Akhir Kisah Kita

Akhir Kisah Kita
Oleh: Sania Dewanti
Pagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.
Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.
Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!
Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali.
Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang Muslim
TAMAT
Nama: Sania Dewanti
Alamat E-mail: setan.cantik@rocketmail.com
FB: Sania Dewanti

Random Posts

  • Cerpen Spesial Valentine ‘Karena yang gue suka itu, Elo!!!’

    Halo sahabat Star Night, bentar lagi katanya valentine day ya?. Bukan berarti admin ikut merayakan makanya admin bikin posting beginian. Hanya saja, sayang aja kalau moment setahun sekali ini di lupakan gitu aja. So seperti beberapa tahun kebelakang, admin selalu bikin cerpen special valentinnya. Yang pertama “Sepotong choklat untuk Nanda” dan tahun kemaren ada “ Cinta ku berawal dari facebook”, Nah kali ini “Karena yang gue suka itu, elo”. Ide dadakan yang benar – benar di ketik secara mendadak. Penasaran? Check this out….cerpen spesial valentineWalau mata Kharisya menatap lurus kedepan, namun pikirannya kali ini jelas bercabang – cabang entah kemana. Sesekali tangannya terangkat memijit kepalanya yang tak jarang malah ia ketuk – ketuk (???) dengan menggunakan pena. Hal yang ia lakukan kalau pikirannya sedang kusut.Gumpalan kertas yang mengenai kepala sebelum kemudian mendarat diatas meja sontak membuat kepala Kharisya menoleh. Matanya terhenti pada mata Arvin yang duduk selang beberapa meja di belakang yang kini sedang menatap kearahnya. Menjadi petunjuk kalau ia adalah pelakunya. “Kenapa?” Tanya Kharisya dengan gerak bibir, namun Arvin tetap diam. Hanya memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengambil kertas yang ia lemparkan.‘Gue tau loe itu emang udah Oon dari sononya, tapi kalo loe terus – terusan mukulin kepala loe, gue jamin, loe pasti makin Oon. Jadi selaku sahabat yang baik and pinter, mending loe cerita ada apaan. Kali aja gue bisa nambahin.’Kharisya tak mampu menahan diri untuk tidak memutar mata ketika menyelesaikan membaca kalimat yang tertera. Dengan kesal di remasnya kertas tersebut, dan langsung ia lemparkan kekepala Arvin tanpa perlu membalas kalimatnya."Loe kenapa si? Kusut banget tu muka kaya belon di strika?" tanya Arvin sambil berusaha mengejar Kharisya yang sudah duluan melangkah pulang tanpa memperdulikan dirinya."Ya ela, masih marah karena tulisan gue tadi. Sory deh, gue cuma bercanda. Loe kan tau gimana gue, masa gitu aja loe marah.""Ya ampun Arvin, beneran mati deh gue sekarang.""YA?" Arvin melotot kaget. Bukan kaget karena ucapan Kharisya barusan, tapi kaget karena Kharisya tiba tiba berhenti melangkah dan langsung berbalik padanya. Membuatnya hampir saja menubruk tubuh gadis itu jika tidak segera mengerem kakinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hanya mata yang saling bertatapan sampai kemudian Kharisya buka mulut."Dan kenapa muka loe bisa tepat didepan muka gue, loe mau nyium gue?"Dan jitakan pun mendarat dikepala Kharisya sebagai jawaban."Semabarangan," damprat Arvin sambil menarik diri. "Lagian kan loe yang salah, ngapain sih loe pake berhenti tiba tiba?""Oh iya ya, gue yang salah," gumam Kharisya sendiri sembari berbalik melanjutkan langkahnya. Sama sekali tidak menyadari reaksi sahabatnya atas tindakannya barusan."Ehem, tapi ngomong ngomong loe mati kenapa?" tanya Arvin.Lagi lagi Kharisya menghentikan langkahnya. Untunglah kali ini Arvin sudah berjalan disampingnya. Matanya menatap kearah Arvin dengan tampang memelas, dan kemudian muluncurlah cerita itu dari mulutnya. Tadi siang ia bertemu dengan Abel, anak kelas Ipa yang telah sekian lama menjadi saingannya. Kharisya sendiri tidak tau, kenapa selama ini gadis itu selalu mencari gara gara dengannya, sampai kemudian tadi siang ia menemukan jawabannya. Ternyata gadis itu menyukai Arvin, seseorang yang selama ini berstatus sahabat karibnya. Dan karena kedekatan mereka selama ini membuat Abel sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendekati orang yang disukainya.Demi untuk membantah tuduhan bahwa ia menyukai sahabatnya, Abel menantang Kharisya untuk membuktikan. Bahwa tepat pada hari Valentine besok, Kharisya harus sudah bisa menunjukan siapa kekasihnya. Dan sebagai taruhannya, jika Kharisya menang, maka Abel tidak boleh menganggu dirinya. Sebaliknya, bila Kharisya kalah, ia harus menjauhi Arvin. Memberi kesempatan pria itu untuk bisa dekat dengan gadis lainnya. Karena nyatanya, selama ini Arvin memang hanya dekat dengan dirinya. Sebagai tambahan, siapapun yang kalah harus lari mengelilingi lapangan bola kaki sekolahnya sebanyak 50 kali. Namun yang jadi masalahnya, Valentine hanya kurang dari semingu lagi. Pacar seperti apa yang bisa didapatkan dalam seminggu?"Ini konyol. Keterlaluan," desis Arvin lirih."Iya, gue tau. Ini konyol. Abel emang keterlaluan. Masa gue harus dapatin pacar selama seminggu, udah 17 tahun gue hidup aja gue masih jomblo. belom punya pacar. Ini kan lagi kalau…""Bukan Abel. Yang gue maksut itu loe," potong Arvin sebelum Kharisya menyelesaikan ucapannya."Ya?" tatap Kharisya heran. Dan saat melihat tatapan tajam Arvin, Kharisya baru menyadari kalau pria itu terlihat marah."Loe nyadar nggak sih? Loe baru aja jadiin persahabatan kita sebagai taruhannya?""O… Soal itu… Emp…. Maaf," gumam Kharisya sambil menundukan wajah. Merasa bersalah karenanya.Arvin tampak mengembuskan nafas lelah, lelah dengan tingkah gadis yang berdiri dihadapannya. Kemudian tampa kata, ia segera berbalik. Berjalan meninggalkan Kharisya sendirian."Please donk Arvin. Iya deh, gue ngaku gue salah. Tapi please, jangan marah sama gue ya?" pinta Kharisya sambil mengejar Arvin."Kalo gitu loe harus batalin taruhanya," kata Arvin tegas.Mata bulat Kharisya menatap Arvin lekat. Setelah lama terdiam, kepalanya menggeleng berlahan."Gue nggak bisa.""Kenapa?" tanya Arvin. Rasa kecewa jelas tergambar dari nada bicaranya."Loe tau sendirikan, setelah segede gini. Gue masih belom pernah punya pacar. Gue kan pengen sekali kali kayak cewek lainnya. Apalagi bentar lagi Valentine. Gue pengen ngerasain gimana sih dapat coklat dari orang yang kita suka. Ngabisin malam jalan jalan bareng, bukan cuma jalan sama loe doank.""Jadi selama ini loe nggak suka jalan sama gue?" lagi lagai Arvin berasumsi. "Bukan itu. Loe jangan salah paham," potong Kharisya cepat. "Hanya saja…""Udah deh Kharisya, terserah loe aja," potong Arvin. Kali ini pria itu benar – benar berlalu meninggalkan gadis itu sendirian."Hanya saja gue berfikir, Abel ada benarnya. Loe nggak akan bisa deket sama cewek lain kalau loe terus terusan deket sama gue," gumam Kharisya lirih. Selirih kalimat yang hanya bisa di dengar hanya oleh dirinya.Dua hari telah berlalu sejak taruhan yang Kharisya katakan, Arvin sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Setiap didekati, pria itu selalu menghindar. Bahkan, siang itu. Yang biasanya Arvin selalu makan siang bersamanya, kali ini pria itu malah terlihat makan siang bersama Abel. Mebuat Kharisya benar – benar kesel karenanya. Ho ho ho, Bukan. Bukan karena cemburu. Tapi ia kesel karena jika Arvin tidak suka dengan taruhannya, harusnya Arvin juga menghindari Abel. Bukan hanya dirinya. Toh, yang bertaruh mereka berdua. Kenapa Arvin jadi pilih kasih begitu.Karena merasa cukup kesel, Kharisya membatalkan niatnya untuk makan. Memilih meninggalkan kantin diikuti lirikan Arvin diam – diam."Dasar Arvin rese. Emangnya temen cuma loe doank. Lagian kalo emang mau deket – deket sama Abel kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sih. Toh, gue belom tentu juga menang. Huh, bikin kesel aja," geritu Kharisya sepanjang perjalanan. Dan karena keasikan melamun, tak sadar ia malah menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya yang kebetulan sedang membawa tumpukan buku ditangannya. Membuat buku – buku itu berserakan dilantai. Dengan cepat Kharisya berjongkok, membantu mengumpulkan buku bukunya. Tepat saat Kharisya ingin mengambil buku bersampul merah jambu, sebuah tangan juga secara bersamaan mengambilnya. Dan akibat kontak fisik itu, Kharisya menoleh. Kurang dari sejengkal, wajah pria tampan ada dihadapannya.Sesak napas, itu rasanya. Jantung berdebar keras, melanda dadanya. Kharisya sama sekali tak mampu mengalihkan tatapan darinya. Dan untuk pertama kalinya Kharisya percaya kalau 'Love At First Sight' benar ada.Cerpen Spesial Valentine“Arvin, tunggu,” Kharisya nekat merentangkan kedua tangannya. Berdiri tepat di hadapan Arvin yang sedang duduk di atas motornya.“Kali ini loe harus dengerin gue. Loe nggak boleh menghindar lagi. Karena gue punya kabar bagus buat loe.”“Apa?” tanya Arvin.“Soal taruhan itu…”“Loe membatalkannya?” potong Arvin cepat.Kepala Kharisya mengeleng berlahan sembari mulutnya menjawab. “Bukan. Tapi gue udah nemuin orang yang bisa gue jadiin pacar. Namanya Revan, malaikat penyelamat gue. Orangnya tinggi, baik, keren, cakep. Dan dia…”“Loe bilang itu berita bagus?” lagi – lagi Arvin memotong kalimat Kharisya sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya.“Tentu saja,” angguk Kharisya cepat walau dengan raut bingung. Ia benarkan? Tentu saja itu kabar gembira. Bukankah Arvin marah karena persahabatan mereka akan terancam. Kalau sekiranya ia kalah taruhan, maka ia harus meninggalkan pria itu. Tapi tentu lain ceritanya jika ia berhasil menang.“Minggir,”“Eh,” bahkan Kharisya sama sekali tidak di beri kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi. Yang jelas jika terlambat sedetik saja dia untuk menyingkir, sudah di pastikan motor Arvin akan langsung menabraknya. Dan saat Karisya menyadari apa yang terjadi, Arvin sudah jauh meningglakannya. Membuat Kharisya menatap melongo karenanya. Apa yang barusan itu bukan termasuk dalam kategori percobaan pembunuhan?Sehari sebelum Valentin tiba, Kharisya kembali menemui Arvin. Kali ini pria itu sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membaca buku di tangannya. Membuat Kharisya sedikit heran. Ini untuk pertama kalinya Arvin sendirian. Biasanya kan ia selalu bersama Abel. Dan saat Kharisya menghampiri, Arvin hanya meliriknya sekilas.“Gue nggak tau kenapa sampe sekarang loe menghindari gue. Tapi gue tetep akan ngasih tau loe, kalau nanti malam. Gue akan nembak Revan.”Hening, sepi, Arvin tampak masih larut dalam bacaannya. Tidak memberikan reaksi yang berarti. Sementara Kharisya masih berdiri dengan keterpakuannya.“Okelah, gue cuma mau ngomong itu doank,” selesai berkata Kharisya berbalik. “Bruk,” terdengar suara buku yang di tutup dengan keras. Sebelum Kharisya menyadari apa yang telah terjadi, Arvin kini sudah berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan tajam yang terjurus kearahnya.“Loe? Apa loe yakin mau melakukan ini?”Yakin? Kharisya mengeleng. “Enggak, tapi gue harus!”“Kenapa?”“Karena setidaknya harus ada yang berakhir bahagia bukan?”Arvin mengernyit bingung. Tidak mengerti akan maksut kalimat yang di dengarnya barusan. Tapi Kharisya hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tanpa ada niat untuk menjelaskannya lebih lanjut. Dan tanpa kata gadis itu segera berlalu meninggalkan Arvin dengan keterpakuannya.cerpen spesial valentine“Ma kasih ya Van, untuk malam ini. Dan ma kasih juga, karena loe udah ngantarin gue pulang,” kata Kharisya sambil melepaskan helm yang di kenakannya dan segera menyodorkannya pada Revan.“Sama sama, dan soal yang tadi…”“Santai aja. Nggak usah di fikirin,” potong Kharisya sambil tersenyum. “Mau masuk dulu?”“Nggak usah deh. Ini sudah malam,” tolak Revan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh tiga puluh.“Ya sudah. Kalau gitu gue pulang dulu ya.”“Iya. Hati – hati,” balas Kharisya sambil mengantar kepergian Revan dengan tatapannya.“Astafirullah,” refleks Kharisya mundur selangkah ketika ia berbalik dan menyadari entah sejak kapan Arvin sudah berada di belakangnya.“Arvin, loe ngapain disini malam – malam?” tanya Kharisya langsung, tapi Arvin tidak segera menjawab. Pria itu diam saja, hanya tatapannya yang tidak pernah lepas dari wajah Kharisya.“Loe udah jadian sama dia?” “Ya?”“Jawab gue, apa loe udah jadian sama dia?” tanya Arvin mengulang pertanyaannya. Dan Kharisya sama sekali tidak menyadari raut kecewa yang begitu mendalam di wajah Arvin saat melihat sebuah senyum yang diiberikannya.“Atau loe bisa tidak menjawabnya,” sambung Arvin lagi. Mendadak ia merasa ragu. Ragu untuk mendengar jawaban itu. “Sory, ganggu loe. Gue pulang sekarang,” selesai berkata Arvin segera berbalik.“Gue pasti kelihatan konyol banget ya kan?”Langkah Arvin terhenti, tapi ia belum memutuskan untuk berbalik.“Tadinya gue menerima tawaran itu cuma buat seru seruan. Sekalian gue pengen nyari jawaban atas pertanyaan yang nggak pernah sanggup gue lontarkan,” untuk sejenak Kharisya berhenti. Setelah terlebih dahulu menghela nafas mulutnya kembali berujar. “Apa artinya gue buat loe. Dan kenapa sampe sekarang, loe nggak pernah deket sama cewek manapun. Dan seandainya gue nggak ada di sisi loe, apa yang akan loe lakukan?”“Maksut loe?” tanya Arvin. Kali ini ia telah berbalik dan menatap bingung kearah Kharisya.“Yang gue suka itu elo.”Arvin melongo. Tidak tau harus menajawab apa. Sejujurnya ia sendiri masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.“Tapi loe tenang aja. Loe bisa tetep deket sama Abel kok. Kayak yang gue bilang tadi siang, setidaknya ada yang bahagia bukan? Gue nggak akan menghalangi loe kalau loe emang suka sama Abel. Lagian gue nggak jadian sama Revan, secara siapa juga yang mau langsung pacaran ketika baru kenal belum juga seminggu. Tapi tetep, itu artinya gue kalah taruhan, dan gue akan tetep penuhi peraturannya. Oke.”“Bodoh!”“Ya?”“Loe cewek paling bodoh yang pernah gue kenal!”“Ha?! Gue? ” kali ini Kharisya membentak sebal sambil menujuk wajahnya sendiri.Bodoh? Mengaku perasaannya pada orang yang di sukainya dan bahkan merelakan pria itu untuk bersama dengan cewek lain diangap bodoh? Sialan. Tapi tunggu dulu, itu beneran tindakan bodoh bukan si? Tapi kan yang di drama drama korea biasanya gitu? Baiklah, itu pendapat nggak penting. Lupakan.“Kalau emang yang gue suka itu Abel, kenapa sekarang gue disini?”“Ah iya. Bener. Tadi kan itu yang gue tanyain. Loe ngapain kesini?” tanya Kharisya seolah baru sadar.Bukannya menjawab, Arvin justru malah mengulurkan tangan yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dan kini sebuah kotak berukuran sedang kini terulur di hadapan Kharisya.“Ini apa?”“Buka aja,” kata Arvin sambil tersenyum.“Choklat?” gumam Kharisya setelah membuka kotaknya. Matanya menatap Arvin, menuntut penjelasan darinya.“Loe bilang, loe pengen ngerayain valentin bareng orang yang loe suka. Loe juga bilang loe pengen dapatin choklat. Jadi….”“Terus Abel? Bukannya loe suka itu dia? Kenapa choklatnya malah loe kasih ke gue?”“Karena yang gue suka itu elo”Lebih dari sekedar sejak nafas, lebih dari sekedar jantung yang berdebar. Kali Kharisya malah merasa kalau ia telah terbang ke awang – awang. Melang tingi setinggi angannya selama ini. Orang yang ia suka ternyata juga menyukainya?“Jadi maksut loe…?” Kharisya masih terlihat tidak percaya.“Maksut gue, gue juga suka sama loe. Dan kita,…”“Gue menang taruahan,” potong Kharisya dengan raut wajah berbinar.Arvin terdiam. Matanya mengamati Kharisya dengan kening berkerut. Tunggu dulu jangan bilang kalau gadis itu….“Jadi loe seneng karena loe menang taruhan?”“Tentu saja. Untung gue nggak nurutin saran loe buat ngebatalin. Gue ngerasa sekarang itu kayak dapat durian runtuh tau nggak sih. Gue menang taruhan,loe tau itu artinya apa? Gue nggak harus ngejauhin loe, Abel nggak akan ngerecokin gue lagi. Dan besok dia harus ngelilingi lapangan bola kaki 50 kali. Ha ha ha, tepar – tepar deh tuh anak,” senyum Kharisya membayangkan apa yang kini ia dapatkan. Bahkan ekpresinya sama sekali tidak terpengaruh dengan pelototan kesel Arvin padanya.“Dan diatas semua itu. Sekarang gue udah punya kekasih baru,” mata Kharisya menatap lekat kearah Arvin sambil tersenyum, senyum yang menular. Karena Arvin kini juga tersenyum, saat itulah Kharisya menambahkan kalimatnnya“Kekasih ku, sahabatku. Sweet happy valentine day.”Ending……~ Admin Lovely Star Night ~

  • Cerpen Remaja “Kala Cinta Menyapa ~ 10”

    Sempet males mo lanjutin ni cerpen Remaja kala cinta menyapa ini, tapi akhirnya di lanjutin juga. Alasannya, Hufh masih sama dengan yang sebelumnya. Kalau yang udah pernah baca, pasti langsung tau.Ah satu lagi, waktu ngetik ni cerpen kondisi beneran lagi nggak fit. So rada maklum lah yea…Dengan hati – hati Rani melangkah melewati pintu gerbang kampusnya. Matanya secara awas mengawasi sekeliling. Mencari tau keberadaan sosok erwin yang mendadak menjadi orang yang paling ia takuti terkait acara "tembak" langsungnya."Rani?".Rani langsung terlonjak kaget. Untuk sejenak terpaku saat mendapati orang yang sedari tadi ia hindari berdiri tak jauh darinya. Bahkan jelas – jelas memanggil namanya. Dan saat sosok itu melangkah mendekat mulutnya langsung terbuka untuk memperingatkan.sebagian

  • Cerpen Persahabatan: Me and My Best Friend

    Oleh: Rai Inamas Leoni – Kembali aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin perasaanku saja, ujarku dalam hati. Ku lirik jam tangan ku yang menunjukan jam 4 sore, pantas keadaan parkiran sudah sepi. Hanya ada beberapa motor yang masih setia menunggu majikannya untuk pulang. Aku sendiri baru selesai dari ekskul ku yaitu jurnalistik. Sebenarnya belum selesai, hanya saja aku izin pulang lebih awal. Mood ku dari tadi pagi sedang tidak bagus, ditambah cuaca hari ini yang selalu mendung.Aku tersenyum ketika melihat motor kesayangan ku dari kejauhan. Waktunya pulang, batinku lirih. Kulangkahkan kaki menuju motor matic ku. Tak sampai 5 langkah, aku menghentikan langkah ku. Mereka benar-benar lupa… Rasanya aku ingin menangis saja. Kenapa mereka semua bisa lupa hari ulang tahun ku? Bahkan Agha pun juga tidak ingat. Aku sengaja tidak mengatakan apa-apa kepada mereka tadi pagi. Aku masih menunggu hingga mereka sadar, bahwa temannya yang satu ini sedang merayakan hari kelahirannya. Tapi, segitu buruk kah ingatan mereka? Ingin sekali aku berteriak di parkiran ini.Dengan kesal, aku berjalan secepat mungkin menuju motorku. Lebih baik pulang, tiduran di kamar sambil membaca novel. Lupakan hari ulang tahun ku!! Namun langkah itu mulai terdengar kembali. Siapa? Apakah penguntit? Tanpa sadar aku mulai sedikit berlari, dan langkah itu pun juga terdengar sedang berlari mengejarku. Tunggu. Kenapa aku mendengar langkah kaki banyak orang? Jangan-jangan aku akan dikeroyok. Oh tuhan, lindungilah aku.Karena penasaran, ku beranikan diriku untuk menoleh ke belakang secepat mungkin, melihat apa yang terjadi sebenarnya. Dan sedetik kemudian aku merasa butiran-butiran putih mengenai seluruh tubuhku. Lalu disusul dengan cairan kuning mengenai rambutku. “Happy Birthday Nara,” ujar mereka serempak lalu tertawa terbahak-bahak.Kulihat Nadya, Lunna, dan Dinda sedang membawa sisa-sisa tepung, yang tentu saja juga mengenai baju mereka walau tidak sebanyak aku. “Oh shiiitt.. Kalian gila apa?” teriakku kesal walau hati kecil ku merasa senang. Senang karena mereka ingat aku.“Ya ampun, gitu aja ngambek. Sini gue kasi lagi,” Tio lalu melemparkan telur ke kepala ku dan semua kembali tertawa. Aku hanya bisa menunduk, membiarkan cairan kuning itu jatuh ke tanah. Dan tidak lama kemudian aku melihat Rizky membawa seember air. Buru-buru aku lari, namun ditahan oleh Nadya dan Dinda. Dan jadilah kami bertiga terkena air.“Ya Rizky, kenapa gue jadi kena sih? Ini kan air bekas pel Pak Komar. Sialan lo!” rengek Nadya lalu melempar tepung yang tersisa kearah Rizky. Rizky pun mencoba untuk menghindar. Aku tertawa melihat mereka. Mereka bener-bener pasangan yang serasi.Dan entah dari mana, Lunna tiba-tiba membawa blackforest yang berisi angka 16 kehadapan ku. “Make a wish dulu donk, Ra.”Aku mulai memejamkan mata untuk berdoa. Ku buka mata secara perlahan sambil menatap satu persatu teman sekelas ku di XI IPA 2. Nadya, Rizky, Dinda, Lunna, Tio, dan.. “Agha mana?” tanya ku polos.Kulihat raut wajah mereka berubah. Lalu Dinda menyela, “Agha lagi nganter Putri ke toko buku. Lo tau lah Putri, ee.. dia anak baru,” Kulihat Dinda sejenak ragu-ragu. “Bu Siska tadi nyuruh Agha buat nemenin Putri beli buku pelajaran.”“Oh,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut ku. Kupaksakan untuk tersenyum. Melihat perubahan ekspresiku, Tio yang memang terkenal jahil mulai melumuri wajahku dengan krim yang ada di kue, lalu disusul oleh Dinda. Tak mau kalah, aku langsung membalasnya. Selang beberapa menit, kami berenam sudah menjadi badut amatiran yang wajahnya dipenuhi krim.***Agha Daniswara. Nama yang sudah tak asing lagi di telinga ku. Selain letak rumah yang bersebelahan, kami juga selalu satu sekolah bahkan sekelas. Dimana ada Agha, selalu ada aku. Aku seperti menemukan sosok kakak di dalam diri Agha, karena aku sendiri anak tunggal. Menjadi anak tunggal memang mengasyikan. Semua perhatian Mama dan Papa tercurah untuk ku tanpa harus terbagi. Namun hidup sendiri tanpa saudara juga sangat menyedihkan malah membosankan. Kadang aku iri kepada mereka yang memiliki kakak atau adik. Tapi, selama ada Agha yang selalu disamping ku, hidup menjadi anak tunggal tidak masalah.Sejenak aku memejamkan mata, mencoba mengingat kejadian tadi sore. Yang terlintas dibenak ku hanya lah Putri. Murid pindahan yang seminggu terakhir mencuri perhatian teman-teman sekelas. Ya, dia cantik dan modis. Dan tak butuh waktu lama, aku yakin Putri akan menjadi salah satu deretan siswi populer di SMA Tunggadewi.Aku kembali membuka mata. Kulirik foto yang terpajang manis di meja belajarku. Foto dua anak SD yang sama-sama membawa balon. Aku masih ingat, saat itu hari ulang tahun Agha yang ke-10. Mama Agha atau biasa ku panggil Tante Mita ngotot untuk menggambil foto kita berdua. Untuk kenang-kenangan katanya.Alunan lagu Only Hope milik Mandy Moore terdengar dari meja belajarku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur. Siapa sih yang nelpon malam-malam? Dengan kesal ku tekan salah satu tombol di HP, tanpa melihat nama yang tertera di layar. “Halo,” sapaku enggan.“Akhirnya diangkat juga. Ra, buruan ke balkon sekarang.” ujar seseorang yang aku kenal. “Jangan lupa pakek jaket, dingin banget disini. Gue tunggu, Ra.”Belum sempat aku menjawab, telepon sudah di tutup. Sialan Agha. Aku yang masih binggung atas ucapanya buru-buru membuka lemari mencari jaket tebalku. Tak butuh waktu lama, aku sudah berdiri di balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamar Agha. Kamar ku dan kamar Agha sama-sama ada di lantai atas.“Lo belum tidurkan?” tanya Agha dari balkonnya. Ku lihat Agha menggunakan kemeja putih dan celana jeans hitam yang membalut tubuh atletisnya. Sepertinya ia baru pulang.“Belum lah, masih jam 9 juga. Lo sendiri baru pulang?”“Iya. Tadi gue nganter Putri beli buku. Capek banget, Ra. Nggak nyangka kalo si Putri suka baca novel sama kayak lo.“ Ku lihat Agha tersenyum gembira. Belum pernah aku melihat ia sebahagia ini. Lalu ia menceritakan kejadian-kejadian yang lucu di toko buku. Aku hanya menanggapi dengan kata-kata singkat seolah aku menyimak cerita Agha. Walau sebenarnya aku tidak mendengarkan apa-apa.Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menerawang ke bawah melihat jalanan, yang tentu saja sepi. Jalan di kompleks perumahan kan tidak seramai jalan raya.“Ra? Halo… Nara? Naraaaa… Lo denger nggak sih?” Panggilan Agha membuyarkan lamunan ku.“Apa? Eh maksud gue, gue denger kok,” ucapku terbata-bata.Agha mendengus. “Gue tau lo nggak denger omongan gue. Lo lagi mikirin apa sih?“Kita balik ke setahun yang lalu ya?” ujarku tiba-tiba.Agha terlihat bingung.“Kita pacaran sampai sini aja. Lagian lo sama gue lebih cocok buat sahabatan. Entah kenapa gue rindu Agha yang dulu. Agha yang selalu ngejek gue jelek, Agha yang selalu bandingin gue sama cewek-cewek populer waktu SMP, sampai Agha yang selalu bangunin gue kalo gue telat bangun. Semenjak kita pacaran, rasanya ada yang berubah dalam diri kita.” Sejenak aku memejamkan mata untuk mengatur emosi. “Lo mau kan kalo kita sahabatan lagi?” tanya ku ragu.Ku lihat Agha terkejut mendengar ucapanku. Biarlah. Jujur, setelah aku dan Agha pacaran, aku melihat perubahan sikap diantara kami. Seolah-olah ada tembok besar disekitar kami. Kami tidak dapat tertawa lepas seperti dulu saat SMP. Selalu ada sesuatu yang mengikat, mengingatkan bahwa kita tidak hanya berteman. Suatu komitmen yang bernama pacaran. Tapi aku sadar semenjak Putri masuk ke kelasku, aku merasa Agha tertarik pada gadis itu. Dan itu membuat aku muak. Aku kangen sama Agha, teman kecil ku.“Kalo itu mau lo, gue terima. Asalkan kita bisa sahabatan lagi kayak dulu. Jangan gara-gara masalah ini, kita jadi diem-dieman.” ujar Agha lirih.“Ya udah, gue duluan balik ke kamar ya. Dingin banget disini.”Belum sempat aku melangkah, Agha sudah menahanku dan menyuruhku menangkap sesuatu yang dilemparnya. Untung kali ini aku bisa menangkapnya dengan tepat.“Happy birthday Nara. Maunya ngucapin satu tahunan kita jadian. Tapi kita kan baru aja putus. Gue doain semoga persahabatan kita langgeng sampai tua nanti.”Aku hanya tersenyum lalu buru-buru masuk ke kamar. Ku hempaskan diriku ke tempat tidur. Perlahan kubuka hadiah Agha yaitu sebuah kotak kecil bermotif strawberry, buah kesukaan ku. Dalam kotak terdapat kalung berbandul separuh hati dan sebuah kertas kecil.“Happy birthday peri kecilku dan happy 1st anniversary buat hubungan kita.PS : Moga lo seneng ama tu kalung Kurasakan butiran kristal jatuh dari pelupuk mataku, buru-buru aku hapus dengan tangan. Namun semakin aku berusaha, butiran itu semakin banyak. Ya Tuhan… Aku yakin akan keputusan ku. Tapi kenapa hati ku terasa perih?Malam semakin larut. Namun seseorang masih terpaku, terdiam di balkon kamarnya sambil menatap balkon yang baru saja di tinggal pergi oleh pemiliknya. Pemilik yang bernama Nara Angelina. Teman kecilnya.***“Naraaa……!”“Saya Pak! Saya Pak!” teriakku tak karuan. Mata ku mencoba melihat sekililing. Menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ini kan kamarku? Lalu…“Ouch shittt! Gue kira apa. Gila lo, Ga. Ngapaen lo disini?” ujar ku kesal. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Berniat melanjutkan mimpi ku yang tertunda gara-gara teriakan mahluk aneh ini.Agha tertawa. “Ya ampun, dasar putri tidur. Buruan lo bangun, ini udah jam 10 pagi. Masa cewek males gini?” Agha menarik selimut ku lalu ditaruhnya di sofa.“Agha!! Selimut gue balikin. Lagian ngapain juga bangun pagi? Ini tuh masih LIBURAN. Tahun ini kita kelas tiga, pasti belajar mulu kerjaannya. Kasi donk gue nikmatin liburan gue.” Jelas ku panjang lebar. Ku dengar tawa Agha makin keras, seolah-olah mengganggu tidurku adalah hal terlucu di dunia ini. Aku hanya bisa pasrah. Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu. Hari dimana aku putus dengan Agha. Seperti yang kuduga, setelah kejadian itu hubungan kami kembali seperti SMP dulu. Dimana kami sering mengejek satu sama lain. Agha kembali pada hobby-nya yang senang melihat aku menderita. Dan aku kembali pada hobby lama ku, sering merecoki dia dengan kalimat panjang lebar.“Cerewet banget sih,” rutuk Agha. “Buruan lo mandi, kita ke toko buku sekarang. Hari ini terakhir diskon lho. Katanya mau cari novel?” Aku melirik sebal kepadanya. Agha menghampiri aku, lalu dengan gemas Agha mengacak-acak rambut ku. “Bilang aja lo mau beli komik. Pakek alasan gue beli novel lagi. Muna lo! Dari mana lo tau kalo diskonnya masih?” Kata ku sambil merapikan rambut ku yang berantakan.“Dinda yang ngasi tau. Terserah mau percaya atau nggak. Yang penting lo buruan mandi.” Lalu Agha pergi ke arah meja belajar untuk melihat koleksi novelku. Aku terkadang heran dengan Agha. Untuk ukuran cowok tinggi yang jago main basket, masa sih dia masih doyan baca komik. Apalagi komik favoritnya Detektif Conan. Benar-benar deh si Agha. “Agha cakep, dengerin gue ya. Gue sih udah dari tadi mau mandi. TAPI GIMANA CARANYA GUE MANDI KALO LO MASIH BERKELIARAN DI KAMAR GUE???” Dan tak butuh waktu lama, bantal-bantal di tempat tidurku sudah melayang ke wajah Agha. Kulihat Agha mencoba menghindar dari serangan bantal-bantal sambil tertawa, lalu keluar dari kamarku. Dilihat dari mana pun, kami memang hanya cocok untuk sahabatan. Setidaknya untuk saat ini. Aku tersenyum dan beranjak pergi dari tempat tidurku. Bersiap-siap untuk pergi ke tempat favorit kami. Dimana lagi kalo bukan toko buku. :D***By : Rai Inamas LeoniTTL : Denpasar, 08 Agustus 1995Sekolah : SMA Negeri 7 DenpasarBlog : raiinamas.blogspot.com

  • Cerpen Cinta Romantis Take My Heart ~ 14

    Oke deh, berhubung banyak yang minta lanjutannya, maka Admin Selaku orang yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung serta berbakti pada orang tua (Amin). Admin bawain deh lanjutannya. Untuk next gak janji bisa cepet. Soalnya masih harus mengutamakan dunia nyata. ^_^-} Cerpen Cinta Romantis Take my Heart ~ 13“Jadi Vio, Bisa loe jalasin ke kita kenapa loe mau membantu Ivan?”.Pertanyaan Andra sukses menarik perhatian semuanya. Menatapnya penuh Tanya. Sementara yang di tatap justru tidak melepaskan pandangannya dari Vio. Merasa menjadi sorot perhatian Vio melepaskan sendoknya. Melipat kedua tanganya di meja sembari membalas tatapan Andra sambil tersenyum.sebagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*