inget kalau ada tugas berat aku ngeluh, pasti dia dukung aku dengan telepon dan ngajak tertawa.“Ahh.. gak nglamun kok,, uh,, dasar mz Wen, masak say jadi sayton,, hhuh”, menggrutu sebel tapi tetap senyum.Sejahat dia nyakitin aku, aku tetap tak bisa benci sama dia. Walaupun disaat aku kemarin sakit ada Yudha, ada Lucky. Lucky lah yang selalu semangatin aku, tiap detik sms aku buat ingetin istirahat, makan. Tapi aku kemarin-kemarin belum sadar akan kebaikan dia yang teramat baik buat aku.“Ndi, aku pulang ya,, maksih udah ngrepotin kamu, gratis juga ini komik, hhee”, sambil berdiri dan mengulurkan tangannya. Lalu aku juga mengulurkan tangan. Tiba-tiba, tanganku dicium dan dia berpamitan. Aku juga mencium tangannya.“Iya mz, sama-sama deh..”, sambil melepaskan tangank ini.“Da,, da,,, indi,,”, dia sambil naik motor dan melambaikan tangannya.“Ok mz, ati-ati”, ucapku seperti biasa. Ku tunggu hingga ia hilang dari pandangan mata ku ini. Cepat sekali karena dia membawa motor selalu dengan kecepatan tinggi.Tak berapa lama,handphone yang aku taruh dimeja bergetar.“threeeettt,,threeeett,,thretttttt….”2 pesan diterimaDari : Mz wen [085643445566]Ao,,q dah sampe rumah,maksh ^^Replay:Kepada : Mz wen [085643445566]Wuz,,cepet,naek jet ^^ hhehheDari :Yudha [085643095613]Rik,aku udah didaerahmu.Rumahmu yang mana??Aku tidak percaya kalau Yudha udah didaerah rumahku. Gak pikir lama aku telepon dia. Akhirnya dia kerumahku untuk tepati janjinya padaku. Aku merasa senang sekali walaupun aku tahu dia milik orang lain. Aku perisalakan masuk kerumah, dia cerita banyak sama aku. Dia ingat kalau dia pernah antar pindahan. Seneng banget. Karena udah sore dia pulang, lagipula perjalanan Gunung pati-Magelang cukup jauh.“Makasih ya rik, udah jadikan aku tamu istimewa, kamu jadi repot”, nada halus yang diucapkan tapi buat aku ketawa.“iya Yud, kan kamu juga lagi sekali kerumaku setelah 11 tahun tidak kerumahku,” nada halus juga, biar kelihatan sopan gitu.“Assalammualikum ya rik,kapan-kapan kamu main lagi ketempatku ya.”, sambil mulai menyalakan motornya.“Walaikumsalam Yud, iya kapan-kapan. Kamu juga sering main-main ke Magelang ya,, ati –ati ya Yud,,”, kulambaikan tanganku dan senyum ku tebar untuknya.Kulihat sampai dia hilang dari pandanganku. Sesaaat aku melamun berpikir,kenapa aku jadi dekat lagi sama Wenny sama Yudha. Ah, tak apalah yang penting mereka bahagia,aku ingin menjauh tapi hati ini tak mugkin dibohongi untuk tetap dengannya.Aku berpikir kenapa cinta masa kecilku juga lenyap, cinta yang ada dihadapanku pun juga hanya menyakiti hati ini. Tapi aku tak perlu cinta mereka, aku bahagia jika meereka bahagia diatas kesedihan aku ini.“Tinnnnnnnnnn,,,,,”,bunyi klakson truk yang lewat membangunkanku dari lamunan ini.Dan aku masuk kerumah kembali.Beberapa bulan kedepan…..Aku tak pernah putus sms sama Yudha sebagai tali persaudaraan. Sering kasih kabar, tanya kabar keluarga. Aku juga jadi smsan Weny, tapi tak sedekat dahulu, karena aku tahu batasanya.Aku baru tahu makna ‘cinta tak harus memiliki’. Aku alami sendiri kisah cinta ini, cintaku memang tak ditakdirkan untuk memiliki mereka, tapi hati ini telah bahagia saat aku dulu bersamanya. Harus terima semua dengan hati dan pikiran tenang. Akhirnya aku tak bersama Yudha atau Wenny…Tapi aku punya prinsip “Aku tak apa jika sekarang aku bukan siapa-siapa untukmu,, Tapi aku berharap suatu saat nanti menjadi terakhir dihatimu”^^THE END^^========================================================================Kenalin aku Ari Indiastuti. Aku dilahirkan di kota Semarang pada Januari 19 tahun lalu. Aku biasanya dipanggil Ari atau Indi oleh orang tua dan teman-temanku. Jika kalian semua pengen lebih kenal aku bisa cari aja di fecabook di alamat ariindi2501@yahoo.com(Ari Indiastuti Weck Weck),bisa juga twitter di mania.crazy@live.com(@indi_weck),atau bisa kirim email di ariindiastuti@rocketmail.com yang pasti aku baca,mungkin juga bisa tukar-tukar sesuatu di blog ku di ariindiastuti.blogspot.com. aku sudah hobby nulis,beberapa ceritaku dan puisi juga beberapa dimuat di majalah Semarang, Magelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*