Catatan Tentang Dia – Oleh Farhatul Aini

Oleh : Farhatul Aini – Mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi cerita kita namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.
Kisah cinta ku ini memang harus berakhir, walaupun hati benar-benar menolaknya, tidak ingin merasakannya, sakit hati ini terasa letih akankah kau tau itu? Kevin kakasih yang aku sayang begitu tulus, mengakhiri hubungan kita tanpa alasan yang jelas, berkali-kali ingin aku menolak kenyataan ini, tapi ini adalah sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus ku lalui, mencintainya membuat aku sering melupakan sakit yang dia perbuat, kebaikannya masih ku rasakan seperti dia adalah kekasihku yang dulu, namun keadaan selalu menyadarkanku bahwa dia bukan miliku lagi.
Tidak semua kebaikannya selalu membuatku bahagia, saat dia sedang berbaik hati menemaniku saat aku kesepian, dia seringkali bercerita tentang kehidupan percintaannya yang ia jalani, sebelumnya aku tak pernah tau, sontak saat dia bercerita rasanya perasaan ini berantakan, tapi memang aku harus tau mungkin untuk menyadarkan aku melupakannya, tapi dihatiku benar-benar tak pernah ingin tau dan lebih baik tidak pernah tau, hal itu tak ingin pernah ku dengar, tapi aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, apapun ceritanya walaupun menyakitkan buat hatiku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang ada saat dia butuhkan, walaupun mungkin dia tidak pernah membutuhkan aku.
Pernah di suatu hari, pertemuan kita memang tak sering seperti mungkin pacarnya yang lalu. Dan saat bertemu dia adalah moment yang spesial, hari ini adalah pertemuanku pertama dari semenjak kita tidak terikat oleh ikatan cinta, rasa canggung dan gugup menatapnya dirasakan olehku, berjalan di tempat keramayan sedikit membuat jantungku gemetar, bingung mau berkata apa ? akankah sikapnya masih seperti yang dulu perhatian dan lembut kepadaku ? akankah dia berubah menjadi seorang yang dingin terhadapku ?
Waktu telah menjawab semuanya, dan semua baik-baik saja tak ada perubahan dari semua yang telah berjalan, kebaikan dan keramahannya masih sama seperti yang dulu.
Aku bahagia dan lega saat semua berjalan seperti yang terfikirkan, dipertemukan dengannya kembali membuat aku berharap akan bisa membangun sebuah hubungan kembali dengannya, namun kebaikannya hanya sebuah kesalahan yang aku artikan, aku berharap dan menunggu sampai hari kencan itu selesai, dan mungkin kita memang tak bisa disatukan lagil, semakin aku menyadari bahwa aku telah kehilangannya.
Tidak mudah melupakan sesorang, apalagi jika kita benar-benar tulus mencintainya.
***
facebook : Farhatul.aini@yahoo.com
Twitter : @ainigonil
blog : aini-gonilll.blogspot.com
E-mail : ainibarnessa@yahoo.co.id

Random Posts

  • Cerpen Cinta Romantis “Kenalkan Aku Pada Cinta” ~ 03

    Oke, Ide ceritannya dadakan, waktunya pengetikannya juga maksa. So kalau cerita nya rada maksa juga harap di maklumi aja yak?. Cerpen ini adalah lanjutan dari cerpen cinta romantis " Kenalkan aku pada cinta" part 2 kemaren. Abis, kalau di inget inget udah lama juga nggak di lanjutin ternyata. Soalnya gara gara pinguin V2 si. Jadi males di star night malah sok sok an bikin "cerpen remaja cinta 'Cinta ci penghujung harap'. Yang jelas apapun hasilnya, nikmatin aja lah. Mumpung masih mau nulis ini. ^_^Setelah merapikan poni rambutnya serta memastikan kucir kuda di rambutnya terikat kencang, tangan Astri terulur membuka laci meja riasnya. Dari kota persegi panjang itu ia temukan kaca mata yang selalu menemani kesehariannya di kampus. Setelah mengenakannya ia berbalik. Meraih tas, dan segera menuju ke kamar sebelah.sebagian

  • Cerpen Sedih: Bunga dan Derita

    Judul: Bunga dan DeritaKategori: Cerpen Sedih, Cerpen RemajaPenulis: Ray NurfatimahAku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.Kembali aku fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat Dannis datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan, ya walau hanya di taman kota saja. Dannis adalah teman sekelasku yang dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil itu. Tapi karena suatu moment saat aku cidera diperlombaan basket antar sekolah, dia dengan gagahnya membopong tubuhku. Dari kejadian itulah aku mulai mengalihkan fikiran jelekku kepadanya. Dari yang tadinya evil yang paling dihindari, kini jadi sosok pangeran penolong yang dinantikan kehadirannya.Jarum jam telah menunjuk angka sembilan.“Oh Dannis, setega itukah kamu? udah dua jam Nis hikss…..,” aku tejatuh dalam tangis. Anganku telah hancur lebur karena sebuah janji yang tidak ditepati.Padahal masih hangat di memoriku, tadi siang saat jam istirahat aku mendapati sepucuk surat beramplop merah jambu terselip di mejaku. Hi Asmi…..Malam ini aku haraf kita bisa ketemu….Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….-Dannis-Ku ulang kembali hingga tiga kali, aku baca dengan super apik, terutama dibagian pengirim.“Oh Tuhan, Dannis?” suasana bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku.Nuansa kelas menjadi indah dipenuhi bunga warna-warni. Hingga seseorang menepuk pundakku. Dan suasana kembali berubah menjadi kelas dua belas saat jam istirahat. Sepi, dan terkapar tak berdaya buku-buku yang dilempar majikannya.“Asmi….”“Ehhh….. Via, kenapa Vi?“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”Aku disuguhi pertanyaan yang membuat aku kikuk sendiri. Aku tidak bisa membayangkan seberapa merah wajahkun saat itu. Yang pasti saat itu aku benar-benar tertunduk.“Eng….ngak ko Vi, aku gak kenapa-napa”, sahutku gugup.“Ya udah Gw mau ke kantin aja, mau ikut gak Mi?”“Oh gak, maksih aku gak laper.”Aku segera membalikkan tubuhku, memburu kursi dipojokan kelas. Namun baru beberapa langkah, hartaku yang paling berharga disabet oleh orang dibelakangku.“ehhhh..”“Haaa… ternyata ini toh yang bikin Loe jadi gak laper? Hahhahah…”“Via kembaliin!” ku rebut kembali kertas berharga itu.“Yah Loe ini Mi, sekalipun Gw gak baca tapi Gw udah tahu isinya apaan.”“So tahu kamu!”“Ya Gw tahu, itu surat dari Dannis kan? Dia ngajak kencan? Soalnya nanti malam dia mau……” omongan Via tertahan dengan kedatangan seseorang yang dari tadi dibicarakan.“Dannis…..” sahut ku dan Via kaget.“Aduh hampir saja” bisik Via pelan.“Kenpa Vi?” tanyaku penasaran.“Ohh enggak! Gw kayaknya ngedadak gak mau kekantin deh!”“Lantas loe mau kemana Vi?” tanyaku semakin heran.“Ke WC ya Vi? ya udah sana!” tangkas Dannis plus kedipan kecil dimata kirinya.“Oh ya bener, hhehhe” Via telah berlalu, sekarang tinggal aku dan Dannis.“Gimana?” Tanya Dannis.“Gimana apanya Nis?”“Tuu…” tunjuknya ke arah kertas dijemariku.“Oh oke deh aku mau”“Ya udah Gw cabut dulu ya!” sahutnya salah tingkah.“Oh ya…” aku tak kalah salting.Perlahan Dannis meninggalkan kelas, namun sebelum dia benar-benar pergi dia memanggilku.“Hmmm…. Vi jangan ampe telat ya!”“Ok sipp!”“Awas loh”“Iya bawel”***Dengan berurai air mata dan kecewa, aku putuskan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku semakin kacau dengan disuguhi omelan Bunda, yang malah bikin hatiku semakin hancur saja. Beribu pertanyaan Bunda menghujani aku.“Dari tadi kamu kemana saja?”Aku hanya terdiam kaku tanpa menjawab pertanyaan Bunda.“Jawab!” kali ini nada suara Bunda meninggi,”Kamu tahu? anak perawan gak baik keluyuran jam segini!” sambung Bunda.Aku masih tak memberikan respon apa-apa.Plakkk Sebuah tamparan menggores pipiku, “Oh Tuhan sakit sekali” bisikku dalam hati.“Bunda jahat!” aku segera masuk kekamar, kututup rapat pintu kamarku.Malam ini sungguh menjadi malam yang paling berat untukku. Ini adalah kali pertama Bunda menampar dan memarahiku. Belum lagi dengan perasaanku yang masih kecewa karena kencan pertamaku gagal, karena Dannis tak hadir diundangannya sendiri.“Oh Tuhan, semalang itukah nasib ku?”Aku kembali terhanyut dalam tangis, hingga akhirnya aku tertidur pulas.***Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Fikirku sudah matang, sesampainya disekolah akan ku beri tamparan mereka berdua.“Via sama Dannis itu dari mulai sekarang bukan temanku lagi, teman macam apa mereka? Berani ngerjain aku ampe separah itu!” gerutuku kesalKakiku masih mengayuh, menyusuri pinggiran jalan kota yang ramai. Namun saat aku melewati Taman Kota kakiku serasa tertahan, aku mengingat peristiwa tadi malam.“Cuihh….. aku bakalan balas semua rasa sakitku tadi malam!” aku kembali bergerutu kesal.Aku samakin kesal saat aku menyadari banyak kelopak bunga mawar berantakan diruas jalan.“Apa-apaan nih, mereka kira aku lagi jatuh cinta apa?” dunia pun seakan menertawakan rasa sakitku dengan menabur bunga di jalanan yang aku lewati ini.Aku berlari kencang meninggalkan keanehan yang membuat aku semakin gila. Tak membutuhkan waktu yang lama aku telah sampai disekolah.Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari dua orang biadab itu. Tiga puluh menit telah berlalu, aku sudah mengubek-ubek isi sekolah tapi hasilnya nihil, keduanya hilang bak ditelan bayang. Hingga bell masuk pun tiba, tapi keduanya tak kunjung masuk kelas. Sampai pelajaran dimulai, baru sepuluh menit seseorang mengetuk pintu kelas. Aku terperajat kaget “Aku haraf itu Dannis atau Via”. Tapi ternyata bukan, dia adalah Bu Jen, wali kelas kami.“Pagi anak-anak”“Pagi Bu……” jawab murid hamper serempak.“Pagi ini ibu dengan berat hati akan mengabarkan kabar duka kepada kalian”. Semua anak kelas dua belas terlihat tenang mendengar penjelasan Bu Jen.“Salah satu teman kita, Dannis. Semalam mendapat musibah, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, hingga nyawanya tidak dapat tertolong”. Suara Bu Jen semakin melemah.Suasana berubah menjadi pilu, tangisan mulai tumpah ruah dimana-mana. Aku sendiri terpasung dalam diam, jantungku berdegup dalam kisah sedih yang tak tertahankan.“Dannissssss!!!!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya, aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku telah bertepi di ruas jalan di dekat Taman, dimana aspal dipenuhi kelopak bunga yang telah layu diinjak pengguna jalan. “Oh Tuhan ternyata kelopak bunga ini dipenuhi cipratan darah”Diri ini semakin berguncang hebat, saat aku temui secarik kertas.Dear……Asmi (Calon Kekasihku)From : DannisKertas kotor bernoda darah itu aku peluk sekuat-kuatnya.“Dannis…..Hiks” kepala ini semakin tak tertahan, dan akhirnya aku terkapar dalam ketidaksadaran.***Mata ini pelan-pelan mulai menatap jelas orang-orang disekelilingku. Ku lihat dengan pasti wajah Bunda dan Via penuh dengan kehawatir dan penasaran.“Asmi kayaknya udah sadar Tant”“Iya”“Aku kenapa Bund?” tanyaku dengan nada berat.Bunda dan Via menatapku pilu. Aku mulai mengingat deretan kejadian sebelum aku terkapar dalam tempat tidur ini, “Dann….” Ucapanku terhenti karena sentuhan telunjuk Bunda di bibirku. Bunda menganggukkan kepalanya petanda mengiyakan setiap halus ucapanku, “Iya, kamu yang sabar ya nak”Lagi-lagi aku terpaku dalam diam, hanya linangan air mata yang mengalir deras dipipiku. Via memeluku erat,“Maafin Gw ya Mi, Hiks… Gw tahu, Gw gx mampu jaga Dannis buat Loe.”“Hiks…… Dannis” ***Satu minggu sudah aku mengurung diri dikamar, tanpa bicara dan tak ingin brtemu siapa-siapa.Tukk tukkkk…..Seseorang mengetuk pintu kamarku“Asmi , nih ada Nak Via pengen ketemu kamu.”“Pergi Kamu!!” bentakku kasar, dan lemparan bantal tepat mendarat diwajah Via saat Bunda membuka pintu kamarku.“Mi ini Gw, Via”“Pergi kamu!!! Kamu yang udah bikin Dannis meninggal!!!”“Ya Gw Mi, Gw yang udah nagsih buku Diary loe itu ke Dannis, yang membuat Dannis sadar tentang semua perasaan Loe ke dia. Tapi asal Loe tahu Diary Loe itu juga yang bikin Dannis sadar kalo cintanya gak bertepuk sebelah tangan!”“Jadi Dannis……..” ucapanku terhenti, perlahan aku mendekati wajah Via yang basah karena air mata, “Bohong!” bentakku bringas.“Gak Mi!”“Alah itu akal-akalan kamu aja, biar aku enggak ngerasa terhianati” sahutku sinis.“Gak Mi, Loe gak sadar waktu malam itu Dannis terlambat tiga puluh menit, dia terus manggin-manggil Loe, tapi Loe gak denger,” ucapannya terhenti, sesaat Via mengambil nafas panjang “Loe malah sibuk sama riasan Loe itu, sampai akhirnya dia tertabrak karena lari kearah Loe!”“Bohong!”“Tidak! Gw liat dngan mata kepala Gw sendiri, Gw yang anter Dannis ke Taman karena dia kelamaan milih bunga di toko bunga nyokap Gw.”“Dannis….Jadi”“Jadi gak ada yang terhianati disini, Dannis bener-bener cinta sama Loe Mi! Pliese Loe jalani hidup Loe lagi, buat Dannis Mi!”“Hiks…….” Aku menangis sejadi-jadinya, tapi itu akan menjadi tangisan terakhirku. Karena aku telah berjanji untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Karena aku mencintai Dannis, laki-laki yang mencintai aku.***The EndBy : Ray Nurfatimah

  • Cerpen cinta “Dalam diam mencintaimu” End

    #EditVersion. Nah, ini adalah cerpen dalam diam mencintaimu bagian ending untuk versi editnya. Jalan cerita masih sama, secara adminnya kan cuma mau ngerapiin. Kalau masih ada yang ketinggalan bisa bantu ngoreksi juga nggak papa. Adminnya malah bilang ma kasih.Nah biar nyambung sama jalan ceritanya, bisa baca dulu bagian sebelumnya disini. Oke guys, happy reading.Dalam Diam Mencintaimu“Oh ya, kita mau kemana nie?” tanya Rey setelah Irma duduk dengan nyaman di belakang jok motornya.“Kemana aja deh. Yang penting hari ini kita seneng – seneng," balas Irma tanpa berpikir.“Gimana kalau kita nonton?” tanya Rey lagi.“Nonton itu enaknya kalau malam. Siang – siang gini mana seru," tolak Irma berserta alasannya.“E,… kalau ketaman hiburan gimana? Toh belum tutup juga. Masih ada sampe dua hari mendatang katanya," usul Rey lagi.Irma terdiam. Tiba – tiba ia jadi teringat acara jalan mereka yang gagal kemaren. Memang atas kebodohannya juga si. Tapi…“Jangan deh, di sana terlalu berisik. Loe kan tau gue abis sakit,” tolak Irma lagi. Membuat Rey terdiam sambil berpikir kemana tujuan mereka sekarang. Dan tau – tau motor mereka sudah terparkir di dekat kolam raja telaga bening. #adanya cuma di Selatpanjang lho. Kalau mau liad, ke sana aja. “Ya sudah kita duduk di sini aja,” ajak Rey sambil mengajak Irma duduk di bangku santai di bawah pohon beringin pas di pinggir kolam.Sejenak Irma menatap kesekeliling. Menikmati udara sore bersama seseorang yang di sukai di tempat sedamai ini sepertinya bukan sebuah ide yang buruk. Tanpa pikir panjang di darat kan pantatnya di bangku itu. Menghirup udara dalam dalam.“Irma, Maafin gue ya?”Refleks Irma menoleh. Menatap Rey yang duduk disampingnya.“Maaf? Memangnya loe punya salah apa sama gue?” tanya Irma heran.“Banyak…” ujar pria itu tanpa menoleh.“He?" kerutan di kening Irma semakin bertambah. Terlebih Rey juga sama sekali tidak menatapnya. Justru menunduk menatap kearah kolam. Memang si, dulu sepulang dari kursus di Widya Informatika Irma sangat suka memperhatikan ikan yang berseliweran kesana kemari di dalam kolam. Tapi kan, itu kesukaannya, bukan kesukaan Rey. Lagi pula ini kesannya kenapa justru seperti ikan ternyata lebih menarik ketimbang dirinya. -___________-“Misalnya?” tanya Irma karena Rey masih larut dalam lamunannya.“Gue lupa kalau loe hari ini ulang tahun."“O, soal itu,” Irma mengangguk – angguk paham “Tapi kan sekarang loe udah ingat. Ya udah lah, jangan di pikirin. Lagian ulang tahun gue kan belum berakhir itu artinya secara teknis loe nggak beneran lupa,” kata Irma sambil tersenyum.“Tapi gue nggak punya kado."“Bisa ngerayain bareng loe itu udah merupakan kado terindah bagi gue,” balas Irma lirih.“ya?” tanya Rey karena ucapan Irma terlalu lirih.“Nggak, maksud gue nggak usah terlalu di pikirin lagi,” ralat Irma cepat.“Gue juga mau minta maaf atas sikap gue beberapa hari ini,” sambung Rey masih dengan wajah menunduk.“Beberapa hari ini? Oh nggak papa. Gue bisa maklum,” balas Irma lagi. Tetap dengan senyuman di bibir.“Maklum?” ulang Rey dengan nada bertanya.Irma membalas dengan anggukan. Sejujurnya untuk saat ini ia sama sekali tidak ingin membahasnya karena ia menyadari kalau ujung – ujungnya hatinya pasti akan terasa sakit. Padahal tadi ia sudah memutuskan untuk bersenang – senang. Setidaknya sampai hari ini berakhir. Tapi melihat raut tanya di wajah Rey tak urung membuat mulut Irma kembali berujar.“Loe kan lagi deket saja Vhany jadi wajar saja kalau….”“Gue nggak deket sama dia,” potong Rey cepat.Irma menoleh, perasaannya saja atau nada ucapan Rey terdengar ketus.“Irma, apa gue boleh nanya sesuatu sama loe?” tanya Rey setelah beberapa saat keduanya sempat terdiam.“Sejak kapan loe mau nanya pake minta izin duluan?” balas Irma balik bertanya.“Kali ini gue serius."“Ehem,” Irma terdiam sejenak “Boleh, apa?” sambung Irma H2C.“Apa loe beneran berharap gue deket sama Vhany?”“Apa?” ulang Irma tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.“Apa loe bahagia kalau melihat gue deket sama Vhany?” ulang Rey mempertegas.Irma kembali terdiam. Mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Rey. Bahagia? Astaga, sepertinya istilah ‘bunuh diri’ yang di ucapkan Fadly kemaren lebih tepat. Bagaimana mungkin ia bahagia jika harus kehilangan orang yang di sukai untuk bersama orang lain.“Bahagia?," ulang gadis itu dengan nada mengambang. "Mungkin tidak. Loe sahabat gue yang paling deket. Yang selama ini selalu bersama dan ngertiin gue. Jujur saja, gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik seperti loe. Tapi, gue juga nggak bisa bersikap egois dengan menahan loe untuk terus disisi gue kan?” balas Irma panjang lebar. “Jadi itu artinya loe mendukung hubungan gue sama Vhany?" Rey mencoba menegaskan maksutnya.Irma terdiam. Dadanya terasa makin nyesek. Sepertinya harapan untuk menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan untuknya gagal sudah.“Gue akan mendukung apapun keputusan loe."“Termasuk nggak mau lagi jadi sahabat loe?"“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.“Gue suka sama Vhany dan gue nggak mau lagi jadi sahabat loe. Karena gue mau pacaran sama dia. Jadi LOE GUE END! Kalau gitu selamat tinggal,” kata Rey tanpa basa basi sambil berlalu meninggalkan Irma sendirian.SepiHeningKemudian…End…Wkwkwkwk, Gimana Irma, puas loe? Emang gni kan yang seharusnya? Kisah mu memang menyedihkan #dihajar. He he he, tapi tunggu dulu. Aku gak sekejam itu kok. Kan aku udah bilang aku itu orangnya baik hati, tidak sombong , rajin menabung serta berbakti pada orang tua #Amin. Paragrap di atas kita ralat ya. Anggap aja gak ada. Abis kayaknya sifat jahil ku lagi kumat. ‘Peace’“Apa?” tanya Irma kaget. Menoleh kearah Rey yang kini juga sedang menatapnya lurus.Saat mendapati tiada kata yang keluar dari mulut Rey sebagai jawaban, Irma kembali mengalihkan tatapannya. Mengerjap – ngerjapkan mata yang tiba – tiba terasa panas. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis. Dan itu benar – benar membutuhkan tenaga ekstra.“Apa loe tau kalau beberapa hari ini gue marah sama loe?” tanya Rey beberapa saat kemudian.“Gue memang merasa sikap loe sedikit berubah. Tapi….” Irma tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tengorokannya benar – benar terasa tercegat. Tidak tau lagi apa yang harus ia katakan.“Gue suka sama loe,” kata Rey lirih. Berbanding balik dengan Irma yang justru terlihat kaget setengah hidup.“Dari dulu gue udah suka sama loe. Dan gue benar – benar merasa sangat kesal dan marah saat justru tau kalau loe malah terlihat berusaha menjodohkan gue sama sahabat loe. Kalau loe memang nggak suka sama gue oke, tapi nggak gini juga caranya,” sambung Rey lagi.Irma terpekur kaku. Ia tidak salah dengar kan. Atau mungkin ia sedang bermimpi sama seperti mimpinya tadi malam saat bertemu dengan pangeran Robert? Mustahil Rey menyukainya. Ia. Bener, Ini pasti hanya mimpi. Atau justru Rey hanya bercanda. Tapi, ini sama sekali tidak lucu.“Irma, kalau seandainya gue bilang gue mau persahabatan kita berakhir. Gue nggak mau lagi jadi sahabat loe, tapi gue berharap gue bisa jadi pacar loe. Apa tanggapan loe sekarang?” tanya Rey lagi.Mulut Irma terbuka. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari sana. Lidahnya tiba – tiba terasa kelu. Tanpa sadar air mata menetes dari wajahnya. Tentu saja itu bukan air mata duka. Malah sebaliknya. Ia menangis bahagia. Rey ternyata juga menyukainya. Ini benar – benar hal yang paling membahagiakan untuknya. Benar – benar kado terindah yang ia dapatkan di hari ulang tahunnya.Melihat air mata yang menetes di wajah Irma membuat hati Rey mencelos. Refleks tangannya terulur untuk menghapusnya. Menyadari hal itu sontak membuat Irma tersadar. Sengera di alihkan tatapannya yang entah sejak kapan ternyata sedari tadi menghadap kearah Rey. Dengan cepat di usapnya air mata dengan punggung tangannya. Sementara Rey sendiri terdiam terpaku. Merasakan penolakan dari sikap Irma barusan.“Gue….”Irma tak melanjutkan ucapnnya. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan selanjutnya.“Gue nggak berani berharap kalau loe juga punya rasa yang sama. Gue hanya ingin loe tau yang sebenarnya. Tapi gue mohon, walau loe tau hal ini please jangan menghindar ataupun benci sama gue. Gue nggak yakin gue siap kalau harus menjauh dari loe."“Kenapa?”“Apa?” tanya Rey bingung mendengar satu kata tanya yang keluar dari mulut Irma.“Kenapa loe baru ngomong sekarang?” Irma menghela nafas untuk sejenak. Tatapannya menerawang jauh. “Kenapa loe nggak ngomong dari dulu? Apa loe tau, membiarkan loe jalan bareng Vhany itu tindakan bunuh diri sebenernya."“Maksutnya?” tanya Rey lagi. Masih belum mengerti maksut dari ucapan sahabatnya itu.“Dasar bodoh. Apa loe tau kalau sebenernya selama ini gue juga suka sama loe?”“Ha?” kali ini Rey melongo. Terserah deh kalau wajahnya benar – benar terlihat seperti orang bodoh.Untuk sejenak Irma menarik nafas. Meyakinkan dirinya sendiri sebelum kemudian Menoleh kearah Rey yang kini sedang menatapnya dan berucap dengan nada tegas.“Rey, gue juga suka sama loe. Nggak, nggak. Maksut gue, gue Cinta sama loe."Untuk sejenak suasana hening. "Jadi loe juga suka sama gue?" ulang Rey lirih, yang mirip gumaman. Bukan saja untuk meyakinkan pendengarannya tapi juga hatinya. Ia hampir tidak percaya itu. Irma hanya menunduk malu.“Ehem. Oke, jadi mulai sekarang kita resmi pacaran kan?” tanya Rey menegaskan.Irma menoleh. Menatap kearah Rey yang kini menatapnya. Tatapan yang menenangkan. Tanpa sadar gadis itu mengangguk mantab.“Jatuh cinta sama sahabat….” gumam Rey lirih.“Ternyata bukan hal yang buruk,” sambung Irma melanjutkan ucapan Rey barusan. Kali ini senyuman bahagia benar – benar terlukis di wajah mereka.Nah, sekarang baru ending beneran…For Irma : Oma, Yang pentingkan HAPPY ENDING kan???!!!!!. Sekarang akuilah betapa baiknya diriku. Tidak seperti dirimu yang justru menciptakan cerpen ‘tragis’ untukku. Ha ha ha #Kabuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr………..!!!!!!!!Oh iya lupa, mungkin ini terlalu cepet. Ehem sangat cepet malah. Tapi berhubung niat awalnya ini cerpen adalah kado ulang tahun untuk oma. Ku ucapkan duluan deh. Bukan kah lebih cepat itu lebih baik?.Selamat ulang tahun ya oma. Semoga panjang umur and sehat selalu. Detail CerpenJudul Cerpen : Dalam Diam MencintaimuNama Penulis : Ana MeryaPart : 01 / 04Status : FinishIde cerita : Curhatan Irma Octa Swifties tentang kisah hidupnyaPanjang cerita : 1.570 kataGenre : RemajaNext : || ||

  • Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 17

    Yuhuuuuu… Ide buat ending udah ada di kepala si sebenernya. Cuma waktu ngetiknya aja yang rada males, Ekh….Seriusan, Lagi males banget buat nulis.Berharap aja semoga endingnya gak keburu berubah so beneran bisa end di part 20. Abis udah beneran molor kayaknya ni cerpen satu. Gkgkgkgk…Oke lah, dari pada banyak bacod, mending langsung aja yuks, Cekidot…Part sebelumnya Cerpen Cinta Romantis Take my heart ~ 16Setelah memastikan Ivan tidak menjemputnya ke kostan, Vio berangkat ke kampus menggunakan Bus yang biasa ia tumpangi. Kali ini Vio yakin sepertinya Ivan benar benar marah pada nya walau ia sendiri bingung kenapa. Tapi mengingat kejadian kemaren ditambah dengan sikap Ivan yang sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun saat mengantarnya, sepertinya hubungan mereka telah berakhir. Baguslah jika begitu, jadi ia tidak perlu lagi berurusan dengan playboy cap kadal itu lagi.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*