Bayang-Bayang Kematian

Oleh: Indhra Suci – Ku belajar tuk menjalaninya, ku pikir ku tlah salah jalan, salah menentukan pijakan. Tapi semua itu datang tiba-tiba. Tapi mengapa tak ku lakukan ? ku mencoba mengerti tapi tak kunjung ku pahami. Aku merasa muak pada mereka, yang selalu mengungkungku dengan berbagai aturan.
Aku meletakkan pulpenku dengan mendesah gelisah. Tak lama setelah ituku tutup diaryku dan aku melangkahkan kakiku ke tempat yang biasa aku datangi. Kegelapan menutup segalanya. Hanya sedikit cahaya yang memantulkan sinar pada bola mataku. Ku edarkan pandanganku ke segala sudut.
Diskotik yang ramai, di penuhi dengan orang yang tidak benar. Aroma minuman keras dan asap rokok mengepul memenuhi istanaku. Ya, istana, di sini aku bagai seorang ratu, sedangkan di rumah bagiku bagai neraka tak bertepi, memuaskan nafsu dunia dengan segala kemewahan yang tak berguna. Dengan orang-orang yang hanya mementingkan kesuksesannya. Mereka adalah orang tuaku, ayah dan ibuku, dan diriku adalah seorang anak liar. Ayahku adalah seorang pengusaha sukses, yang setiap hari selalu sibuk dengan bisnisnya, dan ibuku yang sibuk dengan arisannya dan perkumpulannya dengan ibu-ibu yang lain. Hanya untuk sekadar kepuasannya sendiri. Sedangkan aku anak mereka satu-satunya yang tak pernah di anggap. Selama ini mereka hanya memenuhi kebutuhan materiku tapi bagaimana dengan kasih sayang dan perhatianku.
Ya ,aku Khikan ,anak kelas 2 SMA yang tak pernah mendapat kasih sayang orang tua. Jadi jangan salahkan aku, jika aku mencari duniaku sendiri untuk berbagi resah dan gelisah. Hanya di tempat ini aku membasahi jiwaku dengan kesenangan yang akan membawaku ke lembah hitam dan kematian yang menyakitkan.
Ketika itu ada 2 orang lelaki kekar menghampiriku. Mereka mencoba memaksaku dan sedikit menyeretku. Sebelum itu ,aku berhasil mengantongi beberapa butir pil extasi. Saat itu ku berusaha melepaskan diri ,namun sia-sia ,pegangan lelaki tersebut terlalu kuat.
“Apa-apaan ini ???!!!” kataku
“maaf nona Khikan, kami hanya di suruh Bapak Harvey. Bapak ingin nona pulang sekarang juga !!” ujar 2 orang lelaki itu.
“papa ????!!! sejak kapan papa peduli denganku ???!!!” balasku,sambil tertawa terbahak-bahak.
“beberapa jam lagi ada pertemuan besar di rumah nona,seharusnya nona ada di rumah ,bukab tempat menjijikkan seperti ini”.
“hhhhheeeeeeeeii ,kalian pikir kalian siapa,jangan…………”.
Aku tak sempat melanjutkan perkataanku,karena tiba-tiba mereka menyumpal hidungku denagn obat bius. Lamat ku dengar sebuah suara,kemudian aku sudah tak ingat lagi.mataku masih terasa berat namun ku paksakan mataku untuk terbuka. Ku edarkan pandanganku ,aku telah berada di sebuah kamar mewah dengan sprei motif hello kitty berwarna hijau muda,kamarku sendiri,ya ,kamarku.
“sial kedua gembel itu telah menggagalkan rencanaku,padahal aku sudah janji dengan Irvan, Emy, Hadi, dan Seno temanku dugem tuk bersenang-senang mumpung liburan. Tak liburpun aku tetap bersenang-senang. Ngapain sekolah ? Apa sih gunanya sekolah ?”. batinku.
Papa dan mama masuk ke kamarku dengan wajah menahan marah,aku menyambutnya dengan cuek.
“memalukan ,kamu tahu kan kalau 2 jam lagi akan ada pertemuan penting. Wartawan pun pasti akan dating untuk meliput,eeehhh kamu malah kabur ke diskotik. Diskotik itu tempat orang yang nggak bener ??!!!!” ujar papa.
“masa bodoh !!” kataku.
“ya udah sayang ,sebaiknya kamu mandi dan dandan yang cantik yaaa “. Mama berkata lembut padaku.
Tamu-tamu sudah berkumpul di taman belakang,yang sudah di sulap menjadi ruang pesta mewah. Tapi tidak bagiku ,ini seperi neraka. Aku berlari menuju kamar. Pil itu ,ya,pil. Pil itu ku telan beberapa butir ,namun tak ada reaksi. Ku tumpahkan semua pil itu di telapak tanganku,lalu ku menelannya.
Beberapa detik kemudian ku merasakan nikmat yang maha dahsyat. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Apakah aku telah mati ?. Tiba-tiba ku melihat sosok mati kaku,dengan mulut berbusa. Ku memandang sosok yang di selimuti kain kafan. Aku gemetar ,jantungku berdetak keras memandang tubuh yang telah rusak. Dan itu aku ,ya ,itu wajahku. Aku berteriak histeris ,sebuah tangan menyeretku ke ruang hampa gelap tanpa cahaya. Aku merasakan panas yang maha dahsyat menerpa tubuhku. Penyiksaan mulai menyiksaku.
*****
narkoba tidak akan menyelesaikan masalah
SAY NO TO DRUGS
nama penulis : indhra suci
judul karangan : bayang-bayang kematian
tema : narkoba ( salah pergaulan )
alamat email : yani_indhrasuchi@yahoo.co.id

Random Posts

  • Cerpen pendek Sang Idola

    Tau nggak si guys, cerpen pendek sang idola adalah cerpen perdana yang tanpa part atau bagian yang berhasil admin ketik. Makanya itu, penulisan dan ceritanya kacau banget. Pas baca ulang, serius adminnya jadi malu sendiri. :dNah karena itu. Sekalian latihan nulis sama menghargai karya pribadi, admin memutuskan untuk mulai mengedit satu persatu. Istilahnya alon – alon asal kelakon. Oke…Sang Idola“Kalian serius?” Merry masih tidak percaya. Salsa dan keempat temannya baru saja memberi tahu kalau ‘Sagu band’, band idola mereka akan mengadakan konser tepat jam 13:00 siang ini di Taman Cik Puan, Selatpanjang. Masalahnya, jam pulang sekolah adalah jam 12:30 tepat. Itu juga karena ini hari sabtu makanya rada cepet. Biasanya juga pulang jam 14:00an. Tapi masalahnya saat ini keempat temannya malah serentak berencana untuk membolos. Pulang sebelum waktunya.“Ya iya lah,” sahut keempat temennya serentak.“Lagian buat ‘Sagu band’, apa sih yang enggak,” Salsa menambahkan.“Tapi kan konser mulainya jam 13:00 siang, dan kita pulang sekolah juga masih sempet, nggak perlu pake acara bolos segalakan?” Merry masih berusaha menahan.“Sempet gimana? Kita pulangnya aja jam 12:30. Waktu setengah jam mana sempet non buat siap-siap. Pokoknya sekarang kita semua mau pergi. Kalau loe emang nggak mau ikut ya udah. Ayo guys lets go,” ajak Ria kearah ketiga temen-temennya.“Eh tunggu dulu donk, gue kan belum selesai ngomong."“Simpen ja dulu buat besok!” potong Salsa. Tanpa basa-basi lagi mereka meninggalkan Merry yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah temen-temennya.Keesokan harinya, Salsa, Anya, Sisil dan Ria sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Merry yang melihat keempat temannya sudah ngumpul tak mampu menahan rasa heran. Tumen – tumbenan. Berlahan ia hampiri, dan lima menit kemudian ia langsung tau alasan mereka datang pagi. Apalagi kalau bukan untuk mendengarkan pengalaman yang mereka dapatkan kemaren saat menonton konser. “Suer Merry, tu cowok pokoknya ganteng banget deh. Coba aja kemaren loe ikut ama kita-kita, pasti loe nggak akan nyesel,” terang Anya semangat banget.“Ia. Anya bener mer, lagian sekali-kali bolos nggak da ruginya kan. Toh selama ini kita semua on time terus,” Salsa tak mau kalah. “0h ya?” cibir Merry.“Sekarang loe bisa nggak percaya gitu. Soalnya loe belum ketemu ma dia.”“Ih nggak banget deh, secara gue udah punya pacar,” kilah Merry cepat.“Dari dulu loe bilang udah punya pacar tapi nyatanya sampai sekarang kita belum kenal,” Anya menimpali.“Ya sorry, secara gue belum punya waktu. Kalian kan tau sendiri pulang sekolah gue harus kerja buat biaya sekolah gue, nggak kayak kalian.”“Iya deh Mer, sorry. Tapi begitu ada waktu loe kenalin sama kita ya,” kata Sisil.“Pasti,” sahut Merry. "Terus kalian pasti tau donk identintas idola kalian. Paling nggak namanya."Anya menggeleng, Ria pasang raut kecewa, sementara Salsa tanpa di minta langsung menjelaskan. "Justru itu Merry, kita belum tau. Soalnya kemaren doi di minta naik kepanggung, trus ikutan nyanyi bareng 'Sagu band’. Suaranya bagus banget, dia emang nggak ngasi tau namanya, tapi dia bilang kalau dia anak kuliahan."“0h ya. Kuliah dimana?” tanya Merry lagi.“Di. . .aduh di mana ya. Kalau nggak salah STIE atau AMIK ya? Gue lupa, soalnya waktu itu pada heboh,” kali ini Sisil yang menjawab.“Tapi itu gampang kok, kita bakal cari tau dimana dia berada. Seperti kata pepatah 'banyak jalan menuju roma', ya nggak friend?” kata Ria meminta dukungan pada teman – temannya yang langsung di balas anggukan kompak tanda setuju.“Terserah kalian aja deh,” Merry angkat bahu. Belum sempat mulutnya menambahkan, bel masuk pun terdengar. Ia segera mengajak semua temen-temennya untuk kembali ketempat duduknya masing – masing. Secara dari tadi mereka ngobrol tepat di depan mejanya. 10 detik setelah kemunculan gurunya, Salsa cs di buat kaget saat dapat pengumuman kalau hari ini di adakan ulangan harian. Mereka bener-bener pusing tujuh keliling, pasalnya mereka nggak ada baca buku sedikit pun mana soalnya sulit banget lagi. Merry juga nggak mau bantuin, yang makin membuat mereka semakin bingung.Setelah bel istirahat terdengar semua temen-temennya datang menghampiri Merry untuk meminta pertanggungjawabanya, karena ia tidak memberi tau mereka kalau hari ini ada ulangan.“Lho bukannya kalian sendiri yang bilang kalau nggak ada ruginya nggak sekolah satu hari?” Merry bela diri.“Ia sih, tapi nggak kayak gini juga. Pasti ancur deh nilai ulangan gue kali ini, mana loe nggak da ngasi jawabannya ma kita lagi,” kesel Salsa.“Iya deh sorry. Gimana kalau sebagai tanda minta maaf gue, kalian gue traktir makan di kantin. Mau nggak?” tanya Merry karena kebetulan ia baru gajian. Tentu saja langsung di setujui sama temen-temennya yang lain, secara jarang-jarang kan ada yang nraktir.“Kalian mau mesen apa?” tanya Sisil begitu mereka tiba di kantin.“Bakso sama es campur aja deh,” jawab Merry.“Kalian?” tanya Sisil kepada temen-temennya yang lain.“Sama," suara kompak setelah sebelumnya saling pandang. Sekedar bahasa isarat yang langsung di tau apa maksutnya.“Jadi, gimana sama idola kalian itu?” tanya Merry sambil menikmati pisang goreng yang ia ambil dari piring di hadapannya sembari menunggu pesanannya datang.“Gimana apa nya?” Salsa mengernyit.“Ya gimana kelanjutanya. Masa kalian semua mau jadi pacar idola kalian. Mau berbagi itu?” terang gadis itu lagi.“Ta nggak lah sembarangan aja, gini-gini kita masih punya harga diri ya,” bantah Ria. Yang lain menangguk membenarkan.“Terus?” tanya Merry.“Gimana ya. Kita juga bingung nih, ntar deh gue mikir dulu buat nyari solusinya,” Salsa ikut-ikutan bingungSementara sang pelayan sudah menghidangkan pesanan mereka di atas meja. Mereka semua makan sambil terus mencari ide.“Gue punya ide,” kta Sisil setelah lama terdiam.“0h ya? Apa?” temen-temennya terlihat diak sabar.“Dengerin ya. Kita semua kan sudah terlanjur naksir sama si doi jadi….”“Kita? Kalian aja kali, gue nggak,” potong Merry meralat.“Ia deh, kami aja. Loe nggak,” Sisil sebel karena ucapannya di potong duluan padahal ia kan belum selesai ngomong.“Udah deh, tadi ide nya apa?” Salsa masih penasaran.“Apa ya? Gara-gara Merry nih jadi lupa,” Sisil garuk-garuk kepalanya yang emang ketombean. “0h ya gini, gimana kalu kita taruhan aja siapa dulu yang bisa menggaet dia jadi pacar salah seorang dari kita. Tapi, permainannya harus sehat nggak boleh pake cara kotor. Terus yang menang harus nraktir kita semua makan gratis kayak sekarang. Gimana setuju nggak?" sambungnya.“Kok yang menang yang nraktir?” Anya terlihat bingung.“Ya iya lah, secara dia kan udah dapetin si doi. Gimana setuju nggak?” jelas Sisil menerangkan.“0 gitu, gue setuju,” sahut Ria tanpa berpikir lagi“Gue juga,” sambung Salsa sama Anya.“Tapi gue nggak setuju. Enak aja anak orang di jadiin taruhan. Ntar kena batunya baru tau rasa loe. Coba gimana kalau ternyata si doi udah punya pacar?” Merry keberatan.“Terus loe punya ide lain? Lagian kalau emang dia punya pacar masa ke konser nggak ngajak pacarnya?” tanya Sisil.Sementara yang di tanya hanya diam, karena ia sama sekali nggak punya ide yang lebih baik."Nah, nggak ada kan, jadi setuju aja deh,” desak Anya.“Ia. Sekalian loe jadi jurinya, secara loe kan yang paling netral,” tambah Ria.“Terserah kalian aja deh” Merry akhirnya nyerah.Sejak saat itu mereka sibuk mencari informasi tentang'sang idola'. Kebetulan Anya nggak sengaja pernah ketemu sama tu cowok di halte yang biasa mereka tumpangi waktu pulang dari jalan jalan. Hanya saja waktu itu nggak sempet kenalan karen tu bus sudah keburu berangkat. Sejak saat itu mereka sering iseng jalan ke sana.Dua minggu telah berlalu, tapi hasil nya tetap nihil karena walau di tunggu sampai hampir malam tetap juga nggak nongol-nongol sehingga mereka hampir saja putus asa.Sore minggu kebetulan Merry libur bersama keempat temannya ngumpul bareng di salah satu kaffe yang sering mereka datangi. Rencananya ia akan memperkenalkan pacarnya pada temen-temennya.Sambil menunggu pacarnya Merry datang mereka asyik ngobrol.“Eh tau nggak sih, ternyata doi itu kuliah dari sore sampai malam. Dan kenapa selama dua minggu ini kita nggak bisa ketemu sama dia? Ternyata itu gara-gara sekarang ini dia lagi libur habis ujian semester,” kata Salsa memulai obrolannya.“0h ya. Loe tau dari mana?” tanya Anya heran.“Dari sopir bus yang biasa ia tumpangi. Abis nya gue penasaran,” jelas Salsa. “Dan katanya besok sore ia sudah masuk lagi, jadi gue pikir itu waktu yang pas buat kira kenalan sama dia,” sambungnya lagi.“Ide bagus tuh. Loe kali ini bisa ikut kan Merry?” tanya Ria.“Yah sayang banget, gue nggak bisa. Gue kan harus kerja. Lain kali aja ya,” sahut Merry merasa tidak enak.“Ya udah lah nggak papa. Toh besok kalau dia sudah jadi pacar salah seorang dari kita pasti di kenalin sama loe kok,” kata Ria.“Tapi ngomong-ngomong pacar loe jam segini kok belum datang ya?” Anya melirik jam tangannya. "Jadi datang kan?"“Tau nih, bentar ya gue telpon dulu. Kali aja dia lagi kebingungan nyari kita. Emang sih tadi gue udah kasih tau tempatnya, tapi kok belum datang juga. Jangan-jangan nyasar lagi,” Merry beranjak dari dari kursinya menjauh dari temennya.Sebelum Merry berhasil meng'calling pacarnya, HP nya bergetar terlebih dahulu. Ternyata SMS dari Allan, pacarnya. Yang mengabarkan kalau ia sudah berada di depan kaffe tersebut.“Eh temen-temen, dia udah ada di depan tuh. Gue jemput dia dulu ya,” pamit Merry, temen-temennya hanya membalas dengan anggukan.“Kira-kira pacarnya Merry kayak gimana ya?” ujar Salsa setelah Merry pergi.“Tenang aja sa, bentar lagi kita semua juga tau kok,” balas Sisil.Tak lama kemudian Merry datang menghampiri mereka bersama seorang pria di sampingnya.“Temen-temen, kenalin ini pacar gue. Namanya Allan, Allan ini temen-temen gue yang pengen gue kenalin ke elo, ini Salsa, Anya, sisil, sama Ria,” kata Merry memperkenalkan pacarnya kepada temen-temennya satu persatu.Untuk sepersekian detik temen-temennya hanya terdiam terpaku. Bahkan Sisil yang kebetulan sedang menyeruput es sirupnya langsung tersedak saking kagetnya seolah nggak percaya akan sosok yang kini berada tepat di hadapannya yang tersenyum manis sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.“Ya tuhan. Dia kan…. 'SANG IDOLA” pekik batin mereka masing-masing.End….Namanya juga cerpen perdana, jadi di maklumi aja deh kalau endingnya masih gaje banget. Terus bahasa sama kosa katanya juga agak gimana gitu. Tapi ya begitulah. Bagaimanapun terima kasih sudah membaca. 😀 Detail CerpenJudul Cerpen : Sang IdolaPenulis : Ana MeryaGenre : RemajaPanjang : 1543 kataStatus : Cerpen Pendek

  • Cerpen Persahabatan: SEBUAH JANJI

    Sebuah JanjiOleh: Rai Inamas Leoni“Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”***Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Wina harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Wina jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya…” rutuk Wina. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Wina merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemoh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Wina berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Wina benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Wina nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Wina mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Wina terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring. “Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemohan atau pun ejekan. “Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Wina yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Wina mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.“Adooooww” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.“Makan tuh sakit!!” ejek Wina sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Wina pakek kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi kurus tersebut.***“Wina….”Wina menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Amel teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Wina membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Wina emang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Amel malah menjitak kepalanya dari belakang.“Woe non, budeg ya? Nggak denger teriakan gue. Temen macem apaan yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas cewek putih tersebut kalo lagi ngambek.“Sori deh Mel. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”“Bad mood? Jelas-jelas lo tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok ampe tuh cowok permisi pulang, nggak minta maaf lagi.” jelas Amel panjang lebar.“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Wina benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Alex lho.”“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Wina membela diri.Sejenak Amel terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis. “Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP. Dulu banget. ” ujar Amel polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalo Alex nggak suka sama gue.”“Tau ah gelap!” ***Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas tak menyurutkan niat para siswa SMA Harapan untuk bergegas pulang ke rumah. Wina sendiri sudah membereskan buku-bukunya. Sedangkan Amel masih berkutat pada buku catatanya lalu sesekali menoleh ke papan tulis.“Makanya kalo nulis jangan kayak kura-kura.” Dengan gemas Wina menjitak kepala Amel. “Duluan ya, Mel. Disuruh nyokap pulang cepet nih!” Amel hanya mendengus lalu kembali sibuk dengan catatanya.Saat Wina membuka pintu kelas, seseorang ternyata juga membuka pintu kelasnya dari luar. “Eh, sori..” ucap Wina kikuk. Tapi begitu sadar siapa orang yang ada di depannya, Wina langsung ngasi tampang jutek kepada orang itu. “Ngapaen lo kesini? Masih sakit kakinya? Apa cuma dilebih-lebihin biar kemaren pulang cepet? Hah? Jadi cowok kok banci baget!!!”Jujur Alex udah bosen kayak gini terus sama Wina. Dia pengen hubungannya dengan Wina bisa kembali seperti dulu. “Nggak usah cari gara-gara deh. Gue cuma mau cari Amel.” ucap Alex dingin sambil celingak celinguk mencari Amel. “Hey Mel!” ucap Alex riang begitu orang yang dicarinya nongol.“Hey juga. Jadi nih sekarang?” Amel sejenak melirik Wina. Lalu dilihatnya Alex mengangguk bertanda mengiyakan. “Win, kita duluan ya,” ujar Amel singkat.Wina hanya benggong lalu dengan cepat mengangguk. Dipandangi Amel dan Alex yang kian jauh. Entah kenapa, perasaanya jadi aneh setiap melihat mereka bersama. Seperti ada yang sakit di suatu organ tubuhnya. Biasanya Alex selalu mencari masalah dengannya. Namun kini berbeda. Alex tidak menggodanya dengan cemohan atau ejekan khasnya. Alex juga tidak menatapnya saat ia bicara. Seperti ada yang hilang. Seperti ada yang pergi dari dirinya.***Byuuurr.. Fanta rasa stowberry menggalir deras dari rambut Wina hingga menetes ke kemeja putihnya. Wina nggak bisa melawan. Ia kini ada di WC perempuan. Apalagi ini jam terakhir. Nggak ada yang akan bisa menolongnya sampai bel pulang berbunyi.“Maksud lo apa?” bentak Wina menantang. Ia nggak diterima di guyur kayak gini.“Belum kapok di guyur kayak gini?” balas cewek tersebut sambil menjambak rambut Wina. “Tha, mana fanta jeruk yang tadi?” ucap cewek itu lagi, tangan kanannya masih menjambak rambut Wina. Thata langsung memberi satu botol fanta jeruk yang sudah terbuka.“Lo mau gue siram lagi?” tanya cewek itu lagi.Halo??!! Nggak usah ditanya pun, orang bego juga tau. Mana ada orang yang secara sukarela mau berbasah ria dengan fanta stroberry atau pun jeruk? Teriak Wina dalam hati. Ia tau kalau cewek di depannya ini bernama Linda. Linda terkenal sesaentro sekolah karena keganasannya dalam hal melabrak orang. Yeah, dari pada ngelawan terus sekarat masuk rumah sakit, mending Wina diem aja. Ia juga tau kalo Linda satu kelas dengan Alex. Wait, wait.. Alex??? Jangan-jangan dia biang keladinya. Awas lo Lex, sampe gue tau lo biang keroknya. Gue bakal ngamuk entar di kelas lo!“Gue rasa, gue nggak ada masalah ama lo.” teriak Wina sambil mendorong Linda dengan sadisnya. Wina benar-benar nggak tahan sama perlakuan mereka. Bodo amat gue masuk rumah sakit. Yang jelas ni nenek lampir perlu dikasi pelajaran.Kedua teman Linda, Thata dan Mayang dengan sigap mencoba menahan Wina. Tapi Wina malah memberontak. “Buruan Lin, ntar kita ketahuan.” kata Mayang si cewek sawo mateng.Selang beberapa detik, Linda kembali mengguyur Wina dengan fanta jeruk. “Jauhin Alex. Gue tau lo berdua temenan dari SMP! Dulu lo pernah nolak Alex. Tapi kenapa lo sekarang nggak mau ngelepas Alex?!!”“Maksud lo?” ledek Wina sinis. “Gue nggak kenal kalian semua. Asal lo tau gue nggak ada apa-apa ama Alex. Lo nggak liat kerjaan gue ama tuh cowok sinting cuma berantem?”Plaakk.. Tamparan mulus mendarat di pipi Wina. “Tapi lo seneng kan?” teriak Linda tepat disebelah kuping Wina. Kesabaran Wina akhirnya sampai di level terbawah.Buuugg! Tonjokan Wina mengenai tepat di hidung Linda. Linda yang marah makin meledak. Perang dunia pun tak terelakan. Tiga banding satu. Jelas Wina kalah. Tak perlu lama, Wina sudah jatuh terduduk lemas. Rambutnya sudah basah dan sakit karena dijambak, pjpinya sakit kena tamparan. Kepalanya terasa pening.“Beraninya cuma keroyokan!” bentak seorang cowok dengan tegas. Serempak trio geng labrak menoleh untuk melihat orang itu, Wina juga ingin, tapi tertutup oleh Linda. Dari suaranya Wina sudah tau. Tapi Ia nggak tau bener apa salah.“Pergi lo semua. Sebelum gue laporin.” ujar cowok itu singkat. Samar-samar Wina melihat geng labrak pergi dengan buru-buru. Lalu cowok tadi menghampiri Wina dan membantunya untuk berdiri. “Lo nggak apa-apa kan, Win?”“Nggak apa-apa dari hongkong!?” ***Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Wina dan Alex berada di ruang UKS. Wina membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Alex memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Wina. Wina lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Alex nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.“Ntar lo pulang gimana?” tanya Alex polos.“Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang.” jawab Wina jutek. Rasanya Wina makin benci sama yang namanya Alex. Gara-gara Alex dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Alex nggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.“Tadi itu cewek lo ya?” ucap Wina dengan wajah jengkel.“Nggak.”“Trus kok dia malah ngelabrak gue? Isi nyuruh jauhin lo segala. Emang dia siapa? “ rutuk Wina kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue nggak mau jauh-jauh ama Alex. Aduuuhh…Alex sejenak tersenyum. “Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo” ucap Alex sambil menunjuk Wina.Wina diam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Alex menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. “Ntar bisa pulang sendiri kan?” tanya Alex.“Bisalah. Emang lo mau nganter gue pulang?”“Emang lo kira gue udah lupa sama rumah lo? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupaen segala sesuatu tentang diri lo. Gue masih paham bener tentang diri lo. Malah perasaan gue masi sama kayak dulu.” jelas Alex sejelas-selasnya. Alex pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.“Lo ngomong kayak gitu lagi, gue tonjok jidat lo!” ancam Wina. Nih orang emang sinting. Gue baru kena musibah yang bikin kepala puyeng, malah dikasi obrolan yang makin puyeng.“Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal lo tau, gue selalu cari gara-gara ama lo itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas lo nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa lo malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin lo berantem.” Sejenak Alex menanrik nafas. “Lo mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima.”Hening sejenak diantara mereka berdua. “Kayaknya gue pulang duluan deh.” Ucap Wina sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Wina, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapaen. Dulu ia nolak Alex karena Amel juga suka Alex. Tapi sekarang?“Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah.” Alex berbicara tepat saat Wina sudah berada di ambang pintu UKS.Wina diam tak sanggup berkata-kata. Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Alex yang termenung sendiri. ***Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Amel belum datang. Wina sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Wina nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Alex selalu terbesit di benaknya. Apa benar Alex pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Alex mau pindah apa nggak, batin Wina. “Argggg… Kenapa sih gue mikir dia terus?”“Mikirin Alex maksud lo?” ucap Amel tiba-tiba udah ada disamping Wina. “Nih hadiah dari pangeran lo.” Dilihatnya Amel mengeluarkan kotak biru berukuran sedang. Karena penasaran dengan cepat Wina membuka kotak tersebut. Isinya bingkai foto bermotif rainbow dengan foto Wina dan Alex saat mengikuti MOS SMP didalamnya. Terdapat sebuah kertas. Dengan segera dibacanya surat tersebut.Dear wina, Inget ga pertama kali kita kenalan? Pas itu lo nangis gara-gara di hukum ama osis. Dalam hati gue ketawa, kok ada sih cewek cengeng kayak gini? Hehe.. kidding. Lo dulu pernah bilang pengen liat pelangi tapi ga pernah kesampaian. Semoga lo seneng sama pelangi yang ada di bingkai foto. Mungkin gue ga bisa nunjukin pelangi saat ini coz gue harus ikut ortu yang pindah tugas. Tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin ke lo gimana indahnya pelangi. Tunggu gue dua tahun lagi. Saat waktu itu tiba, ga ada alasan buat lo ga mau jadi pacar gue. “Kenapa lo nggak mau nerima dia? Gue tau lo suka Alex tapi lo nggak mau nyakitin gue.” sejenak Amel tersenyum. “Percaya deh, sekarang gue udah nggak ada rasa sama Alex. Dia cuma temen kecil gue dan nggak akan lebih.”“Thanks Mel. Lo emang sahabat terbaik gue.” ucap Wina tulus. “Tapi gue tetap pada prinsip gue.”Amel terlihat menerawang. “Jujur, waktu gue tau Alex suka sama lo dan cuma nganggep gue sebagai temen kecilnya. Gue pengen teriak sama semua orang, kenapa dunia nggak adil sama gue. Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar kalo nggak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.” senyum kembali menghiasi wajah mungilnya. “Dan lo harus janji sama gue kalo lo bakal jujur tentang persaan lo sama Alex. Janji?” lanjut Amel sambil mengangkat jari kelingkingnya.Ingin rasanya Wina menolak. Amel terlalu baik baginya. Dia sendiri tau sampai saat ini Amel belum sepenuhnya melupakan Alex. Tapi Wina juga tak ingin mengecewakan Amel. Berlahan diangkatnya jari kelingkingnya.“Janji..” gumam Wina lirih.***By : Rai Inamas LeoniTTL : Denpasar, 08 Agustus 1995Sekolah : SMA Negeri 7 DenpasarBlog : raiinamas.blogspot.com

  • Kenalkan Aku Pada Cinta ~ 07 | Cerpen Remaja

    Kenalkan Aku Pada Cinta part 07, mengikuti ide cerita yang ngalor ngidul nggak jelas akhirnya cerpen ini bisa di lanjutkan juga. Terlebih sebelumnya sempet terganggu dengan kemuculan Short story arti sebuah senyuman yang sedikit banyak emang menyita perhatian. Tapi gimana pun juga, yuks mending kita simak bareng.Oh ya, untuk part sebelumnya bisa langsung di klik di sini.Kenalkan Aku Pada CintaSetelah mandi, Astri merasa tubuhnya terasa begitu segar. Menambahkan sedikit bedak tabur di wajahnya, ia menatap cermin di meja rias. Tanpa perlu mengunakan lipsik Astri berbalik. Meninggalkan kamarnya untuk turun kebawah. Tak lupa di sambarnya Novel If You Dare yang belum sempat selesai di bacanya. Sejujurnya ia tidak suka membaca novel terjemahan, bahasa yang di gunakan kebanyakan vulgar dan ia sangat tidak menyukai itu. Namun untuk yang satu ini sepertinya ada pengecualian.sebagian

  • Ketika Cinta Harus Memilih ~ 08 | Cerpen cinta

    Okelah, cerita berlanjut sodara – sodara. Dan kali ini tiba giliran Ketika Cinta Harus Memilih Part 08. Wukakakka, udah pada nggak sabar ya pengen tau ceritanya?. Ya dimaklumi aja reader semuanya ya. Kerjaan adminnya soalnya bukan cuma nulis cerpen doank. Secara adminya kan (Sok) sibuk dikit. Kebetulan resto lagi rame, jadi masalah blog emang untuk sejenak terabaikan. Tapi tetep, Admin akan tetap mengusahakan blog Star Night ini akan tetap update. Oke, cukup segitu obrolan ngalor ngidulnya. Sekarang kita langsung ke cerpen, untuk yang belum baca part sebelumnya bisa di cek disini.Ketika Cinta Harus MemilihSetelah memastikan semua peralatan yang akan ia bawa lengkap Cinta melangkah keluar rumah untuk kekampus. Tidak perlu pamit pada siapapun karena saat ini jelas – jelas ia hanya di rumah sedirian. Sejak dua hari yang lalu mama juga sudah memutuskan untuk kerja. Melanjutkan dunia karirnya yang sempat terhenti setelah menikah. sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*